Label

Jumat, Agustus 08, 2014

Menikmati suguhan dari si pembuat roti terbaik di Perancis, Eris Kayser (***)






Baru saja saya membaca hasil ulasan Detikfood mengenai pembukaan gerai roti Eric Kayser di Jakarta, yaitu pembuat roti terbaik di Perancis, yang memiliki ciri khas membuat roti dengan adonan ragi cair alami yang terbuat dari tepung, ragi & air yang difermentasi dalam waktu yang lama sehingga menghasilkan roti yang lebih enak, lebih kaya rasa, lebih wangi, warna lebih coklat/kusam, dengan tekstur bagian dalam yang berongga tak beraturan dan cenderung elastis, serta tanpa bahan pengawet. Hal-hal ini lah yang menyebabkan roti tsb disebut dengan roti artisan.

Ketika kami selesai buka puasa di food court Plaza Senayan,  secara tak sengaja kami melewati gerai roti ini dan saya langsung teringat dengan ulasan yang baru saya baca. Langsung saja suami saya yang menggemari croissant mengajak mampir.

Karena kami baru selesai makan malam, tapi penasaran dengan sajian disini, maka kami hanya memesan 1 croissant, 1 mushroom soup dengan nama soupe aux truffes, champignon and black truffle creamy soup, serta 1 hot chocolate.

Sebagai menu pembuka, ketika menunggu pesanan kami datang, disajikan compliment aneka potongan roti baguette dengan sebuah butter. Wuah sedapnya. Terbukti memang rasa roti sesuai dengan ciri-ciri roti artisan tsb diatas. Croissant yang disajikan juga tercium wangi dengan warna coklat mengkilat, rasanya yang renyah diluar, namun lembut didalam.

Kemudian mushroom sup disajikan diatas piring putih yang super lebar. Sup yang berwarna coklat tsb terlihat berbintik-bintik, sedikit berminyak, dengan sesendok busa yang dihiasi 1 slice jamur truffle. Ketika dimakan, hmm ini mushroom sup terenak yang pernah aku makan, rasanya creamy, perpaduan jamur champignon dan black truffle yang diblender, seumur hidup baru kali ini saya rasakan. Konon black truffle adalah jamur termahal didunia karena kelangkaannya, sehingga harga seporsi sup yang kami makan adalah Rp 68.000.

Minuman hot chocolate juga tak kalah lezat rasanya, penampilannya juga cantik dengan hiasan chocolate art. Masih ada rasa chocolate yang tidak teraduk sempurna, sehingga menambah sensasi kelezatannya. Minuman ini dihargai dengan Rp 30.000, sedangkan croissant diberi harga Rp 16.364.


Walaupun harga disini diatas rata-rata, tapi tiada rasa sesal sedikitpun untuk menambah pengalaman kuliner kami. Lain kali kami harus mampir lagi untuk mencicipi aneka roti, pastry dan cake dipajang dirak display, melambai-lambai, menarik mata kami.

Selasa, Agustus 05, 2014

Buka puasa gratis di Sijang persembahan “yukmakan” (*)







Iseng mengikuti event food review di “yukmakan” membuahkan hasil yang manis, semanis hadiahnya yaitu voucher makan gratis di Food avenue, Lotte shopping Avenue mall. Voucher bergambar bibimbab ini sudah dapat ditebak bahwa tempat makan yang dimaksud adalah masakan Korea. Jadi berangkatlah kami ke LOVE pada bulan puasa lalu untuk menikmati menu buka puasa gratis.

Sesuai dengan nama yang tertera di voucher, kami menuju food court, tepatnya ke counter masakan Korea Sijang. Menu yang tersedia memang tidak terlalu banyak, tapi cukup mewakililah. Kisaran harganya pun terjangkau, yaitu sekitar Rp 25.000-50.000, sehingga pesanan yang kami dapat cukup banyak yaitu beef gochu Rp 50.000, ramyeon Rp 25.000 dan japchae Rp 35.000.

Sehubungan dengan bulan puasa, kami tidak menyangka bahwa pesanan kami itu sudah termasuk minuman teh dan tajil bubur kacang hijau. Sehingga makanan yang terhidang dimeja lumayan banyak. Wah makan besar nih kita.

Beef gochu adalah bibimbab yaitu nasi putih dengan topping aneka sayuran seperti irisan jamur, toge, wortel, dll lalu diberi daging dan kuning telur setengah matang, diberi taburan wijen dan nori serta saus gochujang. Nasi tsb ditempatkan didalam mangkok batu yang panas. Cara makannya adalah nasi beserta topping nya diaduk dulu sebelum dimakan sehingga diberi nama bibimbab alias nasi campur. Nah dapat dibayangkan kan, makanan ini selain enak adalah sehat, mengenyangkan dan hangat. Belum lagi bonus 3 potong kimchinya.

Ramyeon alias mi instan Korea tak kalah menggiurkan. Semangkok mi dengan campuran telur dan irisan aneka sayur, kuahnya berwarna merah, mengundang selera, rasanya pedas, sedikit asam, dengan aroma fermentasi, bikin ketagihan.

Terakhir adalah japchae yaitu soun Korea yang diberi topping telur dadar iris, jamur, wortel, daun bawang dan taburan wijen. Dari wanginya saja sudah mengundang selera, apalagi dari rasanya. Walaupun soun tsb lebih kenyal daripada soun lokal, rasanya lebih enak dan mengenyangkan.


Buka puasa kali ini kami sukses berat, makan gratis nan enak membuat perut kami super kenyang. Terima kasih “yukmakan”, kapan membuat event review berhadiah lagi ? Saya pasti ikutan, hahaha...

Minggu, Agustus 03, 2014

Ikkudo Ichi Ramen, no pork di Kokas (*)





Salah satu kuliner yang sedang trend saat ini adalah ramen yaitu mi kuah Jepang. Tapi kalau mendengar kata Ramen, khususnya Ikkudo ramen, dapat dipastikan tidak halal. Tapi kemaren ketika kami berkunjung ke Kota Kasablanka Mall, di LG unit 16 kami menemukan Ikkudo Ichi ramen, dengan tulisan no pork, no lard, dan banyak pengunjung yang berjilbab sedang makan disitu. Hmm kami jadi tertarik untuk mencobanya.

Tempat makannya bukan merupakan ruangan melainkan berupa meja dan kursi yang ditata dibawah pergola kayu dengan desain minimalis khas Jepang. Menu yang tersedia tidak begitu banyak. Menu andalannya berupa ramen, dimana sebagian besar toppingnya adalah ayam, serta tidak ada topping daging. Menu daging yang ada hanyalah beef yakiniku don, yang akhirnya dipilih suami saya. Sedangkan saya harus mencoba ramennya, yaitu Tori signature tidak pedas, dengan tambahan gyoza ayam udang sebagai pendamping.

Tak berapa lama pesanan kami pun tiba. Ramen yang disajikan didepan saya juga berpenampilan minimalis yaitu semangkok mi kuah dengan topping 3 iris ayam panggang dan setengah telur rebus setengah matang, yang diberi taburan daun bawang serta wijen. Mi nya berwarna putih dan tipis, dengan kuah putih keruh, ditempatkan disebuah mangkok hitam, sehingga menimbulkan kombinasi warna yang kontras.

Mengenai rasanya, boleh jadi ini mi ramen yang paling saya sukai, karena rasanya yang gurih. Andai kata ramen ini diberi topping daging seperti beef yakiniku mungkin bakal lebih yahud lagi. Porsinya terasa pas untuk ukuran perut saya karena tidak menyebabkan kekenyangan. Hanya saja toppingnya terasa pas-pasan jumlahnya. Untung masih ada gyoza yang berisi 4 potong sebagai penamping.


Kalau beef yakiniku milik suami saya terasa standard di lidah saya, masih lebih enak Yoshinoya sih, hahaha. Penampakannya adalah semangkok nasi yang diberi topping irisan daging sapi, bawang bombay, toge dan daun bawang. Secara garis besar masakan disini lumayan enak dan harganya cukup standard, yaitu Ramen Rp 35.000, Beef yakiniku don Rp 39.500, Gyoza Rp 27.000 dan lemon tea Rp 12.800. Lumayan sebagai alternatif kuliner kalau lagi berkunjung ke Kokas.

Kamis, Mei 29, 2014

The new place and good food “Blackseed coffe & grill” (***)








Tanpa sengaja kami menemukan tempat ini. Awalnya kami ke undangan pernikahan di Jl. RC Veteran Bintaro pada malam minggu yang lalu. Tapi karena tamunya sangat penuh, setelah mengucapkan selamat kepada mempelai, kami pun keluar gedung dengan perut lapar. Kemudian kami menyusuri jalan ke arah Pondok Indah, dan menemukan satu tempat yang kelihatannya menarik di pertokoan Gedung Hijau, Jl. Terusan gedung hijau raya. Dari seberang jalan terlihat billboard bernama “Blackseed coffe & grill”. Ditilik dari namanya, selain tempat ngopi pasti ada main coursenya. Jadi kami segera memutar balik dan masuk ke dalam kompleks pertokoan gedung hijau ini.

Sebenarnya pertokoan Gedung hijau ini sudah kondang sebagai pusat jajanan. Selain memiliki pujasera yang sarat akan berbagai jenis jajanan, makanan yang paling terkenal disini adalah sate ayam dan dimsum pertok. Dari sinilah asal muasal dimsum pertok. Pokoknya dari pagi sampai malam pertok gedung hijau ini ngga pernah sepi, pasti ada saja yang datang untuk menyambangi aneka makanan disini.

Tapi saat ini saya ingin membahas sebuah cafe baru yang terletak didekat pintu masuk pertok, dekat dengan 7 eleven. Tempatnya merupakan sebuah cafe kecil dan sederhana, dimana area makannya terbagi 2 yaitu didalam dan diluar. Sebuah proyektor menembakkan sebuah acara TV ke dinding luar. Wah bakal cocok nih untuk nonton bareng acara bola piala dunia. Kami pun masuk dan mendapat sambutan yang cukup ramah.

Daftar menu yang diberikan berisi menu appertizer, salad, sandwich, main course chicken, beef & fish, pasta, dessert, pastry & cake. Sedangkan minumannya didominasi dengan coffe, ice blend & tea. Sayangnya menu pilihan saya yakni fish dan panna cotta sudah habis. Jadi saya disarankan untuk memilih menu recommnded chicken stroganoff dengan minuman hot chocolate, dan suami saya memilih rosemary sirloin steak dengan minuman crazy nut. Sambil menunggu pesanan suami saya tertarik untuk melihat jejeran cake yang berada didalam rak display disamping bar, eh dia malah terpincut dengan sepotong cake bernama nastar crumble. Yah dia lapar mata nih.

Kami mengamati seorang barista yang sedang meracik minuman dengan gaya serius dengan waktu cukup lama. Dan hasilnya adalah buih minuman hot chocolate saya berhiaskan gambar seperti cappuccino art. Wuah padahal hot chocolate ini dibuat tanpa gula loh, sungguh sayang bila saya harus menambah gula dan merusak gambar yang indah ini. Kemudian crazy nut adalah minuman chocolate ice blend. Ketika minuman ini terhidang, tercium wangi semerbak cincangan kacangnya yang menggoda, hmm sedap. Suami saya sampai bilang “ngga apa-apa deh bikin minumannya lama, abis hasilnya keren dan enak lagi” Hahaha, tumben, biasanya kalau lama suka ngomel dia.

Ketika pesanan saya tiba, saya pun kembali kagum dengan penampilannya. Sebuah mashed potato disemprotkan ditengah piring membentuk kerucut dan dihias peterselie dipuncaknya. Potongan ayam ditata disekeliling mashed potato. Rasa makanan ini senikmat penampilannya. Ayam ditumis bersama irisan jamur lalu ditaburi peterselie. Ayamnya empuk, bumbunya tajam dan gurih, tidak creamy tapi nikmat.

Kemudian penampilan rosemary sirloin steak juga menggugah selera, dengan bentuk mashed potato yang sama, ditempatkan disebelah kanan atas, salad wortel dan kol dengan topping mayones disebelah kiri atas. Sirloin ditempatkan dibawahnya, berlumur tumisan jamur. Penampilan dan rasa steak ini terasa unik karena steak menjadi basah, tapi rasanya enak mirip bumbu asam manis tapi wangi karena pemakaian rosemary. Kedua sajian ini kami habiskan tanpa sisa. Apalagi mashed potato nya sangat lembut dan gurih, sedap nian.

Ketika nastar crumble cake dihidangkan, wah perut sudah tidak bisa lagi menampung. Tapi sebelum minta dibungkus, kami potong dulu sedikit untuk dicicipi. Sebuah cake vanila dengan selai nanas ala nastar ditengahnya, bagian luar cake dilapisi krem lalu ditaburi crumble yaitu remah-remah yang rasanya manis. Pas bener, ini memang favorit suami saya.

Parahnya lagi suami saya masih saja tergoda hidangan meja tetangga, hahaha. Tetangga sebelah memesan deep fried mushroom with taragon mayones, lalu mereka memesan lagi untuk dibawa pulang. Eh suami saya kok ikut-ikutan bungkus juga. Sayangnya bila mushroom ini di take away, tidak dapat mayones karena mereka tidak punya packing untuk mayonesnya. Yah sayang sekali, padahal mayones bercampur daun taragon ini merupakan saus cocolan yang membuat jamur goreng tepung ini terasa sempurna. Walapun begitu jamur yang digoreng tepung panir ini terasa crispy, sehingga kami tidak begitu kecewa akan rasanya.

Setelah perut kenyang dengan 2 menu main course, 3 gelas minuman dan 2 bungkusan untuk dibawa pulang, kami pun meminta billnya dan harus membayar Rp 191.000. Rupanya tempat makan ini sebelumnya adalah sebuah studio rekaman dilantai 2, sehingga lantai 1 nya sekarang dimanfaatkan untuk cafe, yang baru berumur sebulan ketika kami bertandang. Hmm kita lihat saja beberapa bulan kemudian, bakal ngantri ngga ya kalau mau makan disini. Sebab saya masih penasaran dengan menu fish nya dan dessert panna cotta nya.

Setelah saya rampung menulis reveiw ini, saya malah jadi bingung sendiri, kenapa ya cafe ini dinamakan blackseed alias habbatussauda atau jintan hitam ? Karena saya tidak mencecap rasa jintan dari semua hidangan tsb. Wah pertanyaan ini bakal tersimpan sampai saya datang lagi kesana.

Minggu, Mei 18, 2014

4 HARI DI SULAWESI

Suami saya sebagai ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Jakarta bersama rombongan diundang ke acara ultah Mamuju Utara yang ke 11. Kesempatan ini harus kami manfaatkan sebaik-baiknya karena mungkin ada peluang usaha yang menjanjikan. Kebetulan saya pun diajak dengan agenda sebagi berikut, setelah selesai menghadiri acara ultah Matra, perjalanan akan kami lanjutkan untuk meninjau kebun kelapa sawit PT. Unggul Widya, setelah itu menuju kota Makassar untuk berjalan-jalan. Berikut pengalaman saya selama di Sulawesi.

KAMIS

RM IDAMAN, NASI KUNING MAMA JENA (***)








Kami berangkat pk. 5 pagi dari Jakarta menuju kota Palu. Tiba di Palu pk. 7.30 waktu Palu, lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Kami berempat janjian ketemu dengan rombongan lainnya untuk sarapan pagi di RM Idaman atau yang lebih dikenal dengan nama nasi kuning Mama Jena di Jl. Pattimura no 4. Sesampainya disana ternyata RM ini sudah dipenuhi pengunjung yang ingin sarapan disini. Saya pun melihat beberapa rombongan yang berasal dari pesawat yang sama dengan kami. Rupanya RM nasi kuning ini adalah destinasi wajib bagi tamu yang baru datang dari pesawat.

Ketika kami tiba disana, nasi kuning baru saja habis dan nasi baru belum selesai dimasak, sehingga kami menunggu cukup lama. Tapi kekecewaan itu langsung terobati setelah nasi kuning komplit tersaji dihadapan kami. Sepiring nasi kuning diberi lauk ayam goreng, abon sapi, telur utuh, serundeng daging dengan campuran kentang serta taburan bawang goreng. Dimeja sudah tersedia sambal dan sepiring gulai ati rempela ayam. Nasi pulen nan gurih dan harum ini memang sangat nikmat. Kuah gulainya juga yahud. Yang mengejutkan adalah sambalnya, penampilannya biasa saja yaitu sambal goreng berwarna merah, tapi ketika dimakan, ya ampun pedasnya luar biasa, badan langsung terasa hangat dan berkeringat. Harga nasi kuning komplit tsb sekitar Rp 28.000.

Berada di kota Palu, pemandangan didalam kota sangatlah indah karena sepanjang mata memandang kita akan melihat keindahan teluk Palu dengan latar belakang pegunungan yang berawan. Hal ini menjadikan penduduk Palu mendapat peringkat paling rendah tingkat stres nya. Siang ini kami langsung menuju kabupaten Mamuju Utara. Antara Palu dengan Matra harus melewati kabupaten Donggala. Disini pemandangan lebih spektakuler lagi karena kami berjalan didataran tinggi yang berkelak kelok seperti daerah puncak Jabar, tapi dibawah terhampar pemandangan laut pesisir Donggala, Allahu Akbar sungguh indah ciptaan Tuhan.

RM IKAN BAKAR TERMINAL INDAH (***)









Siang ini kami makan di RM Ikan Bakar Terminal Indah, Jl. Donggala – Palu - Kel. Kabonga kecil, telpon 0457 71617. HP 0852 4101 8650. RM ini berupa bangunan sederhana, bentuknya seperti rumah panggung kayu yang memanjang kebelakang. Bangunan ini berdiri diatas pantai pesisir Donggala. Setelah kita parkir didepan RM yang terbuka ini, kita langsung berhadapan dengan tempat pembakaran ikan. Jadi sebelum masuk kedalam, kita harus memilih ikannya dulu, yaitu ikan kakap merah atau putih, lalu pilih mau bagian kepala, badan atau ekor, kemudian ikan dicelupkankan kedalam bumbu lalu dibakar atau digoreng sesuai pesanan. Pilihan saya adalah ikan goreng dan suami saya memilih ikan bakar. Setelah itu baru kami menuju area meja makan, menunggu pesanan sambil makan rambutan yang telah disediakan disetiap meja, menikmati pemandangan laut yang membius.

Ikan pesanan kami datang bersama sepiring nasi, sepiring sambal plus ketimun, dan semangkuk kuah sayur bersantan berwarna merah mirip gulai yang isinya buncis, toge, tahu dan tomat. Jika ingin menikmati sensasi makan ikan bakar atau goreng, “fresh from sea” dengan bumbu aneka rempah alami, nah disinilah tempatnya. Sungguh nikmat rasa daging ikan yang baru ditangkap ini, empuk dan lembut tanpa bau amis, dengan bumbu rempah asli yang meresap sempurna, menjadikan ikan lebih gurih dan memancing selera makan. Apabila dibandingkan antara ikan bakar dan goreng, saya lebih memilih ikan goreng karena bagian luarnya terasa garing dan gurih, tapi didalam tetap empuk dan lembut, sedangkan ikan bakar, bagian luarnya masih terasa basah. Tapi tergantung seleralah, karena saya melihat semua peserta menyantap habis pesanannya tanpa tersisa, termasuk sambalnya yang super pedas.

Dessert yang paling tepat saat itu adalah es kelapa muda. Segelas es kelapa muda yang tebal dan lembut diberi sirup gula merah, merupakan penutup yang sempurna. Tubuh kami menjadi segar kembali, siap melanjutkan perjalanan ke kabupaten Mamuju Utara yang masih jauh.

MAMUJU UTARA

Setelah melewati daerah Donggala, sampailah kami dikabupaten Mamuju Utara, dimana ibukota Matra terletak di kecamatan Pasang Kayu. Kenapa dinamakan Pasang kayu ? Karena tanda bagi para nelayan pulang dari melaut bahwa dia telah sampai di pesisir Pasang kayu apabila telah melihat 2 buah pohon bakau yang sudah sangat tua terletak dipesisir, dan tak jauh dari situ terletak rumah dinas bupati Mamuju Utara.

Di Matra tidak ada hotel. Sesungguhnya kami berencana menginap di mess PT. Unggul Widya di kecamatan Baras. Tetapi sungguh pengalaman tak terduga karena saya berdua suami diajak menginap dirumah dinas oleh Bp. Bupati Agus Djiwa, sedangkan teman-teman lainnya disuruh menginap di rumah pribadi Bp. Bupati.

Kedatangan kami bertepatan dengan ultah kab. Matra ke 11, dengan agenda acara pembukaan KPDT (Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal) expo 2014. Ternyata ada 183 daerah yang masuk kedalam kategori daerah tertinggal, dimana penyebabnya adalah :
  1. Geografis. Umumnya secara geografis daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/ pegunungan, kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau terpencil atau karena faktor geomorfologis lainnya sehingga sulit dijangkau oleh jaringan baik transportasi maupun media komunikasi.
  2. Sumberdaya Alam. Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi sumberdaya alam, daerah yang memiliki sumberdaya alam yang besar namun lingkungan sekitarnya merupakan daerah yang dilindungi atau tidak dapat dieksploitasi, dan daerah tertinggal akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan.
  3. Sumberdaya Manusia. Pada umumnya masyarakat di daerah tertinggal mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta kelembagaan adat yang belum berkembang.
  4. Prasarana dan Sarana. Keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya yang menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
  5. Daerah Terisolasi, Rawan Konflik dan Rawan Bencana.  Daerah tertinggal secara fisik lokasinya amat terisolasi, disamping itu seringnya suatu daerah mengalami konflik sosial bencana alam seperti gempa bumi, kekeringan dan banjir, dan dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.
JUMAT

Mess PT. Unggul Widya


















Usai menghadiri acara ultah Matra, perjalanan kami lanjutkan menuju perkebunan sawit PT. Unggul Widya di kecamatan Baras. Ada 2 perusahaan perkebunan sawit yang terletak di Matra yaitu PT. Unggul Widya dan PT. Sinas Mas. Sepanjangan perjalanan dari Pasang kayu menuju Baras didominasi dengan pemandangan kebun sawit PT. Sinar Mas. Sedangkan kebun sawit milik PT. Unggul Widya letaknya masuk kedalam, tidak terlewati jalan raya.

Menginap di mess  PT. Unggul Widya kami serasa raja sehari. Bagaimana tidak, sepanjang hari kami dijamu makanan enak, banyak dan mewah. Ada satu masakan yang saya sangat terkesan, sampai saya bilang kepada ibu saya minta dimasakin, yaitu tumis daun pakis bunga pepaya. Saya sendiri kaget kenapa saya terkesan dengan masakan ini padahal saya kurang doyan makan sayur. Saya baru tau kalau daun pakis itu rasanya enak banget karena dimasak dengan tingkat kematangan sempurna, bercampur dengan bunga pepaya yang rasanya sama sekali tidak pahit. Sayangnya ibu saya bilang jarang sekali melihat daun pakis dijual dipasar Jakarta.

Masakan kedua yang saya suka adalah kepiting. Dua piring besar berisi potongan kepiting yang menggunung tersaji dimeja makan. Wah saya sampai mengingatkan suami agar jangan terlalu banyak ngemil kepiting, takut asam uratnya kambuh. Saya sendiri merasa kolestrol saya naik, untung kami membawa persediaan obat cukup banyak karena tau bakal makan-makan wae.
Urutan selanjutnya adalah sejenis semur daging. Saya suka masakan ini karena dagingnya empuk, bumbunya meresap, rasanya manis tapi pas. Kemudian ikan laut masak pesmol & sop ikan. Keistimewaannya adalah ikannya masih segar sehingga daging ikan terasa lembut dan tak berbau amis. Masakan lainnya adalah sate ayam, ayam goreng tepung, udang goreng tepung, tempe dan tahu goreng serta sop oyong.

Tak hanya makanan, buah-buahan pun berlimpah seperti pisang, jeruk, pepaya dan dukuh. Saya sedikit mengernyit melihat jeruk yang kulitnya berwarna hijau, hmm bakal asem nih pikir saya. Sebagai pendamping makanan kami, disediakan minuman air jeruk murni yang berasal dari perasan jeruk tadi. Ternyata enak banget, kental tanpa campuran air dan manis walaupun tanpa gula, trus rasanya agak beda yah dengan yang biasa saya minum, sukar saya lukiskan, pokoknya maknyus. Makanya jangan menilai sesuatu hanya dari kulitnya ya, hahaha. Diantara waktu makan kami juga disuguhin aneka camilan lezat seperti kue pastel, pisang goreng, nagasari dan kripik. Hmm timbangan badan bakal naik nih.

SABTU

Saung Raja Kuring (***)












Keesokan harinya kami berangkat dari Baras menuju kota Palu, untuk memberi presentasi mengenai perusahaan IT milik kami, PT. Indotristar Solusi Utama kepada anggota PISPI Palu. Tempat pertemuannya berada di Saung Raja Kuring, masakan ayam & seafood, Jl. Sultan Hasanuddin 74A Palu.

Disini kami sudah dipesankan makan siang berupa ikan bakar, ikan goreng tepung, cumi goreng tepung, sop ikan, tumis kangkung, tumis toge serta otak-otak. Semua masakan khas Makassar. Bumbunya nikmat, ikannya segar, harganya terjangkau, ruangannya besar, bagus dan bersih, serta kami mendapat ruangan VIP agar bisa bebas mengadakan presentasi. Karena menu makan siang sudah diurus oleh PISPI, saya tidak bisa memberi review yang mendetail. Saya hanya bisa menyajikan foto-fotonya yang mengundang selera. Selesai makan siang kami langsung menuju bandara untuk naik pesawat ke kota Makassar.

MAKASSAR

Di Makassar kami menginap di hotel dekat pantai Losari. Jadi walaupun tidak ada kendaraan, kami masih bisa ke pantai dengan memakai becak. Malam harinya kawan suami saya mengajak kami berputar-putar dikota Makassar. Mau makan malam apa di Makassar ? Sop Konro ? Coto Makassar ? Mie Titi ? Seafood Lae-lae ? Ayam goreng Sulawesi ? Atau Pallubasa ? Begitu banyak kuliner kota Makassar yang merupakan favorit para turis, tapi sebagian besar makanan khas adalah daging dan seafood. Akhirnya kami memutuskan makan pallubasa karena merupakan masakan khas Makassar yang ngga bakal bisa ditemui di Jakarta.

PALLUBASA SERIGALA (**)






Kamipun diajak ke pallubasa serigala yaitu pallbas no. 1 di Makassar. Setau saya pallubasa adalah sejenis soto daging, tapi bukan daging srigala loh, melain daging sapi. Hanya karena terletak di Jl. Serigala saja dinamakan pallbas Serigala. Saingannya adalah pallbas Onta karena terletak di Jl. Onta, letaknya pun dekat sekali dengan Jl. Serigala.

RM ini tempatnya sederhana yaitu sebuah ruangan yang disambung dengan tenda didepannya. Begitu kami duduk, kawan kami berteriak “campur 3”, aduh saya panik, saya tidak suka makan soto campur nasi. Eh rupanya artinya campur adalah dicampur dengan jeroan. Yah ini lebih gawat lagi, bagaimana nasib asam urat suami saya, bakal bengkak nih kaki. Pallbas milik kawan kami diberi kuning telur ayam kampung mentah, sedangkan milik kami tanpa telur. Nah mari kita cicipi pallbas nan terkenal ini.

Pallbas datang dalam mangkuk kecil, persis mangkuk soto kudus Blok M Jakarta. Ketika kusendok, dahi saya agak berkerut, karena semua isi soto ini bentuknya aneh-aneh. Rupanya semua berisi jeroan, saya cari-cari tidak ada dagingnya tuh. Kucicipi kuahnya, hmm harum semerbak dan sarat akan rasa rempah. Kuahnya berwarna coklat, kental dengan rasa kelapa sangrai. Ku kunyah jeroannya yang terasa agak kenyal. Pelan-pelan kupindahkan jeroan tsb ke mangkuk suami saya, hahaha. Pallbas ini enak banget buat yang doyan, dan saya tidak doyan. Saya akui kuah pallbas ini nikmat, andai pallbas saya berisi daging, pasti sudah habislah sepiring nasi. Pallbas lebih nikmat bila diberi jeruk nipis dan sambal yang tersedia dimeja. Walaupun perut saya masih terasa lapar, saya tidak kawatir, karena kuliner Makassar dimalam hari masih banyak yang menunggu.

Mie Titi (**)







Usai teman kami mengantar ke hotel, kami malah memanggil becak, karena saya mau makan Mie Titi. Saya sudah pernah makan mie Titi di RM Pelangi Jl. Wahid Hasyim no. 108 Jakarta Pusat. Nah sekarang kami mau mencoba mie Titi Jl. Datumuseng no. 23 Makassar. Mie Titi adalah ifumi ala Makassar, yaitu mie yang berukuran kecil-kecil digoreng sampai kering lalu disiram sayuran berkuah kental seperti capcay. Sayurannya hanya sawi hijau ditambah ayam dan udang, dengan kuah kental yang berwarna putih karena dicampur telur. Sebelum dimakan, diberi perasan jeruk nipis dulu biar terasa semakin segar. Makan mie yang renyah berpadu dengan kuah kental yang hangat dan sedikit asam merupakan sensasi tersendiri. Apalagi udang dan potongan ayamnya lumayan besar dan banyak.

Suami saya tidak tinggal diam, dia kembali memesan nasi goreng merah yaitu nasi goreng yang dicampur saos tomat sehingga berwarna merah, isinya potongan ayam, baso, kekian & telur orak arik. Nasi terasa empuk dan gurih dengan rasa asam yang samar. Kedua jenis makanan ini kami pesan dengan porsi kecil yaitu seharga Rp 22.000. Makan disini disediakan teh gratis loh, dimana teh disajikan didalam teko plastik, biar kita bisa minum sepuasnya.

Mie Titi ini banyak banget peminatnya. Selain makan ditempat, banyak juga yang membungkus untuk dibawa pulang. Mie kering sudah siap dibungkus kertas coklat dan dimasukkan kedalam plastik kresek, berjejer bergelantungan dipapan kayu. Begitu pula untuk yang dimakan ditempat, mie kering sudah siap diatas piring. Capcay dimasak sekaligus dalam 1 panci besar, sehingga pemesanan dapat tersaji dengan cepat.

Malam ini kami benar-benar kekenyangan, karena itu kami berniat melanjutkan perjalanan ke pantai Losari, berjalan-jalan sebentar sambil menurunkan makanan diperut.

PISANG EPE & SARABA (**)





Pantai Losari dimalam Minggu sungguh ramai dan padat. Kami asik berjalan menyusuri pantai sambil sekali-kali mengambil foto. Setelah lelah berjalan dan kira-kira kalori sudah mulai terbakar, bukannya pulang malah mampir ke pedagang pisang epe. Pedagang pisang epe tersebar disepanjang pantai Losari, mungkin jumlahnya ratusan.

Pisang epe adalah cemilan khas Makssar yaitu pisang kepok setengah tua yang dibakar diatas bara arang sampai setengah matang lalu pisang dijepit sampai pipih pake kayu, lalu dibakar lagi sampai matang, empuk dan renyah. Kemudian pisang ditata dipiring dan disiram gula merah cair yang telah dimasak bersama pandan. Nah itu pisang epe rasa original, sedangkan rasa yang telah dimodifikasi lebih banyak lagi yaitu rasa coklat, keju, strawberry, coklat kacang, nangka, duren, dll.

Malam itu kami mampir ke gerobak pisang epe no 41, dan memesan rasa keju. Untuk minumannya kami pesan saraba yaitu minuman khas Makassar yang mirip dengan bandrek. Saraba adalah minuman yang terdiri dari campuran santan dengan jahe, merica & gula merah, sehingga rasanya legit, manis dan hangat, sangat cocok diminum malam hari, dipinggir pantai, dengan hembusan angin dan deburan ombak, membuat badan menjadi hangat dan segar. Pisang epe pesanan kami setelah diberi gula merah cair lalu diberi parutan keju, sehingga rasanya jadi manis-manis legit. Wah ngga menyesal deh kami makan lagi.

MINGGU

Hari minggu pagi kami kembali ke pantai Losari karena disana menjadi lokasi car free day. Aktifitas saat itu adalah banyaknya warga yang berolahraga jalan kaki sampai senam oplosan, kemudian sarapan dan berbelanja di PKL.
Hari Minggu ini kami akan pulang ke Jakarta dengan pesawat pk. 15. Teman kami datang kembali untuk mengantar ke Bandara, tapi sebelumnya kami diajak makan siang ikan bakar di RM Paotere.

RM Paotere (**)











Kendaraan kami melaju menuju pelabuhan Paotere, tepatnya ke RM Paotere Jl. Sabutung Paotere no. 46, telpon 0411 3626366. RM ini terletak diseberang tempat pelelangan ikan pelabuhan Paotere. Dapat disimpulkan semua ikan yang disajikan disini sangat segar langsung dari laut.

Dari kejauhan sudah terlihat asap yang mengebul dari pembakaran ikan didepan RM ini. Sebelum masuk kami disuruh memilih jenis ikan yang akan dibakar. Saya agak panik karena tidak begitu mengerti jenis-jenis ikan, apalagi pelayan yang menawarkan menyebutkan berbagai nama jenis ikan yang tidak saya faham. Katanya yang best seller adalah ikan bolu, ternyata itu adalah nama lain dari ikan bandeng. Tapi ikan bandeng kan durinya halus dan banyak. Akhirnya suami saya memesan ikan bandeng dan saya memesan ikan kakap. Kalau di Makassar setiap orang memesan 1 porsi ikan untuk dimakan sendiri. Jadi kami ber 6 memesan 5 ikan bandeng, 1 ikan kakap dan 1 ikan kaneke. Kalau di Jakarta kan kita makan 1 ekor ikan untuk beramai-ramai, hahaha.

Sebelum ikannya dihidangkan dimeja, terlebih dulu dihidangkan aneka sambal pendamping seperti sambal kacang dengan irisan ketimun, sambal tomat hijau yang dicampur dengan jeruk limau, mangga muda serut, jeruk nipis dan daun kemangi. Ada 1 jenis sambal lagi yang harus kami pesan terlebih dulu yaitu sambal cabe rawit yang penampilannya pasti super pedas karena penuh dengan biji cabe dan berminyak. Selain itu dihidangkan pula semangkuk sayur santan mirip lodeh yang berisi kol, kacang panjang dan tomat hijau.

Kemudian datanglah ikan pesanan kami. Pertama saya cicipi ikan kakapnya. Wow ternyata rasanya tawar, begitu pula dengan ikan bandengnya. Rupanya semua ikan yang dibakar disini memang tak berbumbu karena itulah disediakan berbagai jenis sambal pendamping. Inilah sensasi makan daging ikan segar murni tak berbumbu, tapi kalau sudah dicocol sambal, yah nasi sepiring habislah. Saya sedikit menyesal menawarkan ikan kakap saya kepada yang lain, karena ternyata memang tidak mungkin makan ikan kurang dari 1 porsi sendiri, hahaha.

Selain ikan bakar, masih banyak menu lain yang disediakan di RM ini. Saya pun baru tau setelah selesai makan. Ada ikan kudu-kudu goreng, udang, cumi goreng tepung dan cumi bakar tinta, tak lupa otak-otak khas Makassar.

Kali ini gantian kami yang traktir. Saya siap-siap mengeluarkan kartu debit, karena kalau cash pasti ngga cukup uangnya buat ongkos pulang, hahaha. Setelah bon disodorkan ternyata hanya habis Rp 212.000 saja, sebab harga ikan bandeng @ Rp 18.000, ikan kakap & kaneke @ Rp 45.000 dan nasi @ Rp 4.000, wah murah ya.


Perjalanan kami di Sulawesi telah berakhir di RM Paotere yang merupakan RM pelopor ikan bakar Makassar yang termasyur dan sering dikunjungi para pejabat termasuk pak JK. Ah entah kapan lagi kami akan kembali...