Friday, April 03, 2015

Kuliner Jogja dalam 2 hari

Sehubungan dengan tugas suami ke Jogja, saya diajak turut serta untuk menemani beliau, dengan catatan saya harus jalan-jalan sendiri kalau beliau sibuk. Oke deh saya sih manut saja, karena saya tidak mau melewatkan wisata kuliner Jogja yang belum saya coba. Nah ini dia liputannya :

JUMAT

Semua bisa makan enak di BALEAYU resto (***)






Hari pertama kami “pulang ke kota mu...”, setelah sholat Jumat kami panggil taxi menuju daerah Timoho. Suami saya bilang, dia pernah makan didaerah Timoho, enak, bersama teman-temannya. Oke deh, kami pun menuju Jl. Ipda Tut Harsono no. 58, Timoho. Sampai disana kami masuk ke sebuah resto bernama Baleayu. Tempatnya luas, pertama kita masuk pintu gerbangnya dahulu, lalu parkir, lalu kami melewati bangunan dapurnya sebelum menuju ke ruang makan yang merupakan bangunan pendopo yaitu ruangan luas tanpa sekat, tanpa dinding, hanya ada tiang-tiang, dengan atap khas Jawa.


Setelah membaca buku menunya, rupanya resto ini menyajikan aneka masakan khususnya seafood dengan citarasa oriental. Menu unggulannya adalah masakan ikan gurame yang memiliki sekitar 20 jenis variasi masakan. Selain gurame dan seafood, banyak juga menu lainnya seperti ayam, bebek, daging sapi, sayuran, dll.

Karena menu unggulannya gurame, kami pun tak sabar ingin mencobanya dan tertarik memesan gurame crispy asam manis karena gambarnya terlihat menggiurkan. Sebagai menu pembuka kami memesan sop jamur, dan kami melihat satu menu yang tak dikenal bernama lo han cay. Setelah ditanyakan rupanya lo han cay adalah cap cay yang isinya ditambah jamur dan brokoli. Wah sepertinya menarik, sehingga kami pun memesan juga. Untuk minumannya, saya memesan es campur dan suami memesan es vanila lime.

Sambil menunggu pesanan, kami mengamati keadaan sekitar. Kebanyakan pengunjung yang datang kesini berombongan, karena menu yang disajikan cocok untuk makan beramai-ramai dan harganya pun cukup terjangkau. Bahkan slogan yang tercantum disampul buku menu adalah “semua bisa makan enak”. Nah coba kita buktikan nanti.

Minuman kami telah tiba, es vanila lime penampilannya mirip jus sirsak, ketika ku cicipi, hmm rasanya enak ya, segar, yaitu es susu putih dengan rasa dan aroma vanila yang kuat, dicampur dengan perasan jeruk nipis. Saya baru tau kalau perpaduan susu dan jeruk nipis itu rupanya enak dan segar.

Kemudian minuman es campur, sebelum memesan saya bertanya dulu, apakah diberi santan atau susu kental, karena saya tidak suka santan. Rupanya campurannya adalah santan, tapi ketika hendak dibatalkan, suami saya menolak, jadilah saya memesan es campur ini. Tapi ketika ku cicipi, eh ternyata enak juga, segar, tidak gurih dan ngga bikin eneg. Isinya cukup unik yaitu semangka, melon, cincau hitam, nenas, nata de coco dan roti tawar, hahaha aneh tapi enak.

Tiba saatnya makan siang, gurame crispy asam manis disajikan dihadapan kami dengan gaya yang bikin orang menelan air liur sendiri, glek. Daging ikan gurame telah disayat-sayat bentuk panjang, dilepas dari tulangnya, lalu digoreng tepung, disajikan diatas tulang ikan utuh yang digoreng tepung juga. Pendampingnya adalah saus asam manis yang disajikan terpisah dengan taburan wijen. Rasanya uenak rek, crispy, garing diluar, lembut didalam, empuk, tidak amis, bumbunya meresap, warnanya putih kekuningan, tidak gosong, ketika dicocol saus, kami makin lahap makannya.

Kemudian lo han cay, wah enak nih, sayurannya seger banget, fresh, bahkan masih keras. Isinya sayuran bok choy, wortel, keputren, brokoli, daun bawang dan sepertinya 4 jenis jamur, rasanya enak dan gurih, tercecap ada rasa dan aroma seperti capcay goreng. Terakhir sop jamur, ketika kami makan, ini mah mirip lo han cay, tapi versi berkuah, sama enaknya, sama freshnya. Isinya beti, beda tipis, yaitu jamur, wortel, kembang kol, sawi dan daun bawang.

Selesai makan, tiba saatnya pembuktian slogan “semua bisa makan enak”. Harga gurame Rp 54.000, sop jamur Rp 20.000, lo han cay Rp 19.000, sambal Rp 3.500, nasi @Rp 3.500, es vanila Rp 13.000, es campur Rp 15.000 dan es teh manis Rp 3.500. Ya terjangkaulah ya, jauh banget sama harga Jakarta, apalagi dengan kesegaran dan kelezatan masakannya. Pesanan kami ini cocoknya juga untuk makan bertiga, sebab ikan guamenya ukurannya cukup besar dan nasinya juga sebakul.

Menikmati Royale di Artemy Italian Gelato (**)






Kami menginap di Hotel Ibis Malioboro dengan tujuan agar saya bisa luntang lantung sendiri. Lobi hotel Ibis ini letaknya di Jl. Perwakilan, jadi ketika kendaraan kami hendak masuk lobi hotel, kami lewati sebuah kedai es krim, Italian gelato, disebelah kiri Jl. Perwakilan. Wah mata saya sudah berbinar-binar melihatnya. Jadi ketika suami saya pergi ke UGM, segera saya menuju kedai es krim tsb untuk merelaxkan tubuh sebelum menyusuri Jl. Malioboro yang panjang.

Nama kedai es krim ini adalah Artemy, Italian gelato, tepatnya berada di Jl. Perwakilan no. 5. Kedai ini bergaya Italian cafe yang cantik. Tempatnya kecil saja, bisa duduk didalam maupun luar. Tapi kalau duduk diluar saya kurang cocok, karena selain panas dan berdebu, juga merupakan smoking area, serta Jl. Perwakilan ini cukup ramai dilewati oleh kendaraan dan para pengamen jalanan. Ketika masuk kedalam, suasana didalam lebih tenang dan adem tapi masih bisa melihat keramaian jalan karena dinding dan pintunya terbuat dari kaca.

Dekat pintu masuk sebelah kanan terdapat mesin display es krim yang berisi 12 jenis es krim. Saat itu tersedia rasa royale, coffe, choco cruch, dark chocolate, tutty fruty, rum raisin, vanila, cotton candy, coconut, strawberry, lemon dan cookies. Wah saya mulai bingung mau pilih yang mana ? Dark chocolate adalah suatu keharusan, tapi enaknya dicampur apa ya ? Dari semua pilihan, kelihatannya royale belum pernah saya temukan ditempat lain, dan kata pelayannya juga termasuk rasa yang best seller. Akhirnya saya memilih 2 jenis rasa es krim yaitu dark chocolate dan royale.

Diatas mesin display tsb terdapat aneka topping seperti kacang, coklat meises, cha cha, wafer, marshmalow, dll tapi saya tidak mau pakai topping karena ingin merasakan keaslian rasa es krim dan memilih cup sebagai tempatnya. Nah pesanan sudah siap dan mari kita nikmati.

Es krim rasa dark chocolate berisi chocolate chips, ketika dimakan tidak terlalu manis dan tidak mahteh. Lalu es krim rasa royale warnanya putih, ketika dimakan rasanya manis gurih yang berasal dari perpaduan rasa keju dan kacang serta mengandung gumpalan peanut butter, hahaha seru dan unik ya.

Ada air putih yang tersedia diatas meja pajangan, kemudian saya sambil sendiri. Disamping mesin es krim terdapat rak display tempat kue yang saat itu berisi cheese stick yang terbuat dari adonan pastry. Dinding ruangan dihiasi lukisan pemandangan dan lukisan es krim. Ketika saya membayar, harga es krim ternyata murah banget ya yaitu Rp 28.000 untuk ukuran double scoop. Wah ngga nyesel deh makan disini, murah dan enak, tempatnya juga cocok untuk santai-santai sendiri atau berombongan.

Suasana mewah dan indah di Sasanti (***)








“Kalau ke Jogja jangan lupa makan di Sasanti mas” kata anak-anak kos dirumah mertua ku. “Jokowi saja sudah pernah makan disitu” sambung anak-anak lagi. Wah kalo begitu makanan disana pasti jaminan mutu ya, bikin penasaran kan. Jadi Jumat malam kami panggil taxi menuju Jl. Palagan Tentara Pelajar no 52A.
Sampai disana kami melihat billboard bertuliskan Sasanti, Restaurant & Gallery, lalu kami masuk lewat pintu gerbang dan langsung parkir. Dari kejauhan sudah terlihat kemewahan restaurant ini. “Ya wajarlah kalau Jokowi makan disini, keren begini tempatnya” ujar saya ke suami, supir taxi sampai ketawa mendengar komentar saya. Untuk menuju tempat makan, kami harus jalan sedikit melalui jalan setapak yang dihiasi taman yang cantik dan lampu-lampu kecil.

Tempat makannya terbagi menjadi 3 area. Kami masuk ke area pertama yaitu rumah joglo tradisional Jawa, terdapat sebuah meja bulat dengan vas bunga besar ditengah ruangan. Tapi kami menyebrangin ruangan ini menuju area kedua yaitu taman belakang yang memiliki sebuah kolam besar gaya Bali dengan meja makan yang disusun disekitarnya. Ada sebuah panggung kecil yang berisi alat musik ditembok belakang taman. Ketika kami duduk disamping kolam, kami baru menyadari bahwa ada area ketiga yaitu ruang makan tertutup & ber AC, bentuk memanjang disamping taman, terlihat galeri lukisan disepanjang dinding ruangan tsb. Baik bangunan dan taman, interior dan eksterior resto ini, dibangun dengan campuran arsitektur tradisional Jawa, konstruksi gaya modern dan sentuhan Bali. Kesan yang tercipta adalah kemewahan dan keindahan.

Kami duduk disamping kolam dan mulai membaca buku menunya. Menu terbagi menjadi masakan Indonesia, western food, dessert dan minuman. Cara terbaik untuk memilih menu ditempat baru adalah bertanya, menu apa yang menjadi unggulan. Kami disaran untuk mencoba nasi campur Sasanti yang isinya banyak dan komplit. Padahal saya sudah mengincar masakan ikan dari Western food, tapi bakal kekeyangan dan ngga habis kalau kami berdua pesan menu utama. Akhirnya kami memesan nasi campur Sasanti, ditambah menu pelengkap bakwan jagung dan menu pembuka potato & leek cream soup. Suami saya memesan minuman kawista sesuai saran waitress dan saya hot tea sajalah.

Penyanyi mulai melantunkan tembang diiringi organ, gitar dan drum kotak kayu. Waitress mulai menata alat makan dimeja kami, meletakkan serbet dipangkuan dan menyajikan komplimen emping dengan saus sambal. Suami menggelengkan kepala mengingat asam uratnya dan saya malah tersenyum membayangkan makan nasi campur dengan emping.

Minuman kawista, penampilannya sih seperti es teh manis dengan hiasan daun mint, jeruk nipis dan tongkat tebu. Ketika diminum, rasanya memang unik, asam dan manis bercampur soda, plus kita bisa menghisap-hisap tongkat tebunya. Buah kawista ini jarang terdengar, termasuk buah langka, baru sekali ini saya mencoba dan belum pernah menemukan di Jakarta.

Sajian pertama adalah potato & leek cream soup alias sop krim kentang daun bawang yaitu sop krim yang berwarna kehijauan, rasanya enak, gurih dan creamy, tidak ada aroma daun bawang mentah. Saking enaknya kami ingin memesan seporsi cream soup lagi, tapi ah lihat nanti deh, takut kekenyangan.

Sajian utama pun datang, nasi campur Sasanti dihidangkan diatas piring ceper putih yang dialasi daun pisang. Nasinya unik, bentuknya sih dicetak bulat biasa, tapi disusun 3 warna dari 3 jenis nasi yaitu nasi putih biasa, nasi merah dan nasi kuning, lalu ditaburi bawang goreng. Lauknya disusun disekitar nasi yaitu balado udang, kari ikan, ayam goreng, 1 tusuk sate, balado keripik kentang, ketimun, daun kemangi, sambal serta daun pepaya teri.

Menikmati makan malam dengan 3 jenis nasi sekaligus plus lauk yang komplit menimbulkan sensasi tersendiri. Lauk yang paling istimewa adalah satenya yaitu sate sapi yang memakai daging pilihan yang empuk serta bumbu yang telah meresap, rasanya manis pas. Menyusul balado udang dan kari ikannya juga istimewa. Kemudian daun pepaya terinya juga enak, empuk dan tidak pahit, ayam gorengnya sih biasa saja dan keripik kentang nya manis dan lengket.

Pelengkapnya adalah bakwan jagung, berisi 3 potong bakwan, bentuknya agak bulat gemuk dengan jagung yang mental mentul dipermukaan, ketika dimakan, hmm enak dan gurih, “ini baru bakwan jagung yang paling enak, jagungnya banyak dan ngga banyak tepungnya” ujar suami saya, hahaha.

Mengenai harganya coba dibandingkan dengan resto sekelasnya di Jakarta, nasi campur Rp 110.000, bakwan jagung Rp 17.500, cream soup Rp 32.000, kawista Rp 35.000 dan hot tea Rp 16.500. Kayanya masih lebih murah di Sasanti. Apalagi tempatnya itu cakep banget dan bisa menampung ratusan orang, cocok untuk pertemuan, pesta bahkan pernikahan.

SABTU

Makan sambil mancing di WestLake resto (**)

















Setiap kali kami naik taxi, kami selalu bertanya kepada pak supir, tempat makan apa yang paling enak, terkenal dan ramai saat ini di Jogja. Semua orang Jogja yang kami tanyai pasti menyarankan makan di Westlake. Nah bikin penasaran kan, sehingga kami memutuskan untuk makan disana pada hari Sabtu siang. Kebetulan mulai hari Sabtu ini, kami menyewa mobil dengan supir yang juga menyarankan makan disana.

Kami menuju Jl. Ringroad barat, Bedog Trihanggo Gamping Sleman. Sampai disana kami parkir dihalaman parkir yang luas, lalu kami berjalan ke arah pintu masuk, dekat aquarium dinding yang berhiaskan candi mini didalamnya. Kami disambut dan dituntun seorang pelayan menuju tempat makan. Ketika masuk, kami tercengang melihat area restoran ini.

Ditengah-tengah area terdapat sebuah danau yang luasnya sekitar 1 hektar, belum lagi luas tanah disekitar danau mungkin sekitar 2 hektar lebih, luas bangeeet. Tempat makan utama berupa bangunan terbuka yang luas disamping danau. Tempat makan lainnya berupa gazebo besar dan kecil yang terletak dipinggir danau. Selain itu ada juga meja makan yang tersebar didalam taman, terbuka tanpa bangunan pelindung, serta sensasi makan diatas rakit bambu bentuk gazebo diatas danau.

Rata-rata pengunjung datang berombongan. Kalau yang datang berdua seperti kami cukup makan diruang makan utama. Hanya selembar menu bolak balik yang diberikan kepada kami, isinya berupa masakan ikan gurame, nila, bandeng, udang, cumi, scallope, kepiting soka, kerang, ayam, sapi, sambal, sayur, sup dan menu pelengkap, untuk minuman tersedia minuman dingin dan panas, jus serta dessert es buah & buah segar.

Karena kami kemarin baru makan ikan gurame dan nasi campur, maka hari ini kami pesan menu ayam. Pilihan kami jatuh kepada ayam bakar taliwang, plecing kangkung, sambal terasi dan jamur enoki telur asin. Untuk minumannya saya pesan es klengkeng dan es cendol untuk suami.

Fasilitas resto ini sangat lengkap dan bikin senang keluarga terutama anak-anak dan orang yang hobi mancing. Disini bisa mancing ikan gratis dengan syarat melepaskan ikannya kembali, tapi kalau ketauan membawa hasil pancingan bisa kena denda. Alat pancing bisa sewa atau bawa sendiri. Selain mancing kita bisa keliling danau pakai perahu yang dikayuh bentuk bebek, dan ada taman bermain anak. Dari kejauhan saya melihat bangunan candi mini diujung kiri taman. Saking luasnya area ini, saya tidak bisa melihat ada apa saja di ujung-ujung area terbuka ini. Disekeliling area ini dipagari oleh pohon-pohon seperti layaknya hutan. Sungguh suasana asri dan menyegarkan mata dan paru-paru.

Nah makanan dan minuman telah dihidangkan, mari mulai makan. Seporsi ayam bakar taliwang berisi 2 paha 2 dada terbagi menjadi 6 potong, ada jejak sedikit gosong dipermukaan ayam, disajikan bersama saus sambal khas taliwang secara terpisah. Rasa masakan ini kami nilai enak, ayamnya cukup empuk, tapi rasanya tidak seoriginal seperti dari Lombok / Bali. Sayuran dalam plecing kangkung terlihat segar dengan porsi yang lumayan, terdiri dari kangkung, toge, kacang tanah dan sambal plecing. Daun kangkungnya mantap, besar dan lebar, tapi sayang sambalnya sedikit banget, tidak mampu melumuri seluruh sayurannya, jadi seperti makan sayuran rebus saja. Untungnya ada jamur enoki telur asin yang meningkatkan selera makan kami, renyah dan gurih khas telur asin. Selesai makan pas sekali dibasuh dengan es lengkeng dan es cendol yang manis menyegarkan.

Mengenai harganya, ayam taliwang Rp 75.000, plecing kangkung Rp 32.000, jamur enoki Rp 35.000, sambal Rp 6.000, nasi Rp 6.000, es cendol Rp 15.000, es klengkeng Rp 20.000 dan es teh manis Rp 8.000. Oh ya, selain fasilitas rekreasi, disini juga tersedia mushola, ruang meeting dan panggung. Banyaknya fasilitas dan daya tampung pengunjung yang bisa mencapai 1000 orang, mejadikan tempat ini cocok untuk pertemuan, rapat, pesta, pernikahan bahkan outbond.

Mengenang cara makan ala mahasiswa di hotel Santika (**)






  

Malam Minggu kami pergi ke rumah orang tua temen kantorku diseberang pabrik kertas Blabak Jl. Raya Megelang, Yogyakarta KM. 10, Desa Mungkid, Kabupaten Magelang. Kami pergi setelah magrib dari hotel Ambarukmo, tiba kembali dikota Jogja sekitar pk. 21. Wah kami tidak nyangka perjalanannya lama karena macet, ternyata malam minggu banyak warga Jogja dan Magelang saling mengunjungi bertukar arah.

Ada beberapa tempat makan dijalan yang kami lewati tapi kurang kami minati sehingga kami belum makan malam sampai dikota Jogja. Tiba-tiba suamiku teringat nostalgia saat dia masih menjadi mahasiswa UGM dulu, kalau malam-malam terserang lapar suka makan bubur ayam di hotel Santika. “Loh katanya mahasiswa, kok makan di hotel sih, gaya banget” cetus saya. Suami saya hanya tertawa dan berkata, “ayo kita coba dulu, baru nanti komentar lagi” katanya.

Kami pun menuju hotel Santika di Jl. Jend. Sudirman no. 19. Kami masuk dan bertanya apakah menu bubur ayam malam masih tersedia atau tidak. Ternyata menu tsb masih ada dan kami pun diantar ke Pandansari restaurant. Kami memilih duduk di Pandansari Terace yaitu teras disamping restaurant, cocok sebagai tempat bersantai dengan pemandangan jalan raya yang ramai. Suami saya melanjutkan nostalgianya, dulu kalau dia sedang makan bubur ayam dan duduk diteras, dia tidak mau menghadap ke jalan raya, karena pasti terlihat jelas oleh teman-temannya yang suka lewat dijalan raya, mereka bakalan berteriak-teriak, memanggil-manggil minta ditraktir, tapi suami saya pura-pura budeg, hahaha.

Kami tiba pk. 21.30 dan ternyata menu bubur ayam ini adanya mulai pk. 22. Sembari menunggu kami dipersilahkan memesan minuman dan kami memesan es jeruk. Tak lama kemudian waitress mengantarkan camilan gratis segelas garlic bread, karena disajikan digelas wine, sambil berpesan bahwa menu bubur ayam akan dipercepat penyajiannya untuk menyambut kami, wuah makasih ya, kok tau sih kami sedang kelaparan dan kedinginan.

Lima belas menit kemudian bubur ayam dan pelengkapnya sudah tersaji didalam Pandansari resto, kami pun dipersilahkan masuk dan mengambil sendiri, sepuasnya. Saya lihat penyajian bubur ayam tsb sebagai berikut yaitu ada 2 panci yang berdampingan, masing-masing berisi bubur dan kuah kaldu bening, disebelahnya ada stand berisi mangkok-mangkok yang disusun mengerucut keatas, berisi topping / taburan bubur yaitu kecap asin, kecap manis, sambal, daun bawang, teri, kacang tanah, serundeng, cakwe, telur rebus dan ayam suwir. Terakhir adalah sebuah toples besar yang penuh berisi krupuk udang kecil.

“Begini cara menyusun bubur ayamnya” kata suami sambil memperagakan cara mengambil bubur ayam. Saya mengerutkan kening sambil memperhatikan. Mula-mula dia menyusun topping bubur didasar mangkok makan, lalu menuang bubur diatasnya, lalu taburkan lagi topping bubur diatasnya sampai mangkok terlihat penuh, lalu siram dengan kuah kaldu dan kerupuk disusun dipiring alas mangkoknya. “Dulu didalam kuah kaldu ini ada dagingnya kecil-kecil, kok sekarang ngga ada ya ? Aku suka mengeruk dagingnya” lanjut suami saya. Ya ampun saya jadi tertawa geli mendengar nostalgianya.

Kami berdua kembali ke meja sambil membawa semangkok bubur ayam versi masing-masing, karena saya tidak berniat mempraktekkan cara dia. Tak lama waitress datang mengantarkan 2 gelas air putih. Makan bubur ayam sepuasnya sudah termasuk minum, rasanya enak banget, harganya pun terjangkau yaitu @Rp 35.000 belum termasuk pajak hotel 21%. Lagi pula lebih murah harga bubur ayam dibanding es jeruknya yaitu Rp 50.000 excl tax. “Jaman dulu sih harganya cuma Rp 30.000, jadi kalau mendapat kiriman uang bulanan, malamnya suka makan disini” kenang suami. Oh pantas...

No comments: