Showing posts with label Kuliner Lampung. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Lampung. Show all posts

Monday, May 29, 2017

Kuliner Lampung : Nasi Uduk Toha - Sate Cak Umar - Pavilion Resto & Cafe

Pergi ke Lampung itu kenangan, apalagi kalau perginya naik mobil, terkenang akan masa lalu ketika suami masih berdinas di Lampung. Minggu lalu, sehubungan dengan pekerjaan suami, saya diajak ke Lampung, hanya semalam, tapi menghasilkan 3 review kuliner yang sangat layak dicoba.

Tiba di Bandar Lampung malam hari, kami langsung check in di Emersia Hotel & Resort, Jl. WR. Monginsidi no. 70 Teluk Betung Utara yaitu sebuah hotel yang letaknya strategis, hanya 5 menit dari pusat kota, memiliki bangunan hotel yang megah dan pemandangan kota serta lautan dari atas bukit. Keunggulan lainnya adalah hotel memiliki fasilitas yang cukup lengkap, ukuran kamar luas, harganya menengah dan terjangkau, serta breakfast yang enak dan bervariasi.

Wangi gurih Nasi Uduk & Ayam Goreng Toha (***)

Selesai check in dan menaruh barang, kami langsung pergi keluar mencari makan malam. Lampung dimalam hari sangat ramai kulinernya. Suami teringat bahwa ada sebuah rumah makan nasi uduk, tak jauh dari hotel, yang enak dan terkenal, namanya Nasi Uduk & Ayam Goreng Toha, Jl. RA Kartini no. 156 Tanjung Karang. Tinggal lurus saja dari arah hotel, dalam hitungan menit kami pun tiba disana.



Sunday, July 15, 2012

Menikmati kelezatan ikan sungai Rasa Palembang (***)

Kuah pindang

Me
Air jeruk murni & es kelapa muda
Sambal sebelum diracik
Ikan seluang
Lalapan mentah + 4 jenis sambal
Sambal sesudah diracik

Ikan belida
Daftar menu
Patin bakar

Udang satang

Patin goreng












Menikmati masakan ikan yang berasal dari sungai, hmm apa bedanya ya ? Selama ini saya sebagai orang Jakarta selalu menikmati ikan laut atau ikan tambak air tawar. Kalau ikan sungai jarang ada dipasar dan harganya pasti mahal. Nah sekarang mumpung kami sedang berada di kota Lampung, ada kesempatan untuk mencicipi aneka hidangan ikan sungai khas Palembang.

Suami saya dulu pernah bertugas cukup lama di kota Lampung, sehingga dia sudah hafal tempat tempat kuliner disana. Jadi ketika hari minggu lalu kami ada acara dikota Lampung, sebelum pulang kami mampir dulu ke RM Rasa Palembang untuk menebus rasa kangen atas masakan special ikan sungai. RM ini letaknya ada di Jl. Bahari no 39 Panjang alias dekat pelabuhan Panjang.

Rumah makan ini cukup luas, bisa menampung seratusan orang lah. Walaupun tempatnya sederhana tapi suasananya terang dan bersih. Ditengah ruangan tersedia meja berukuran panjang untuk makan rame rame. Ketika kami masuk, ucapan selamat datang terdengar dari para pelayannya yang berjumlah cukup banyak.

Ketika kami duduk, sepiring lalapan mentah dan sepiring lalapan matang segera dihantarkan kehadapan kami. Menyusul 4 mangkok jenis sambal dan masing2 mendapat sepiring sambal yang belum diolah. Maksudnya adalah diatas piring itu terdapat beberapa potong tomat kecil, cabe rawit, jeruk limo dan bumbu. Tapi ulekannya ngga dikasih, he he he unik kan. Suami saya yang sudah paham langsung minta diracik dan jadilah sepiring sambal lagi. Selain itu langsung disajikan pula sepiring udang, 2 piring ikan seluang, sepiring ikan patin bakar dan 2 mangkok kuah pindang. Tak lupa kami diberikan piring makan, piring kosong untuk sambal dan kobokan. Kami belum memesan menu utama, tapi meja kami sudah hampir tidak muat lagi untuk menampung piring tambahan.

Jangan mencari buku menu disini karena daftar menu tinggal dibaca didinding yaitu tersedia masakan pepes ikan belida/baung/patin, pindang ikan baung/patin/kepala belida, ikan baung tempoyak dan telor ikan. Sedangkan ikan seluang goreng dan udang satang goreng sudah tersaji dimeja kami, sepiring udang berisi 4 ekor udang besar. Minumannya tersedia aneka jus, jeruk murni, es kelapa dan es campur. Karena kami berdua penyuka menu gorengan jadilah kami memesan ikan patin dan belida goreng serta minuman jeruk murni.

Tak perlu menunggu lama, pesanan kami segera datang. Segera kami tuangkan nasi hangat ke piring kami siap menyantap ikan goreng panas. Hmm ikannya enak tenan, empuk, gemuk dan berlemak, tak ada jejak rasa amis karena telah tertutup bumbu rempah yang telah meresap ke dagingnya. Apalagi ikan belidanya yang telah dipepes lalu digoreng menjadi wangi, sedaaap. Menyantap ikan diselingi dengan menyeruput kuah pindang yang berwarna kecoklatan dan berisi potongan buah nanas, daun bawang serta daun kemangi menjadikan makan siang kami lebih bersemangat. Rasa asam dan pedas dari kuahnya terasa lembut dan tidak menohok, ditambah rasa manis yang samar, menjadikan kuah ini istimewa dan menyegarkan.

Pasangan makan ikan sudah pastilah sambal. Aneka sambal yang tersedia disini adalah sambal nanas, sambal mangga, sambah mentah dan sambal matang. Semuanya segar dan pedas walaupun tidak sampai menonjok. Sambil makan kami mengamati piring lalapan. Banyak daun dan sayuran yang tidak kami kenal, bahkan ada semacam biji bijian berwarna hitam yang belum pernah kami lihat. Saking penasarannya kami tanya ke pelayannya. Rupanya ini adalah jaling yaitu sejenis jengkol yang lebih bau dari jengkol. Penasaran saya gigit sebutir jaling, dalamnya berwarna hijau seperti pete dan wuih baunya, maaf saya bukan penggemar jengkol.

Terakhir ikan seluangnya, bentuknya kecil kecil mirip ikan teri besar atau ukurannya sebesar ikan balita. Rasanya garing banget, kriuk kriuk, gurih tapi tidak asin, cocok dah untuk teman makan nasi. Makan siang kami ditutup dengan basuhan air jeruk murni, bener bener murni dan kental tanpa tambahan es maupun gula, mantap.

Sembari menunggu hitungan bon makan, kami mengamati banyak foto yang ditempel di dinding samping dapur. Aha rupanya banyak sekali artis dan pejabat yang sudah berwisata kuliner disini. Sudah sepantasnya lah karena masakan disini khas dan rasanya lezat. Bagaimana dengan harganya ? Sepotong ikan patin dihargai Rp 24.000, seporsi ikan seluang Rp 18.000 dan yang paling mahal adalah ikan belidanya yaitu diatas Rp 50.000. maklumlah karena ikan belida adalah ikan yang sulit didapat dan hampir langka. Terakhir air jeruk murninya Rp 18.000.

Nah buat yang ingin makan kesini bisa telpon dulu ke 0721 31747. Menurut suami saya kalau makan disini pas dihari kerja sungguh ramai dan antri. Untunglah kami datang dihari Minggu jadi pengunjung cukup lengang. Selamat mencoba ikan sungai sajian tradisional khas Sumatera Selatan.

Wednesday, October 21, 2009

Sunday, May 24, 2009

ULASAN KULINER “SEHARI DILAMPUNG”

Banyak sekali suka duka berumah tangga tapi masing-masing bekerja diluar kota. Ya contohnya aku ini. Aku di Jakarta, suami di Lampung, berkumpul seminggu sekali. Memerlukan tenaga & biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kalau ada acara kantor yang memerlukan kehadiran keluarga. Untungnya kalau acara kantor ku biasanya hari sabtu minggu, pas ada suami datang. Jadi dia lebih mengenal karena lebih sering berkumpul dengan temen kantor ku. Tapi kalo aku jarang banget hadir ke acara kantor dia. Gak enak rasanya, suka ditanya-tanyain kapan hadir di Lampung. Nah kebetulan, besok hari kamis adalah tanggal merah & ada acara arisan serta perpisahan temen kantor suami yang dipindahtugaskan ke kebun. Segera ambil cuti dihari jumat & let’s go to Lampung.

Pk. 4.30 : Tibalah hari H. Ayo bangun, mandi, sholat. Dengan berbekal 2 kotak sarapan, isi nasi & roti, minuman & novel, kusiap pergi bertiga, bersama Jalal & Ijah, para asisten dirumah.

Pk. 5.30 : Kita siap berada dimobil, berangkat lewat jl. Panjang Kebun Jeruk langsung masuk tol menuju pelabuhan merak.

Pk. 7.30 : Tiba di pelabuhan karena jalan masih sepi dan lancar. Langsung masuk kapal & membayar Rp 198.000 untuk mobil dengan 5 penumpang yang masuk kedalam kapal.

Pk. 8.00 : Kapal mulai berangkat, kita parkir diatas dek kapal, disamping pagar, jadi tetap nyaman bila tetap ingin berada didalam mobil, tinggal buka jendela, angin laut yang kencang, asin & segar masuk, plus menikmati indahnya pemandangan laut selat sunda.

Pk. 10.30 : Akhirnya tiba juga di pelabuhan Bakauheni. Nah itu dia Yayang, sudah menunggu diparkiran penjemputan, karena rencananya kami memang mau bertukar mobil. Kedua asisten akan balik lagi langsung ke Jakarta. Dan aku langsung ke tempat acara yang jaraknya hanya 1 menit dari tempat kos Yayang.

Pk. 12.30 : Green Leaf, resto & gallery (*)
Sampailah kita di Green Leaf, resto & gallery, tempat acara berlangsung. Jl. Gatot Subroto no 109, Bandar Lampung, telp 0721 750 9129 / 483520. Restoran ini memiliki interior dinding, meja & kursi dari bambu, tiangnya dari pohon kelapa, langit-langit yang tinggi, sehingga suasana terasa sejuk & ada 1 lantai lagi diatas. Dindingnya banyak dihiasi lukisan, sehingga disebut dengan gallery, karena memajang karya para pelukis Lampung. Ruang utama dibawah, terdiri dari 4 meja, sudah kita booking semua, lalu ada panggung untuk nyanyi, ada keyboard yang sedang dimainkan oleh sepasang suami istri, yang juga teman kantor Yayang, dimana suaminya pintar main keyboard & istrinya penyanyi. Dan oo, rupanya setiap orang wajib nyanyi, kalo ngak nyanyi, ngak boleh pulang. Waduh gawat. Pas ku datang sih semua sedang makan. Menunya ikan gurami goreng asam manis, ayam goreng kremes, sapi lada hitam, tumis kangkung & toge. Keistimewaan restoran ini adalah bisa nyanyi-nyanyi tanpa batasan waktu, serta makanannya murah & enak. Menunya cukup beragam yaitu aneka masakan ayam, bebek, daging sapi, seafood, ikan gurame, steak & sup, dan harganya itu loh, paling mahal Rp 50.000 yaitu untuk seporsi kepiting.

Pk. 15.00 : Setelah acara selesai, istirahat dulu di kos an Yayang.

Pk. 16.00 : Mi Khodon (***)
Jalan-jalan dulu ah, kangen udah lama gak kesini. Kota Lampung yang sepi, belum banyak mengalami perubahan yang berarti. Terus kangen juga sama Mi Khodon. Ini waktu yang tepat buat makan mi Khodon, yang memang baru buka jam 4 sore & akan segera habis setelah Magrib. Lokasinya di Teluk Betung, didepan taman Dipangga, diseberang polda Lampung, dekat bunderan yang ada patung gajah, dan juga dekat Chandra Dept Store. Mi Khodon adalah mirip mi tek-tek kalau di Jakarta atau mirip mi Jawa, tapi keistimewaannya adalah bentuk mi yang lebih besar dari biasanya, lalu dimasak bersama suwiran ayam kampung & udang ebi, irisan kol & sawi serta bumbunya itu loh, terasa beda & istimewa, pas gurih asin manisnya. Ada 2 macam yaitu, mi goreng yang berwarna coklat karena pake kecap, rasanya cenderung manis gurih serta mi rebus yang berwarna putih tanpa kecap, terasa segar dan cenderung gurih asin. Terus pelanggan disini banyak banget. Penuh oleh parkiran mobil, jadi lumayan lama juga nunggu pesanan datang. Harganya sih murah yaitu Rp 8000 per porsi. Tapi yang penting rasanya enak & bikin kangen euy.

Pk. 18.00 : Segera pulang ke kos, siap-siap mau ke Jakarta lagi.

Pk. 19.30 : Griya Liwet (**)
Sebelum pulang harus makan malam dulu kata Yayang. Karena kitakan naik bis Damri yang AC nya dingin banget. So perut harus kenyang, pake jaket yang tebel, supaya gak masuk angin. Kebetulan didepan kos ada rumah makan baru buka sekitar sebulanlah. Tempatnya terang, bersih, tidak sempit, ada kolam renangnya, dan ada lesehannya. Tapi sepi, maklumlah di Lampung kalau malam sepiii. Namanya Griya Liwet, Jl. Way pungur no 3, Pahoman Bandar Lampung, telpon 0721 483 217, 482 738. Menu andalannya pasti deh nasi liwet. So segera kupesan nasi liwet dengan ayam goreng. Tapi Yayang pesen batagor karena masih kenyang. Ternyata enak loh. Nasinya itu rasanya gurih karena telah dimasak bersama bumbu-bumbu. Lalu ayam gorengnya juga enak karena bumbunya meresap dan ditaburi bumbu kremes. Bagaimana dengan batagornya ? Ya enak juga. Pokoknya makan disini bisa diulang deh. Harganya juga murah, Nasi liwet Rp 6.000, Ayam goreng Rp 12.500, Batagor Rp 12.000, Kelapa muda Rp 8.000. Alhamdulillah kenyang (banget). Ayo segera cari angkot menuju stasiun KA, karena bis Damrinya disitu.

Pk. 21.15 : Bismillahhirahmannirahhim, Ya Allah lindungilah kami selama perjalanan dari Lampung menuju Jakarta, selamat sampai dirumah. Amin. Selamat tinggal Lampung, aku tidur dulu ya, nanti sampai di Gambir pk. 5.30. Daah…