Tuesday, September 28, 2010

Sandwich renyah di 71 Sandwich house (**)


Jadwal acara di hari minggu ini penuh sekali, sejak pagi kami sudah pergi ke acara halal bihalal RW, dilanjutkan ke rumah sakit untuk menengok keponakan yang sakit, lalu ke supermarket untuk belanja bulanan serta mencari kado ultah kakak ipar. Setelah semua itu selesai, yang tersisa hanyalah perut yang lapar minta di isi. Suami saya ingin makan bakso. Dalam hati sebenarnya saya menolak, tapi tidak tega karena bakso adalah kudapan kesukaan kang mas. Sebab kedua adalah karena saya terbayang-bayang satu plang nama café sandwich yang setiap hari saya lewati ketika berangkat ke kantor. Tapi ah kusimpan dulu bayangan tsb dan berjanji akan membungkus sandwich tsb sebelum pulang.
Kami pun tiba di blok S dan masing-masing memesan semangkok bakso pak Joni yang dengan cepatnya kami habiskan, tandas sampai ke kuahnya. Setelah selesai suami pun bertanya, mau langsung pulang atau ada yang mau dibeli lagi. Segera kuungkapkan keinginanku untuk membungkus sandwich di wilayah jl. Gunawarman. Tak sampai 5 menit kami pun tiba. Plang nama “71 sandwich house” pun segera tertangkap mata. Itu karena angka 7 nya lebih besar dan berwarna merah diatas dasar putih. Dan ada juga artinya yaitu café tsb terletak di jl Gunawarman no 71, Kebayoran Baru. Padahal tempatnya sendiri nyempil dipojok diantara deretan salon diwilayah ini. Apalagi bila tertutup mobil-mobil yang sedang parkir, maka semakin tenggelamlah dia. Untunglah sang pemilik pintar dalam mendesain plang namanya, sehingga keberadaannya cukup menarik perhatian.
Ketika masuk kedalam, ruangannya kecil saja, hanya ada 2 meja kecil, 1 deret meja panjang, 1 etalase & 1 meja kasir. Pelayanpun segera menyodorkan daftar menu. Rupanya selain sandwich ada juga loh menu lainya seperti, pasta, soup, salad, calamari, chicken wings, cakes, juice, mocktails, tea & coffe. Menu sandwich saja ada 11 pilihan, bisa isi chicken, beef, tuna, turkey atau vege. Bahkan bisa “create your own” loh. Saya cenderung memilih yang isi daging dan terjebak diantara 2 pilihan sulit yang menggiurkan, mau Roast beef with caramelized onion atau Philly cheese steak. Hmm…Tapi akhirnya saya pilih yang pertama, karena saya pikir kalau isinya steak, enaknya makan ditempat bukan dibungkus. Harga sandwich berkisar diantara Rp 32.000-35.000, tapi kalau mau berkreasi sendiri, harganya menjadi Rp 40.000. Bahkan ada mix of mini sandwich loh, yang isinya bisa bervariasi, hmm asyik juga. Ternyata semua sandwich pasti disajikan bersama kentang goreng, sehingga harganya ditambah Rp. 5.000 lagi. Hmm cukup mahal juga ya.
Pesanan saya pun tiba, segera saya kembali ke mobil. Rasa hangat pembungkusnya membuat kami penasaran ingin segera melihat isinya. Tak sabar rasanya bila harus menunggu sampai dirumah, plastik mika yang berisi sandwich yang dipotong 2 serta kentang goreng langsung kami buka. Rotinya adalah ciabata yaitu roti pipih berbentuk panjang dan lonjong, permukaannya licin dan agak mengkilat karena olesan mentega yang meleleh setelah dibakar. Segera kami coba dan rasanya hmm enak. Rotinya kering, kres kres tapi empuk. Isinya daging asap yang di iris tipis, diberi tumisan bawang Bombay, lettuce, potongan tomat, keju dan olesan mayonais. Dagingnya juga kering tapi empuk tidak alot, tumisan bawangnya manis, sehingga rasa asin, manis dan segar pun bersatu di mulut dan membuat lidah bergoyang, o la la. Hanya beberapa menit sandwich pun habis kami santap. Perut seakan lupa akan semangkok bakso yang sebelumnya kami makan. Walaupun begitu, menurut pendapat kami, kekurangan sandwich tsb adalah kurang tebal jadi kurang kenyang, ha..ha..ha..
Nah siapa yang penasaran, segera telpon ke 021 7250 750 / 7280 0169, bisa deliver order juga loh. Aah lain kali waktu pun kami pasti kembali lagi untuk bersantai disini.

Wednesday, September 22, 2010

Sate Cirebon nan gendut & empuk (**)


Tak sengaja kami makan disini. Kisahnya adalah ketika kami akan pulang dari kota Tasikmalaya menuju Bandung, saat liburan lebaran yang lalu, tiba-tiba mobil kami mengalami kerusakan mesin, sehingga sangat beresiko bila kami nekat melanjutkan perjalanan dalam suasana mudik yang macet ini. Segera kami mencari-cari bengkel resmi untuk perbaikan mobil ini. Setelah sekian lama browsing di internet, ketemulah satu bengkel di kawasan jl. Ir. H. Juanda Tasikmalaya. Untunglah bengkel tersebut buka. Ketika diperiksa, sang teknisi memberitahu bahwa perbaikan memerlukan waktu yang cukup lama. Apa boleh buat, dari pada ada apa-apa dijalan, lebih baik sabar menunggu perbaikan.
Rasanya waktu berjalan lambat sekali, sudah 2 jam kami duduk diruang tunggu, badan terasa pegal. Perut yang lapar pun tak bisa diajak kompromi lagi. Tak tahan kami akhirnya berjalan kedepan mencari tempat yang layak untuk makan siang. Ternyata beberapa meter disebelah kanan bengkel ada sebuah plang rumah makan bernama “Sate Cirebon”. Hmm boleh juga tuh, segera kami melangkahkan kaki kesana.
Ruangan rumah makan ini sederhana sekali, tetapi luas. Semua meja makan nya berukuran lebar-lebar, sehingga dapat menampung kursi yang banyak. Pengunjung yang datang sudah menempati sepertiga ruangan. Kami harus langsung menuju jendela dapur apabila ingin memesan. Menunya tidak banyak, yaitu sate kambing, sapi, ati & ayam, lalu tongseng kambing / sapi, gule kambing, sop sapi, soto ayam serta ikan mas. Bila memesan ikan mas, ukurannya adalah kiloan, tak akan habis kami santap berdua, bila memesan hidangan kambing, takut asam urat, maka jadilah kami memesan sate ayam saja.
Cukup lama juga kami menunggu. Maklumlah, masih dalam suasana lebaran, tenaga kerja kerja pun sedikit. Piring & gelas kotor pun belum sempat dibereskan. Tetapi kesabaran kami mendapat pembalasan yang setimpal. Ketika sate dihidangkan, hmm tercium bau yang wangi. Daging ayam dalam tusukan sate terlihat gemuk-gemuk, bersih tanpa kulit & penampilannya tidak begitu gosong. Diatasnya disiram bumbu kacang, tetapi dibawahnya digenangi bumbu kecap manis. Disajikan bersama sepiring acar, irisan kol & potongan cabe rawit. Ketika dimakan daging terasa empuk tak berlemak, bumbunya meresap & bumbu kacangnya pun enak, dicocol bersama krupuk aci bantat, oh nikmatnya.
Tak terasa hidangan pun ludes kami santap. Karena ukuran sate yang besar, rasanya perut ini kenyang sekali. Perasaan yang lesu akibat memikirkan mobil kami yang rusak, sekarang semangat kami bangkit kembali. Harga seporsi sate sangat terjangkau, yakni Rp 20.000 per 10 tusuk. Ku lirik meja-meja disekitar kami yang rata-rata memesan sate & gule kambing, kelihatannya mereka lahap sekali & tak lama kemudian piring mereka pun bersih tandas. Suatu pengalaman kuliner yang tak disengaja tapi hasilnya luar biasa, dan bisa menjadi referensi orang-orang yang mengunjungi kota Tasik. Alamatnya adalah jl. Ir. H. Juanda no. 24 Tasikmalaya, telpon 0265 342 231. Nah selamat mencoba.

Yamien asin baso komplit “Laksana” Tasikmalaya yang bikin kangen (*)


Sehabis lebaran, masih ada waktu cuti dari kantor untuk berwisata. Tadinya kami ingin jalan-jalan ke Jogja tetapi ketika akan pergi, terdengar berita adanya gempa yang melanda kota Jogja lagi, sehinga kami pun batal kesana. Sebagai gantinya kami berkunjung ke kota Tasikmalaya untuk menginap semalam disitu. Maklumlah saya belum pernah kesana, sedangkan suami ku sering melewati kota Tasikmalaya, ketika pulang kuliah dulu dari Jogja ke Bandung.
Karena masih suasana lebaran, perjalanan kesana sangat macet dan hujan turun terus menerus, sehingga kami sampai di hotel kota Tasik hampir tiba waktu Magrib. Walaupun begitu, malam itu kami tetap berencana untuk berwisata kuliner. Setelah tanya sana tanya sini, rupanya wisata kuliner kota Tasik ini yang paling menonjol adalah mi baso nya. Tapi mesti hati-hati loh, jangan sampai salah masuk karena banyak juga rumah makan mi baso yang ramai tapi tidak halal. Untunglah kami mendapat info dari salah seorang petugas hotel bahwa rumah makan mi baso yang paling terkenal & halal adalah Mie Baso Laksana, jl. Pemuda no 5, telpon 0265 333 833. Hmm langsung saja kami menuju kesana.
Suasana lebaran membuat kota ini masih agak sepi, tidak banyak toko-toko & rumah makan yang buka, ditambah suasana hujan yang terus menerus membuat Mie Baso Laksana ini sangat ramai ketika kami sampai disana. Padahal rumah makan ini sederhana saja tapi cukup luas. Menu yang tersedia pun hanya 3 jenis mie yaitu mie biasa (dicampur kuah), yamien (kuah dipisah) asin & manis, bisa ditambah baso doang, baso babat atau komplit. Kami pun sepakat memilih yamien asin baso komplit. Minuman yang paling pas untuk menemani makan mie baso adalah es campur tentunya.
Tak perlu waktu yang lama untuk menghidangkan pesanan kami, yamien asin baso komplit pun segera disajikan dihadapan kami. Yang dimaksud dengan komplit adalah mie disajikan bersama baso, tahu baso & babat. Tapi untunglah kami sudah berpesan tidak pakai babat karena takut asam urat. Yamien porsi nya sedang-sedang saja, tidak terlalu banyak, ditaburi potongan ayam & daging sapi cincang serta daun bawang. Kuah baso nya bening sedikit berminyak, berisi 4 butir baso ukuran sedang & 1 tahu baso berukuran besar serta taburan daun bawang. Rasa hangat segera menjalari tubuh ketika ku menghirup kuah baso ini, hmm segar, cocok untuk menghalau rasa dinginnya udara. Lalu warna baso tidak terlalu coklat tapi tetap terasa dagingnya, tahu baso terasa lembut serta mie terasa empuk & gurih, pasti deh mie yang bentuknya agak gemuk-gemuk ini adalah bikinan sendiri, sehingga rasanya lain dari pada yang lain. Dalam hitungan menit pun makanan ini telah ludes kami santap. Rasa pedas & gurih segera kami halau dengan es campur yang berisi potongan nangka, kelapa muda, alpukat, kolang kaling serta anggur hijau, lalu diberi es serut & disiram sirup merah dan susu kental, hmm manis menyegarkan, dessert yang sempurna.
Rupanya ada satu point lagi yang membuat mie baso ini laris, yakni sertifikat halal dari MUI yang membuat pengunjungnya aman. Nah tibalah waktunya meminta bon, dan wow rupanya harganya cukup mahal ya untuk ukuran rumah makan biasa, yaitu Rp 26.000 plus es campur Rp 10.000, sehingga kami makan berdua saja sudah menghabiskan Rp 72.000. Tetapi walapun begitu tidak kami sesali kelezatannya, bikin kangen berkunjung ke Tasik…

Friday, September 17, 2010

Tumis Jambal Roti Pete D'Palm Uenak Pisan! (***)























Selasa, 12/10/2010 14:51 WIB

Kania Kurniasari - detikFood

http://www.detikfood.com/read/2010/10/12/145147/1462446/290/tumis-jambal-roti-pete-dpalm-uenak-pisan?d993301

Bandung - Nama Pengirim: Kania Kurniasari

Makan di restoran Sunda yang satu ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi saat menikmati tumis jambal roti pete dan nasi liwet yang gurih. Ditambah sambal cabe hijau dan krupuk aci hmm... jadilah hidangan yang uenak pisan!

Tahun ini kami merayakan hari lebaran di kota Bandung. Seperti biasa kami menyediakan menu lebaran lengkap termasuk ketupat. Dua hari menyantap hidangan lebaran yang sama cukup membuat kami keblinger. Ditambah persediaan bahan makanan di kulkas yang tipis membuat kami memutuskan untuk makan di luar pada hari Minggu.

Untunglah suamiku teringat, ada sebuah restaurant Sunda dimana ia pernah makan di sana bersama teman-temannya. "Makanannya enak loh, tempatnya juga luas dan nyaman," katanya berpromosi. Hmm boleh juga tuh dicoba, bikin penasaran saja.

Akhirnya kami pun menuju D'Palm Sundanese Restaurant yang ada di Jl. Lombok. Sesampainya kami disana, wuih... restoran ini memang besar dan luas. Saat ini restoran padat oleh pengunjung sehingga kami sedikit mengalami kesulitan untuk parkir walaupun lahan yang tersedia cukup luas.

Berbagai macam jenis ruangan yang tersedia disini, yaitu ruangan seperti biasa yang terletak di dalam (section), ruangan diteras belakang (gazeeboo), ruang VIP, Banquet Hall, meeting room dan tempat bermain anak-anak. Pilihan menu yang cukup banyak membuat kami lapar mata. Aneka menu masakan Sunda seperti ikan & ayam, pepes, sampai aneka daging, jeroan, udang, cumi, kepiting tersedia. Ada pula aneka jenis nasi, seperti nasi bakar, pepes, liwet, tugtug, dan timbel.

Akhirnya kami sepakat memilih nasi liwet & nasi tutug oncom, disertai dengan lauk ikan gurame goreng, lidah goreng, cumi goreng tepung, sop buntut, ayam bakar & ikan patin goreng. Pelengkapnya adalah pete bakar, tahu goreng, sambal dadak & sambal cabe hijau, tumis jambal roti pete serta krupuk aci. Saya juga memesan es campur serta es mutiara untuk suami.

Sepiring otak-otak yang terhidang dimeja pun langsung ludes kami serbu. Tapi hebat juga yah, tak memerlukan waktu yang lama untuk meyiapkan beragam pesanan kami. Perut yang lapar membuat kami sedikit berebutan ketika menyambar lauk di meja. Hmm betapa serunya!

Saya pun hanya kebagian nasi liwet, kepala gurame goreng, beberapa potong cumi, tumis jambal roti, sambal cabe hijau & krupuk aci. Tapi oh... nikmat pisan ouy! Nasi liwetnya pulen dan wangi gurih. Dihidangkan didalam sebuah panci kastrol dan ditaburi sedikit bawang goreng.

Cuminya hmm... menggiurkan, dipotong bentuk segitiga, dibalut tepung dan digoreng sehingga berwarna coklat kekuningan, rasanya kriuk tapi empuk serta gurih. Guramenya juga garing tapi tidak tajam bumbunya, sehingga semakin nikmat ketika disiram dengan sambal kecap.

Tetapi yang paling bikin jatuh hati adalah tumis jambal roti petenya, yaitu potongan ikan asin jambal roti yang ditumis bersama potongan pete, bawang, cabe serta tomat sehingga sedikit berkuah, lalu ditaburi bawang goreng. Rasanya mak nyuss enak tenan. Aromanya yang wangi & rasanya yang asin sungguh menggugah selera makan.

Krupuk aci yang agak bantat dicocol kedalam sambal cabe hijau menjadi pelengkap yang sempurna. Sambalnya terasa menyengat di lidah tapi segar karena diulek bersama tomat hijau, serta tidak berminyak. Makannya jadi tambah semangat sehingga tambah lagi dan lagi.

Es campur yang sarat dengan potongan buah segar pun menjadi penutup yang menyegarkan, membilas sisa rasa pedas & gurih dimulut. Puas rasanya kami menikmati aneka hidangan ini. Kekurangannya hanyalah kami agak terganggu asap rokok pengunjung lain.

Kini tiba saatnya untuk meminta tagihan. Yang paling mahal adalah ikan gurame Rp 60.000, disusul dengan sop buntut Rp. 35.000, cumi Rp 35.500, ikan patin Rp 23.000, tumis jambal Rp 27.000, nasi liwet Rp 20.000, lidah Rp 16.000 dan ayam Rp 15.500. Lauk pelengkap lainnya dibawah Rp 10.000.

Yang membuat saya cukup heran harga minumannya, kalau es campur & es mutiara @ Rp 13.000, sedangkan lemon tea Rp 20.500. Tapi kata kakakku lemon tea nya memang enak & segar, perasan air lemonnya banyak dan asli. Ngga nyesel deh!


D'Palm Sundanese Restaurant

Jl. Lombok no.45 Bandung

Telp: 022-4261623/4261591