Saturday, May 20, 2017

Wisata Kuliner & Itinery Kalimantan Selatan, Hari ke-3

Senin, Hari ke-3

3.1. Wisata susur sungai dari Siring Tendean

Alhamdulillah pagi ini tidak hujan, sehabis sholat Subuh kami bersiap-siap menuju Siring Tendean. Kami sudah janjian dengan pengemudi kelotok, untuk menyewa perahunya menuju pasar terapung Lok Baintan dan Pulau Kembang. Kami pergi delapan orang bersama keluarga pak Imi, menyewa kelotok khusus kami saja, tanpa bergabung dengan orang lain, dengan harga Rp 500.000, PP.



Saya duduk berdua suami dibagian belakang kelotok, yang lain berada didalam perahu, menyusuri sungai, menembus udara pagi dengan terpaan angin dingin, mengamati sungai yang lebar, melihat kehidupan penduduk Banjar yang rumahnya berada disepanjang sungai, mengamati kebiasaan sehari-hari para penduduk, mengambil air untuk mandi, sikat gigi, masak, mencuci dll.

Saya amati bahwa ada beberapa jenis bentuk rumah disepanjang sungai, ada rumah permanen dengan pondasi tiang kayu yang menancap dipinggir sungai, ada pula lanting yaitu rumah terapung yang dapat berpindah-pindah. Lanting terbuat dari kayu dengan pondasi rakit mengapung yang terdiri dari susunan batang-batang pohon yang besar.


3.2. Pasar Terapung Lok Baintan


Perjalanan kami cukup lama dan jauh, melewati rumah-rumah dan hutan, semakin lama, sungai semakin luas seperti lautan. Akhirnya kami tiba di Pasar Terapung Lok Baintan yaitu pasar tradisional otentik dengan penjual yang berasal dari masyarakat tepian sungai, berjualan diatas perahu, menjual hasil pertanian, perkebunan dan peternakan dari lahan yang mereka kelola sendiri.

Karena kami kesiangan, jumlah pedagang sudah agak berkurang. Yang masih banyak tersisa adalah pedagang hasil bumi, ada juga penjaja miniatur pedagang pasar terapung yang terbuat dari kayu seharga Rp 60.000, dan pedagang makanan. Kami sempat makan cemilan dengan cara unik yaitu memancing makanan dari perahu sebelah, menggunakan sebilah rotan dengan kait besi di ujungnya, untuk menombak makanan yang kita pilih yaitu gorengan tahu, tempe, dll.

3.3. Depot Soto Bang Amat (***)


Tujuan kami selanjutnya adalah sarapan pagi, masih menggunakan kelotok, kami menuju Depot Soto Bang Amat di Jl. Benua Anyar no. 56 RT04. Rumah makan ini terletak dipinggir sungai Martapura, dekat Jembatan Banua Anyar. Bentuk bangunannya adalah rumah kayu khas Banjar dengan pondasi tiang kayu yang menancap di pinggir sungai. Bagian depan depot ini menghadap jalan raya, bagian belakangnya menghadap sungai, dimana sisi sungai sudah dipenuhi dengan jajaran kelotok yang sedang parkir. Kami berjalan diatas atap perahu, meloncati satu perahu ke perahu lainnya menuju rumah makan ini.





Yang dimaksud dengan soto adalah soto Banjar dicampur dengan lontong, sedangkan nasi sop adalah soto Banjar dicampur dengan nasi. Soto Banjar Bang Amat adalah soto Banjar kedua yang kami makan, dan kami tetap memesan soto campur lontong. Bedanya kali ini kami memesan sate ayam untuk melengkapi hidangan kami.


Ketika soto dihidangkan, saya bandingkan penampilan dan rasanya dengan Soto Kuin Pangeran Samudera. Soto Bang Amat lebih kaya warna, kuahnya lebih bening, potongan telur bebeknya lebih jelas dengan warna kuning yang menyolok, perkedelnya utuh tapi bentuknya kecil berwarna kecoklatan, ada taburan bawang goreng dan seledri juga, diberi sepotong jeruk lemon kuit diatasnya, bedanya ada tambahan wortel didalamnya. 



Citarasa Soto Kuin Pangeran Samudera lebih tradisional dan kurang asin, sedangkan Soto Bang Amat lebih modern, disesuaikan dengan lidah kebanyakan dan lebih asin. Sate ayamnya pun enak, dagingnya empuk, lembab dan gurih karena ada campuran kulit ayam, bumbu kacangnya enak dan lekker, sempurna melengkapi sajian soto.

Harga soto campur lontong / nasi ini adalah Rp 23.000, sate ayam Rp 16.000, kerupuk Rp 2.000 per bungkus, minuman teh tawar Rp 2.000 dan jeruk hangat Rp 5.000, ada PPN nya 10%.


Selesai makan kami menyempatkan diri keluar depot ini dari depan, rupanya disekitar depot adalah pertokoan. Kami menemukan penjual kue Bingka yaitu kue khas Banjar yang dipakai dalam tradisi Banjar untuk acara-acara istimewa seperti pernikahan dll. Terbuat dari tepung terigu, telur, santan, gula dan garam, lazim dipanggang dengan cetakan berbentuk bunga. Ukuran kue Bingka cukup besar tapi ada juga kue Bingka ukuran kecil, sehingga kami pun membelinya karena penasaran akan rasanya. Ketika saya makan kue ini, rasa telurnya menonjol sekali, sangat manis, berlemak dan lembut.

3.4. Pulau Kembang


Selesai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan kelotok menuju Pulau Kembang. Pulau Kembang adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito, telah ditetapkan sebagai hutan wisata alam, merupakan habitat kera ekor panjang / monyet. Ketika di Lok Baintan kami sengaja membeli 2 sisir pisang untuk makanan monyet. Ketika perahu kami hampir sampai, supir kelotok memperingatkan kami agar menyimpan barang-barang kami dengan rapi dan tertutup rapat, terutama makanan, karena monyet dari Pulau Kembang bisa berenang dan loncat ke perahu untuk mengambil barang-barang yang ada.

Benar saja, begitu kelotok hampir mendekati Pulau Kembang tapi belum berlabuh, ada monyet yang masuk kedalam kapal kami, saya kaget dan menjerit histeris, melihat monyet tsb seenaknya saja mengambil pisang yang ada didalam perahu.

Setelah perahu berlabuh dan kami melangkah ke pulau tsb, saya mulai keringatan, takut melihat monyet-monyet yang berkeliaran bebas. Kami membeli karcis masuk seharga Rp 7.500 agar bisa mengelilingi pulau ini guna berinteraksi langsung dengan monyet. Tapi jangan takut karena banyak orang yang bertugas mendampingi pengunjung, sekalian sebagai pemandu wisata, sekaligus menjual snack kesukaan monyet. Mereka membawa sebatang kayu panjang untuk menghalau monyet sehingga saya yang paling histeris dipinjamin kayu tsb agar para monyet tsb takut mendekati saya.

Kami berjalan diatas jembatan kayu karena tanahnya berupa rawa sehingga tidak bisa di lewati. Sebelum masuk hutan, kami melewati sebuah kuil kecil terbuka berisi altar dengan sepasang patung kera putih atau hanoman berbalut kain kuning.


Kemudian kami berjalan masuk kedalam hutan sambil melemparkan kacang. Ada ratusan atau mungkin ribuan monyet disini, karena pulau ini merupakan kerajaan monyet, konon ada monyet yang sangat besar yang menjadi rajanya. Uniknya monyet-monyet ini tidak bercampur habitatnya yaitu monyet yang tinggal didepan tidak akan masuk kedalam hutan, begitu pula dengan monyet yang tinggal didalam hutan tidak mungkin keluar hutan.

Selesai mengelilingi hutan, kami bersiap-siap meninggalkan Pulau Kembang, tapi para petugas yang mendampingi kami menyerbu minta uang tips. Begitu dikasih, yang lain langsung menyerbu minta bagian, jadi siap-siap saja dikeroyok hehehe.

3.5. Kompleks Makam Sultan Suriansyah



Kompleks Makam Sultan Suriansyah adalah kompleks pemakaman yang terletak di Jl. Kuin Utara dan berisi 24 makam, diantaranya adalah :
  • -     Sultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha, Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, sejak dialah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam dia membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan.
  • -      Ratu Intan Sari adalah ibu kandung Sultan Suriansyah.
  • -      Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, dia raja Banjar ke-2.
  • -      Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah.
  • -      Khatib Dayan adalah tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak yang datang ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji bahwa ketika perang antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih, Kerajaan Banjar minta bantuan Kerajaan Demak, dengan syarat bila menang, Sultan Samudera harus masuk Islam. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dia adalah seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.
  • -    Patih Kuin adalah kepala kampung Kuin yang bertetangga dengan kampung Banjarmasih, dia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat.
  • -      Patih Masih adalah kepala kampung Banjarmasih.
  • -    Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah, dia seorang panglima perang di Kerajaan Banjar yang sangat pemberani dan diberi gelar Hulubalang Kerajaan.
  • -  Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Dia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Dia kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin.
  • -    Anak Cina Muslim adalah ada kejadian sekitar 200 tahun lalu, seorang anak Cina yang beragama Islam jatuh ke dalam sumur saat berziarah bersama keluarganya, mayatnya hanyut dan ditemukan beberapa waktu kemudian mengambang di perairan Sungai Barito, tepatnya di Kampung Ujung Panti, sekarang dekat Jembatan Barito. Kemudian mayatnya dibawa dan dikuburkan di dekat makam Sultan Suriansyah.

Ada sumur di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, yang usianya ratusan tahun, airnya diyakini berkhasiat untuk kesehatan bagi para penggunanya, airnya tak pernah kering sejak pertama digali oleh Sultan Suriansyah dan dua orang kepercayaannya, Khatib Dayan dan Patih Masih. 

Pengunjung yang berziarah kerap memakai air itu untuk mandi, minum bahkan mencuci wajah, biasanya mereka memiliki hajat tertentu. Sekarang, mulut sumur itu ditutup, bila ingin menikmati airnya, pengurus makam menyediakan beberapa tempat air dan gelas. Ada juga air yang sudah dibungkus plastik dan dibagikan gratis ke peziarah yang menginginkannya, mau membayarnya juga boleh, sukarela saja, uangnya akan digunakan untuk pemeliharaan kompleks makam. Tak ketinggalan saya dan suami minum air sumur tsb sambil berdoa kepada Allah SWT dan membawa pulang air didalam plastik. Didekat pintu masuk ada lantai yang dilapisi kaca yaitu lantai asli dari jaman kerajaan.

Didalam kompleks ini ada 4 kuburan yang diberi kelambu kuning, yaitu kuburan Sultan Suriansyah, Ratu Sultan Suriansyah, dan dua keturunan mereka, Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Rahmatullah, sebagai penghormatan sesuai tradisi suku Banjar untuk tokoh-tokoh penting dan terhormat dalam sejarah Kerajaan Banjar. Semua keterangan ini kami dapatkan dari penjaga makam.

Selesai berziarah dari Kompleks Makam Sultan Suriansyah, kami melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Siring Tendean dengan jalur sungai yang berbeda dengan jalur ketika berangkat. Ketika kami melewati perumahan di sisi sungai yang berbentuk lebih tradisional, sungai menyempit dan tiba-tiba kami dikagetkan oleh serombongan anak-anak yang loncat dari rumahnya lalu berenang dan naik ke perahu kami guna meminta uang. Eh dasar suami ku, sebelum ngasih uang syaratnya harus foto bersama dulu, hahaha.


3.6. Depot Sari Patin Kayu Tangi (***)


Tak terasa perjalanan wisata susur sungai telah selesai dan kami tiba di Siring Tendean saat Dzuhur. Selesai sholat kami menuju Depot Sari Patin Kayu Tangi, masakan khas Banjar Jl. Brigjen H. Hasan Basri no. 53 RT16. Sudah ketahuan dari namanya bila rumah makan ini menyajikan masakan ikan terutama ikan patin sebagai andalannya.



Daftar menunya berisi ikan patin sungai, lais dan udang bakar yang diberi tanda jempol. Lalu ada ikan patin biasa artinya patin tambak, jelawat, papuyu, haruan, nila, mas, gurame, bawal, seluang dan baung. Lauk yang bukan ikan hanya ada ayam, menu pelengkapnya adalah sayur-sayuran, tahu tempe, ampal / bakwan jagung dan sambal goreng mandai. Kami sepakat memesan ikan patin sungai bakar dan goreng, karena jenis ikan ini yang belum kami coba selama di Banjar, didampingi dengan sayur asam dan bening, urap serta ampal jagung.



Setelah beberapa kali makan di rumah makan Banjar, bisa saya simpulkan bahwa bangunan rumah makan dari depan tampak biasa saja, kecil dan sederhana, tapi ketika masuk, kebanyakan saya tak menyangka bahwa rumah makan tsb besar dan luas. Contohnya seperti Depot Sari Patin ini, ketika kami masuk, kami berada didalam ruang makan lesehan yang mengharuskan pengunjung mencopot alas kaki, sehingga lantai ruang makan tsb tampak bersih. Tapi mba Upik membawa alas kakinya dan berjalan ke arah kiri, masuk kedalam ruang makan satu lagi dengan meja kursi makan dan boleh memakai alas kaki.



Ruang makan depot ini luas sekali dan memanjang kebelakang, ruangannya terbuka dengan pilar-pilar dan langit-langit tinggi. Terdapat taman dihalaman belakang dan dapur berada di ruang paling depan. Saya melihat beberapa orang pelayan sedang menggotong ikan patin dalam ember dengan ukuran sangat besar, melintasi ruang makan, menuju ruangan pemotongan ikan dibelakang. Disisi kiri ada meja kasir, rak kaca berisi cemilan, counter es campur dan counter minuman.



Ikan patin yang dihidangkan ternyata hanya sepotong dan sebelah, tapi ukurannya besar dan memuaskan. Patin bakar berlumur bumbu berwarna merah kecoklatan dengan jejak bakaran, rasanya enak, manis dan gurih serta tidak pedas. Patin gorengnya lebih enak lagi, gurih, garing diluar, lembab didalam, apalagi bagian ujungnya yang berlemak, enak sekali. Patin tidak amis dan dagingnya tebal.




Yang saya suka di kota Banjar ini adalah makanannya sehat semua, ikan dari sungai, banyak sayuran segar dan tanpa santan, minuman khas nya adalah air jeruk manis. Sayur bening berisi daun keladi, kol, sepotong labu kuning dan oyong. Lalu urab berisi daun keladi, kacang panjang, toge dan pare dengan bumbu kelapa warna kuning. Sambalnya yahud banget, sambal cabai rawit merah cair dengan taburan biji cabai, ditambah cabai rawit utuh warna merah dan hijau dan sepotong lemon kuit kupas. Suami saya memesan es campur, wah sedap banget, potongan buah-buah diberi es serut yang menggunung dengan siraman sirup merah dan susu kental manis, cocok membilas rasa gurih dan pedas dimulut.


Sekarang saya dirumah sambil menulis review rasanya kangen banget dengan masakan Banjar khususnya masakan ikan sungai. Harganya pun relatif terjangkau yaitu patin sungai besar Rp 60.000, kalau ukuran sedang Rp 50.000, keluarga pak Imi makan ikan haruan Rp 40.000 dan papuyu Rp 20.000, urap, sayur asam dan bening @Rp 5.000, ampal jagung Rp 2.500, nasi Rp 7.000, es campur Rp 15.000, jus Rp 20ribuan dan es teh Rp 5.000. Selama di Jakarta saya belum pernah menemukan masakan ikan sungai khas Banjar.

3.7. Crystal Bakery (***)

Setelah Ashar suami saya pergi ke Bandara, diantar pak Imi dan kami bertiga turut mendampingi, tanpa mba Upik, karena kasian pak Imi bisa ngantuk dalam perjalanan pulang yang panjang dan panas walaupun perjalanan lancar. Pulangnya kami mampir ke Crystal Bakery Jl. Pangeran Samudera no. 23 karena mau beli kue tart untuk kejutan mba Upik ultah. Rencana kami berempat akan tidur di Hotel Summer Bed N’ Breakfast dan menambah 1 kamar lagi.

Bakery ini merupakan toko roti yang paling terkenal di Banjarmasin karena kualitasnya premium, banyak variasinya, rasanya enak dan harganya terjangkau, tempatnya bagus dan bersih serta pelayanan yang cepat.

Kami membeli 2 tart kecil dan 2 cup cake dengan hiasan lucu sepatu high heels, princess kuning, hello kitty dan shaun the sheep. Sengaja kami tidak membeli kue tart besar karena kalau kue tart tidak habis, ngga mungkin dibawa ke Jakarta karena merepotkan. Sebenarnya ketika saya melihat penampilan kue-kue tsb, saya pikir paling rasanya biasa saja. Tapi ketika tengah malam, setelah pesta kejutan, kami makan kuenya, eh kok enak rasanya. Terbukti sudah bahwa kue buatan Crystal Bakery memang enak.

3.8. Lontong Orari (**)

Gara-gara nonton ulasan kuliner di TV, mba Sarah penasaran banget pengen makan Lontong Orari yaitu warung lontong sayur yang saat awal didirikan, sering menjadi tempat kongkow para anggota komunitas pecinta alat komunikasi orari, hampir tiap hari dan menjadi markas komunitas orari. Alamatnya di Jl. Simpang Sungai Mesa Kabel no. 12 RT 18, buka sejak jam 10 pagi sampai 3 pagi WITA. Jadi malam ini kami akan makan malam disana.



Tiba disana, kami masuk kedalam ruang makan yang cukup luas dan harus membuka alas kaki dulu karena kita akan makan lesehan di atas meja dengan alas tikar lampir rotan. Daftar menunya bisa diliat didinding, ternyata selain lontong tersedia juga nasi kuning. Ada 3 pilihan lauk yaitu haruan, ayam dan telur. Karena saya sudah beberapa kali makan haruan, maka saya pesan lontong plus ayam, yang lain ada yang memesan lauk haruan dan telur.




Ketika pesanan kami sudah terhidang dimeja, saya sangat terkejut karena sepiring berisi 2 lontong utuh bentuk segitiga lebar dan pipih, disiram sayur nangka bersantan, warnanya mirip opor, ayam dimasak bumbu merah (habang) dan ditaburi bawang goreng. Saya yakin hidangan ini bakal tidak habis dimakan sendiri. Akhirnya saya minta piring kosong untuk memindahkan 1 buah lontong ditambah 1 buah lontong dari mba Sarah juga, sehingga terkumpul seporsi lontong, kami minta tambah sayur nangka dan telur lagi untuk dibawa pulang.


Ketika kumakan sajian ini, ada perpaduan rasa gurih santan dan manisnya bumbu merah, serta lontong yang kenyal dan empuk. Memang lontong sayur akan lebih istimewa bila dimakan bersama haruan, bila dimakan sama ayam, memang enak tapi kan standard. Saya lihat lontong mba Upik memakai telur bebek, hmm sedapnya. Kata mba Upik, masakan ayam dan telur ayam kurang laku di Banjar, kebanyakan orang Banjar masak ikan sungai dan telur bebek.


Harga seporsi lontong ayam Rp 30.000, lontong haruan Rp 35.000 dan lontong telur Rp 20.000. Disetiap meja tersedia setoples kerupuk, harganya Rp 5.000. Tersedia juga cemilan kacang mede dalam bungkusan plastik kecil. Sebagai penggemar kacang mede, saya langsung mencobanya, kacang mede berbalut bumbu berwarna merah, rasanya enak, agak manis dan garing banget, harganya Rp 7.000. Di halaman depan rumah makan ini, ada penjual sate yang cukup laku, bisa dipesan dan dimakan didalam ruangan.

No comments: