Friday, December 21, 2012

Acungan jempol untuk kopi Sumatera di Otten Coffee (***)







Berkunjung ke kota Medan tanpa membeli oleh-oleh tentunya belum lengkap. Belum lagi pesanan titipan dari keluarga dan teman sekantor, pesan ini, pesan itu. Salah satu pesanan yang sudah pasti adalah oleh-oleh bolu gulung Meranti di Jl. Kruing.
Wah saya baru tau, kalau dijalan tsb terhampar aneka toko oleh-oleh disepanjang jalan. Hmm bisa lapar mata nih. Begitu masuk toko bolu Meranti prosedurnya adalah kita langsung antri ke kasir untuk memesan bolu dengan berbagai pilihan rasa, lalu bayar, ambil nomer dan tunggu dipanggil.
Nah daripada lama nunggu disitu, lebih baik kita berjalan-jalan dulu disepanjang jalan Kruing, siapa tau ada toko oleh-oleh yang lebih menarik lagi. Tak disangka baru sebentar kami melangkahkan kaki, kami melihat sebuah coffee shop bernama Otten coffee yang kelihatannya masih baru. ngopi dulu yuk, aku haus nih?ajak suami ku.
Seorang waitres membukakan pintu untuk kami, dan kami terhenyak kagum akan keindahan interior coffee shop tsb. Disebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah pajangan terbuat dari rotan berbentuk motor vespa berwarna hitam, dengan plat nama Otten coffee. Disampingnya terdapat aneka keranjang bambu, sangkar burung dan beberapa ember kayu berisi contoh-contoh biji kopi asli bertuliskan lintong, robusta, mandheling, aceh gayo dan roasted bean.
Disampingnya lagi terdapat sebuah mesin pembuat kopi yang masih mengkilat. Dimana petunjuk pengoperasian mesin tsb digambarkan melalui sebuah sketsa, yaitu dari memasukkan biji kopi kedalam mesin lalu melalui proses pemanggangan dan penggilingan biji kopi menjadi kopi bubuk yang siap kita minum. Hmm menarik.
Dibagian tengah ada sebuah rak kayu yang berisi aneka jenis kopi yang dijual yaitu meliputi kopi lanang, aceh gayo, sidikalang, sumatera, robusta sidikalang, robusta aceh, danau toba dan kopi medan. Semua dikemas dalam paperbag warna coklat, divakum dan disegel sehingga kantong tsb kedap udara dan kopi terjamin kesegarannya.
Sambil melihat dan memilih-milih jenis kopi, kami juga diberi keterangan secara mendetail oleh pemiliknya yang kebetulan sedang berada ditempat. Keunggulan coffee shop ini adalah selalu menjual kopi segar setiap hari dimana kopi yang dijual seluruhnya adalah 100% kopi sumatera.
Dibagian belakang ada sebuah rak lagi yang khusus berisi kopi luwak kualitas premium. Artinya kopi luwak tsb 100% asli dan dijamin keasliannya melalui sertifikat yang juga dipajang dirak tsb. Harga kopi luwak termurah adalah Rp 200.000 per 100 gram dan yang termahal Rp 1.200.000 dengan berat 250 gram dalam kemasan limited edition. Sedangkan harga kopi selain kopi luwak berkisar antara Rp 45.000 - 75.000 dengan berat 200 gram.
Sambil melihat-lihat kami diberi penjelasan yang menarik mengenai kopi luwak ini. Kopi luwak berasal dari buah kopi yang dimakan musang. Musang tsb hanya memakan buah kopi yang benar-benar matang. Buah kopi yang dimakan musang lalu dicerna didalam perut musang, tapi biji kopi tidak bisa dicerna melainkan berfermentasi dengan enzim didalam perut musang lalu dikeluarkan lagi melalui kotoran musang. Kotoran tsb dikumpulkan oleh petani, dicuci dan dibersihkan sampai steril, kemudian dijemur sampai kering, lalu dipanggang dan digiling sampai halus dan siap kita minum. Keunggulannya dibandingkan dengan kopi biasa adalah kopi luwak benar-benar berasal dari buah yang matang karena telah diseleksi oleh musang, lalu nyaman dilambung karena kopi telah berfermentasi dengan enzim diperut musang, terakhir rasa dan aromanya lebih nikmat daripada kopi biasa. Beberapa keunggulan tsb lah yang menjadikan kopi luwak mahal dan terkenal didunia.
Puas mendengarkan penjelasan, kamipun menghampiri coffee bar yaitu tempat barista meracik kopi pesanan pengunjung. Ah kami tertarik untuk duduk bersantai sejenak menikmati secangkir kopi hangat. Suami saya memesan latte dan saya memesan cappuchino. Kopi yang disajikan benar-benar terasa beda, segar dengan wangi yang memabukkan.
Sambil minum, kami masih terkesan akan interior ruangan tsb. Disetiap dinding pasti diberi rak, baik berisi kopi atau berisi berbagai pajangan unik khas Indonesia yang berkaitan dengan kopi. Sungguh menarik.
Interior yang indah dan menarik, kopi yang berkualitas, pemilik yang ramah, informasi yang detail, barista yang berpengalaman, harga yang terjangkau, semua keunggulan tersebut berpadu sempurna dan bakal menjadikan Otten Coffee menjadi yang terdepan dalam menyajikan kopi Sumatera. Acungan jempol untuk Otten coffee.
Otten coffee
Jl. Kruing No 3 E-F Medan
Telpon 061 414 8806

Warung Rawit, tak seseram namanya (*)







Mendengar namanya saja sudah gemeteran, Warung Rawit. Apakah semua masakannya dibumbui dengan potongan cabe Rawit ? Kalau suami saya yang mendengar kata “Rawit? dia pasti tergugah dan bersemangat untuk mencobanya. Lain dengan saya yang mengharapkan adanya menu lain yang tidak terkena sentuhan si cabe Rawit ini. Tapi bagaimana kita tau kalau belum mencobanya secara langsung ? Akhirnya, kali ini, ketika kami pergi ke daerah Kelapa Gading, kami pun langsung menuju warung Rawit. Walaupun namanya warung, tempatnya jauh dari kesan warteg, melainkan merupakan rumah makan sekelas restaurant yang berada di jajaran ruko di jl Boulevard Raya Kelapa Gading.
Memasuki tempat ini, ruangannya tidak begitu luas, tapi bagus, bersih dan rapih, dengan furniture dominan terbuat dari kayu. Kemiripan interiornya mengingatkan saya akan interior warung Tekko, spesialis iga penyet. Dindingnya berhiaskan aneka foto menu khas warung Rawit, dimana gambar-gambar tsb bikin tenggorokan kita menelan air liur sendiri, glek.
Apabila kita membaca daftar menunya, oh rupanya tidak seseram namanya. Menu yang tersedia disini cukup banyak, yaitu terdiri dari aneka masakan soup, aneka penyet, aneka masakan ikan, cumi, udang, ayam, sayuran, nasi dan mi. Rupanya keunggulan warung Rawit ini adalah menyajikan menu-menu khas Kalimantan dan Jawa Timur. Masakan Jawa Timur diwakili oleh menu serba penyet seperti iga, ayam, bebek, udang, cumi, tahu, tempe penyet. Sedangkan masakan Kalimantan diwakili oleh ikan teri singkawang, gurame kari singkawang, ayam goreng singkawang, gulai keong nenek dan pakis terasi udang singkawang. Berdasarkan rekomendasi waitres, kami memesan menu ayam goreng singkawang dan pakis teri terasi. Untuk minumannya kami memesan es jeruk Pontianak dan es campur batok kelapa.
Saat itu pengunjung lumayan banyak walau tidak sampai penuh, minuman pesanan kami datang tidak begitu lama. Es jeruk pontianak datang disajikan didalam gelas berbentuk botol selai, berhiaskan sepotong jeruk dibagian bibir gelas. Dari warnanya saja sudah terlihat, es jeruk ini berbeda dari biasanya yaitu memakai jeruk pontianak yang terkenal manis. Rasanya jelas semanis warnanya, enak dan segar.
Minuman pesananku, atau lebih tepatnya dessert, adalah es campur batok kelapa, datang dengan gaya, yaitu setengah potong kelapa muda yang berfungsi sebagai mangkuk, diisi dengan aneka buah-buahan potong, seperti nangka, alpukat, kolang kaling, diberi es serut yang disiram sirup merah dan susu kental manis. Ketika dimakan, wuih enaknya, dan ada yang berbeda yaitu rasa kletuk-kletuk dari jelly bulat kecil-kecil.
Kemudian datanglah menu lunch kami. Seporsi ayam goreng singkawang berisi beberapa potong ayam kampung berwarna kecoklatan dan disajikan dengan sambal rawit merah. Rupanya ayam tsb dibumbui dengan terasi sehingga warnanya kecoklatan. Rasanya enak, bumbu cukup meresap dan dagingnya lumayan empuk. Walau begitu sajian ini tidak termasuk kedalam kategori lezat atau bikin nagih.
Kemudian sajian pakis teri terasi, nah ini baru sajian yang jarang ada. Sayur pakis atau paku berasal dari tanaman hutan liar yang didatangkan langsung dari Kalimantan. Bentuk sayuran ini berupa pakis berbatang kecil dan bertekstur crunchy, dibumbui dengan terasi dan bawang putih, ditaburi teri dan kulit ayam goreng tepung. Aha sedapnya. Bumbunya nendang, sayurnya segar dan kres ketika dimakan, dan topping kulit ayam yang chrispy itu saya suka banget. Sayang seporsi cuma sedikit, he he he.
Saya intip meja pengunjung lain yang datang bersama keluarganya, mereka memesan ikan gurame yang kelihatannya menggiurkan banget karena ditaburi bumbu kremesan yang terlihat chrispy. Wah kapan-kapan saya harus coba menu itu kalau datang lagi kesini. Saya lihat gambar didinding, menu tsb bernama gurame jeruk bali. Wah aneh ya, seperti apa ya rasanya ? Tapi sayang perut kami sudah penuh terisi, tidak mungkin nambah lagi. Apalagi saya harus menghabis es campur yang isinya cukup banyak.
Selesai sudah makan siang kami, sekarang saya minta billnya. Oh ternyata sedang ada program discount 10% loh untuk semua jenis F&B. Harga aslinya adalah ayam singkawang Rp 25.000, Pakis Rp 19.500, es campur Rp 20.000 dan es jeruk ponti Rp 16.000. Harga tsb termasuk standardlah. Yang ingin berkunjung kesini alamatnya adalah Jl. Boulevard Raya Blok QA5 #8-9 Kelapa Gading Jakarta Utara, telpon (021) 4513 687. Bisa delivery order loh...

Nikmatnya Jhon Dori dan Kraby di Demang resto (***)




http://www.yukmakan.com/review/members/Demang%20Restaurant%20&%20Coffee%20Lounge/4368/Nikmatnya%20Jhon%20Dori%20dan%20Kraby%20di%20Demang%20resto

Tiba-tiba suami saya memberikan voucher discount 50% makan di restaurant Demang sekitar tanggal 23-25 November 2012 dalam rangka anniversary restaurant Demang. Besok kita kesana yuk, biar kamu tau, aku sering makan disitu dan berkumpul dengan teman-teman setelah pulang kantor katanya. Jadi hari minggu kemarin, kamipun berangkat untuk makan siang disana.
Restaurant ini terletak didalam kompleks Sarinah Plaza Jl. MH Thamrin, tepatnya di gedung La Mounte, Jl H. Agus Salim no. 60 Menteng Jakarta Pusat. Dari pintu masuk, kita langsung mengarah ke kanan karena letaknya di paling ujung belakang kompleks Sarinah.
Memasuki ruang restaurant ini, rupanya merupakan gabungan antara restaurant dengan lounge dan coffee shop. Interiornya cantik bergaya klasik minimalis vintage, dihiasi dengan foto-foto jadul didinding resto. Coffee shopnya terletak dibagian depan resto, dengan tempat duduk berupa sofa dibagian loungenya.
Waitress yang ramah rupanya sudah pada kenal dengan suami saya. Pengunjung resto lumayan banyak karena sedang ada acara arisan. Kami pun kebagian tempat dikursi paling belakang. Buku menu yang tebal berisi berbagai menu perpaduan masakan Indonesia dan Western. Sudah dapat ditebak, suami paling suka masakan Indonesia, memilih Sop buntut kraby dan saya paling suka western food, memilih Chrispy jhon dori. Untuk appertizer suami saya memesan nachos yang katanya enak sekali. Tak lupa kami pesan minuman Demang sangria untuk suami dan double chocolate untuk saya.
Waitress disini selain ramah, cepat pula pelayanannya. Tak berapa lama pesanan kami pun datang. Dimulai dari minumannya, Demang sangria, disajikan didalam gelas berbentuk toples selai yang sedang in, yaitu merupakan perpaduan antara orange jus dan soda serta diberi potongan buah-buahan. Rasanya asem dan semriwing banget, seger deh. Karena tenggorokan saya sedang tidak bersahabat maka saya memesan minuman hangat double chocolate, disajikan digelas tinggi berupa minuman hot chocolate dengan topping whipped cream, coklat cair, coklat bubuk dan potongan coklat. Hmm bener-bener double rasa coklatnya.
Sajian dilanjutkan dengan nachos yaitu kripik jagung mexico alias tortilla, yang ditaburi parutan keju, saus salsa, yang berasal dari cincangan tomat segar, serta bubuk cabe kering. Rasanya gurih, pedes, nagih deh.
Sajian utama pun datang, sop buntut kraby disajikan dengan cara yang unik yaitu beberapa potong buntut sapi ukuran besar disajikan dipiring bersama semangkok kuah sop yang berwarna bening yang berisi potongan sayur, bertaburkan bawang dan emping, lalu nasi putih dicetak kerucut seperti tumpeng mini. Ketika ku cicipi, rasa buntutnya wow enak banget, bumbunya sungguh meresap kedalam daging serta empuk banget tanpa perlu cape-cape mengunyah. Saya lihat suami saya makan dengan lahap.
Kemudian chrispy jhon dori adalah fillet ikan dori yang dipotong memanjang seperti stik lalu digoreng tepung dan disajikan bersama kentang goreng serta disiram saus kunyit. Pertama saya agak ragu mengenai saus kunyit ini. Tapi setelah kucicipi rasanya enak juga yaitu rasa asam manis tanpa aroma kunyit, sempurna berpadu dengan ikan dori yang lembut.
Sajian restaurant ini memang patut direcomendasikan. Pantesan suami saya bersama teman-temannya betah nongkrong disini. Harganya pun standard saja yaitu sop buntut Rp 67.000, jhon dori Rp 65.000, nachos Rp 35.000, sangria Rp 37.000 dan double chocolate Rp 28.000, itu belum termasuk discount food only loh.
Restaurant ini memang cocok disegala suasana, mau lunch atau dinner, atau bahkan sekedar nyantai sambil ngobrol dan ngopi juga sah-sah saja. Tak lupa ditemani dengan berbagai nuansa alunan musik yang sudah dipersiapkan.

Saturday, December 01, 2012

Menjala hidangan di Restaurant Nelayan Cambridge square Medan (***)


  
















Minggu siang di kota Medan, kami hendak pulang ke Jakarta dengan pesawat sore pk 18. Kami menginap di Grand Swiss-Belhotel yang letaknya bersatu dengan Mall Cambridge square. Waktu sudah menunjukkan pk 13, dan kami berada di lobi hotel untuk check out. Diluar hujan deras mengguyur kota Medan. Hmm makan siang dimana ya, yang enak tapi malas menantang guyuran hujan lebat. Akhirnya kami melangkahkan kaki ke Mall Cambridge square, untuk mencari-cari restaurant dengan menu khas Medan.
Tiba di lantai LG, ada sebuah restaurant bernama Nelayan, Jala-Jala III. Kelihatannya sangat menarik, karena didekat pintu masuk dipasang 2 lemari display. Yang pertama berisi aneka dimsum goreng, yang kedua berisi aneka dessert antara lain pudding jeruk sunkist dan pancake. Ah saya pun teringat, pernah makan disebuah restaurant yang serupa di Mall Taman Anggrek Jakarta, dengan nama Sari Laut Jala-Jala, Medan favorit cruisine. Setelah ditanyakan, rupanya restaurant di Jakarta itu memang merupakan cabang dari kota Medan. Hmm boleh juga nih makan dari tempat aslinya.
Menu unggulan disini adalah dimsum steam dan goreng. Waitres terus berkeliling, mengitari meja pengunjung sambil membawa nampan yang berisi aneka dimsum yang bisa langsung kita ambil. Selain dimsum, menu lain pun banyak pilihannya, yaitu meliputi aneka hidangan vegetarian, aneka masakan mie, kwe tiau dan nasi, aneka bubur, soup dan sayuran. Untuk lauknya tersedia sajian bebek peking, ayam, sapi, udang, soka & ikan special. 
Sebagai penggemar kepiting soka, saya langsung memesan soka goreng mentega. Suami saya mencari kehangatan dalam semangkuk sop asparagus daging kepiting serta dimsum xiao long pao kepiting. Asyiknya lagi, sedang berlaku promo gratis 2 minuman teh bila memesan dimsum xiao long pao. Saya segera memilih teh bunga chrysanthemum yang memberi efek mendinginkan suhu tubuh.
Pesanan kami datang tak begitu lama. Sepiring nasi hangat dengan lauk soka goreng mentega bakal mengguncang lidah. Penampilannya sungguh menarik yaitu soka digoreng tepung, berlumuran saus asam manis yang berwarna coklat pekat, disajikan dengan taburan irisan kasar bawang Bombay dan daun bawang yang cukup banyak. Bagian kaki soka terasa kriuk kriuk ketika dimakan, tapi bagian badannya terasa empuk, rasa asam manis dengan semburat gurih pun memenuhi rongga mulut. 
Saya lihat suami saya sedang asyik menyeruput sop asparagus daging kepiting dengan lahapnya. Penambahan irisan cabe rawit kecap asin kedalam sup semakin membuat tubuh menjadi hangat. 
Kemudian dimsum xiao long pao kepiting pun dihidangkan. Enam buah xiao long pao yang masih mengepul panas disajikan bersama kecap asam. Cara makan dimsum ini cukup unik, yaitu ambil pakai sumpit secara perlahan dan extra hati-hati karena dimsum agak lengket dikertas, lalu taro disendok bebek, gigit perlahan dan hirup kaldunya yang keluar dari dalam dimsum, hmm sedapnya. Setelah itu baru kunyah cincangan daging kepiting yang berada di dalam kulit dimsum, yang rasanya agak sedikit masam. Hmm benar-benar hidangan yang cocok dinikmati dikala hujan.
Para waitress masih saja mengitari meja para pengunjung untuk menawarkan dimsum. Ah kali ini kami tertarik dengan udang mayones. Porsinya tidak terlalu banyak. Udang terbalut limpahan mayones, dan disajikan bersama sedikit salad buah. Tak perlu waktu lama untuk menandaskan sajian lezat ini.
Kesimpulan, masakan direstaurant ini rasanya enak dan recommended, pelayanannya pun cepat dan ramah. Harga yang ditagihkan cukup masuk akal, yaitu soka Rp 30.000, udang Rp 55.000, xiao long pao Rp 39.000 dan sup asparagus kepiting Rp 18.500.
Buat yang penasaran ingin mencoba, silahkan datang ke Nelayan Jala-Jala.
Selamat menjala-jala.


Restaurant Nelayan, Jala-Jala III, Cambridge square lantai LG, Jl S. Parman 217 Medan 20152, telpon 061 4529 280 / 109.

Monday, November 26, 2012

Sop tulang sumsum maha besar di RM Sipirok - Medan (***)

























http://www.yukmakan.com/review/members/Sop%20Sumsum%20Sipirok/4236/sop-tulang-sumsum-maha-besar-di-rm-sipirok--medan

Akhirnya sampai juga saya di kota Medan, kota kelahiran suami saya, putra Jawa kelahiran 
Sumatera. Suami saya setiap habis berkunjung dari kota Medan, karena dinas dari kantornya, selalu bercerita tentang kuliner kota Medan yang terkenal enak dan enak sekali. 
Hari ini, kami berdua datang dari Jakarta dengan pesawat pk 8 pagi. Otomatis masih banyak waktu untuk berjalan-jalan berburu kuliner sejak pagi ini. Rupanya menurut keterangan para supir taxi dan supir becak motor Medan, wisata kuliner kota Medan yang terkenal itu kebanyakan buka pada malam hari. Hanya ada beberapa tempat makan terkenal saja yang buka siang hari. 
Ada 2 tempat kuliner terkenal yang ditawarkankan suami kepada saya, mau makan Sop sumsum Sipirok atau Mi Aceh Titi Bobrok. Untungnya jarak kedua tempat itu agak berdekatan, jadi kami sempat survey dulu. Akhirnya kami putuskan untuk makan Sop sumsum dulu hari ini, besok siang baru makan Mi Aceh.
Sop sumsum Sipirok terletak di Jl. Sunggal no. 14. Kami berhenti didepan rumah makan ini yang tempat parkirnya sudah dipenuhi mobil. Masuk kedalam rumah makan ini, merupakan ruangan yang besar dan luas, tanpa penyekat, penuh dengan meja kursi serta kipas angin yang terpasang dilangit-langit. Bagi suami saya, ini adalah kunjungannya yang kedua. Pada kesempatan pertama dia sudah kehabisan sop sumsum karena datang kesorean. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, tidak ada karyawan kantor yang secara mayoritas biasanya menyesaki tempat makan ini. 
Suami saya langsung memesan sop sumsum dan sop daging yang langsung diantar ke meja kami bersama menu pelengkap lainnya yaitu sepiring ikan teri, daun singkong tumbuk, tumis bunga pepaya, sepiring udang ukuran kecil-kecil banget, lalapan, dan sepiring lagi, menurut tebakan kami, adalah irisan daging ikan yang diberi sambal. 
Ketika sop sumsum dihidangkan, kami kaget luar biasa. Bentuknya adalah sepotong tulang kaki sapi bagian bawah yang ukurannya besar banget, terus dibagian luarnya masih banyak kikil dan daging yang masih menempel ditulang. Disajikan diatas piring dengan kuah sop yang bening, serta dilengkapi dengan pisau untuk mengiris kikil dan daging yang masih menempel pada tulang, serta sedotan untuk menyedot sumsum yang berada didalam tulang. 
Sop daging tak kalah hebohnya, yaitu sepiring sop kuah bening hanya berisi potongan daging sapi yang besar-besar, murni tanpa sayuran, hanya ditaburi daun bawang saja. Wah bagaimana menghabiskannya? Untunglah kami mengajak supir taxi yang kami carter untuk makan juga. Langsung saja sop dagingnya kami antar kemeja dia. 
Suami saya yang paling repot kalau makan, sudah pasti saya yang mengiris-iris daging dan kikil yang menempel pada tulang, dia sih tinggal menyuap saja. Hmm rasanya enak banget, daging dan kikil terasa empuk dan lembut, tanpa perlu cape mengunyah. Kuah sopnya terasa murni dan segar, tidak berlemak, bumbunya sederhana tapi pas banget. Tak terasa kuah sop hampir habis tapi masih banyak kikil yang menempel. Kami pun minta tambah kuahnya lagi. Siang siang begini makan sop, peluh pun mengalir deras dari wajah kami. Ruangan yang besar dan luas serta banyaknya kipas angin tidak mampu menolong kami yang basah kuyup oleh keringat kenikmatan. Hmm nyam nyam.
Hidangan yang lain tak luput kami coba. Yang pertama adalah ikan teri yaitu ikan teri goreng yang berukuran besar, ditumis bersama sedikit cabe. Rasanya tidak terlalu asin, tidak terlalu pedas, pas lah. Kedua adalah daun singkong tumbuk yang agak berkuah, karena diberi sedikit santan. Rasanya segar dan ringan, karena kuahnya encer, tidak seperti gulai daun singkong buatan RM Padang. Ketiga adalah tumis udang yang ukurannya kecil-kecil banget. Setelah ditanya, rupanya itu adalah udang kecepe. Ditumis dengan cabe dan aneka bumbu tapi tidak ada rasa yang menonjol. 
Hidangan lain yang tidak kami sentuh dibawa kembali oleh pelayannya. Tapi kemudian pengunjung disamping meja kami berbincang bincang dengan suami dan bertanya apakah sudah mencoba hidangan daging bakarnya, karena itu termasuk salah satu hidangan yang paling dicari. Loh yang mana ya, kami pun kebingungan. Oh rupanya yang kami kira adalah irisan daging ikan yang diberi sambal itu rupanya daging sapi yang dibakar lalu dipotong kotak-kotak tipis, lalu diberi sambal. Segera kami pesan kembali sepiring daging bakar, rugi dong kalau tidak dicoba. Rasa hidangan ini seru juga loh yaitu irisan daging sapi bakar yang diberi sambal cabe merah, potongan bawang merah mentah serta air jeruk nipis. Dagingnya empuk tanpa ada rasa bumbu yang menonjol berpadu dengan rasa asam dan pedas, dengan aroma bawang yang kuat. Unik tapi enak, hidangan ini langsung kami habiskan. Sebagai penutup segelas es ketimun yang berwarna hijau langsung menyegarkan tenggorokan kami, mak nyees.
Satu lagi keunikan RM ini adalah pemilik RM bertindak sekaligus sebagai kasir, tidak berdiam diri dimeja kasir, melainkan berjalan-jalan memantau meja-meja para pengunjung, sambil memberi perintah langsung kepada anak buahnya bila ada permintaan dari pengunjung, sembari menyapa para pelanggan setianya, sambil membawa segepok uang hasil transaksi pembayaran para pengunjung dimejanya masing-masing. Kami hanya membayar sekitar seratus ribu lebih, karena rupanya sop tulang sumsum yang maha besar itu hanya dihargai Rp 35.000 loh. Fantastis.

Friday, November 16, 2012

Grand Swiss-Belhotel Medan *****



Pemandangan kota Medan dari lt 25
Check in

Swimming pool

Di Selasar Hotel
Rendez-vous lounge
Superior deluxe # 1109
Konter jus



Fasilitas Hotel
Penghargaan

Konter mi rebus
Buffet 4 sisi
Yogurt & Muesli
Sky dining di lt 27
My favorit breakfast, westen food



Secara tak terduga suami saya mengajak pergi ke kota Medan untuk mendampingi dia dalam sebuah acara kantor. Wah saya senang sekali, karena selain saya belum pernah kesana, saya juga juga penasaran dengan kota kelahiran suami saya yang “pujakesuma” alias “putra Jawa kelahiran Sumatera”, dan terkenal dengan wisata kulinernya yang enak dan enak sekali.

Suami saya memilih Grand Swiss Belhotel yang berbintang 5, dengan alasan letaknya yang strategis dipusat kota Medan, dekat dengan Bandara Polonia, berdampingan dengan Cambridge Mall, mudah mendapatkan kendaraan umum serta dekat dengan pusat kuliner kota Medan. Dengan kata lain akses mudah menuju tempat wisata belanja dan kuliner.

Memasuki lobi Hotel ini, kemewahan sudah terlihat dari lantai dan dinding Hotel yang terbuat dari granit berwarna krem. Lobi hotel memanjang kedalam menuju “Rendez-vous lounge” dengan pajangan koleksi wine didinding bar. Ditengah ruangan terdapat meja reception disisi kanan dan sofa untuk menunggu disisi kiri. Ruang tengah itu sendiri dihiasi dengan 3 pilar yang berukir dan bercahaya diempat sudut ruangan.

Kantor suami saya sudah memesan kamar sejak beberapa hari yang lalu dan sudah dilunasi. Kami pergi dari Jakarta dengan pesawat pk 8 pagi dan tiba di hotel untuk check in pada pk 11 siang. Kamar kami tentu belum siap, sehingga kami pun menitipkan koper dan melanjutkan acara jalan-jalan kami. Sayangnya sampai pk 14.30, janji pihak hotel untuk menelfon kami ketika kamar siap, tidak ada. Sehingga harus ditelfon lagi, harus dikonfirmasi lagi, lama deh. Baru pk 15 kamar kami siap dan kamipun segera menuju hotel.

Kami mendapat kamar superior deluxe # 1109 yang berada disudut bangunan hotel, sehingga memiliki 2 sisi pemandangan yaitu pemandangan kota Medan dan pemandangan condominium Cambridge yang letaknya memang berdampingan dengan hotel kami. Kamar kami memiliki desain yang minimalis dan modern tapi tetap terlihat bahwa hotel ini sudah cukup lama berdiri. Dinding kamar berwarna krem, dengan tirai coklat muda, furniture kayu coklat tua, karpet berwarna hijau bercorak. Kamar mandi memiliki lantai dan dinding terbuat dari granit hitam, dengan ruang shower dan bathub yang terpisah. Fasilitas kamar lengkap, dengan tambahan hairdryer yang kusuka. Sayangnya tidak ada setrika untuk baju.

Kelebihan lain dari hotel ini adalah memiliki restaurant yang menyajikan “Sky dining” yaitu sensasi bersantap dengan suasana pemandangan kota Medan dari lantai 27. Sayangnya kami tidak sempat kesana. Fasilitas lainnya adalah ada music lounge & bar, meeting room, swimming pool, spa & massage room, Ballroom, dan Swiss café sebagai tempat sarapan kami besok pagi. Keunggulan terakhir adalah saya lihat ada certificate : “Winner certificate of excellent 2012” dimeja reception.

Tiba waktunya untuk breakfast, kami tiba pk 8 pagi, jam padat pengunjung. Kami menunggu cukup lama, bahkan ketika meminta bantuan waitres untuk mendapatkan tempat makan. Sambil menunggu saya mengambil kesempatan untuk mempelajari makanan buffet dan mengambil fotonya. Ruangan resto bergaya kontemporer dengan tempat duduk modern dengan konsep open kitchen. Pilihan menu sarapan sangat beragam dan mewah serta terlihat lezat. Dimulai dengan konter mi kuah baso, bubur ayam & soup, konter roti dan kue, serta konter jus yang menyajikan 5 jenis jus. Kemudian konter masakan telur, susu & sereal serta pancake jadi satu didalam open kichen. Ditengah ruangan terdapat konter buffet 4 sisi. Sisi pertama menyajikan masakan asia seperti nasi & mi goreng, tumisan sayur, kakap goreng tepung, yang merupakan favorit suami saya. Sisi kedua adalah menu favorit saya yaitu western breakfast seperti read bean, potatoes, sosis, tumis jamur dan sayuran. Sisi ketiga tersedia yogurt & bubur gandum, keju serta beef salami. Sisi kempat adalah aneka buah. Terakhir adalah konter aneka sayuran untuk salad serta sausnya. Semua makanan terbukti lezat kecuali sosisnya saya kurang suka karena keras, dan potongan keju yang tidak sesuai selera saya yaitu terasa pahit dilidah.

Secara keseluruhan hotel ini recommend walaupun saya rasa “Winner certificate of excellent 2012” nya kurang tepat. Sebab ada 3 kejadian yang kurang berkenan dihati kami. Tapi yang pasti hotel ini cocok bagi turis dengan tujuan berwisata berbelanja dan kuliner, karena letaknya yang strategis. Yang berminat menginap disini alamatnya adalah Jl. S. Parman 217 Medan 20152 Sumatera Utara. Telpon (62-61) 457 6999. Selamat berlibur.

Wednesday, October 31, 2012

Pesta seafood di atas dermaga Green Bay (**)













Malam ini malam istimewa buat kami grup Accounting. Pasalnya salah satu teman kami baru di promoted sekaligus ultah. Tak ayal dia menjadi bahan palakan kami, menagih minta ditraktir. Si bos mengusulkan makan malam ditempat super jauh dari kantor kami di kawasan Sudirman yaitu di Bandar Djakarta Pluit. Waduh apa ngga kurang jauh tuh, mana rumah kami mencar-mencar semua, ada yang di Bekasi, Kebayoran bahkan di Sawangan. Tapi tekad kami sudah bulat, tidak terhalang jarak dan waktu. Pulang kantor pk 17.30 teng, rombongan yang terdiri dari 9 orang dan memakai 2 mobil langsung tancap gas menuju kawasan Pluit. Si Bos yang sudah sering makan disana ikut didalam mobil yang saya tumpangi, sehingga perjalanan kami lancar dan sempat sholat magrib. Sedangkan mobil kedua nyasar sampai Ancol, wah kasian yah, mana muter baliknya macet lagi.
Rombongan mobil saya otomatis sampai duluan. Wah saya kaget melihat tempatnya yang tersembunyi didalam kompleks apartemen Green Bay, yaitu dibelakang kantor pemasarannya. Ketika saya lihat billboardnya, resto ini berjudul Seafood City by Bandar Djakarta. Wah tempatnya keren banget, seolah-olah kita makan diatas kapal yang sedang berlabuh didermaga. Area paling depan adalah pasar ikan hidup. Berbagai seafood hidup komplit tersedia disini. Dibelakangnya ada tempura dan sashimi corner. Tempat makannya terbagi menjadi 2 area yaitu indoor dan outdoor. Area outdoor terlihat romantis, yaitu makan dibawah temaram lampu gantung dan kerlip lilin, dengan latar belakang deburan ombak. Tapi kami sendiri sudah reserved tempat diruang ber AC yang lebih nyaman, dengan dinding kaca, sehingga kami tetap bisa menikmati suasana malam yang indah.
Sambil menunggu rombongan kedua yang datang, kami bergegas memilih aneka seafood dipasar ikan. Pilihan seafood kami adalah udang vaname hidup, kepiting king jantan, kerang batik, cumi serta ikan kerapu tikus dan cantang fresh. Menu pelengkap lainnya adalah tahu isi udang, jamur enoki goreng special, kangkung terasi & kaylan bawang putih. Setengah jam berlalu, pesanan kami datang bersamaan dengan datangnya rombongan kedua yang sudah kelaparan. 
Berhubung yang memilih menu adalah Bos saya, laki-laki, maka yang dipilih adalah sajian berbumbu minimalis. Sebagai hidangan pembuka adalah tahu isi udang & jamur enoki goreng. Tahunya besar dan mantap, isinya banyak, campuran udang dan sayur, digoreng tepung, renyah dan nikmat. Jamur enoki adalah jamur yang bentuknya mirip toge tapi panjang-panjang, digoreng tepung sampai garing, rasanya gurih dan kriuk-kriuk. Hmm my favorit.
Hidangan selanjutnya adalah udang & kerang batik rebus. Baru sekali ini saya makan kerang batik, dimana dagingnya berwarna kuning. Kedua sajian ini sangat fresh, sehingga ketika dimakan terasa lembut, kres serta bersemu manis, semakin nikmat bila dicocol dengan sambal yang bercitarasa asam.
Kemudian ikan kerapu tikus, kerapu cantang dan cumi, semuanya dibakar. Caranya, seafood yang sudah dilumuri bumbu dibakar sampai agak gosong, lalu dibalur bumbu lagi sebelum dihidangkan. Rasa bumbunya yang pedas manis gurih sudah meresap kedalam daging. Tapi kalau saya yang pilih, pasti salah satu kerapunya saya masak steam.
Terakhir, ini dia yang saya tunggu-tunggu, yaitu kepiting king jantan. Wuih ukurannya besar banget. Kepiting yang cangkangnya berwarna merah ini dimasak chinesse herbal. Coba kalau saya yang pilih menunya, pasti saya masak lada hitam atau saus padang. Tapi saya tidak jadi kecewa, lantaran ternyata olahan chinesse herbal yang berbumbu minimalis ini semakin menonjolkan rasa asli si kepiting. Daging kepiting yang gemuk, lembut dan bersemu manis ini semakin nikmat dimakan, dikorek-korek dan dihisap-hisap. Untung ngga semua orang doyan makan kepiting, malah ada pula yang malas menyantapnya, sehingga kepiting bagian saya jadi semakin banyak deh. Hmm puaaas?
Pertama kali, saya pikir pesanan kami terlalu banyak, tapi ternyata ludes juga. Ketika sedang asyik mengobrol sambil menikmati dessert buah potong, datang sebuah kejutan. Serombongan waitress datang sambil bernyanyi dan membawa aneka tetabuhan, sambil membawa bakpau raksasa yang dikelilingi oleh bakpau-bakpau kecil. Diatasnya ditancapkan sebatang lilin untuk ditiup oleh Lisbeth, teman saya yang berulangtahun. Lucunya lagi, lilin tsb tidak mati-mati walau ditiup berulangkali, sehingga ruangan restaurant langsung heboh oleh ketawa kami dan ketawa pengunjung lain. Puas mengerjai Lisbeth yang mukanya merah padam, diapun diberi bingkisan kenang-kenangan dari Bandar Djakarta.
Waktu sudah menunjukkan pk 9 malam, time to go home. Saya pun mengurus pembayaran. Saya lihat harga seafood termahal dimenangkan oleh ikan kerapu tikus @ Rp 588.000/ons, Kepiting @ Rp 268.000/ons (untung diskon 50%), kerapu cantang @ Rp 248.000/ons, udang @ Rp 208.000/ons, cumi @ Rp 78.000/ons dan kerang @ Rp 42800/ons. Itu belum termasuk ongkos masak loh yaitu Rp 120.000 karena kami memilih menu dari pasar ikan hidup. Kalau harga minuman dan menu pelengkap lainnya sih standard saja, antara 10 sampai 25ribuan. Hmm kasian juga Lisbeth, akhirnya setengah dari bill tsb kami tanggung bersama. Terima kasih dan jangan kapok ya Lisbeth.