Wednesday, March 15, 2017

Kuliner Purwokerto - Bantarbolang - Cirebon

Kebiasaan kami adalah bekerja sambil liburan. Maksudnya kalau suami ada pekerjaan diluar kota, maka saya suka diajak pergi sekalian liburan, hehehe. Minggu lalu suami menjadi pembicara di Universitas Soedirman Purwokerto, maka pergilah kami bertiga bersama mamah selama 3 hari. Jalan-jalan tak kan lepas dari wisata kuliner dan inilah ulasannya.

Jumat hari ke 1

Dari Jakarta pk. 6, kami tiba di kota Cirebon pk. 9 dan berniat sarapan di Empal Gentong & Empal Asem H. Apud, Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat. Kuliner ini sudah pernah saya bahas beberapa bulan yang lalu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan melewati jalur Pantura. Sayang sekali perjalanan kami terhambat beberapa perbaikan jalan sebagai persiapan lebaran. Perjalanan kami menjadi lambat dan tiba di Purwokerto pada sore hari.

Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B Purwokerto (***)

Pk. 16 kami tiba di hotel Java Heritage Jl. Dr. Angka no. 71, Sokanegara, tempat kami akan menginap, tapi sebelum masuk ke hotel, kami mau makan siang dulu nih. Kebetulan, tak jauh dari hotel ada sebuah rumah makan bernama Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B dan kami pun segera masuk kesana.




Melihat bentuk huruf dan tulisan nama resto ini, rasanya familiar. Setelah kuingat-ingat, bentuk huruf dan tulisan ini sangat mirip dengan resto Ayam Bakar Wong Solo. Ternyata setelah ditanyakan, memang resto Ayam Penyet Surabaya masih satu grup dengan Ayam bakar wong Solo. Tak hanya tulisannya, bahkan bentuk dan desain bangunannya pun mirip yaitu memiliki ciri khas bangunan luas dan bertingkat, terbuka dan dominan warna hijau.


Sebuah dapur setengah terbuka, menampilkan kesibukan memasak para koki yang berseragam hijau. Gambar menu ayam penyet, ayam bakar dan nila penyet terpampang diatas dapur, tampak menggiurkan. Tak hanya 3 menu tsb, daftar menu berisi ayam negri / pejantan, bisa dibakar / goreng / penyet, ikan lele, bawal, nila, gurame, bisa dibakar / penyet, udang dan cumi bisa digoreng tepung / balado, aneka oseng, sop, sayur, mie dan nasi goreng pun ada disini. 





Supaya praktis, kita bisa memilih paket nasi plus lauk atau memilih lauk pauk dan sayur ala carte. Pilihan nasi kotak komplit  dan hemat, mulai harga Rp 14.000, tersedia untuk dibawa pulang atau delivery order. Menu minuman tak kalah beragam, dari kopi dan teh, jus dan es campur serta milkshake juga tersedia disini.

Karena kami sudah darurat lapar, tak mau pikir panjang, ingin menu yang cepat dimakan, saya memilih paket ayam pejantan penyet, suami memilih paket ayam bakar negri dan oseng kikil, mamah memilih paket ayam bakar pejantan. Minumannya kami pilih es buah dan es jeruk nipis.

Sambil menunggu pesanan, saya perhatikan bahwa kegiatan para koki didapur cukup sibuk. Sore-sore begini, pengunjung yang makan ditempat memang tidak begitu banyak tapi tumpukan nasi box sedang dipersiapkan untuk dibawa pulang / dikirim. Pesanan kami pun tak lama segera dihidangkan.



Bila memilih ayam pejantan, yang datang adalah ¼ potong ayam, lengkap dengan cekernya, ukurannya cukup besar. Tapi bila memilih ayam negri, hanya mendapat 1/8 potong ayam, tapi itu pun ukurannya cukup besar dan mengenyangkan, apalagi semua paket berisi nasi, tahu tempe, sayur trancam dan sambal.



Ayam penyet adalah ayam goreng yang disiram sambal korek diatasnya. Sambal korek adalah ulekan cabe rawit dan bawang yang disiram minyak panas. Ketika kumakan ayamnya, minyak sambal tsb telah meresap kedalam daging ayam, walaupun sambalnya sudah ku singkirkan ke piring suami, rasanya tetap menggelegar dimulut, super pedas, bikin hidung meler, tubuh berkeringat tapi makan bertambah lahap. Ayamnya empuk, tahu tempenya garing tapi empuk, bumbu masakannya gurih, trancamnya segar, sungguh perpaduan yang cocok. Trancam adalah campuran sayuran mentah toge, kacang panjang, daun kemangi, sawi putih dan ketimun, diaduk bersama kelapa parut berbumbu.


Tak lupa ku cicipi ayam bakarnya, sajian ini pun enak, ayam dibakar bumbu kecap, rasanya manis berselimut gurih, disajikan bersama sambal merah. Warna ayam cantik dan mengkilat, dengan sedikit jejak bakaran. Lalu oseng kikil adalah potongan kikil yang ditumis bersama bawang dan cabe ijo, minyaknya melimpah. Buat yang doyan kikil, rasa masakan ini enak bumbunya, tapi saya kurang suka kikil.



Habis kepedesan lalu minum es buah, rasanya sesuatu banget. Es buah berisi potongan buah pepaya, apel, melon, nanas, bengkuang, strawbery, semangka, didalam sirup markisa, rasanya manis dan segar dengan citarasa yang khas.

Makan puas begini harganya tetap terjangkau. Paket ayam negri harganya Rp 15.000, sedangkan paket ayam pejantan penyet Rp 21.000 dan paket ayam pejantan bakar Rp 25.000, oseng kikil Rp 18.000, es buah Rp 14.000, es jeruk nipis Rp 7.500, es teh tawar dan manis Rp 3.000 – 3.500. Ayam Penyet Surabaya ada juga cabangnya di Jakarta, hanya saja letaknya jauh dari rumah kami yaitu di Jl. Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Pulo Gadung.

Bakmi Jawa Kayu Areng, Jl. Pramuka Ps. Situmpur, Purwokerto (*)


Akibat udara dingin Purwokerto, malamnya perut kami lapar kembali. Saya berdua suami berjalan-jalan mengitari kota Purwokerto sembari melihat-lihat kuliner yang menggugah selera. Ternyata kota Purwokerto ramai juga oleh kuliner malam yang bermunculan, baik kelas resto maupun kaki lima. Karena kami ingin makan hidangan yang panas berkuah, ketika melewati Jl. Pramuka Ps. Situmpur, kami melihat sebuah gerobak bakmi Jawa yang ramai oleh pengunjung, padahal tempat makannya hanya berupa kursi dan meja kayu panjang dibawah tenda. Karena tertarik, kami pun merapat kesana.


Sebelum duduk dibawah tenda yang memanjang kebelakang, kami langsung memesan mie rebus untuk saya dan capcay kuah untuk suami. Saya membungkus mie goreng dan nasi goreng untuk mamah yang kecapean dan menunggu di hotel bersama saudara. Dimeja tersedia toples kerupuk kulit dan emping lebar, bungkusan kacang tanah, tahu goreng, sambal dan cabe rawit. Menunggu pesanan kami sampai dimeja, rupanya lama sekali. Semua pesananan fresh, baru dimasak satu per satu, diwajan yang hanya satu, memakai tungku kayu areng. Wah pantas, banyak cemilan diatas meja, iseng-iseng sembari menunggu pesanan yang tak kunjung datang.


Ketika mie rebus pesanan ku datang, sepiring mie lebar berwarna kekuningan, dimasak bersama irisan kol dan potongan ayam, dalam genangan kuah keruh dan taburan bawang goreng. Ketika dimakan, bumbu mie rasanya enak dan gurih, tekstur mie terasa pas, ada aroma hasil masakan tunggu arang yang khas, lebih wangi dan menambah kenikmatan. Andaikata hidangan mie rebus yang sudah baik itu ditambah telur dan taburan kerupuk, pasti rasanya semakin istimewa. Perbandingan banyaknya mie dengan pelengkapnya, lebih banyak irisan kol nya. Makan mie pakai kerupuk kulit rasanya kurang cocok dan memakai emping pun takut asam urat.


Sajian kedua adalah capcay kuah, penampilannya cukup menggugah selera, warna sayuran cerah dan menarik. Capcay berisi potongan wortel, kembang kol, kol, sawi hijau, baso, ayam dan taburan bawang dalam genangan kuah keruh. Sayuran terasa segar dan rasanya juga enak, cocok banget buat yang lagi diet, kaya akan serat, dimakan tanpa nasi pun sudah sangat kenyang.

Sampai dihotel, tak lupa saya cicipi juga mie dan nasi gorengnya, maklum perut rasanya kurang nendang. Kesimpulan, bakmi Jawa pasar Situmpur ini rasanya enak, aromanya khas dan wangi, harganya terjangkau, waktu memasaknya lama dan porsinya tidak terlalu banyak.

Sabtu hari ke 2

Umaeh Inyong, Jl. A. Yani no. 47 Purwokerto (*)

Sebelum acara dimulai, menjadi pembicara di Universitas Soedirman, kami makan siang dulu di Umaeh Inyong, atas rekomendasi teman sesama dosen UnSoed. Umaeh Inyong artinya rumah saya dalam bahasa Jawa Banyumasan ngapak, letaknya di Jl. A. Yani no. 47 Kedungwuluh.


Memasuki bangunan resto ini, suasananya sangat kental dengan aroma heritage, tradisional dan lawas. Halaman parkir didepan cukup luas, bangunan berupa rumah tua peninggalan jaman Belanda yang memiliki desain khas teras depan berbentuk bulat. Tapi pengunjung tidak bisa masuk dari depan, melainkan melalui lorong pintu masuk bernama selasar Cipendok yang diapit oleh kolam dan pot-pot besar tanaman.

Ruangan pertama yang kita masuki adalah ruangan berisi meja kasir dan tempat olih-olih khas Banyumasan. Ketika masuk lebih dalam, ruang makan terbagi menjadi beberapa area, semua memakai meja makan dan kursi kayu klasik tapi berbeda-beda bentuknya. Dibelakang terdapat taman yang asri, memanjang kebelakang dan lebar, dapat digunakan untuk bermain, serta area paling belakang adalah pendopo yang dapat menampung puluhan orang.









Kami duduk diruang makan disamping ruang kasir. Buku menu yang diberikan memiliki sampul berisi aksara Jawa, gambar dan slogan Umaeh Inyong yaitu “the small world of Banyumas with smile words of ngapak ngapak”. Semua menu dalam bahasa Jawa, kadang terselip penjelasan dalam bahasa Indonesia, serta ada gambarnya. Secara garis besar daftar menu berisi menu nasi komplit dengan lauknya, iwak pitik, oseng-oseng, sayur, bakmi, sroto, bestik, tumpeng cilik, pepes bandeng dan makanan ringan. Minumannya ada jus, minuman es, wedang, kopi dan teh.



Sebenarnya kami masih agak kenyang baru sarapan di hotel, jadi suami hanya memesan sroto kriyik tanpa nasi, saya memesan iwak pitik goreng kampung, minumannya kami memesan kopi clebek dan es badeg. Sambil menunggu pesanan datang, kami melihat-lihat suasana sekitar. Desain interior bangunan ini berisi furniture dan pernak pernik model jaman dulu, dindingnya dihiasi bingkai foto-foto Purwokerto dan Banyumas era Belanda. Sebuah motor vespa tua tampak diparkir di beranda depan.







Ruang kasir bersatu dengan lemari dan rak display olih-olih Banyumas yaitu Soklat Inyong, Keik Soklat Kayu Manis dan Bandeng Pepes Inyong. Selain itu ada Galeri Batik dan alat permainan dan ornamen Banyumasan. Umaeh Inyong merupakan destinasi wisata kuliner komplit sesuai dengan slogannya “the small world of Banyumas”.


Puas melihat-lihat kami duduk kembali, pesanan kami pun segera datang. Yang pertama adalah sroto kriyik yaitu soto ayam yang dicampur dengan kerupuk warna warni, daun bawang dan taburan kriyik, disajikan bersama sambal kacang. Ketika suami menyuap soto ini, dia berseru “ah ini sih sroto Sokaraja”. Memang sangat mirip, tapi yang membedakan sroto kriyik dengan sroto Sokaraja adalah taburan kriyik yang terbuat dari campuran kentang rebus halus dan tepung tapioka yang digoreng hingga berwarna kecoklatan. Makan soto panas-panas memang menyegarkan. Tapi saya punya 2 pertanyaan, kenapa penampilan soto berbusa dan apakah standard rasanya memang kurang asin ?


Sajian kedua adalah nasi iwak pitik goreng kampung, penampilannya sangat menggoda yaitu ayam goreng yang tertutup taburan serundeng lengkuas, disajikan bersama sambal, ketimun dan daun kemangi. Kebalikan dari rasa sroto kriyik, ayam goreng ini rasanya sangat asin, meresap kedalam daging, saya sampai merem melek saking asinnya. Dalam hati saya bertanya lagi, apakah standard bumbu ayam memang asin begini atau kebanyakan garam ?


Agar stamina meningkat dan lebih fokus dalam mengajar, dipesanlah kopi clebek yaitu kopi tubruk yang disajikan bersama gula merah. Yang terbiasa minum coffee latte atau cappucino, bakal terkejut dengan citarasa kopi yang murni dan pahit ini. Biarpun sudah diaduk dengan gula merah, tetap saja minta tambahan gula putih agar rasa minuman bisa diterima oleh lidah kami.

Terakhir adalah es badeg yaitu minuman yang berasal dari sadapan pohon aren, rasanya manis sekali dengan aroma khas yang harum. Agar lebih nyaman dilidah, kami minta tambahan air putih untuk mengurangi rasa manisnya.

Biarpun menyandang gelar resto, harga makanan disini sangat terjangkau yaitu sroto kriyik, iwak pitik dan kopi clebek dihargai @Rp 18.500, nasi Rp 5.000 dan es badeg Rp 11.500. Umaeh Inyong memang pantas untuk menjamu tamu dari luar kota, rapat, arisan, reuni, pesta dan berbagai jenis gathering lainnya.

Daun Kemangi cafe & resto, Jl. HR. Bunyamin no. 175B Purwokerto (**)

Mumpung di Purwokerto, kami janjian dengan keluarga uwa saya yang tinggal disana dan jarang sekali ketemu. Uwa saya memiliki 8 orang anak, dimana semuanya telah berkeluarga dan memiliki tempat tinggal masing-masing. Agar lebih gampang ketemunya, lebih baik kami janjian makan disuatu tempat saja. Setelah semua keluarga diconfirm, yang bisa datang adalah Uwa saya 1 orang plus perwakilan 5 keluarga anaknya, karena 3 keluarga lagi bertempat tinggal diluar kota Purwokerto.

Kami harus reserved tempat untuk makan sekitar 20 orang lebih. Dimana tempat makan yang enak, dengan suasana nyaman dan harga yang terjangkau ? Sepupu saya mengusulkan tempat di Daun Kemangi cafe & resto, Jl. HR. Bunyamin no. 175B Pabuaran. Letaknya dekat dengan hotel tempat kami menginap dan strategis di pertigaan arah Universitas Soedirman dan arah Baturraden.

Pk. 19 kami tiba ditempat tsb, bangunan resto ini memang bagus, besar dan bertingkat, tempat parkirnya pun luas. Ketika kami masuk, saya agak kaget karena ada patung anak-anakan gundul mirip tuyul disamping meja kasir. Kami masuk lebih dalam dan melihat bahwa ruang makan cukup luas dan terbuka tanpa sekat. Ditengah-tengah ada sebuah taman kecil. Meja makannya bisa duduk dikursi atau lesehan. Sebuah organ tunggal sedang bersiap-siap untuk menghibur tamu yang datang. Saat itu malam Minggu, saya tak menyangka bahwa resto ini ramai sekali oleh pengunjung. Untung sepupu saya telah reserved tempat dan memesan makanan lewat telepon.






Menu yang tersedia disini adalah masakan Indonesia dan Chinese food, baik masakan dari seafood, unggas, sapi, sayur, bakmi dan pelengkap lainnya, sangat banyak pilihannya. Kami memesan ikan gurame asam manis dan gurame bakar, ayam goreng dan ayam bakar, kwetiaw dan mie goreng, sayur asem, tumis kangkung ayam dan sambal dadak. Karena kami ingin makan hidangan berkuah panas, maka kami memesan tambahan 1 porsi bakso urat untuk suami dan 1 porsi sop sayur ayam untuk Mamah.

Menurut saya citarasa makanan disini cukup enak, tidak ada yang mengecewakan, bumbunya pas dan enak, tekstur makanan baik, gorengannya garing dan empuk, serta kesegaran bahan makanan pun terasa. Pelayanannya cukup cepat, hanya saja memang agak semrawut akibat masing-masing dari kami rusuh minta tambahan ini dan itu, apalagi pengunjung lain pun cukup ramai. Seorang biduan menyanyikan lagu-lagu pop sepanjang masa, ditambah sepupu saya ikut menyumbang suara, yang tidak saya sangka alunan suaranya sangat enak didengar.

Makanan dengan citarasa yang baik ini memiliki harga yang cukup terjangkau yaitu gurame @Rp 60.000, ayam kampung @Rp 15.000, ayam negri @Rp 8.000, baso urat, kangkung ayam, kwetiau / mie @Rp 22.000, sop sayur ayam mini Rp 10.000, sayur asem dan sambal dadak @Rp 5.000, nasi @Rp 4.000, minuman jeruk, lemon tea dan milo @Rp 12.000 dan teh @Rp 2.000. Ketika menerima bill, saya agak sulit memeriksanya, jadi saya percaya saja dengan jumlah hitungan pihak resto yaitu Rp 1.247.000 untuk makan ber 23 orang. Masih ada sisa makanan yang bisa dibawa pulang akibat kebanyakan memesan.

Minggu hari ke 3

Ikan bakar Bu Ana, Jl. Raya Bantarbolang, Pemalang (**)

Sayang sekali, kami pergi ke Purwokerto tapi tidak sempat mampir ke Batu Raden, akibat jadwal pertemuan yang padat dan hujan deras. Hari Minggu kami pulang ke Jakarta melalui jalur aternatif : Purwokerto - Purbalingga – Bantarbolang - Pemalang – Tegal – Brebes – Cirebon – tol Cipali, guna menghindari perbaikan jalan di pantura. Jalur ini arahnya memutar dan jauh, tapi lalulintas sangat lancar. Jalan antara Purbalingga sampai Bantarbolang itu berkelok-kelok, tapi yang membuat tegang adalah hujan sangat deras sehingga kami ketakutan, dibayang-banyangi bencana longsor. Alhamdulillah, tak lama hujan berhenti dan kami tiba dengan selamat di Bantarbolang. Perut sudah sangat lapar karena belum makan siang.


Pada pk. 14, di Jl. Raya Bantarbolang, 50 meter sebelah selatan SMP Islam Bantarbolang, kami menemukan sebuah rumah makan yang ramai oleh pengunjung, namanya Ikan bakar Bu Ana, kami pun segera merapat kesana. Rumah makan ini terletak dipinggir jalan raya sekaligus disamping sawah. Tempat makannya berupa 2 buah bangunan rumah kayu dan bambu, berbentuk seperti saung yang besar, dimana bangunan yang depan untuk makan lesehan dan bangunan dibelakang memakai kursi dan meja makan.

Disamping ruang makan adalah bangunan dapur terbuat dari tembok, bersatu dengan kolam ikan dibagian depan serta mushola dan toilet dibagian belakang. Alunan musik dan lagu dari organ tunggal dan seorang biduan menyambut kedatangan kami, bernyayi menghibur para pengunjung yang sedang makan.

Tak ada daftar menu yang disodorkan disini, cukup melihat menu dan gambarnya yang terpampang jelas diatas dapur yaitu ikan gurame dan patin bisa di bakar / goreng / sup, ayam bakar / goreng, tumis sayur gingseng, lengguk, kangkung, tanpa ada pelengkap tahu tempe. Beberapa toples kerupuk tersedia diatas meja makan dan minuman yang tersedia disini hanya ada air jeruk dan teh.



Kami memesan gurame bakar dan sepotong paha bakar untuk Mamah, tumis kangkung dan tumis gingseng turut kami pesan sebagai pelengkap. Saya bertanya, lengguk itu apa sih ? Rupanya lengguk adalah daun ketela rambat. Karena kami tidak familiar dengan jenis sayuran ini maka kami tidak memesannya, padahal sekarang saya baru tahu bahwa daun ubi jalar banyak manfaatnya bagi kesehatan sebagai obat herbal.


Pelayanan disini cukup cepat dan gesit, padahal ketika memasak ikan, ikan baru diambil dari kolam berdasarkan pesanan. Pesanan yang pertama datang adalah ayam bakar, penampilannya mantap sekali, sepotong paha ini ukurannya besar sampai melewati batas piring, artinya yang dipakai adalah ayam kampung asli. Ayam bakar bumbu kecap ini warnanya sangat menarik, coklat mengkilat dengan jejak bakaran yang mengundang selera. Ketika dimakan, daging ayam empuk dan bumbunya meresap banget, rasa manis kecap berbaur dengan rasa gurih dari rempah lainnya.


Begitu pula dengan gurame bakarnya, bumbu yang tercecap rasanya sama persis. Untunglah ada kerupuk, tumis sayuran dan sambal, sehingga rasa manis dari bumbu kecap dapat ternetralisir sedikit. Citarasa ikan yang baru diambil dari kolam memang berbeda, fresh dan tak berbau amis.



Sepiring lalapan berisi kangkung, toge dan ketimun serta 3 cobek sambal merah turut disajikan. Selain itu disajikan juga sambal kecap, racikannya cukup berbeda yaitu kecap diberi potongan tomat, cabe rawit dan bawang merah. Makan enak sambil dihibur lagu-lagu dangdut dan campur sari, angin semilir menerpa wajah, mata dimanjakan pemandangan sawah, ah nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?

Semua kenikmatan ini kami bayar dengan harga terjangkau yaitu Rp 40.000 untuk gurame bakar, ayam bakar Rp 28.000, tumis sayur @Rp 10.000, lalap dan sambal Rp 12.000, nasi @Rp 4.000, kerupuk Rp 1.000, air jeruk Rp 8.000 dan teh manis Rp 3.000. Perut sudah kenyang, saatnya kami melanjutkan perjalanan, nyanyian biduan mengiringi kepergian kami dengan lantunan lagu kereta malam dangdut koplo.

Nasi Jamblang Mang Dul, Jl. Doktor Cipto Mangunkusumo no. 8 Cirebon (*)

Sekitar pk. 20 kami tiba di kota Cirebon, sudah saatnya perut kami isi makan malam. Ketika kemaren saat pergi kami makan empal gentong, maka sekarang saat pulang kami mencari kuliner nasi Jamblang. Dari sekian banyak penjual nasi Jamblang, Nasi Jamblang Mang Dul adalah salah satu yang paling terkenal dan menjadi ikon kota Cirebon. Lokasinya berada dipusat kota, patokannya adalah seberang Grage Mall, berada diantara jajaran ruko Jl. Doktor Cipto Mangunkusumo no. 8.

Dari jauh tempat makan ini sudah terlihat ramai. Didepan pintu masuk ada pengamen yang mangkal dan menghibur para tamu yang datang. Ketika masuk kedalam, ruang makan memanjang kebelakang, meja kasir ada dipaling depan, meja makan berada dikedua sisi kiri dan kanan, kursi dan meja makan disusun sejajar dengan dinding. Pengunjung yang baru datang harap langsung kebelakang, disana ada meja panjang yang berisi aneka lauk pauk yang bisa kita pilih sesuai selera kita.


Nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati, porsinya kecil, hanya sekepalan tangan, seperti nasi kucing khas Jawa Tengah. Isinya nasi putih biasa, tapi ketika nasi matang dan panas, diakeul / diaduk-aduk dulu sambil dikipasi sampai dingin, baru dibungkus daun jati. Nasi memang disajikan dingin sehingga tahan lama sampai malam.





Tak hanya nasinya yang dingin, lauk pauk disini juga disajikan dingin. Lauk pauk ditaruh dalam baskom-baskom berisi sayur tahu, tahu goreng, tahu isi, tempe goreng tepung, perkedel kentang, sate kerang, sate udang, sate kikil, sate telur puyuh, ikan asin, ayam goreng, balado telor ceplok, sayur, basreng, semur, pepes, jeroan dll. Lauk segitu banyak, padahal sebagian sudah habis. Kalau datang lebih pagi / sore mungkin lebih komplet. Saya cari-cari lauk sambal goreng kok ngga ada.


Tatacara makan disini adalah langsung masuk dalam antrian meja prasmanan, saat giliran kita tiba, akan ditanya mau berapa bungkus nasi yang kita mau, lalu nasi pakai sambal atau tidak, setelah itu lauk pauk bisa minta diambilkan atau kita ambil sendiri. Kemudian piring makanan kita bawa ke meja, seorang pelayan akan mencatat harga makanan diatas kertas. Selesai makan kertas tsb kita bawa ke kasir dan kita bayar, cukup praktis bukan. Dimeja makan tersedia bungkusan kerupuk dan lumpia, masih banyak bungkusan snack lainnya dimeja kasir.

Harga makanan disini memang terjangkau, tapi total tagihan yang kita bayar kan tergantung banyaknya makanan yang kita ambil dan jenis lauk yang kita pilih. Bila lapar mata, semakin banyak dan semakin mewah lauk yang kita ambil, bersiap-siaplah merogoh kocek yang lebih dalam. 

No comments: