Showing posts with label Kuliner Jabar. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Jabar. Show all posts

Wednesday, May 09, 2018

Makan, Mancing, Main, Foto-foto di Cinangka Indah mancing dan resto (**)


Hari Sabtu lalu, kami ibu-ibu anggota arisan RW05 pergi ke Cinangka Indah mancing dan resto, bukan hendak mancing, melainkan ingin ganti suasana arisan dengan cara makan siang disana. Alamatnya adalah Jl. Abdul Wahab no. 18 Cinangka, Sawangan, Depok.


Rute yang kami tempuh dari Jl. RS Fatmawati adalah melalui Jl. Lebak Bulus  I – Jl. Cirendeu Raya – Jl. Pondok Cabe Raya – di depan UT belok kiri ke Jl. Kemiri Raya – sampai ketemu Jl Abdul Wahab. Rute tsb macetnya luar biasa di Pondok Cabe, nyaris tak bergerak. Dari rombongan kami ada 4 mobil, mobil saya adalah yang paling terakhir sampai di tujuan. Maka saya sarankan lebih baik melalui rute Jl. Jakarta Bogor alias Ciputat, lurus terus sampai ketemu Jl. Abdul Wahab.


Monday, February 26, 2018

Itinerary wisata Pantai Sawarna & kuliner Banten

Long weekend imlek tahun ini, kami sudah jauh-jauh hari merencanakan liburan ke kampung suaminya mba Upik di kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ada keistimewaan apa sih di daerah itu ? Dari Malingping kami bisa berwisata ke pantai yang sekarang sedang berada dipuncak ketenaran yaitu Pantai Sawarna karena jaraknya memang tidak begitu jauh. Kami pun pergi dari hari Jumat sampai Minggu, dan inilah pengalaman saya yang berkesan.

Jumat

Kami berempat bersama keluarga masing-masing, kecuali saya yang jomlo hehehe, berangkat dari gedung BEI sekitar pk. 9 pagi. Jalur yang kami tempuh adalah masuk gerbang tol Senayan, keluar gerbang tol Serang Timur, lalu melalui kota Pandeglang – Saketi – Malingping sebagai tujuan akhir.

RM Rossy Rizqi Jl. Raya Labuan km. 12 Rumingkang, Pandeglang (***)


Dalam perjalanan kami beberapa kali berhenti untuk istirahat. Yang pertama, kami berhenti di alun-alun kota Pandeglang untuk foto-foto dekat patung badak sebagai icon kota tsb. Lalu pemberhentian kedua, kami makan siang di desa Rumingkang, tepatnya di RM Rossy Rizqi Jl. Raya Labuan km. 12 Rumingkang, Pandeglang.

Friday, November 17, 2017

Menikmati nasi timbel komplit, ditepi sawah sambil menonton kereta api lewat @Saung Ranggon (***)


Ternyata di kota Tasikmalaya ada loh resto dengan suasana nyaman, pemandangan pedesaan, makanannya enak dan terkenal dikalangan para selebritis. Hal ini baru kami ketahui ketika kami diajak makan oleh seorang teman yang memang bertempat tinggal di kota Tasik. Nama resto ini adalah Saung Ranggon di Jl. Leuwidahu no. 81 G.

Thursday, April 06, 2017

Minuman rasa nostalgia di Cotton Drops (*)

Berbekal nostalgia jajanan masa kanak-kanak, hal tsb yang menjadi konsep sebuah cafe bernama Cotton Drops. Cafe ini saya temukan disebuah sudut kecil di Summarecon Mall Bekasi, lantai GF - Lobby The Forum. Walaupun minuman jenis ini telah lama booming dan cafe ini pun sudah lama berdiri, tapi baru kali ini saya memiliki kesempatan untuk mencobanya.



Desain tempatnya cukup cantik yaitu berbentuk sebuah rumah yang memanjang, dimana disebelah kanan ada sebuah jendela yang terbuka dibawah kanopi, berfungsi sebagai tempat pemesanan dan kasir. Disebelah kiri adalah rumah kayu yang berfungsi sebagai ruang makan, dengan hiasan langit-langit berbentuk awan-awan kapas putih, lampu gantung seolah-olah kapas yang berjatuhan, 2 buah ayunan yang berfungsi sebagai kursi makan, meja kursi makan terbuat dari besi, interior didominasi oleh kayu dan warna putih, serta pernak pernik pendukung yang membuat cafe ini semakin memikat. Ruangannya sebenarnya kecil saja, hanya memuat 5 meja makan pengunjung. Sayangnya kecantikan cafe ini sebagian tertutup oleh resto Gokana Ramen & Teppan, sehingga sekali lagi saya katakan tempatnya berada disebuah sudut kecil.

Wednesday, March 15, 2017

Kuliner Purwokerto - Bantarbolang - Cirebon

Kebiasaan kami adalah bekerja sambil liburan. Maksudnya kalau suami ada pekerjaan diluar kota, maka saya suka diajak pergi sekalian liburan, hehehe. Minggu lalu suami menjadi pembicara di Universitas Soedirman Purwokerto, maka pergilah kami bertiga bersama mamah selama 3 hari. Jalan-jalan tak kan lepas dari wisata kuliner dan inilah ulasannya.

Jumat hari ke 1

Dari Jakarta pk. 6, kami tiba di kota Cirebon pk. 9 dan berniat sarapan di Empal Gentong & Empal Asem H. Apud, Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat. Kuliner ini sudah pernah saya bahas beberapa bulan yang lalu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan melewati jalur Pantura. Sayang sekali perjalanan kami terhambat beberapa perbaikan jalan sebagai persiapan lebaran. Perjalanan kami menjadi lambat dan tiba di Purwokerto pada sore hari.

Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B Purwokerto (***)

Pk. 16 kami tiba di hotel Java Heritage Jl. Dr. Angka no. 71, Sokanegara, tempat kami akan menginap, tapi sebelum masuk ke hotel, kami mau makan siang dulu nih. Kebetulan, tak jauh dari hotel ada sebuah rumah makan bernama Ayam Penyet Surabaya, Jl. Dr. Angka no. 76B dan kami pun segera masuk kesana.

Wednesday, March 30, 2016

Aneka hidangan Nusantara di Pawon Sae (**)

Bila anda terdampar di Kerawang Barat dan perut merasa lapar, ini ada sebuah rumah makan bernama Pawon Sae, resto dan cafe, di Perumnas Teluk Jambe, Blok W no. 75-76. Bangunannya berupa 2 kavling rumah bertingkat yang disatukan sehingga menjadi luas. Selain ruangannya yang luas dan terbagi menjadi ruang makan outdoor dan indoor yang ber AC, ruang makan VIP, ada juga fasilitas mushola, wifi dan fasilitas keperluan meeting.


Sunday, April 05, 2015

Grand opening Bakwan Malang "Barokah" di Grand Galaxy City Bekasi (***)





Sepupu suami saya menyewa sebuah rumah di Jl. Pulo Sirih Barat Raya blok FE no. 307, Grand Galaxy City, Bekasi, untuk dijadikan rumah makan Bakso Bakwan Malang Barokah. RM Bakwan Malang ini baru buka per tg 18 Maret 2015. Kami sekeluarga pun diundang untuk mencoba makan disana dalam rangka promosi.

Monday, January 05, 2015

Kuliner Cianjur

Pergi ke undangan di Cianjur hari Sabtu pas hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW, jalan melewati jalur Puncak padatnya minta ampun. Pergi dari rumah pk. 9, pulang sampai rumah pk. 23.30, parah banget kan. Belum lagi masalah cuaca hujan yang hilang timbul, sehingga mempersulit memenuhi kebutuhan perut minta di isi, ingin ke toilet dan sholat.

Melemaskan otot tubuh di Saung Kuring (*)

Dalam perjalanan menuju Cianjur kami beristirahat, sholat dan makan siang di RM Saung Kuring di Jl. Raya Puncak km 75 Cipayung Bogor. Disini kami memilih lauk pauk standard yaitu ikan gurame goreng, tahu tempe dan sop buntut. Sayangnya karena sudah cape dan lapar, ritual khas mengambil foto makanan sebelum makan pun luput dilakukan.

Makanannya sih lumayan enak hanya saja tidak ada yang istimewa. Ikan guramenya digoreng garing berbentuk melengkung, disajikan bersama sambal kecap, rasanya sih biasa saja. Sop buntut isinya lumayan banyak, tapi lemak disekitar buntutnya tidak dibuang, jadi banyak banget gajihnya. Saya sih ngga makan, cuma melihat suami saya makan jadi ngeri. Baik daging, wortel dan kentang semuanya empuk, kuahnya juga enak, kehangatannya membuah tubuh menjadi segar kembali, cocok dimakan dalam suasana dingin-dingin begini.

Mengenai harganya tidak bisa dibilang murah, ikan gurame dihargai Rp 76.000, sop buntut Rp 52.000, tahu Rp 5.000, tempe Rp 4.500 dan kelapa batok Rp 17.500. Mungkin saja harga makanan disini tidak murah karena fasilitasnya cukup lengkap yaitu ada live music, taman bermain anak dan mushola.

Bangunannya pun luas, terdiri dari 2 lantai. Baik bangunan dan interiornya dominan terbuat dari kayu. Ruang makannya terbuka, terdiri dari ruang makan biasa dan saung-saung. Selain itu ada juga balong atau kolam ikan yang cukup luas, dan apabila anak-anak anda ingin memberi makan ikan, disini dijual juga loh makanan ikannya.

Saya perhatikan pengunjung yang datang kesini lumayan ramai, karena tempat ini cocok untuk melemaskan otot tubuh yang kaku akibat macet, anak anda yang rewel pun gembira kembali.

Menikmati sate ayam di Bumi Nini, kerabatnya Bumi Aki (**)




Dalam perjalanan pulang saya ingin makan sate, akibat seringnya melihat penjual sate yang bertebaran disepanjang jalan raya puncak. Kayanya kok enak, dingin-dingin makan sate ayam panas. Maunya sih makan di warung sate Shinta. Tapi apa daya, karena lagi lagi macet, kok rasanya lama banget tidak sampai-sampai.

Akhirnya kami mampir ke resto Bumi Nini Jl. Raya Puncak Cisarua no 18, km 81. Resto ini masih kerabat dengan resto Bumi Aki, yang dalam perjalanan perginya, tadi kami melihat resto Bumi Aki ini sangat ramai sekali. Asumsi kami adalah resto yang ramai itu pasti enak, dan karena resto Bumi Nini ini masih 1 grup dengan Bumi Aki, maka kami asumsikan juga enak.

Saat itu kami tiba disana pk 22.30, untung masih ada resto yang buka. Karena saya sudah mengidam makan sate, maka dipesanlah 1 porsi sate ayam. Sayangnya disini tidak menyediakan lontong. Suami saya memesan nasi goreng ikan asin dan 2 gelas teh manis panas pun kami pesan untuk menghangatkan tubuh.

Ketika dihidangkan, sate ayam disajikan diatas piring bukan diatas hot plate, tapi keadaan sate masih hangat. Potongan daging ayam berwarna putih, tanpa lemak, tidak ada jejak gosong yang berlebihan, ukurannya gemuk-gemuk, dan setiap tusuk berisi 3 potong daging. Ketika dimakan sate terasa empuk, tidak seret dan ternyata sebagian sate mengandung potongan lemak dibagian tengahnya. Bumbu kacangnya pun terasa halus dan nikmat, rasanya yang gurih berbaur rasa kecap manis dan wangi bawang goreng. Yang pasti saya tidak kecewa makan sate ini.

Mengenai nasi gorengnya, warnanya pucat kemerahan, ditaburi bawang goreng dan disajikan bersama telur ceplok dan emping. Kasian suami saya tidak makan emping, jadi kami pesan seporsi krupuk warna warni dan seporsi sambal cobek untuk memeriahkan suasana makan malam kami.

Rasa nasi gorengnya lumayan enak dengan irisan bawang bombay yang terselip diantara nasi. Tapi nasi masih banyak yang bergumpal dan ikan asinnya kurang banyak sehingga kurang terasa mantap. Sambal cobeknya enak sampai minta tambah seporsi lagi.


Kesimpulan walaupun penampilan makanan yang disajikan disini kurang menyakinkan tapi rasanya termasuk enak. Kalau disuruh balik lagi kesini pun kami mau. Mengenai harganya seporsi sate ayam isi 10 tusuk Rp 37.000, menurut saya wajar karena ukurannya cukup besar, nasi goreng Rp 27.000, krupuk Rp 6.500, es jeruk Rp 17.000 dan teh manis Rp 7.000. Ternyata sambalnya gratis loh, kok ngga ada di bon, dan saya baru sadar ketika menulis review ini. Nah boleh juga tuh resto Bumi Nini ini menambah koleksi tempat makan dijalur Jl. Raya Puncak yang patut direkomendasikan.

Thursday, January 26, 2012

Pucat pasi di Waroeng SS (**)














Akhirnya kesempatan untuk makan siang di Waroeng Spesial Sambal (SS) tercapai juga. Maklumlah karena letaknya yang jauh dari rumah yaitu di jl. Margonda raya Depok, kami jadi agak malas menyambanginya. Nama warung ini sudah wara wiri didunia perkulineran khususnya bagi para penggemar sambal tingkat tinggi. Sebenarnya saya sendiri hanya pemakan sambal kelas pemula, tetapi suami saya penyuka sambal kelas advance. Jadi saya terobsesi ingin mengajak suami makan disini untuk membuktikan apakah memang dia layak berada dikelas advance sesuai dengan pengakuannya. Nah mari kita buktikan.
Ketika kami datang, diatas pintu masuk terpasang sebuah spanduk bertuliskan : 31 sambal, 29 lauk, 11 sayuran, 21 minuman. Aha, iklan yang menarik karena jumlah menu sambal lebih banyak dari lauknya. Walaupun namanya warung, tempat makan ini berada disebuah bangunan pemanen yang cukup luas, sederhana tapi bersih dan rapih. Ruangannya tidak ber AC, langit-langitnya tinggi, terbuat dari bambu, sehingga suasananya menjadi sejuk. Ketika masuk, kami dipersilahkan memilih tempat duduk dikursi atau dilesehan.
Pelayan memberikan selembar kertas yang berisi daftar menu dan harganya. Wah murah-murah banget ya. Harga sambal paling murah Rp 1.500 yaitu sambal lombok hijau, sedangkan yang paling mahal saja Rp 6.000 yaitu sambal udang. Untuk lauknya yang paling mahal adalah gurame goreng Rp 30.000 sedangkan yang paling murah adalah tahu / tempe Rp 3.500. Asiknya lagi tersedia bermacam macam jus dengan harga paling mahal Rp 8.500 yaitu jus gobal gabul dan paling yang murah Rp 5.000.
Karena bingung ketika memilih pesanan, kamipun minta rekomendasi dari pelayannya. Pilihan kami adalah 3 jenis sambal yaitu sambal terasi segar, sambal bawang dan sambal udang pedas. Untuk lauknya kami memesan ayam kosek, sapi goreng, ikan nila goreng, jamur goreng, tahu tempe goreng & plecing jawa. Untuk minumannya kami pesan jus nangka dan jus gobal gabul.
Topnya lagi, baru saja kami selesai cuci tangan bergantian ke wastafel, pesanan kami pun tiba dengan cepat dan masih panas. Semua lauk dan sambal masing masing disajikan diatas mangkuk tanah liat yang beralaskan daun pisang. Tak lupa kami pesan krupuk sebagai penawar rasa pedas. Mari saya bahas satu persatu.
Pertama ayam kosek, yaitu ayam goreng yang diatasnya dilumuri sambal rawit hijau, ketika dimakan wuih aku menyerah, tidak cocok bagi pemula seperti saya. Lauk saya sih ikan nila goreng yang saya cocol kedalam sambal bawang, yaitu sambal matang hasil ulekan cabe merah dengan bawang, hmm yang ini enak, tingkat kepedasannya masih bisa ditolerir. Kemudian saya ambil jamur gorengnya, yaitu jamur tiram yang digoreng tepung, garing diluarnya dan berwarna putih. Jamur ini favorit saya, rasanya gurih dan semakin mantap ketika dicocol kedalam sambal udangnya. Hmm sambal udangnya enak, yaitu sambal cabe merah yang matang, diulek bersama sedikit cabe rawit hijau, dan diberi beberapa potong udang serta irisan tomat.
Setelah beberapa saat asik menikmati makanan, saya pun bertanya kepada suami, “bagaimana sambalnya, pedas ngga ?” “Ngga, biasa saja” jawabnya. “Terus sambal mana yang paling pedas ?” tanya saya kembali. Suami saya menunjuk sambal terasinya. Saya pun mendongak melihat wajahnya. Oh alangkah terkejutnya saya, saking asyiknya saya menikmati makanan, pandangan focus kepada makanan, maka saya baru melihat wajah suami saya. Matanya berkaca-kaca, titik titik keringat keluar dari pori pori wajahnya, serta mukanya sedikit pucat pasi. Hua ha ha ha ha saya pun tertawa geli, rupanya suami saya gengsi untuk mengakui bahwa dia telah dikalahkan oleh rasa pedas sambal tersebut. Sambal terasi tersebut merupakan sambal cabe merah yang masih segar & mentah. Saya sih sama sekali tak berminat mencicipinya, pasti nggak kuat.
Makan kembali kami lanjutkan. Tahu tempe gorengnya rupanya bukan cuma 1 potong loh melainkan 3 potong tempe dan 4 potong tahu. Yang terakhir plecingnya, menurut kami sih bumbunya kurang cocok bagi lidah kami karena rasanya agak manis dan sepertinya memakai petis, teksturnya kental dan warnanya merah kehitaman mirip bumbu rujak. Akhirnya hanya kangkungnya saja yang kami makan. Setelah selesai makan, saya baru sadar, semua lauk dan sambal habis kecuali sambal terasinya.
Rasa pedas ini kemudian kami bilas dengan segelas jus. Jus gobal gabul itu rupanya jus buah mix, boleh pilih 2 macam buah apa saja tergantung selera kita. Bukan cuma jus gobal gabul saja yang namanya unik. Rupanya disini ada beberapa menu yang memiliki nama julukan yang unik atau lucu loh. Misalnya sambal terasi segar dijuluki “sport”, wah memang cocok, buktinya wajah suami saya seperti abis olahraga keras. Sambal bawang dijuluki “goalpal” dan sambal udang dijuluki “hati hati”. Julukan sambal lainnya yang tidak kalah lucu adalah sambal Lombok ijo dijuluki “hantu kipper”, sambal tubruk dijuluki “P3K”, sambal kecap dijuluki “bull shit”, dll.
Sebenarnya lauk disini rasanya standard saja tapi bila dipadukan bersama sambalnya jadi luar biasa. Lagipula makanan segini banyak kami hanya membayar Rp 75.000 loh. Nah siapa lagi yang berani mencoba tantangan baru ?

Saturday, December 25, 2010

Makan cimplung di RM Sari Rasa Sambal Hejo (**)







Tahun ini perjalanan menuju Bandung sering banget, maklum urusan suami ke kampusnya memang sedang gencar-gencarnya, harus seminggu sekali. Problemnya kalau lewat jalan tol Cipularang, bila perut lapar minta diisi, pilihan tempat makannya hanya terbatas ditempat peristirahatan SPBU saja, dengan menu ayam Kentucky, Soto Sadang, RM Ciganea atau RM Padang. Bosen sekali. Berbeda sekali bila lewat tol Cikampek lalu diteruskan ke jalan lama Purwakarta, RM bertebaran dimana-mana. Ada satu RM favorit kami, enak deh, yaitu ayam goreng kampung Sari Rasa Sambal Hejo di daerah Nagrak Purwakarta. Tapi sejak ada tol Cipularang yang membuat perjalanan ke Bandung menjadi sangat singkat, aku ngga pernah lewat jalan itu lagi, hmm jadi kangen makan disitu.

Suatu ketika kami iseng keluar dari tol Cipularang menuju pintu tol Purwakarta Sadang Subang KM 76, lurus lalu belok kiri. Nah dari sini sudah mulai bertebaran aneka RM. Pertama ada RM Sambel Hejo, disebelah nya ada RM Ciganea. Kami pun lanjut dan tak berapa lama, disebelah kanan jalan ada RM Sari Rasa Sambal Hejo (SRSH), asli, spesial ayam kampung, cabang Cibentar Nagrak, Purwakarta. Horeee, ini kan RM yang aku kangenin itu. Alamat tepatnya adalah di jl. Sasak beusi no. 6 Purwakarta, telpon 0264 2600 510, 0878 798 22273. Jangan sampai salah masuk ke RM Sambel Hejo yang pertama tadi ya, sebab namanya bukan Sari Rasa. Aku ngga ngerti kaitan mereka apa.
Setelah kami masuk ke dalam RM, terlihat bahwa dulunya pasti RM ini bekas rumah tinggal dan belum dirombak layoutnya. Tempatnya tidak begitu luas, tapi cukup untuk menampung sekitar 40 orang pengunjung lah. Kami menanyakan menunya, tapi dijawab bahwa disini disediakan menu cepat saji. Hmm fastfoodnya orang sunda. Oke deh.
Tak lama datanglah sajian dimeja yang terdiri dari sepiring ayam goreng berisi 10 potong termasuk sepasang ati ampela, 3 potong empal, 5 perkedel kentang, 3 macam pepes (ikan mas, teri & tahu, btw pepes jamur lagi habis), 3 bakwan jagung, 3 tahu 3 tempe, sayur asem, soto daging, sekeranjang lalap dan tentu semangkok sambal hejo. Dimeja tersedia beberapa kantong kerupuk dorokdog alias rambak alias kerupuk kulit sapi yang bentuknya panjang-panjang, tapi kalau mau yang gratisan, ada krupuk aci kecil-kecil didalam toples ditengah ruangan.
Tak sabar kami menyendok nasi putih hangat dan menyomot sepotong ayam goreng. Ayam ini diungkep hingga empuk dengan bumbu kuning, lalu digoreng sebentar sehingga penampilannya masih basah dan berminyak. Daging yang empuk, rasanya yang gurih dengan bumbu yang meresap kedalam serta masih panas, menambah kenikmatan ketika menyantapnya.
Sambal hejo adalah cabe hijau yang diulek bersama tomat hijau dan bawang putih sehingga sedikit berair, rasanya yang pedas tapi segar sangat cocok dicocol dengan ayam goreng. Perkedel kentangnya unik, yaitu kentang yang dilumat hingga halus lalu dicampur tepung kanji, dibentuk bulat seperti bola dan digoreng hingga kecoklatan. Rasanya kenyal, luarnya garing tapi dalamnya lebih lembut, kurang terasa kentangnya, kopong tapi enak, diberi nama cimplung, yaitu perkedel kentang khas Purwakarta.
Kalau empalnya berbumbu kelapa parut, empuk, tapi rasanya manis, hmm not my choice. Potongan tempe tahunya besar dan mantap. Lauk lainnya tidak kami makan karena sudah asyik berkutat dengan ayam goreng. Tak terasa nasi di bakul nyaris habis dan kami pun kekenyangan, hmm nyam nyam. Dibasuh dengan es kelapa muda, makin yahud, sluurp aah. Sampe keringetan nih he..he..he..
Setelah selesai makan dan akan membayar, mba nya hanya mengihitung sisa lauk dipiring, gampang kan, persis kaya di RM Padang. Harganya juga sangat terjangkau yaitu nasi Rp 4.000, ayam Rp 4.500, tahu/tempe/cimplung Rp 1.500, empal Rp 10.000, es kelapa muda Rp 10.000, dorokdog Rp 10.000. Nah murah kan. Bila melihat bon makannya, tertera harga lauk lainnya, yaitu pepes ikan mas Rp 10.000, pepes teri Rp 5.000, pepes tahu Rp 3.000, Sayur asem Rp 4.000 serta jus Rp 10.000. Nah kalau begini acara makan jadi asyik, murah meriah tapi lezaaat...

Monday, November 29, 2010

Ada Ikan patin bakar dalam bambu di Cimanggis (**)


Sepulang menginap dari rumah saya, mertua saya kembali lagi ke Bandung. Tetapi ketika saya telpon untuk mengecek sudah sampai berapa jauh perjalanannya, beliau malah mengatakan masih berada didalam mobil, menunggu supirnya yang sedang mengantri membeli ikan patin bakar dalam bambu di Cimanggis. Loh ? Tumben Bapak rela menunggu di mobil begitu lama, di siang hari bolong nan panas pula. Hmm seberapa enak kah ikan itu, pikirku dalam hati.
Ketika ku ceritakan kepada suami, dia malah semangat, “cobain yuk” katanya. Gayung pun bersambut. Hari Minggu ini kami langsung menuju Cimanggis setelah mencari-cari info alamatnya di “uncle” Google (abis kalau tanya Bapak jawabannya cuma “deket pintu keluar tol Cimanggis”, ngga jelas !). Searching menghasilkan info berikut : Pondok Ikan Bakar Kalimantan, jl. Raya Tapos no. 1 Cimanggis, telpon 021 875 1395 / 876 2217. Karena takut kesasar, kami pun menelpon dulu untuk memastikan arahnya. Menurut arahan mba Susan (si penerima telpon), kami harus keluar tol Cimanggis, lalu menuju perumahan Taman Arcadia Mediterania (deket dari pintu tol, katanya), karena rumah makan ini persis disamping kompleks perumahan tsb. “Tapi harus pesan dulu bu, sebab ikan patinnya lama ngebakarnya” katanya. Okelah, “saya pesan 1 dulu mba” kataku.
Petunjuk yang jelas ini sangat mudah diikuti. Kami keluar pintu tol Jagorawi di km 19 arah Cimanggis / Cikeas. Tak berapa lama kami pun sampai disana. Rupanya rumah makan ini berada disamping kiri perumahan Taman Arcadia Mediterania tsb. Lagi pula ada papan bilboardnya yang berwarna kuning mencolok, sehingga mudah terlihat dari kejauhan.
Wuih parkirannya ramai sekali. Dari depan tampak terlihat bangunan rumah makan ini terbuat dari bambu. Tapi setelah masuk kedalam, terlihat adanya penambahan bangunan bata baru yang bersatu disampingnya, sehingga cukup luas untuk menampung banyaknya pengunjung. Pelayan dengan gesit segera mencatat pesanan kami, yang hanya menambah tumis kangkung dan minuman kelapa muda. Habis kami melihat ikan patin pesanan dimeja-meja disamping kami ukurannya besar sekali, jadi takut ngga habis kalau memesan menu lain. Padahal menu lain tak kalah menggiurkannya yaitu aneka masakan ikan gurame, udang & ayam. Lalu ada aneka masakan sayur seperti tumis kangkung, gado-gado serta karedok, serta aneka sop seperti iga, kaki & buntut sapi. Oh ya masakan andalan kedua setelah ikan patin bakar bambu adalah sop ikan gurame loh. Hmm nyam nyam, terbayang kesegaran kuahnya.
Nah sambil menunggu pesanan kami datang, kami berjalan-jalan ke bagian belakang rumah makan ini. Disini ada beberapa kolam yang menampung ikan-ikan tsb. Lalu disebelahnya ada gundukan kelapa muda menggunung disini. Oh ya minuman andalan disini adalah kelapa muda jeruk loh. Disini tersedia juga meja makan bagi pengunjung yang ingin makan di area terbuka. Lalu ada mushola, dan yang terakhir adalah dibagian belakang terdapat deretan alat pemanggang dengan bara api yang sangat besar yang menggunakan bahan bakar sabut & batok kelapa, lalu diatasnya ditata puluhan bambu yang telah berisi ikan. Tapi tidak ada asap yang tersebar & mengganggu pengunjung karena tersedot oleh alat penghisap asap.
Puas melihat-lihat kami pun kembali ke meja. Tak lama pesanan kami pun datang, sepotong bambu gosong yang telah terbelah 2, diatasnya berisi seekor ikan yang terbungkus daun pisang. Ketika daun dibuka, tercium aroma wangi menggoda dari si ikan yang tertimbun bumbu berwarna merah yang berlimpah. Perlahan kami ambil dagingnya dengan sendok dan garpu, hmm sangat empuk dan mudah terlepas dari tulangnya. Tak sabar kami suap bersama nasi hangat, rasanya enak, agak pedas-pedas sedikit, bumbunya meresap, wangi & empuk. Nyam nyam nyam. Sajian ini sungguh menyehatkan karena selain bebas gosong akibat sisa pembakaran (yang menyebabkan kanker), ikan patin terkenal akan proteinnya yang tinggi. Masakan ikan disajikan bersama sepiring sambal & sepiring lalap. Uniknya piringnya itu memiliki 4 cekungan yang berisi 3 macam sambal yaitu sambal merah, sambal mangga muda & potongan cabe bawang. Satu piring lagi berisi lalap, dimana kedua piring tsb ditutup oleh “plastic food wrap” hingga terjamin kebersihannya. Sungguh praktis & higenis. Tumis kangkungnya juga juara, rasa terasi nya mencuat tapi tak dominan, kangkung terasa segar tidak matang berlebihan, potongannya kecil-kecil, jadi mudah menyendoknya. Minuman kelapanya seru, disajikan dalam gelas bir besar, lalu gula cairnya dipisah, bahkan es batunya juga dipisah dalam mangkok tersendiri disertai capitannya. Penyajian yang unik. Puas rasanya kami menikmati sajian ini. Mengenai harganya, sekilo ikan dihargai Rp 110.000. Tapi karena ikan pesanan kami hanya berukuran 0,8 kg maka harganya menjadi Rp 88.000, plus kangkung Rp 10.000, kelapa muda Rp 10.000 & nasi @ Rp 6.000. Nah sangat terjangkaukan. Bila datang kesini bersama keluarga plus anak-anak, mereka pasti tidak rewel karena selain senang melihat kolam ikan, mereka juga bisa bermain ayunan disini. Nah tunggu apalagi ?

Wednesday, September 22, 2010

Sate Cirebon nan gendut & empuk (**)


Tak sengaja kami makan disini. Kisahnya adalah ketika kami akan pulang dari kota Tasikmalaya menuju Bandung, saat liburan lebaran yang lalu, tiba-tiba mobil kami mengalami kerusakan mesin, sehingga sangat beresiko bila kami nekat melanjutkan perjalanan dalam suasana mudik yang macet ini. Segera kami mencari-cari bengkel resmi untuk perbaikan mobil ini. Setelah sekian lama browsing di internet, ketemulah satu bengkel di kawasan jl. Ir. H. Juanda Tasikmalaya. Untunglah bengkel tersebut buka. Ketika diperiksa, sang teknisi memberitahu bahwa perbaikan memerlukan waktu yang cukup lama. Apa boleh buat, dari pada ada apa-apa dijalan, lebih baik sabar menunggu perbaikan.
Rasanya waktu berjalan lambat sekali, sudah 2 jam kami duduk diruang tunggu, badan terasa pegal. Perut yang lapar pun tak bisa diajak kompromi lagi. Tak tahan kami akhirnya berjalan kedepan mencari tempat yang layak untuk makan siang. Ternyata beberapa meter disebelah kanan bengkel ada sebuah plang rumah makan bernama “Sate Cirebon”. Hmm boleh juga tuh, segera kami melangkahkan kaki kesana.
Ruangan rumah makan ini sederhana sekali, tetapi luas. Semua meja makan nya berukuran lebar-lebar, sehingga dapat menampung kursi yang banyak. Pengunjung yang datang sudah menempati sepertiga ruangan. Kami harus langsung menuju jendela dapur apabila ingin memesan. Menunya tidak banyak, yaitu sate kambing, sapi, ati & ayam, lalu tongseng kambing / sapi, gule kambing, sop sapi, soto ayam serta ikan mas. Bila memesan ikan mas, ukurannya adalah kiloan, tak akan habis kami santap berdua, bila memesan hidangan kambing, takut asam urat, maka jadilah kami memesan sate ayam saja.
Cukup lama juga kami menunggu. Maklumlah, masih dalam suasana lebaran, tenaga kerja kerja pun sedikit. Piring & gelas kotor pun belum sempat dibereskan. Tetapi kesabaran kami mendapat pembalasan yang setimpal. Ketika sate dihidangkan, hmm tercium bau yang wangi. Daging ayam dalam tusukan sate terlihat gemuk-gemuk, bersih tanpa kulit & penampilannya tidak begitu gosong. Diatasnya disiram bumbu kacang, tetapi dibawahnya digenangi bumbu kecap manis. Disajikan bersama sepiring acar, irisan kol & potongan cabe rawit. Ketika dimakan daging terasa empuk tak berlemak, bumbunya meresap & bumbu kacangnya pun enak, dicocol bersama krupuk aci bantat, oh nikmatnya.
Tak terasa hidangan pun ludes kami santap. Karena ukuran sate yang besar, rasanya perut ini kenyang sekali. Perasaan yang lesu akibat memikirkan mobil kami yang rusak, sekarang semangat kami bangkit kembali. Harga seporsi sate sangat terjangkau, yakni Rp 20.000 per 10 tusuk. Ku lirik meja-meja disekitar kami yang rata-rata memesan sate & gule kambing, kelihatannya mereka lahap sekali & tak lama kemudian piring mereka pun bersih tandas. Suatu pengalaman kuliner yang tak disengaja tapi hasilnya luar biasa, dan bisa menjadi referensi orang-orang yang mengunjungi kota Tasik. Alamatnya adalah jl. Ir. H. Juanda no. 24 Tasikmalaya, telpon 0265 342 231. Nah selamat mencoba.

Yamien asin baso komplit “Laksana” Tasikmalaya yang bikin kangen (*)


Sehabis lebaran, masih ada waktu cuti dari kantor untuk berwisata. Tadinya kami ingin jalan-jalan ke Jogja tetapi ketika akan pergi, terdengar berita adanya gempa yang melanda kota Jogja lagi, sehinga kami pun batal kesana. Sebagai gantinya kami berkunjung ke kota Tasikmalaya untuk menginap semalam disitu. Maklumlah saya belum pernah kesana, sedangkan suami ku sering melewati kota Tasikmalaya, ketika pulang kuliah dulu dari Jogja ke Bandung.
Karena masih suasana lebaran, perjalanan kesana sangat macet dan hujan turun terus menerus, sehingga kami sampai di hotel kota Tasik hampir tiba waktu Magrib. Walaupun begitu, malam itu kami tetap berencana untuk berwisata kuliner. Setelah tanya sana tanya sini, rupanya wisata kuliner kota Tasik ini yang paling menonjol adalah mi baso nya. Tapi mesti hati-hati loh, jangan sampai salah masuk karena banyak juga rumah makan mi baso yang ramai tapi tidak halal. Untunglah kami mendapat info dari salah seorang petugas hotel bahwa rumah makan mi baso yang paling terkenal & halal adalah Mie Baso Laksana, jl. Pemuda no 5, telpon 0265 333 833. Hmm langsung saja kami menuju kesana.
Suasana lebaran membuat kota ini masih agak sepi, tidak banyak toko-toko & rumah makan yang buka, ditambah suasana hujan yang terus menerus membuat Mie Baso Laksana ini sangat ramai ketika kami sampai disana. Padahal rumah makan ini sederhana saja tapi cukup luas. Menu yang tersedia pun hanya 3 jenis mie yaitu mie biasa (dicampur kuah), yamien (kuah dipisah) asin & manis, bisa ditambah baso doang, baso babat atau komplit. Kami pun sepakat memilih yamien asin baso komplit. Minuman yang paling pas untuk menemani makan mie baso adalah es campur tentunya.
Tak perlu waktu yang lama untuk menghidangkan pesanan kami, yamien asin baso komplit pun segera disajikan dihadapan kami. Yang dimaksud dengan komplit adalah mie disajikan bersama baso, tahu baso & babat. Tapi untunglah kami sudah berpesan tidak pakai babat karena takut asam urat. Yamien porsi nya sedang-sedang saja, tidak terlalu banyak, ditaburi potongan ayam & daging sapi cincang serta daun bawang. Kuah baso nya bening sedikit berminyak, berisi 4 butir baso ukuran sedang & 1 tahu baso berukuran besar serta taburan daun bawang. Rasa hangat segera menjalari tubuh ketika ku menghirup kuah baso ini, hmm segar, cocok untuk menghalau rasa dinginnya udara. Lalu warna baso tidak terlalu coklat tapi tetap terasa dagingnya, tahu baso terasa lembut serta mie terasa empuk & gurih, pasti deh mie yang bentuknya agak gemuk-gemuk ini adalah bikinan sendiri, sehingga rasanya lain dari pada yang lain. Dalam hitungan menit pun makanan ini telah ludes kami santap. Rasa pedas & gurih segera kami halau dengan es campur yang berisi potongan nangka, kelapa muda, alpukat, kolang kaling serta anggur hijau, lalu diberi es serut & disiram sirup merah dan susu kental, hmm manis menyegarkan, dessert yang sempurna.
Rupanya ada satu point lagi yang membuat mie baso ini laris, yakni sertifikat halal dari MUI yang membuat pengunjungnya aman. Nah tibalah waktunya meminta bon, dan wow rupanya harganya cukup mahal ya untuk ukuran rumah makan biasa, yaitu Rp 26.000 plus es campur Rp 10.000, sehingga kami makan berdua saja sudah menghabiskan Rp 72.000. Tetapi walapun begitu tidak kami sesali kelezatannya, bikin kangen berkunjung ke Tasik…