Sunday, April 15, 2012

KULINER SURABAYA



Sate Ponorogo
Soto ayam pak Sadi


Pecel Ponorogo
Pecel Ponorogo


Pecel Ponorogo
Seafood Layar


Bebek Sinjay

Seafood Layar

Masterr Singapore ice cream
Seafood Layar


Ayam bakar Primarasa
Masterr Singapore ice cream

Pepes Bandeng Primarasa

Sop Buntut Depot Indah

Nasgor Jancuk
Rawon Depot Indah



Long weekend di Surabaya

Malam ini kami makan sakenyang kenyangnya. Eh bukannya rakus, tapi sebagai antisipasi menghadapi dinginnya AC di kereta api Agro Bromo Anggrek Malam menuju Surabaya Pasar Turi, berangkat kamis malam pk 21.30, dalam rangka liburan long weekend Nyepi.
Benar aja, dinginnya AC menusuk sampai ke tulang dan membuat tubuh membeku, padahal saya pakai celana panjang, kaos lengan panjang, jaketan serta kaos kaki, ditambah selimut KA masih juga badan ini menggigil, gigi gemeletuk. Yang paling ngga tahan adalah perut kami mengeluarkan nada nada keroncongan. Tapi kami emoh makan nasi tengah malam begini. Rencananya begitu sampai Surabaya pada pk 7.15 kami bakal langsung cari sarapan soto.

Sarapan Soto Ayam Ambengan “Pak Sadi Asli” Pusat (**)

Alhamdulillah kami tiba di Surabaya sekitar pk 7.30. Kerumunan orang yang menawarkan transport menghadang pintu keluar stasiun. Tapi kami tetap santai dan PD berjalan menuju arah parkiran mobil, padahal memang kami tidak punya persiapan transport penjemputan. Seorang supir taxi dengan gigih mengikuti kami, suami saya pun bertanya, “Pak dimana sarapan soto yang enak dan ramai dan sudah buka sepagi ini ?” “Oh soto ayam ambengan pak, sudah buka dan ramai” katanya. Akhirnya kami diantar taxi tsb untuk sarapan soto, sebelum check in di Hotel.
Untunglah jarak yang kami tempuh tidak jauh. Ternyata yang dimaksud dengan soto Ambengan adalah soto yang terletak di jalan Ambengan. Wah baru tau saya. Nama sotonya sendiri adalah soto ayam “Pak Sadi Asli”, jl Ambengan no 3A. Soto ini memang sudah buka banyak cabang di Jakarta, tapi apa salahnya menikmatinya langsung dari “Pusat” nya.
Ternyata pak supir benar, pengunjung yang datang sudah ramai walau tidak sampai antri. Tak sabar rasanya menikmati sepiring nasi hangat dengan semangkuk soto panas. Soto yang berisi potongan ayam dan bihun ini memiliki kuah berwarna kuning keruh dan bertabur aneka bawang. Rasanya akan semakin segar bila ditambah perasan jeruk nipis, dan semakin mak nyus bila ditambah koya dan sambal. Yang dimaksud dengan koya adalah krupuk udang dan bawang putih goreng yang ditumbuk sampai menjadi bubuk yang halus. Bila dicampur hasilnya kuah soto akan semakin kental dan gurih rasanya.
Sebenarnya pilihan isi soto itu banyak yaitu bisa berisi daging ayam saja atau berisi kulit ayam, jeroan, brutu, rongkong bahkan telor muda alias telor yang belum jadi, atau bisa juga isinya komplit. Nasi juga bisa dicampur atau dipisah sesuai selera. Harga soto jauh lebih murah daripada di Jakarta yaitu 2 soto ayam biasa nasi pisah + ½ soto ayam biasa nasi campur harganya hanya Rp 43.000. Itu artinya semangkok nasi soto kurang dari Rp 20.000 sedangkan kalau di Jakarta mana ada yang dibawah Rp 20.000. Yang pasti, sehabis makan soto, badan terasa segar dan hangat, semangat kembali menuju Hotel. Yang mau makan kesini dan telpon dulu, nomornya adalah 031 5323 998.

Lunch PECEL PONOROGO HJ. BOEYATIN, Jl. Ketabangkali no 51 (**)

Makan apa siang ini ? Saya pun sms teman sekantor saya yang asli orang Surabaya. Dia menyarankan kami makan siang enak di Jl. M. Duryat, tapi tidak merekomendasikan secara khusus rumah makan tertentu. Kami manut saja sambil memanggil becak menuju kesana. Sampai disana terdapat jejeran warung makan dengan aneka jenis masakan. Lalu ada juga sebuah restoran bernama RM Ria. Tapi dari semua warung dan RM tsb tidak ada kehebohan berarti alias sepi. Sedangkan kami ingin makan ditempat yang ramai, bila perlu yang antriannya panjang. Akhirnya kami panggil becak lagi. Untunglah tadi kami sudah keliling kota sebentar, jadi tau ada sebuah RM Pecel yang tampaknya ramai yaitu Pecel Ponorogo Hj. Boeyatin, Jl Ketabangkali no 51.
Sesampainya disana, memang benar tempat makan ini sudah ramai dipenuhi pengunjung. Tempat makannya berupa ruangan terbuka yang memanjang dengan langit langit kayu. Ditengah ruangan ada sebuah meja makan panjang dengan kursi kursi plastik disekelilingnya, begitupula dengan meja panjang yang menempel di setiap dinding sehingga semua pengunjung makan bersama dalam 1 meja.
Dipintu masuk terdapat sebuah gerobak bertuliskan sate ayam ponorogo. Melihat si abang sedang membakar sate, terbitlah air liur saya. Saya pun memesan seporsi sate ayam. Sedangkan suami saya langsung menuju meja paling ujung dimana diatas meja tsb ditata aneka lauk pauk yang dapat langsung kita pilih. Sepiring nasi pecel langsung dia pesan. Pecel berisi toge, kacang panjang, ketimun, daun kemangi serta biji lamtoro atau pete cina. Semua sayuran tsb ditaruh diatas nasi dan disiram sambal kacang, lalu diberi rempeyek kacang, tempe goreng dan perkedel jagung. Dasar suami saya penggemar telor, dia pun menambah telur asin dan telur ceplok, sehingga nasi sudah tidak terlihat lagi wujudnya karena tertutup lauk pauk sementung. Sedangkan saya hanya mengambil nasi dan rempeyek udang serta kacang untuk teman makan sate ayam.
Selain pecel, lauk lain yang tersedia dimeja adalah aneka sate telor puyuh, usus dan kerang yang disajikan didalam baskom, kemudian empal, paru, ayam dan tahu tempe bacem. Ada sebuah menu unik bernama otak telor yaitu semacam galantine yang ditengahnya berisi telur puyuh, dimasak 2 macam yaitu digoreng dengan balutan telur dan tanpa digoreng lagi. Disini tersedia juga sop buntut dan rawon yang terlihat menggiurkan karena melihat pengunjung lain yang sedang asik menyantap hidangan tsb.
Saatnya makan. Pertama, saya cicipi dulu nasi pecel suami saya. Rasa bumbu kacangnya berbeda dengan pecel madiun yaitu bumbu terasa kental, memiliki rasa yang khas, pedas dan agak asin. Berbeda dengan pecel madiun yang memiliki aroma bawang putih dan kencur yang dominan. Kemudian saya beralih kepada sate ayamnya. Daging sate ini tidak dipotong dadu melainkan disayat memanjang, lalu ditusuk tanpa kulit, sehingga daging terasa empuk, sedangkan sate dan bumbu kacangnya terasa manis. Bila dimakan bersama rempeyek yang renyah tapi empuk serta gurih, tentunya akan menjadi pelengkap yang sempurna.
Setelah selesai makan dan hendak membayar kita harus kembali lagi ke meja lauk pauk tadi karena disana fungsinya juga sebagai kasir. Tinggal menyebutkan lauk yang kita makan lalu bayar deh. Makanan sementung tadi plus minuman hanya Rp 49.000 loh. Murah meriah, kenyang dan mantap loh.

Makmal di “Layar” Seafood & Ikan bakar, Jl Manyar Kertoarjo no 62 (***)

Untuk ide makan malam, gantian suami saya minta rekomendasi temennya yang pernah tinggal di Surabaya. Dia merekomendasikan 2 pilihan menu yaitu Bebek HT dan Seafood Layar. Jelas kami memilih seafood, kalau makan bebek sih bisa besok siang saja. Kami sebutkan alamat Layar seafood ke supir taxi yaitu jl. Manyar Kertoarjo no 62, eh dia langsung tau. Dilala resto seafood ini yang paling poluler diseantero Surabaya.
Jalan Manyar kertoarjo ini ramai banget, mirip dengan kawasan Kelapa gading Jakarta Utara. Disepanjang jalan berjejer aneka restaurant yang lahan parkirnya dipenuhi mobil pengunjung. Diantaranya ada 2 resto yang menarik hati kami yaitu Kepiting kenari dan Ayam bakar Primarasa. Tapi tujuan kami tetap tak berubah, yaitu menuju Layar seafood.
Sesampainya disana, gerombolan mobil yang parkir sudah tumpah ruah menghalangi jalan. Ketika masukpun harus mendaftar dulu saking antrinya. Alhamdulillah karena kami cuma berdua, sedangkan yang lain adalah rombongan, maka kami langsung mendapat meja.
Keadaan disini sungguh sibuk. Para pelayan hilir mudik tak ada yang berpangku tangan. Setelah ditinggal sebentar akhirnya kami diberi buku menu. Kami menanyakan menu andalan disini. Sudah pasti kepiting, khususnya kepiting telur asin, serta steam ikan kerapu. Ah sudahlah daripada besok pincang akibat asam urat tinggi dan ngga bisa jalan jalan, kami pun memesan ikan gurame asam manis dan kangkung asap.
Setelah selesai memesan, pelayan tadi menempelkan kertas copy pesanan kami dimeja serta menaruh sebuah nomor meja. Saya perhatikan nomor meja tsb, kok unik ya. Dibawahnya ada 4 macam tombol dengan gambar yang berbeda, dimana keterangan gambar tsb dijelaskan diatasnya. Pertama, tombol bergambar pelayan, maksudnya tekan tombol service (merah) untuk memanggil waiter. Kedua, tombol bergambar orang membaca, maksudnya tekan tombol menu (kuning) untuk mengorder. Ketiga, tombol bergambar $, maksudnya tekan tombol bill (hijau) untuk membayar. Keempat, tombol bergambar X, maksudnya tekan tombol cancel untuk membatalkan pelayanan. Nah meja disamping saya tampaknya sedang menekan sebuah tombol, dan apa yang terjadi ? Oh rupanya ada monitor yang tergantung ditengah tengah ruangan yang berisi aneka nomor meja. Angka 47 menyala merah artinya meja disamping saya ingin memanggil pelayan. Wah keren dan canggih ya, praktis lagi.
Sambil menunggu pesanan datang, saya pun berjalan jalan mengamati aneka aquarium yang berisi live seafood dan dapur pembakaran ikan yang letaknya didepan resto. Setelah puas mengamati dan mengambil foto, saya pun kembali ke meja dan pesanan kami telah siap diatas meja. Ikan gurame berdiri dengan gagahnya diatas piring, ikan terlihat garing dan renyah dengan balutan tipis tepung. Saus asam manisnya terlihat kental dan berwarna kehitaman, disajikan secara terpisah, tidak disiram keatas ikan untuk menjaga agar ikan tetap garing. Ketika dimakan, ikan benar benar kering diluar, lembut didalam, rasanya gurih dengan bumbu yang meresap, semakin segar dengan saus asam manis yang berisi potongan nanas, bawang Bombay dan buah longan. Hmm sungguh perpaduan yang unik dan pas sehingga menghasilkan citarasa yang lezat.
Kemudian kangkung asap adalah kangkung segar bumbu terasi yang disajikan diatas hotplate. Ini bukan kangkung biasa, baru kali ini saya makan sayur kangkung yang batangnya gemuk, daunnya banyak dan lebar lebar serta rasanya renyah. Sausnya pun banyak, berkuah dan berminyak, rasanya lekker dan legit, sumpah enak banget. Kami berdua memuji muji sajian ini dan berpikir, ikan guramenya saja lezat apalagi kepiting telur asin dan steam ikan kerapunya. Wah kapan ya kami kesini lagi.
Selesai makan saya menekan tombol $, nomor 57 pun menyala hijau dilayar monitor. Seorang pelayan langsung menghampiri meja kami dengan membawa bill. Mata saya terbelalak melihat harga ikan gurame. Bukannya mahal, tapi hanya Rp 39.000, kalau di Jakarta mana ada harga ikan gurame dibawah Rp 50.000 bila makan direstaurant sekelas “Rasane”. Kangkungnya Rp 25.000, sambal terasi Rp 4.000, es degan (kelapa muda) jeruk Rp 12.500 dan es jeruk murni Rp 17.000, sehingga total kami membayar Rp 114.950.
Ketika kami akan beranjak meninggal meja, saya melihat seorang pelayan yang sedang membersihkan meja. Caranya unik juga yaitu dengan menumpahkan seluruh sisa makanan ke atas meja. Loh ? Kami pun tersadar bahwa semua meja makan yang telah diberi taplak meja berwarna putih tsb kemudian dilapisi puluhan plastic bening sampai tebal. Jadi ketika pelayan membersihkan meja, caranya tinggal menumpahkan seluruh sisa makanan ke atas meja yang telah dilapisi plastic tsb, lalu dibungkus dan tinggal buang deh, praktis banget ya. Hebat juga ide ide disini. Oh ya, yang mau berkunjung kesini bisa telpon dulu ke nomor 031 5947 666.

Surabaya hari kedua

Rencana kami hari ini adalah menyewa mobil untuk keliling kota dan pergi ke Madura untuk makan siang di Bebek Sinjay, karena setiap orang yang kami tanya bahkan supir taxi maupun tukang becak, ketika kami tanya bebek mana yang paling enak, semua menjawab sama yaitu bebek Sinjay. Tak diragukan lagi, kami harus mencobanya.
Sebagai persiapan, sehari sebelumnya kami sudah membeli Koran Surabaya untuk mencari tempat penyewaan mobil. Setelah telpon sana telpon sini, akhirnya kami menemukan Nansa rent a car, dengan mobil new Xenia yang dikemudikan oleh pemiliknya sendiri yaitu Bp. Santo. Apa kelebihan rent a car ini ? Selain mobilnya yang masih baru, harga sewanya paling bersaing, bensinnya pun irit karena kami harus mengisi bensin sendiri hingga full. Pak Santo yang baik dan ramah ini selain nyupir dia juga guide yang baik. Asyiknya lagi dia helpful banget selalu siap fotoin kami berdua. Akhirnya hasil foto kami berdua jadi banyak, padahal biasanya kalau lagi jalan jalan berdua, pasti hasil fotonya jarang ada yang berduaan.
Ini saya kasih no telponnya ya : 0817 0341 8789, 031 3456 7159, alamatnya Perum Puri Lidah Kulon Indah B 22 Surabaya (Wiyung).

Maksi di Warung bebek Sinjay, jl. Raya Ketengan no 45, Burneh Bangkalan, Madura (***)

Jam 9 pagi kami telah siap untuk berkeliling kota Surabaya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pelabuhan Tanjung Perak, kemudian ketiga kantor PT Perkebunan Nusantara yaitu PT PN X, XI dan XII, yang terakhir ke universitas Airlangga. Waktu telah menunjukkan pk 11.30 dan kami segera menuju jembatan Suramadu.  
Warung bebek Sinjay ini berada di jl. Raya Ketengan no 45 Burneh Bangkalan, dimana jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu keluar tol Suramadu, dan lama waktu tempuhnya tidak sampai setengah jam. Sesampainya disana, wuih parkiran mobil terlihat penuh dan semrawut, kami pun segera turun untuk mencari tempat.
RM ini memiliki ruang makan terbuka yang sangat luas dan memanjang beratapkan asbes. Puluhan meja kayu dan kursi plastic hampir semuanya telah ditempati oleh pengunjung, luar biasa. Kamipun celingak celinguk kebingungan dengan cara memesannya. Setelah mencegat seorang pelayan yang super sibuk dan bertanya, ternyata caranya adalah kami harus memesan dan membayar dulu dibagian nota pemesanan. Ketika kami kesana, terdapat tulisan “bebek habis, tinggal jeroan protolan”, haduh betapa kecewanya kami, sudah jauh jauh kesini, lapar dan panas luar biasa, habis pula, pantas pengunjung yang antri disini tidak begitu panjang.
Kami pun batal memesan. Karena perjalanan jauh, saya mau ke toilet dulu, sementara suami saya masih menunggu disitu. Setelah kembali dari toilet, saya kaget, ternyata suami saya sudah antri lagi di bagian nota pemesanan karena bebeknya sudah datang lagi, Alhamdulillah. Kami memesan 2 nasi bebek dan 6 nasi bebek yang dibungkus untuk oleh oleh saudara suami saya yang tinggal di Rungkut. Setelah membayar, suami saya menunggu pesanan dimeja, sedangkan saya harus antri lagi dibagian pengambilan nasi bebek yang dibungkus.
Nah ini dia nasi bebek Sinjay yang legendaris itu yaitu sepiring nasi putih yang diatasnya diberi sepotong bebek goreng dengan bumbu kremesan, disajikan bersama sambal pencit serta sepotong ketimun dan daun kemangi. Secuil daging bebek yang masih panas ini saya suap bersama nasi hangat, rasanya begitu nikmat, lezat dan gurih, karena bumbunya benar benar meresap kedalam daging bebek yang garing diluarnya tapi empuk didalamnya. Bumbu kremesannya yang gurih dan asin akan semakin nikmat bila dicampur bersama nasi. Pelengkapnya adalah sambal pencit yang rasanya asam segar dan super pedas karena berisi serutan mangga muda dan cabe rawit merah. Rasa bebek dan sambal yang kontras itulah menjadi perpaduan sempurna dimulut sehingga rasanya ingin lagi dan lagi. Sajian ini mengingatkan saya akan masakan ayam goreng di rumah makan padang, tapi bedanya ayam goreng padang rasanya enak, tapi bebek sinay rasanya enak banget.
Sayangnya cuaca hari itu sangat terik sehingga kami yang berada dibawah atap asbes terasa berada didalam oven yang membara.  Segera kami habiskan makanan dan meninggalkan meja. Ketika hendak beranjak, saya tak sengaja mendengar percakapan seorang ibu dengan rombongannya, “Saya kesini gara gara ngiler banget liat di TV, rombongan keluarga Ashanti dan Anang makan bebek Sinjay. Saya bela belain kesini sampai nyasar nyasar, akhirnya kesampean juga makan kesini”. Aduh bu, segitunya, batinku sambil tersenyum sendiri.

Kekenyangan makan Masterr Singapore Ice cream - Mall Ciputra World, jl Mayjend Sungkono no 89 (**)

Pulang dari Madura kami langsung menuju rumah saudara suami saya di Rungkut. Selesai silahturahmi kami hendak pulang tetapi melewati sebuah mall baru yaitu Ciputra World di jl Mayjend Sungkono no 89. Kami jadi penasaran pengen mampir, kaya apa sih mall di Surabaya. Ternyata mall nya bagus dan megah, mirip Gandaria City. Kami muter muter sebentar, tapi malah ketemu sebuah kedai es krim yang dijajakan disebuah gerobak sepeda, namanya Masterr Singapore Ice Cream, the art of Singapore ice cream. Apa sih keistimewaannya ?
Yaitu aneka rasa es krim yang disajikan didalam roti tawar atau wafer. Wah ini sih kedoyanan suami saya yang langsung teringat jajanan masa sekolahnya dulu yaitu es puter pake roti tawar. Langsung saja dia pesan es krim rasa oreo yang dibungkus selembar roti tawar. Saya juga pesan loh yang rasa coklat.
Aslinya es krim tsb berbentuk kotak panjang seperti balok, apabila ada pembeli tinggal dipotong dan diselipkan kedalam selembar roti tawar yang warnanya belang, merah dan hijau. Alangkah nikmatnya es krim ini, ketika digigit es krim masih keras membeku, secara perlahan lumer dimulut, rasa manisnya berpadu dengan rasa roti yang lembut, hmm enak tapi kenyang banget.
Es krim ini tersedia dalam rasa coconut, vanilla, capucino, rum raisin, chocolate, corn, oreo, durian, ketan hitam, pistachio, mango, taro, strawberry, dll. Ketika hendak membayar saya bertanya berapa harganya dan dijawab Rp 35.000. Saya memberi Rp 70.000 tapi pelayannya malah bingung dan bertanya “kok banyak amat bu ?” Rupanya Rp 35.000 itu untuk 2 porsi ice cream. Wah murah ya, sebab kalau di Jakarta mana ada harga es krim segitu didalam mall.

Masih berlanjut ke Ayam bakar Primarasa – jl. Manyar Kertoarjo no 78 (*)

Malamnya suami saya masih mau makan lagi. Padahal saya masih kekenyangan akibat makan es krim roti. Suami saya penasaran pengen makan ayam bakar Primarasa gara gara direkomendasikan oleh keluarga tantenya yang kami kunjungi tadi sore. Akhirnya kami balik lagi ke jl Manyar Kertoarjo seperti kemarin malam.
Pengunjung disini cukup ramai tapi tidak sampai antri. Kami membaca menu yang terdiri dari berbagai jenis masakan ayam, ikan, udang, cumi, aneka cah sayur, sambal, mi dan nasi goreng. Menu unggulan disini tentulah ayam bakar, tapi pelayan juga merekomendasikan menu pepes bandeng. Akhirnya suami saya memesan kedua menu tsb.
Walaupun perut kenyang saya tetep harus mencicipi. Ayam bakarnya memakai bumbu kecap yang sudah meresap betul kedalam daging, jadi ketika dimakan ayam terasa manis manis gurih dan empuk banget. Penampilan ayam tampak bersih dan tidak gosong. Kemudian penampilan pepes bandengnya yahud banget yaitu ikan bandeng yang telah dibagi 2 dan dilebarkan itu dilumuri bumbu yang mengandung cabe merah yang banyak, sehingga bijinya bertaburan dimana mana. Ketika dimakan daging bandeng terasa wangi rempah dan kemangi serta pedas menggigit tentunya.
Mengenai harga sajian disini agak unik. Maksudnya didalam list menu ditulis harga before discount dan after discount, entah kapan discount tsb berakhir. Apabila melihat billnya sih harga sepotong ayam Rp 11.250, bandeng Rp 53.750 dan es dawet Rp 9.375 setelah dijumlahkan baru dikurangi lagi discount 20%. Siapa yang berminat DO bisa telpon dulu ke 031 594 5578 / 596 1526.

Surabaya hari ketiga

Hari ini sudah waktunya kami pulang ke Jakarta. Supaya tidak terlalu cape kami memilih pulang dengan pesawat pada pk 14.30. Sebelum pulang tentunya wajib membeli oleh oleh untuk keluarga dan teman sekantor. Jalan Genteng besar adalah pusat oleh oleh khas Surabaya. Begitu banyak toko oleh oleh disini, tapi akhirnya kami memilih toko Bhek karena harganya lebih bersaing daripada toko lain. Akhirnya kesampaian juga saya membeli krupuk keju yang saya idam idamkan.

Maksi hemat di Depot Indah jl Gunungsari pompa air (*)

Puas membeli oleh oleh kami langsung menuju Bandar udara Juanda, tapi ingin makan siang dulu. Pak Santos merekomendasikan sebuah rumah makan kecil yang katanya enak dan ramai di jl Gunungsari pompa air. Sesampainya disana tempat itu berupa warung makan yang terletak disamping sebuah rumah dengan nama Depot Indah. Ketika kami datang sih tidak ada pengunjung yang makan alias sepi, tapi karena kami mengejar waktu akhirnya kami tetapkan juga makan disitu.
Sajian khas disini adalah krengsengan ikan, sop buntut dan rawon. Menu pelengkap lainnya tersaji disebuah rak kaca, tinggal kita pilih sesuai selera. Saya memilih menu sop buntut dan suami memilih rawon. Menu boleh sama disetiap daerah tapi cara penyajiannya bisa berbeda. Nasi rawon disajikan terpisah yaitu nasi putih diberi tauge, sambal dan daging rawon yang berbentuk lebar tipis. Sedangkan kuah rawon berwarna coklat keruh, bukan hitam pekat, berminyak dan ditaburi bawang putih goreng. Kuah rawon terasa gurih dan nikmat serta daging terasa empuk. Sop buntutnya lebih mantap lagi, berisi 4 potong buntut yang dagingnya banyak dan besar besar serta empuk. Kuahnya bening tak berminyak, ditaburi bawang putih goreng juga serta irisan wortel. Rasanya segar dan tidak terlalu asin. Lebih asyik lagi harganya, sajian daging begitu banyak tidak sampai 50ribu rupiah. Mana ada yang begitu di Jakarta.

Nasi Goreng Jancuk di Surabaya Plaza Hotel (**)

Ada satu hal lagi yang terlewat belum saya ceritakan. Kami kan menginap di Surabaya Plaza Hotel, letaknya strategis yaitu ditengah kota Surabaya. Hotel ini merupakan hotel bintang 4 dan merupakan hotel pertama yang menerapkan no smoking hotel, dimana bila ada yang melanggar akan dikenakan denda sejumlah Rp 1.000.000.
Jalan menuju kamar kami, dari lobi harus naik lift dulu yang letaknya ditengah tengah hotel yaitu antara lobi dengan restaurant. Dinding lift terbuat dari kaca sehingga setiap naik turun lift kami pasti membaca sebuah spanduk besar yang tergantung diruang restaurant yang berbunyi “Anda belum sampai di Surabaya jika belum mencoba nasi goreng jancuk”. Pertama membaca kami mengabaikan tulisan spanduk tsb. Lama lama kami merasa heran, kenapa banyak anak muda yang makan di restaurant ini ya, pagi siang sore, sehingga resto selalu terlihat ramai. Wah anak anak muda di Surabaya ini kaya kaya ya, mampu makan dihotel berbintang, pikir kami. Kemudian ketika kami mengunjungi rumah saudara suami saya, kami pun ditanya hotel mana tempat kami menginap. Ketika diberi tau bahwa kami menginap di Surabaya plaza hotel, sepupu suami saya itu langsung bertanya “sudah makan nasi goreng jancuknya belum ?” “Belum” jawab kami, “Memang enak ya ? Terus keistimewaannya apa sih ?” Tanya kami lagi. Sepupu kami tersenyum sambil menerangkan “ketika nasi goreng tsb sampai dimulut, pasti langsung memaki, jancuk pedesnya. Lalu ketika nasi goreng sudah habis dan melihat tagihannya langsung memaki lagi, jancuk mahalnya. Nah dari situlah asal muasal nama nasi goreng jancuk. Tapi biarpun mahal tetap sebanding dengan porsinya yang banyak banget, bisa dimakan ber 8 orang loh” terang sepupu kami.
Mendengar kata pedas, mata suami saya langsung berbinar binar. “Besok kita bungkus yuk untuk dibawa pulang ke Jakarta” katanya. Sebab kalau makan direstaurant pasti tidak mungkin sebab kami hanya berdua, takut tidak habis dan mubajir.
Semenjak mendapat keterangan tsb kami jadi lebih memperhatikan pengunjung yang sedang makan direstaurant tsb. Oh pantas saja banyak anak muda yang makan disini, wong mereka datang beramai ramai sekitar 10 orang hanya memesan paket 1 porsi nasi goreng jancuk sudah termasuk 2 pitcher es teh plus 1 porsi mi goreng gemblung. Bila membayarnya patungan, jatuhnya bisa hemat banget. Pantas restaurant ini menjadi ramai dan terkenal.
Akhirnya sebelum check out kami memesan sebungkus nasi goreng jancuk. Rasa hangat dari bungkusan nasgor terbawa sampai ke Jakarta karena nasi dibungkus oleh aluminium foil. Ketika dibuka, setengah bungkus nasgor tsb sudah memenuhi 1 mangkok nasi kami. Benar saja pedasnya luar biasa. Biji cabe bertamburan disetiap sendok nasi yang saya makan. Tapi nasi tidak berwarna merah melainkan kecoklatan dengan potongan ayam dan udang serta telur dadar iris. Rasanya yang gurih dan wangi mentega semakin nikmat bila dimakan bersama krupuk udang. Saking banyaknya nasgor tsb, setengah porsi saja kami makan berempat. Lalu besok pagi saya bawakan kembali nasgor tsb untuk bekal kantor suami saya. Masih ada sisa juga, saya bungkus dan bawa kerumah ibu saya untuk dinikmati bersama.