Showing posts with label Kuliner Jateng. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Jateng. Show all posts

Monday, January 22, 2018

Itinerary dan Kuliner Semarang

Long weekend Natal tahun ini kami terseret arus euforia liburan, bukan karena disengaja, tapi karena suami saya tidak kebagian tiket pesawat ke Semarang, sehingga terpaksa perjalanan ditempuh dengan memakai mobil, dan saya turut serta menemaninya. Perjalanan 5 hari ini menyisakan pengalaman kuliner seru tentunya.

SABTU, hari ke 2

Kami berangkat dari rumah hari Jumat pk. 17, makan tengah malam di Pringsewu Tegal, agak menderita karena saya ingin minum teh panas tapi mereka tidak menjualnya. Melewati jalur pantura, arus kendaraan padat hampir tidak bergerak, maka sampailah kami di Semarang pk. 8 pagi.

Warung Makan Sederhana (**)

Kami disediakan hotel untuk semalam di Grand Candi Jl. Sisingamangaraja no. 16, Kaliwiru, Candisari. Diseberang hotel ada sebuah tempat makan bernama Warung Makan Sederhana Jl. Sisingamangaraja no. 202, kelihatannya laris oleh pengunjung, kami pun segera merapat kesana untuk sarapan pagi.


Masuk ke dalam warung makan ini, tempat makan mengikuti konsep warteg dengan suasana yang nyaman, bersih dan tidak sempit. Aneka lauk berjajar rapih didalam rak kaca. Daftar menu ditempel didinding, isinya cukup bervariasi. Tapi karena kami berniat sarapan makanan panas dan berkuah, hanya ada 1 menu soto yaitu soto daging, maka kami segera memesannya.


Melihat tempe goreng tepung yang baru keluar dari wajan, kami segera mengambilnya, serta tambahan kerupuk dan rempeyek agar makan lebih semarak. Soto daging disajikan bercampur nasi, kuahnya bening, isinya soun dan potongan daging sapi, rasanya sederhana tapi mampu menyegarkan tubuh yang penat.

Warung makan ini menyediakan aneka masakan seperti nasi rames dengan pilihan lauk ikan, ayam goreng / bakar, koyor, kikil, sayur mangut, sayur lodeh kluwih, sayur lodeh terong, rawon, trancam, blanak, cumi, nasi pecel dan masih banyak lagi. Menu masakan rumahan bervariasi, dengan harga terjangkau, menjadikan rumah makan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

Wednesday, December 20, 2017

Menikmati ayam goreng legendaris Jogja di Ayam Goreng Bu Tini (***)

Malam Minggu di kota Jogja, kami menuju Jl. Lowanu no. 62 Sorosutan Umbulharjo untuk makan di salah satu resto ayam goreng legendaris Jogja yaitu Ayam goreng Bu Tini ayam kampung. Resto ini merupakan cabang kedua dari resto yang berpusat di Jl. Sultan Agung no. 17, dimana cabang Lowanu ini memiliki lokasi yang lebih luas dan memiliki konsep outdoor. Bangunan utama resto ini berupa pendopo yang luas serta beberapa gazebo yang berjajar rapi di area belakang resto, dilengkapi dengan taman yang asri.


Resto ini terkenal akan masakan ayam goreng bacem. Tapi ketika saya lihat daftar menunya, cukup bervariasi meliputi masakan udang, cumi, gurame dan nila. Masakan ayamnya pun memiliki pilihan lain seperti ayam goreng kremes, panggang, lombok ijo dan chicken basket. Menu pelengkapnya adalah masakan sayur, sop, tempe tahu, bakwan, puyunghai, omelete, nasi & mie goreng, tak lupa aneka jenis sambal, serta camilan pisang, nanas dan kentang.

Setiap saat adalah waktunya makan gelato di Il Tempo Del Gelato (***)

Datang ke Jogja dengan segudang acara, akhirnya selesai juga rentetan acara tsb dipenghujung hari. Untuk melepas penat, alangkah nikmatnya bila menikmati semangkuk ice cream yang paling happening saat ini seantero Jogja yaitu Il Tempo Del Gelato. Kami memilih datang ke toko kedua di Jl. Kaliurang km 5,2 no. 28 yang katanya tempatnya lebih besar dibandingkan dengan toko pertama di Jl. Prawirotaman no. 43.


Benar saja, tiba dilokasi, kami berhadapan dengan sebuah bangunan besar bertingkat, unik karena seperti unfinished building, bentuknya persegi, dengan pilar bata dan dinding depannya adalah kaca. Diatas pintu masuk terdapat logo Il Tempo Del Gelato berupa gambar jam dengan angka romawi.

Wednesday, March 15, 2017

Kuliner Purwokerto - Bantarbolang - Cirebon

Kebiasaan kami adalah bekerja sambil liburan. Maksudnya kalau suami ada pekerjaan diluar kota, maka saya suka diajak pergi sekalian liburan, hehehe. Minggu lalu suami menjadi pembicara di Universitas Soedirman Purwokerto, maka pergilah kami bertiga bersama mamah selama 3 hari. Jalan-jalan tak kan lepas dari wisata kuliner dan inilah ulasannya.

Jumat hari ke 1

Dari Jakarta pk. 6, kami tiba di kota Cirebon pk. 9 dan berniat sarapan di Empal Gentong & Empal Asem H. Apud, Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat. Kuliner ini sudah pernah saya bahas beberapa bulan yang lalu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan melewati jalur Pantura. Sayang sekali perjalanan kami terhambat beberapa perbaikan jalan sebagai persiapan lebaran. Perjalanan kami menjadi lambat dan tiba di Purwokerto pada sore hari.

Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B Purwokerto (***)

Pk. 16 kami tiba di hotel Java Heritage Jl. Dr. Angka no. 71, Sokanegara, tempat kami akan menginap, tapi sebelum masuk ke hotel, kami mau makan siang dulu nih. Kebetulan, tak jauh dari hotel ada sebuah rumah makan bernama Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B dan kami pun segera masuk kesana.

Monday, December 19, 2016

Handayani, resto asal Surabaya ada di Jogjakarta, secara konsisten menyajikan kuliner Indonesia (**)

Bila sedang mengunjungi kota Jogja dan ingin berpetualang kuliner, bisa mencoba resto Handayani yang menyajikan spesial kulinari Indonesia di Jl. Adi Sucipto no. 48B, Sleman, dekat dengan Bandara. Kami berkunjung kesana pada waktu malam hari. Resto berada didalam sebuah bangunan khas Jawa, tampak bersinar dimalam hari, karena atap resto dihiasi oleh lampu deret dan lampu tulisan Handayani. Ruang makan utama berupa ruang pendopo yang terbuka tapi terdapat juga ruang makan tertutup yang ber AC.

Monday, December 21, 2015

Citarasa masakan Indonesia arahan Sisca Soewitomo di resto Merapi (**)

Malam senin adalah malam terakhir kami di Jogja. Rencana malam ini kami akan menghabiskan waktu di Malioboro dan makan malam angkringan depan Kedaulatan Rakyat Jl. P. Mangkubumi. Tapi apa daya, manusia berencana tapi Allah menentukan. Ibu saya kecapean, tidak kuat jalan lagi. Ya sudah, saya kembali ke mobil untuk membungkus makan malam.

Friday, December 18, 2015

Membungkus oleh-oleh dari Gudeg bu Hj. Amad (**)

“Masa ke Jogja ngga bawa oleh-oleh gudeg” begitu kata ibu saya. Nah ibu saya pengen bungkus gudeg buat oleh-oleh dirumah plus buat besannya dan tetangga. Dari hasil pantauan kami dengan orang Jogja, katanya sekarang ada gudeg yang popularitasnya sedang menyaingi Yu Djum, yaitu Gudeg Mbarek bu Hj. Amad di Jl. Kaliurang km 5, utara gedung pusat UGM. Nah boleh juga dicoba, kan gudeg Yu Djum sudah sering kami makan.

Thursday, December 17, 2015

Kecantikan cafe dan sajiannya di Epic Coffee (**)

Suatu moment yang sangat langka ketika saya pergi ke Jogja dan kebetulan teman-teman ex kantor saya juga sedang outing kesana. Kami langsung mengadakan janji temu disaat mereka sedang off dari acara kantor. Malam minggu saya menjemput teman-teman dari hotel Ibis tempat saya menginap, ke hotel Sahid Rich tempat mereka menginap, dengan memakai mobil sewaan. Selanjutnya kami bertanya kepada pak supir, yang anak muda, dimana tempat hang out baru yang sedang kekinian.

Wednesday, December 16, 2015

Kelezatan Ayam goreng Jawa Mbah Cemplung sangat patut dicari walaupun sampai ke pelosok (***)

Hari Minggu ini adalah hari ketiga kami berada di kota Jogja. Saya sudah berpesan sehari sebelumnya kepada pak supir, agar besok kami makan siang di Ayam Goreng Mbah Cemplung di kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul. Kata pak supir, kalau makan disana harus pagi karena kalau makan siang dikhawatirkan persediaan ayam sudah habis. Wah bagaimana ini, berarti sarapan pagi di hotel cukup makan buah-buahan saja. Untung pak supir punya ide untuk menelfon rumah makan tsb, minta agar disisakan ayamnya karena khawatir kami datang agak siang.


Tuesday, December 15, 2015

Serba ada masakan khas Solo di Dapur Solo (**)

Mumpung berada di kota Jogja, sekalian saja saya ajak ibu saya ke kota Solo, jadi sekali berpergian, 2 kota terlampaui, hehehe. Nah makan siang apa di Solo. Ini cukup membingungkan karena kuliner Solo sebenarnya banyak jenisnya dan terkenal tapi kebanyakan buka di malam hari, sedangkan kami hanya berkunjung sebentar saja karena menginap di Jogja. Supir sewa mobil kami menelfon temennya yang orang Solo asli untuk menanyakan referensi tempat makan yang menyajikan berbagai macam pilihan lauk. Kami disarankan untuk makan di Dapur Solo. Dengan perasaan enggan saya mengiyakan pilihan tsb karena khawatir jika rumah makan Dapur Solo ini sama dengan cabang di Jakarta.


Keistimewaan sajian di Pelem Golek (**)

Kunjungan kami kali ini ke kota Jogja agak istimewa karena saya mengajak ibu saya yang belum pernah ke kota Jogja dan mengajak seorang tante untuk menemani ibu. Kami tiba di Jogja pada hari Jumat sore, kemudian pergi makan malam dengan menggunakan taxi. Karena belum memiliki gambaran hendak makan dimana, maka kami bertanya pada pak supir, rumah makan apa yang terkenal dan menyajikan berbagai jenis lauk. Kami disarankan untuk makan di resto Pelem Golek di Jl. Palagan Tentara Pelajar km 7 no. 99, didepan Hotel Hyatt, dan kami setuju karena belum pernah mencoba makan disana.

Monday, October 19, 2015

Kuliner Solo - Magetan - Madiun

Liburan tahun baru Islam tahun ini kami pergi ke Madiun dalam rangka melihat rumah nenek yang sedang direnovasi. Dari Jakarta kami berangkat hari Selasa menuju Solo dan pulang hari Rabu. Cukup semalam saja kami menginap di Madiun. Walaupun hanya semalam, saya menghasilkan 4 review tempat makan. Nah ini dia laporannya.

Thursday, April 16, 2015

Tanda tanya pada soto Pak Sholeh






Dalam rangka UGM Agro Expo 2015, kami pergi lagi ke Jogja dan menginap semalam. Siang hari setelah selesai acara dikampus, kami hendak makan siang. Suami saya sampai bertanya “boleh ngga makan soto pak Sholeh, aku kangen” Halah lebay banget sih, ya tentu boleh lah. Dulu kami pernah juga makan disini, tapi saya tidak ingat setitik pun bagaimana rasa soto pak Sholeh ini, artinya kunjungan yang dulu itu tidak menimbulkan kesan dihati saya. Jadi kami pun pergi ke Jl. Wiratama No 84 Tegalrejo.

Friday, April 03, 2015

Kuliner Jogja dalam 2 hari

Sehubungan dengan tugas suami ke Jogja, saya diajak turut serta untuk menemani beliau, dengan catatan saya harus jalan-jalan sendiri kalau beliau sibuk. Oke deh saya sih manut saja, karena saya tidak mau melewatkan wisata kuliner Jogja yang belum saya coba. Nah ini dia liputannya :

JUMAT

Semua bisa makan enak di BALEAYU resto (***)






Hari pertama kami “pulang ke kota mu...”, setelah sholat Jumat kami panggil taxi menuju daerah Timoho. Suami saya bilang, dia pernah makan didaerah Timoho, enak, bersama teman-temannya. Oke deh, kami pun menuju Jl. Ipda Tut Harsono no. 58, Timoho. Sampai disana kami masuk ke sebuah resto bernama Baleayu. Tempatnya luas, pertama kita masuk pintu gerbangnya dahulu, lalu parkir, lalu kami melewati bangunan dapurnya sebelum menuju ke ruang makan yang merupakan bangunan pendopo yaitu ruangan luas tanpa sekat, tanpa dinding, hanya ada tiang-tiang, dengan atap khas Jawa.

Thursday, September 20, 2012

Kuliner Jogja


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna. Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja...

Sepenggal lagu karya KLa Project itu, benar benar menggambarkan keadaan suami ku banget. Bagaimana tidak, setiap ada kesempatan berkunjung ke kota Jogjakarta, dia bener bener terhanyut dalam nostalgia. Rute nostalgia pertama adalah kampus UGM, semua sudut dia jelajahi. Mulai dari ex kamar kosnya, ruang wisuda, perpustakaan, sampai ke koperasi nya. Tak lupa dia belanja aneka merchandise UGM.  Rute selanjutnya adalah mengunjungi rumah miliknya yang sekarang sudah dijual plus berbincang bincang dengan satpam kompleks. Semua rute yang dia lalui saya sudah hafal luar kepala plus latar belakang cerita kenangannya. Tapi yang paling menarik adalah wisata kuliner rasa nostalgia. Yang terakhir ini yang paling saya suka he he he.

SGPC bu Wiryo di dalam kampus UGM (**)

Live music
Meja lauk pauk
Nampang dulu ah








Dari kejauhan sudah terlihat antrian mobil yang sedang parkir. Padahal waktu baru menunjukkan pk. 9 pagi. Terdengar suara live musik akustik  yang meriah mengundang orang untuk menghampiri. Suasananya persis seperti ada hajatan. Memasuki rumah makan ini, bentuknya blong, luas seperti sebuah hall. Meja dan kursi kayu yang tersedia semuanya panjang panjang untuk makan beramai ramai. Sehingga suasana yang tercipta adalah kekeluargaan karena kita bakal berbagi meja dengan pengunjung yang lain. Pengunjung yang baru datang harus langsung menuju kebagian belakang, dimana ada sebuah meja panjang berisi aneka lauk pauk, seperti pecel, aneka gorengan tahu tempe bakwan dan perkedel. Tersedia juga sop daging, sate ayam, telor dan rempeyek. Kita tinggal tunjuk mau makan apa serta ambil minuman sendiri berupa teh, air jeruk atau jus tomat. Setelah itu kita bawa makanan dan minuman kita ke meja santap. Jangan lupa kita lengkapi santapan kita dengan krupuk yang tersedia didalam blek yang ada disetiap sudut meja makan.
Keunggulan pecel bu Wiryo ini adalah terletak pada bumbu pecelnya yang terasa nikmat, rasanya yang manis gurih serta sedikit pedas, sangat serasi berpadu dengan sayuran segar. Sebagai penggemar gorengan, tak lupa saya ambil tempe dan tahu goreng tepung. Gorengan ini tidak kering, lebih mirip mendoan tapi tidak lembek, rasa tepungnya gurih dan empuk ketika di kunyah, pokoknya enak deh. Apalagi bila dicocol dengan bumbu pecel. Lauk lain yang saya ambil adalah sate ayam dan perkedel kentang yang rasanya juga enak, gurih dan empuk. Suami saya juga mengambil sepiring sop. Iya disini sopnya disajikan diatas piring bukan mangkok. Sopnya seger banget, kuahnya bening, berisi soun, wortel, kol, kentang dan potongan daging yang lumayan besar dan banyak. Pokoknya sarapan terasa nikmat apalagi kepala ikut mengangguk angguk menikmati lagu lagu lawas yang menghentak. Seorang pengunjung perempuan didaulat bernyanyi oleh rombongannya. Suaranya sungguh merdu seperti laiknya seorang biduan. Rupanya bukan suami saya saja yang terhanyut akan nostalgi, sebagian besar pengunjungpun larut dalam suasana mengharu biru karena memang SGPC bu Wiryo ini melayani di UGM sejak tahun 1959.
Menurut saya, SGPC bu Wiryo patut dianugrahi the best nostalgia place, karena didukung oleh makanan yang enak, rasa yang konsisten sepanjang masa, harga yang murah, tempat yang sederhana tapi nyaman, serta suasana yang meriah dan menghibur.

Bebek goreng H Slamet jl Gejayan (**)

Kota Jogjakarta memang kota kenangan. Pantas bila semua orang terhanyut akan nostalgia, sampai ada lagunya segala. Begitu pula dengan peta wisata kulinernya, tak banyak yang berubah. Beda banget sama kota Bandung yang kreatif menciptakan inovasi baru. Sebulan sekali saja pergi ke kota Bandung, pasti ada kuliner baru yang unik. Malam ini kami bingung, ingin wiskul di dalam kota Jogja, tapi apa yang baru ya? Baik mi jawa, soto atau lesehan sudah sering kami coba. Kami pun bertanya pada supir taxi kami, makanan apa yang sing terkenal dan antri. Jawabannya bebek goreng H Slamet. Lah ini kan ada di Jakarta, tapi saya belum pernah coba. Tapi akhirnya kamipun sepakat kesana.
RM Begor ini terletaknya dipinggir jalan Gejayan. Tempat parkirnya sudah dipenuhi jejeran motor. Kamipun parkir diseberang jalan. Tempatnya sederhana tetapi bersih berupa ruang terbuka 2 tingkat dengan meja kursi terbuat dari kayu. Dihiasi dengan lampu, kipas angin serta poster-poster menu bebek.
Pilihan menunya hanya bebek goreng dengan pilihan paha, dada, kepala, cakar, ati rempelo serta ayam. Kami memilih dada dan paha, sudah termasuk sambal korek. Bebek yang disajikan cukup besar, terlihat garing dan berwarna coklat keemasan. Ketika digigit, daging terasa empuk dan gurih akibat bumbu yang telah meresap, enaknya lagi daging bebek tidak berbau amis. Apalagi kulit bebeknya, terasa garing dan gurih. Tapi hati hati ada beberapa bagian kulit dengan timbunan lemak yang cukup tebal.
Bebek ini dilengkapi dengan sambal korek yaitu ulekan cabe rawit merah dan hijau ditambah bawang putih serta minyak jelantah bekas goreng bebek. Hasilnya sambal ini terasa pedas menyengat dan sangat berminyak. Terus terang saya tidak kuat dan segera menuangkan kecap manis kedalam sambal. Ah nikmatnya sajian berselera ini. Tapi gawat juga, malam malam begini, nasi putih sepiring telah habis saya santap. Rusak sudah diet ku. Untuk meredam rasa pedas, segelas es jeruk manis pun mengalir menyegarkan tenggorokan.
Kekecewaan kami atas wiskul yang unik agak terobati karena makanannya cukup memuaskan. Padahal Begor H Slamet ini ada loh didekat rumah saya, tapi tidak pernah terpikir untuk mencoba. Harganya juga terjangkau yaitu Paha Rp 15.000 dan Dada Rp 16.000, es jeruknya pun hanya Rp 4.000. Pantaslah untuk direkomendasikan.

Chocolate Monggo, Kotagede (***)

Suasana dapur
Bersama mba Fit humas chocolate Monggo
Nampang berdua

Coklat bars
Aneka tester
Coklat tablets
Coklat spesial order

















Nah kalau yang ini sudah menjadi icon kota Jogja. Chocolate Monggo, the finest Indonesia chocolate ! Ini bukan cuma slogan, tapi beneran. Maksudnya coklat buatan Indonesia yang paling enak ya coklat Monggo. Bahkan lebih enak dari coklat buatan luar negri. Biji kakaonya berasal dari perkebunan di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Lalu diproduksinya juga dipabrik Kotagede Jogjakarta. Tapi yang membuatnya orang Belgia, yaitu Thierry Detournay.
Sejarahnya adalah pada tahun 2001 Thierry Detournay sedang berpetualang ke kota Jogja. Kemudian dia kecewa dengan rasa coklat buatan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil kakao. Thierry memutuskan untuk membuat coklat dengan citarasa Belgia dan diberikan ke teman-temannya di Indonesia. Ternyata coklat buatannya disukai dan akhirnya dia menjual coklat tsb disekitar UGM. Karena coklat buatannya mendapat respon positif, maka pada tahun 2005 mulailah didirikan PT Anugerah Mulia dan lahirlah produk coklat Monggo yang menjadi icon kota Jogja.
Kayanya rugi deh kalau ke Jogja tapi tidak mengunjungi pabrik coklat Monggo. Letaknya sih lumayan jauh di Kotagede. Kotagede adalah ex ibukota kerajaan Mataram sehingga memiliki situs arkeologi yang berisi sisa-sisa kraton (istana), pemakaman kerajaan, dan masjid kerajaan Mataram. Pabrik coklat Monggo sendiri letaknya hanya beberapa meter dari kompleks pemakaman raja raja Mataram. Selain itu Kotagede identik dengan pabrik kerajinan bahan perak, sehingga tidak rugi ke kotagede karena banyak tujuan wisata lain selain pabrik coklat Monggo.
Rupanya pabrik coklat Monggo itu berupa sebuah rumah Jawa kuno yang sudah direnovasi menjadi cantik. Luasnya juga tidak terlalu besar. Memasuki rumah bercat putih ini, bagian depannya terdapat teras dengan jendela kaca. Interiornya berupa kursi kayu panjang, lemari kayu dengan buku tamu diatasnya, pajangan tradisional Jawa serta pernak pernik yang berhubungan dengan kakao. Lalu ruang tengahnya adalah berisi rak display coklat Monggo untuk dijual.
Sebelum membeli bisa mencicipi testernya dulu loh. Rasa favorit saya tentunya dark chocolate tapi yang 58%. Artinya adalah coklat mengandung 58% cocoa butter / mentega kakao dan kakao massa, sisanya adalah bahan-bahan lain seperti susu, vanilla, gula, dll. Mentega kakao adalah lemak nabati yang terkandung dalam biji kakao dan didapat dari hasil proses pemisahan kakao massa. Ketika dark chocolate dimakan rasanya wuih lezat, langsung lumer dimulut dan tidak meninggalkan jejak kesat & getir, nikmat banget. Rasa pahit dari coklat sangat seimbang dengan rasa manisnya, sempurna. Pilihan dark chocolate lainnya adalah 69%, rasanya tentu lebih pahit dan tidak semua orang suka. Tapi saya juga suka, I love chocolate.
Ada beberapa jenis bentuk coklat yaitu bars & tablets serta kemasan oleh-oleh. Saya membeli 1 boks berisi 24 mini tablets dark chocolate buat teman sekantor. Kemasannya bergambar 4 punakawan. It’s very nice gift.
Ternyata rasa coklat yang diproduksi lumayan banyak loh jenisnya yaitu : Red chili (ha ha ha anda pasti kaget ketika memakannya), cashew nuts (organic dan yang biasa), orange peel, macadamia, raisin & cashew nuts, ginger, mango, marzipan, praline, caramello, strawberry, durian, milk dan white chocolate.
Puas memilih milih coklat, kami menuju ruang disamping kanan yaitu pabrik atau dapur tempat pembuatan coklat. Wah seru ya memperhatikan para karyawan yang sedang mencetak coklat. Ada yang sedang menuangkan coklat cair kedalam cetakan berbentuk tablets lalu diratakan kembali dan diletakkan didalam lemari pendingin. Ada yang sedangkan menuangkan coklat cair kedalam cetakan bentuk tablets tapi kemudian ditumpahkan kembali, kemudian diletakkan diatas rak besi sampai mengeras untuk diisi bahan seperti pasta, dll. Saya hitung jumlah karyawan didapur hanya 6 orang dengan seragam kaus hitam dan celemek serta penutup kepala warna merah tua, icon chocolate Monggo.
Terakhir, kami puas puasin mengambil foto biar temen temen yang liat pada ngiri, he he he. Lumayan juga berkunjung kesini, ada pengetahuan yang didapat, harga coklat lebih murah serta tester coklat yang banyaaak dan lezaaat…

Moro Lejar, Sleman (**)



Aneka gorengan dipintu masuk
Oseng cabe ijo
Ayam goreng balut telur
Aneka kripik dipintu masuk
Mendoan
Signboard


Gurame bakar
Saung diatas kolam
Suami saya ngotot ngajak makan masakan ikan wader. Sayapun terheran heran. Setau saya, suami saya tidak doyan ikan balita. Sedangkan ikan wader adalah ikan air tawar yang berukuran kecil seperti ikan balita. Udah gitu tempatnya jauh banget di Sleman, lebih jauh dari RM Jejamuran yang ingin saya kunjungi. Hmm pasti rasanya dasyat nih, pikir saya. Suami saya pun berpromosi, “ikan wadernya enak banget loh, garing dan gurih”, katanya. Tuh kan, mulai lagi. Ya okelah, saya manut wae. Tapi harus agak ngebut nih kesananya karena kami harus segera pulang ke Jakarta. Dan mulailah perjalanan kami dari jalan Kaliurang menuju Sleman, dikaki gunung Merapi.
Sesampainya disana, ternyata RM ini merupakan tempat makan dengan nuansa alam pedesaan. Bangunannya berupa saung saung diatas kolam ikan. Masing masing saung terlihat cukup luas. Terdapat sebuah meja besar dan tikar untuk duduk lesehan. Setiap saung juga tersedia kran untuk cuci tangan.
Spesialis masakan disini adalah aneka ikan segar air tawar yaitu ikan mas, gurame, lele, nila dan wader. Selain itu tersedia juga ayam kampung, udang, dan beberapa menu tambahan seperti nasi & mi goreng serta capcay.
Karena lapar kami agak kalap dalam memesan menu yaitu ayam goreng, gurame bakar, tempe mendoan, oseng cabe ijo, serta ikan wader goreng tentunya. Tak lupa kami berpesan agar penyajian agak dipercepat karena kami harus mengejar pesawat sore untuk pulang ke Jakarta.
Sambil menunggu pesanan datang, kami mengamati suasana RM ini. Sungguh asri rasanya dengan saung yang terbuat dari kayu dan bambu, serta atap genteng. Anak anak berebut memberi makan ikan didalam kolam dibawah saung. Makan disini, seolah olah sedang makan ditengah tengah perkebunan karena saung dikelilingi pepohonan yang rimbun. Udara terasa sejuk dan adem terkena hembusan angin semilir. Hmm mata mulai mengantuk nih.
Tidak begitu lama pesanan kami pun datang dan segera dihidangkan diatas meja. Tapi kok eh “Mas, ikan wadernya kok belum ada ?” Tanya ku. “Wadernya habis bu” kata si Mas. “Yaah tadi kok ngga bilang sih…” kata kami berbarengan. Kecewa berat nih. Jauh jauh datang kesini, lauk yang dipromosikannya tidak ada. Yah sudahlah…
Kami pun mulai menikmati makan siang kami. Ikan guramenya terasa segar dengan bumbu kecap yang meresap. Ayamnya unik karena digoreng dengan balutan telur dan ditaburi semacam kremesan dari telur. Ayamnya empuk dan gurih dengan bumbu yang meresap. Tempe mendoannya berisi 5 potong seporsi, masih hangat dan empuk. Oseng cabe ijonya berisi potongan kacang panjang, tempe, toge serta cabe ijo besar. Sayurnya terasa segar dengan semburat rasa gurih. Insiden ikan wader terlupakan sudah. Kami pun makan sajian yang terhidang dengan lahap.
Tak banyak waktu untuk berleha leha menurunkan nasi diperut, kami harus segera pulang. Kamipun beranjak menuju kasir. Harga disini lumayan terjangkau. Paling mahal adalah gurame Rp 36.000, kemudian ayam goreng Rp 15.000 (sepotong), mendoan Rp 6.000, oseng Rp 7.000, nasi Rp 4.000, kelapa muda (gelas) Rp 5.000, jus semangka Rp 7.000 serta sambal Rp 1.500, sehingga total kami membayar hampir seratus ribu.
Yang ingin berkunjung kesini alamatnya adalah Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, telpon 0274 895035-6. Disarankan reserved dulu sebelum kesini, karena pengujung yang kesini cukup ramai dan berlaku system buka tutup. Maksudnya bila pengunjung sudah full, maka parkiran akan ditutup sementara, sampai ada tempat lagi. Kasian kan kalau sudah jauh jauh kesini, eh ngga bisa masuk lagi. Bisa lemes tuh…