Label

Selasa, Oktober 21, 2014

Lomba Pudding







Resep Pai singkong ayam jamur








Hidup bertetangga itu harus menjalin silahturahmi karena saudara kita yang terdekat adalah ya tetangga kita itu lah, yang bisa menolong apabila kita ada kesulitan. Oleh karena itu setiap 2 bulan sekali diadakanlah arisan di kompleks ku dimana kali ini untuk mengisi acara diadakan lomba kreasi makanan dari bahan singkong.

Dulu sudah pernah saya ikut acara serupa, dan saya membuat pizza singkong. Kali ini saya membuka http://www.sajiansedap.com/ untuk mencari kudapan unik dengan bahan singkong. Nah ini dia ada resep menarik yaitu Pai singkong ayam jamur, yang penampilannya menarik, modern dan istimewa. Tapi karena budgetnya hanya Rp 30.000 harus dimodifikasi sedikit agar lebih murah.

Ini dia saya sajikan resepnya :

Bahan kulit pai :
  • -      75 gr margarin
  • -      200 gr singkong dikukus, lalu dihaluskan
  • -      1 butir telur, dikocok lepas
  • -      100 gr tepung terigu, sebaiknya protein sedang
  • -      ½ sendok teh baking powder
  • -      ¼ sendok teh garam


Bahan isi pai :
  • -      1 potong dada ayam, dipotong kotak kecil
  • -      100 gr jamur merang, di iris-iris
  • -      2 siung bawang putih, di cincang halus
  • -      2 cabe merah keriting, di iris serong
  • -      1 sendok makan saus tiram
  • -      1 batang seledri, di iris-iris
  • -      1 sendok makan minyak goreng untuk menumis
  • -      Gula, garam, merica, air secukupnya
  • -      Keju parut untuk hiasan


Cara membuat :
  • -      Panaskan minyak goreng, tumis bawang putih dan cabe merah sampai harum.
  • -      Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna.
  • -      Masukkan jamur, saus tiram, gula, garam, merica, aduk rata.
  • -      Tuangi air, masak sampai meresap dan matang, lalu angkat dan sisihkan.
  • -      Aduk rata bahan kulit pai, lalu giling tipis.
  • -      Cetak di cetakan pai kecil pendek yang telah diolesin margarin, lalu tusuk-tusuk dengan garpu.
  • -      Oven hingga matang.
  • -      Setelah kulit pai dingin, lepaskan dari cetakan.
  • -      Masukkan isi kedalam mangkok pai.
  • -      Hiasi dengan taburan seledri dan taburan keju parut.



Setelah dinilai oleh juri, maka hasilnya pai singkong saya juara 1, yey...Hadiahnya sih ngga penting, tapi moment kumpul-kumpulnya itu yang terpenting.

Kamis, Oktober 16, 2014

Hati-hati makan Ayam Goreng Ancuur (*)






Melintas jalan Ir. H. Juanda Jakarta Pusat, pas jam makan siang, tersedia beberapa pilihan tempat makan. Kami parkir didepan RM padang Sari Bundo, tapi saya malah tertarik dengan sebuah rumah makan bernama Ayam Ancuur khas Solo. Hmm kayanya unik nih dan patut dicoba.

Masuk kedalam rumah makan ini, tempatnya sederhana, terbuka dan ruangannya memanjang kebelakang. Didepan ada sebuah gerobak dengan nama RM Ayam Ancuur, isinya berupa tumpukan potongan ayam yang berukuran besar-besar, tampak menggoda.

Ternyata apabila membaca daftar menunya, menu yang tersedia disini banyak juga jenisnya yaitu Timlo ayam solo, nasi goreng, bakmi goreng / godok, nasi liwet, ayam bakar / goreng ungkep, pecel kyai slamet, nasi pecel empal / ayam, capcay, selat solo, rawon keraton, tengkleng, tongseng, sosis solo, sayur asem, gudeg & tempe daun.

Saya sih harus mencoba menu andalannya si ayam ancur  dan suami memesan nasi pecel empal. Untuk minumannya kami memesan jus tomat & alpukat. Sambil menunggu, diatas meja kami ada sebuah piring yang berisi tumpukan tempe yang ukurannya tipis, kami jadi iseng mengambil tempe seorang 1. Tempe goreng terasa garing dan agak keras karena tipis. Belum selesai saya mengunyah tempe, pesanan kami sudah datang.

Ayam pesanan saya disajikan diatas piring melamin hijau beralaskan daun pisang, isinya adalah sepotong ayam goreng berukuran besar, bagian paha atas sampai bawah, nasi, tahu goreng, sambal hijau dan lalapan. Nah ayamnya itu dipotong-potong sampai tulangnya hancur tapi ayam masih terlihat utuh. Ketika ku makan rasanya sih biasa saja ya, bumbunya tidak gurih, manis juga ngga. Daging ayam cukup empuk tapi masalahnya karena tulang ayam hancur jadi susah makannya, harus ekstra hati-hati jangan sampai tertelan atau nyangkut di gigi, karena tulangnya keras dan tajam. Hmm sepertinya saya kapok makan sajian ini.

Saya juga mencicipi pesanan suami saya, nasi pecel empal. Dagingnya termasuk empuk tapi rasanya biasa juga. Lalu pecelnya sedikit banget bumbunya, rasanya pedas dan manis banget. Untuk minumannya, jus alpukat pesanan saya tampak menggiurkan, dihiasi kucuran susu kental manis coklat, tapi rasanya kurang manis.

Selesai makan dan meminta billnya, tertera disana harga ayam ancur Rp 20.000, nasi pecel empal Rp 30.000, 2 tempe daun @ Rp 2.000, rempeyek Rp 5.000, jus tomat Rp 9.000 dan jus alpukat Rp 10.000. Oh jadi tempe yang kami makan itu bernama tempe daun toh, tapi ngga ada daunnya sih, tempe goreng biasa, mungkin tempe sebelum digoreng dibungkus daun kali ya.


Sepertinya saya cukup sekali makan disini, karena rasanya kurang istimewa, walaupun harganya masih terjangkau. Yang penasaran hendak kesini alamatnya adalah Jl. Ir. H. Juanda no 5B Jakarta Pusat. Awas hati-hati ya makan ayam goreng ancurnya...

Tidak bisa take away udon / soba kuah di Tempura Tenya Tendon (*)


Selama ini kalau kami makan ke Citos, jarang sekali naik ke lantai 2. Karena itu ketika saya melihat sebuah restoran tempura bernama Tempura Tenya Tendon di lantai 2, saya mengajak suami untuk mencobanya. Sebelumnya kami pernah makan di restoran tempura sejenis ini di PIM 1 bernama Ten Ten. Nah coba kita bandingkan dengan Tempura Tenya Tendon ini, mana yang lebih enak.
Memasuki tempat ini, ruangan dengan interior yang didominasi kayu berwarna terang, kami duduk didekat dinding yang berhiaskan lukisan Tempura Tendon Tenya berukuran besar. Dari daftar menu yang diberikan, terdapat berbagai macam menu tempura seperti udang, cumi, ikan, crab stick dan sayuran. Karbohidrat pendampingnya adalah nasi, soba dingin/panas serta udon. Untung daftar menu ini didampingi gambarnya, sehingga memudahkan kami untuk memilih. Kami tertarik memesan menu yang bergambar semangkok tempura dengan soba panas karena terbayang akan kehangatannya.

Pesanan kami datang tidak begitu lama. Dua buah nampan yang masing-masing berisi semangkok tempura, semangkok soba panas, sepiring kecil sambal dan potongan daun bawang, terhidang didepan kami. Rupanya semangkok tempura itu adalah nasi yang ditutupi tempura diatasnya dan disiram saus, sehingga merembes ke nasinya. Wah andai kata saya tau pesanan kami tsb sudah ada nasinya, pasti saya tidak memesan soba, atau sebaliknya tidak memesan nasinya. Rupanya Tendon artinya adalah “nasi yang disajikan dalam mangkuk dengan aneka tempura, kemudian disiram dengan saus khas”, yah mana ku tau. Ya sudahlah, daripada ribut saya pilih makan tempura dengan nasinya, biar sobanya dibungkus saja.

Tempura terdiri dari udang, ikan, crab stick dan buncis, yang disiram saus khusus yang rasanya manis. Ketika ku makan sajian tempura ini, rasanya lumayan sih tapi saya masukkan kedalam kategori standar, biasa saja, tidak istimewa, masih lebih enak Ten Ten atau Marugame.

Karena kekeyangan, saya putuskan untuk memanggil pelayan untuk membungkus sobanya. Tapi alangkah terkejutnya saya karena dijelaskan oleh pelayan bahwa disini tidak tersedia tempat untuk membungkusnya. Saya jadi dongkol karena tidak suka membuang-buang makanan, apalagi harganya cukup mahal yaitu Rp 68.000. Andai kata saya tau pesanan kami ini mengandung 2 jenis karbohidrat, tentu saya hanya memesan 1 jenis saja. 

Saking sebalnya, ketika meminta bill saya bertanya, bisakah saya memesan tempura udon untuk dibawa pulang. Eh pelayan nya menjawab bisa lagi, semakin marah lah saya. Loh bagaimana cara membungkusnya, pakai bungkus apa, kan udon juga sejenis mi kuah, sama dengan soba, apa bedanya ? Setelah saya tanya seperti itu, penyataan diralat lagi oleh pelayannya, bahwa tempura udon tidak bisa dibungkus, disertai penjelasan bahwa di tempat aslinya di Jepang, soba/udon tidak bisa di take away karena akan berubah rasanya.

Saya sarankan kepada manajemen Tempura Tenya Tendon, mohon ditulis didaftar menu bahwa “Soba / Udon panas tidak disarankan untuk dibawa pulang karena akan merubah rasa”, tapi tetap dong disediakan tempat untuk membungkus makanan karena hal tsb merupakan hak customer yang telah membayar. Toh pembeli tidak bisa complain karena sudah ada peringatannya.


Selesai membayar, kami keluar dari restoran di iringin salam “Arigatao gozaimashita, selamat datang kembali”, dalam hati saya berkata “ngga mau datang lagi...”

Kamis, Oktober 09, 2014

Sajian kelas premiun di Sulawesi @Kemang (***)







Hari raya Idul Adha 2014 jatuh pada hari Minggu. Setelah selesai sholat Id di mesjid komples rumah kami, kami pergi kerumah orang tua suami, setelah itu baru kerumah orangtua saya. Hari itu cuaca panas sekali, tapi kami bertekad tetap nyekar ke makam Bapak mertua di Jeruk purut. Selesai nyekar disiang hari bolong, pas matahari diatas ubun-ubun, kepala saya mulai terasa pusing, sepertinya saya dehidrasi. Segera kami masuk kedalam mobil dan mencari tempat makan yang adem. Suami saya teringat, dia pernah makan bersama rombongan dosen dari kampusnya disebuah restoran seafood di Kemang, sehingga dia pun berinisiatif mengajak saya makan siang disana.

Tiba di Jl. Kemang selatan raya no. 2A, kami berhenti disebuah restoran besar yang kelihatannya mewah dan parkirannya sudah penuh, bernama Sulawesi @Kemang. Ketika kami masuk, pengunjung tampak ramai sehingga kami mendapat tempat dimeja belakang. Interior restaurant didominasi oleh kayu tampak mewah dan mahal. Semua meja terbuat dari kayu yang besar, tebal dan kokoh. Begitupula dengan kursinya, ada yang terbuat dari kayu, anyaman maupun sofa. Langit-langitnya juga terbuat dari kayu, dindingnya merupakan kombinasi antara kayu dan batu alam. Aksesoris pelengkapnya berupa lampu-lampu cantik, tirai kain, hiasan dinding dan berbagai pernak pernik pajangan.

Buku menu yang diberikan terasa tebal dan berat, berisi daftar menu serta gambarnya yang mengundang selera. Berbagai macam seafood kelas papan atas seperti lobster, kepiting, cumi, kerang, aneka udang dan ikan tertera dalam daftar bersama berbagai pilihan cara mengolah atau memasaknya. Selain menu seafood tersedia juga masakan ayam, sayuran, tahu/tempe, sate serta nasi/mie/bihun goreng. Dibagian minuman tersedia banyak pilihan seperti aneka jus, teh, coklat, kopi, milkshake, softdrink, mocktails, smooties, sparklers, beers dan aneka es khas Sulawesi.

Agak pusing juga kami memilih dari buku menu tsb, sehingga tanpa melihat lagi kami memesan ikan kerapu goreng crispy dan sayur pocay asparagus. Untuk minumannya saya memesan jus leci dan suami memesan jus nanas dan es jeruk pontianak. Didepan pintu masuk ada sebuah rak display yang berisi kue-kue khas Sulawesi, sehingga suami memesan panada untuk dibawa pulang.

Ada cerita khusus mengenai waitress disini, mereka itu berkali-kali bertanya dan meng confirm pesanan kami, kaya yang takut salah banget. Pesanan ikan kami saja, dia bertanya dulu ke dapur, confirm lagi, bolak balik, lebih dari sekali, begitu pula dengan pesanan es jeruk kami, cape deh. Sambil menunggu pesanan, kami bergantian sholat Dzuhur di mushola belakang. Selesai sholat, pesanan kami sudah lengkap diatas meja.

Ikan kerapu goreng crispy disajikan diatas piring kayu dengan hiasan bunga anggrek, tampak cantik dan mengundang selera. Ukuran ikan besar dan memang sudah diconfirm berat ikan yang tersedia paling kecil adalah 6 ons. No problem, kan bisa dibungkus jika tidak habis. Daging ikan telah di fillet dan disajikan bersama kerangkanya, dan digoreng tepung. Ketika dimakan, ikan terasa crispy diluar, lembut didalam. Ciri khas masakan ikan khas Makassar adalah bumbunya minimalis sehingga menonjolkan kesegaran rasa ikan sesungguhnya, dan dimaksudnya agar lebih enak bila dimakan bersama aneka sambal khas Makassar yang super pedas dan lezat. Kemudian tumis pocay asparagus juga tampak spesial dan istimewa yaitu pocay dan asparagus ditumis bersama telur dan berkuah kental, rasanya lembut, segar dan nikmat. Minuman pesanan kami juga terasa segar dan berkualitas.

Kesimpulan aneka sajian disini memang enak dan berkualitas premium, begitu pula dengan panada yang kami nikmati dirumah, kulitnya empuk dan lembut, isinya penuh, pedas dan lezat. Kekurangan restaurant ini hanya satu, harganya mahal banget. Ikan kerapu yang ternyata ikan kerapu macan hidup harganya Rp 48.000 per ons kali 6 ons jadi Rp 288.000. Pocaynya Rp 52.000, aneka minuman @ Rp 32.000 dan panada @ Rp 7.000, sehingga total billing kami menjadi Rp 574.500.

Kemungkinan sebagian besar bahan baku didatangkan khusus dari Sulawesi karena memang sulit untuk mendapatkan ikan seperti sukang, papakulu, katamba, kudu-kudu di Jakarta. Begitupula dengan udang sitto, gorilla galah, caviar dan jeruk ponti. Saya jadi teringat ketika kami ke Makassar, makan di rumah makan Paotere yang kondang itu, berenam orang hanya habis tiga ratus ribuan, jauh ya...