Showing posts with label Detik Food. Show all posts
Showing posts with label Detik Food. Show all posts

Thursday, September 13, 2012

Gule Kambing yang selalu diburu tamu saat Lebaran (***)




Beberapa hari sebelum lebaran ibu saya sudah sibuk menyiapkan masakan khas Lebaran. H-7 ibu saya mulai berburu daging, iga, buntut, lidah, ati serta ayam. Setelah itu, semua daging dimasukkan kedalam frezer dulu. Sebelum pembantu pulang kampung, ibu menyuruh dia memblender dan menyiapkan bumbu, memotong daging dan menggoreng kentang. Jadi ketika H-1 ibu tinggal meracik & memasak hidangan lebarannya dengan hati tenang. 
Salah satu masakan khas Lebaran buatan ibu yang selalu diburu para tamu adalah gule kambing. Tidak usah menunggu sampai Lebaran hari kedua, hari pertama pun gule kambing dapat dipastikan tinggal kuahnya doang. Terutama rombongan keluarga dari Bapak saya, sehabis makanpun tanpa malu malu masih meminta plastik untuk membungkus sisa gule. Ibu tinggal senyum senyum melihat masakannya ludes. Itu yang membuatnya masih semangat masak ketika Lebaran, padahal sudah saya larang karena ibu sudah berusia lebih dari 60 tahun dan sering sakit kecapean sehabis para tamu pulang.
Keistimewaan gule buatan ibu adalah memakai daging dan iga kambing yang direbus antara 1 – 1,5 jam sehingga daging empuk tetapi tidak hancur serta bumbunya sudah meresap banget kedalam daging, sehingga daging kambing bebas bau prengus. Aroma rempahnya terasa khas dan kuat sehingga menimbulkan aroma wangi dan menggiurkan ketika akan disantap. Kuahnya yang berwarna merah dan permukaannya yang berminyak serta potongan kecil gajih yang mengambang semakin mengundang selera. Penggunaan santan dan kemiri yang seimbang mengakibatkan kuah gule tidak kental tapi tetap mlekoh. Ketika disantap gule terasa ringan ngga bikin enek. Perpaduan bumbu rempah khas gule yang terdiri dari cabe, kunyit, cengkeh, pala, adas dan ketumbar terasa kuat dilidah dan menghangatkan badan.
Sekali waktu ibu memasak gule hanya dengan memakai daging kambing saja tanpa tulang dan iga kambing, eh sepupu sepupu saya itu malah mengomel, “Tante, gulenya kok ngga ada dagingnya ?” Loh ??? Semenjak itu ibu tak pernah lupa mencampur daging dengan tulang kambing. Kalau buat saya, malahan ibu membuat gule buntut sapi, karena daging kambing berbahaya untuk suami saya yang mengindap asam urat. Apapun isinya tetap saja gule terasa mantap dan lezat.

Sunday, July 03, 2011

Wednesday, June 08, 2011

Mi Lezat Plus Putu Mantap di Gang Luna Bandung (***)










Bandung - Nama Pengirim: Kania Kurniasari
Email: kania.kurniasari[at]xxx.com

Karena ada beberapa keperluan dan sebuah janji temu di Bandung, maka terpaksalah kami mengarungi kemacetan di Bandung. Janji temu dengan seorang teman pun terpaksa dilakukan di sebuah cafe kecil yang terletak di dalam toko Elizabeth di daerah pasar  Astana Anyar. Setelah sekian lama berbincang tiba-tiba sang teman teringat sesuatu. "Makan mi ayam lezat yuk, mumpung jam 5 sore begini baru buka kalau kemalaman nanti penuh," ajaknya. Wah tawaran menarik nih, cocok dengan keadaan perut yang mulai keroncongan.

Kami pun menuju Jl. Jend. Sudirman yaitu ke daerah pasar Andir dan pelan-pelan kami mencari gang Luna disebelah kiri jalan. Nah itu dia, sebuah gerobak aluminium terparkir di mulut gang. Terlihat tulisan dikaca gerobak 'Mie baso pangsit tahu Lezat special'. Oalaa... sekarang saya baru paham, rupanya 'Lezat' itu nama warung mienya, tinggal dibuktikannya saja apakah sajian mereka selezat namanya.

Sebelum memesan, kami pastikan dulu kehalalannya. Setelah mendengar jawaban halal, kami pun langsung memesan 3 porsi mie yamin asin plus bakso karena pangsit pesanan ku belum matang. Teman kami merekomendasikan tahunya yang enak, tapi saya tidak memesannya karena takut kekenyangan. Disini tersedia 3 meja & kursi panjang dan diberi atap terpal yang menempel didinding gang. 

Sambil duduk saya melihat-lihat beberapa gerobak yang berderet disebelah kami. Pertama gerobak minuman, lalu gerobak baso tahu siomay lalu disebelahnya gerobak apa tuh? Dipaling ujung ada sebuah gerobak dengan 2 buah dandang besar, dimana tutupnya dihiasi beberapa kain putih kecil yang mengeluarkan uap asap yang mengebul. Ketika kami tanyakan kepada teman, dia bilang itu gerobak tukang putu pisang. Hah baru tau ada kue putu isi pisang? Jadi penasaran nih. Aha habis makan mie, kami harus bungkus putu untuk bekal dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Sip deh!

Pesanan mie kami pun datang. Semangkuk mie yang bentuknya bulat kecil, sepertinya buatan tangan karena tidak keriting, ditaburi ayam cincang halus serta daun seledri. Didampingi semangkok kuah bening dan berminyak, berisi 3 baso halus dan daun seledri. Tak sabar saya suap mienya dengan sumpit dan o la la... lidah rasanya bergoyang, mata pun berbinar senang. Rupanya rasa mie ini memang selezat namanya. Top! 

Perlahan saya seruput kuahnya, rasanya segar, tidak meninggalkan jejak gurih yang berlebihan, menyeimbangi rasa mie yang sudah asin. Basonya pun enak padahal saya bukan tergolong penggemar bakso sejati. Langsung nilai sajian ini melesat ke peringkat papan atas tujuan wiskul Bandung versi kami tentunya. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan sajian istimewa ini. Setelah makan, mulutpun kami basuh dengan segelas es jeruk peres murni dari gerobak sebelah. Hmm rasa manis dan segar menyeruak dimulut kami, nikmat.

Mengenai harganya hampir sama dengan harga sajian dari rumah makan, tapi masih ramah dikantong, yaitu mie baso Rp 19.000,00 dan es jeruk Rp 9.000,00. Harga menu lainnya adalah mie special (baso pangsit tahu) Rp 26.500, mie baso pangsit Rp 22.500, kalau mie rica tinggal tambah Rp 2.000. Kalau mau pesan baso tahu/baso/pangsit rebus/goreng saja pun bisa. Semua menu bisa pilih 1 atau setengah porsi. Very flexible.

Setelah selesai kami pun menuju gerobak putu. Wah ini unik. Didalam gerobak ada 3 baskom besar yang berisi masing-masing tepung beras, gula merah dan kelapa parut. Beberapa sisir pisang raja yang sudah tua tampak tergantung di langit-langit gerobak. Dengan gesit si ibu mengisi cetakan putu yang berbentuk bulat lalu ditutup dengan kain putih agar putu tidak basah ketika matang, lalu cetakan ditancapkan ke bagian atas dandang yang berisi beberapa cerobong kecil. Setiap dandang berisi 8 cerobong. Setelah putu matang, segera digulingkan ke atas kelapa parut hingga tertutup. Satu putu dihargai Rp 2.500 dan kami pun memesan 2 dus yang berisi masing-masing 5 putu.

Kue putu yang masih panas ini sangat menggoda. Mulut dan tangan kami pun gatal untuk segera mencicipinya. Dengan beralaskan daun pisang, kami pun segera memakannya. Wuah putu yang berukuran cukup besar ini memang nikmat, walaupun warnanya hanya putih, asli tanpa pewarna hijau seperti putu Jakarta, tapi rasa dan wanginya tetap dasyat. Ketika digigit aroma pisang dan kelapa menari-nari dihidung, rasa manis dari gula merah dan pisang terasa lumer dimulut, dan semakin sempurna ditingkahi rasa kelapa yang gurih. Dengan perut kenyang dan hati senang, kami pun bersemangat kembali menantang kemacetan dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Mi Lezat Gang Luna
(dekat pasar Andir)
Jl. Jend. Sudirman
Bandung

Monday, May 02, 2011

Friday, September 17, 2010

Tumis Jambal Roti Pete D'Palm Uenak Pisan! (***)























Selasa, 12/10/2010 14:51 WIB

Kania Kurniasari - detikFood

http://www.detikfood.com/read/2010/10/12/145147/1462446/290/tumis-jambal-roti-pete-dpalm-uenak-pisan?d993301

Bandung - Nama Pengirim: Kania Kurniasari

Makan di restoran Sunda yang satu ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi saat menikmati tumis jambal roti pete dan nasi liwet yang gurih. Ditambah sambal cabe hijau dan krupuk aci hmm... jadilah hidangan yang uenak pisan!

Tahun ini kami merayakan hari lebaran di kota Bandung. Seperti biasa kami menyediakan menu lebaran lengkap termasuk ketupat. Dua hari menyantap hidangan lebaran yang sama cukup membuat kami keblinger. Ditambah persediaan bahan makanan di kulkas yang tipis membuat kami memutuskan untuk makan di luar pada hari Minggu.

Untunglah suamiku teringat, ada sebuah restaurant Sunda dimana ia pernah makan di sana bersama teman-temannya. "Makanannya enak loh, tempatnya juga luas dan nyaman," katanya berpromosi. Hmm boleh juga tuh dicoba, bikin penasaran saja.

Akhirnya kami pun menuju D'Palm Sundanese Restaurant yang ada di Jl. Lombok. Sesampainya kami disana, wuih... restoran ini memang besar dan luas. Saat ini restoran padat oleh pengunjung sehingga kami sedikit mengalami kesulitan untuk parkir walaupun lahan yang tersedia cukup luas.

Berbagai macam jenis ruangan yang tersedia disini, yaitu ruangan seperti biasa yang terletak di dalam (section), ruangan diteras belakang (gazeeboo), ruang VIP, Banquet Hall, meeting room dan tempat bermain anak-anak. Pilihan menu yang cukup banyak membuat kami lapar mata. Aneka menu masakan Sunda seperti ikan & ayam, pepes, sampai aneka daging, jeroan, udang, cumi, kepiting tersedia. Ada pula aneka jenis nasi, seperti nasi bakar, pepes, liwet, tugtug, dan timbel.

Akhirnya kami sepakat memilih nasi liwet & nasi tutug oncom, disertai dengan lauk ikan gurame goreng, lidah goreng, cumi goreng tepung, sop buntut, ayam bakar & ikan patin goreng. Pelengkapnya adalah pete bakar, tahu goreng, sambal dadak & sambal cabe hijau, tumis jambal roti pete serta krupuk aci. Saya juga memesan es campur serta es mutiara untuk suami.

Sepiring otak-otak yang terhidang dimeja pun langsung ludes kami serbu. Tapi hebat juga yah, tak memerlukan waktu yang lama untuk meyiapkan beragam pesanan kami. Perut yang lapar membuat kami sedikit berebutan ketika menyambar lauk di meja. Hmm betapa serunya!

Saya pun hanya kebagian nasi liwet, kepala gurame goreng, beberapa potong cumi, tumis jambal roti, sambal cabe hijau & krupuk aci. Tapi oh... nikmat pisan ouy! Nasi liwetnya pulen dan wangi gurih. Dihidangkan didalam sebuah panci kastrol dan ditaburi sedikit bawang goreng.

Cuminya hmm... menggiurkan, dipotong bentuk segitiga, dibalut tepung dan digoreng sehingga berwarna coklat kekuningan, rasanya kriuk tapi empuk serta gurih. Guramenya juga garing tapi tidak tajam bumbunya, sehingga semakin nikmat ketika disiram dengan sambal kecap.

Tetapi yang paling bikin jatuh hati adalah tumis jambal roti petenya, yaitu potongan ikan asin jambal roti yang ditumis bersama potongan pete, bawang, cabe serta tomat sehingga sedikit berkuah, lalu ditaburi bawang goreng. Rasanya mak nyuss enak tenan. Aromanya yang wangi & rasanya yang asin sungguh menggugah selera makan.

Krupuk aci yang agak bantat dicocol kedalam sambal cabe hijau menjadi pelengkap yang sempurna. Sambalnya terasa menyengat di lidah tapi segar karena diulek bersama tomat hijau, serta tidak berminyak. Makannya jadi tambah semangat sehingga tambah lagi dan lagi.

Es campur yang sarat dengan potongan buah segar pun menjadi penutup yang menyegarkan, membilas sisa rasa pedas & gurih dimulut. Puas rasanya kami menikmati aneka hidangan ini. Kekurangannya hanyalah kami agak terganggu asap rokok pengunjung lain.

Kini tiba saatnya untuk meminta tagihan. Yang paling mahal adalah ikan gurame Rp 60.000, disusul dengan sop buntut Rp. 35.000, cumi Rp 35.500, ikan patin Rp 23.000, tumis jambal Rp 27.000, nasi liwet Rp 20.000, lidah Rp 16.000 dan ayam Rp 15.500. Lauk pelengkap lainnya dibawah Rp 10.000.

Yang membuat saya cukup heran harga minumannya, kalau es campur & es mutiara @ Rp 13.000, sedangkan lemon tea Rp 20.500. Tapi kata kakakku lemon tea nya memang enak & segar, perasan air lemonnya banyak dan asli. Ngga nyesel deh!


D'Palm Sundanese Restaurant

Jl. Lombok no.45 Bandung

Telp: 022-4261623/4261591

Friday, April 09, 2010

Tuesday, March 30, 2010

Seafood a la Makassar Mantap Rasanya! (***)








Kania Kurniasari - detikFood

http://www.detikfood.com/read/2010/05/12/162258/1356114/290/seafood-a-la-makassar-mantap-rasanya

Jakarta - Sekali mencicipi seafood a la Makassar ini dijamin bakal ketagihan. Ada ikan kudu-kudu yang lezat dan udang bakar yang mantap rasanya. Belum lagi kepiting soka dan ikan kuwe yang fresh dengan sambal a la spesial yang bikin lidah selalu bergoyang. Coba yuk!

Dalam rangka merayakan suatu hal saya bersama teman-teman pergi untuk makan di sebuah restaurant seafood ala Makassar. Menurut salah seorang teman restoran ini baru berdiri beberapa minggu yang lalu dikawasan Blok A - Cipete, tepatnya di Jl. Fatmawati raya no 5A, Jakarta Selatan.

Menu unggulan dari restoran ini adalah ikan kudu-kudu, yaitu ikan khas perairan Makassar yang dimasak goreng tepung serta masakan udang bakarnya yang yummy. Akhirnya pada hari Sabtu lalu, kami bertujuh langsung meluncur kesana.

Restoran ini mudah ditemukan karena lokasinya yang terletak dipinggir jalan raya Fatmawati. Bagian depan dihiasi dengan lambang lingkaran merah bertuliskan Lion Restaurant, serta spanduk yang berisi berbagai gambar menu masakan unggulan disini.

Memasuki ruang restaurant yang lumayan luas kami langsung disambut dan ditawari apakah kami ingin memilih langsung seafood yang akan dimasak. Tapi kami memilih melihat buku menu saja. Sayang seribu sayang, ikan kudu-kudu yang kami impikan sudah sold out, begitu pula dengan udangnya.

Untuk udang hanya tinggal udang pancet jumbo seharga Rp 120.000/ons. Hal ini dikarenakan semua seafood harus didatangkan dari Makassar dan agaknya sang Pemilik tidak menyangka adanya sambutan hangat atas menu unggulannya tersebut. Akhirnya kami memesan ikan kue bakar biasa dan bakar rica, cumi goreng tepung, kepiting soka serta tumis kangkung cah polos.

Sambil menunggu pesanan dibuat, di atas meja disajikan 1 set sambal yang terdiri dari sambal merah, semangkuk potongan tomat hijau, sambal dabu-dabu, kecap petis, saus kacang mede, irisan mangga muda berwarna putih, dan sepiring jeruk nipis plus daun kemangi.

Kemudian ada yang mendemonstrasikan cara pembuatan sambal ini, yaitu dengan mencampurkan semua bahannya menjadi satu kemudian diaduk. Rasanya wowww... mata kami langsung melek, tersengat rasa pedas manis asam yang menyegarkan. Wah makan nasi pake sambalnya saja sudah enak begini apalagi seafoodnya.

Kami pun masing-masing mencoba sebuah otak-otak berukuran besar & hangat, rasa ikannya menonjol & ketika dicocol saus kacang mede, rasanya semakin legit. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Penampilan ikan kuwe bakar ini sangat minimalis bumbu dan bersih kekuningan. Tapi ketika dimakan bumbunya meresap sempurna. Bedanya dengan bakar rica hanyalah ikan bakar langsung diolesi bumbu rica yang pedasnya langsung meyambar lidah.

Sedangkan penampilan kepiting soka rupanya digoreng kering berbalut tepung, rasanya empuk, gurih dan kriuk banget. Kangkungnya terlihat hijau & segar, kontras dengan warna potongan cabe merah diatasnya. Kangkungnya terasa renyah, serta kuahnya yang kecoklatan terasa gurih menggigit.

Secara keseluruhan semua hidangan ini patut diacungi jempol, dengan pelayanan yang ramah & yang terakhir harganya juga terjangkau loh. Dua ekor ikan dengan berat 10 ons dibanderol dengan harga Rp 80.000, kepiting soka Rp 40.000/porsi, Cumi Rp 35.000/porsi, kangkung Rp 20.000/porsi. Bahkan karena masih dalam rangka grand opening kami mendapat diskon 25%.

Wah saya pun langsung jatuh hati dan berjanji akan kembali untuk mencoba ikan kudu-kudu bersama suami. Tapi jangan lupa untuk mereservasi tempat dulu. Selamat mencoba!

Lion Restoran
Jl. Fatmawati raya no 5A
Jakarta Selatan
Telp: 021-723 0055/724 5559
Jam Buka: 11.00 - 15.00 - 17.00 - 22.00

Sunday, December 20, 2009

Wednesday, October 28, 2009

Hangat Lezat Hidangan 'Hot Pot' (***)














Kania Kurniasari – detikFood
http://food.detik.com/read/2009/12/03/145700/1253496/287/hangat-lezat-hidangan-hot-pot
Jakarta - Nama: Kania kurniasari
Email: kania.kurniasari[at]id.ey.com

Udara dingin akhir-akhir ini enaknya memang menikmati yang hangat-hangat. Jika bosan dengan soto, nah menu hot pot yang berisi aneka sayuran, daging, sampai seafood ini bisa jadi pilihan. Selain gizinya komplet pastinya bisa menghangatkan dan mengenyangkan perut!

Udara malam yang dingin membuat saya yang sudah merasa tidak enak badan, meriang, dan hidung tersumbat ini semakin menggigil. Sehingga malam Minggu membuat saya berpikir untuk menikmati makanan yang bisa membuat badan terasa lebih hangat dan segar.

"Oh iya, aku baru ingat pernah diajak makan oleh Bos di daerah Sabang. Makanannya enak deh mirip shabu-shabu dimana kita tinggal memasukkan aneka sayuran ke dalam kuah panas. Enak deh, aku sampe keringetan makannya," ujar suamiku tiba-tiba. Wah saya yang mendengarnya makin penasaran. Maka di malam minggu yang sedikit macet ini kami pun mengarahkan mobil ke daerah Sabang sebagai pusat wisata kuliner di Jakarta Pusat.

Restoran ini tepatnya berada di jalan H. Agus Salim. Di sepanjang jalan ini terdapat kemeriahan pengunjung yang ingin menikmati makanan warung tenda yang terdapat di sisi kanan kiri jalan. Hal tersebut pastinya mengakibatkan kemacetan tapi sekaligus menjadi pemandangan mengasikkan yang membuat kami semakin lapar mata.

Untungnya letak restoran yang kami tuju berada agak diujung jalan. Restoran ini dari luar tampak sederhana dan tidak tampak adanya keramaian. Yang membuat saya langsung terkejut ruangan restoran ternyata memanjang sampai ke belakang dan semuanya hampir penuh terisi. Hanya tersisa 1-2 meja saja yang salah satunya kami tempati kemudian.

Pelayan sibuk berlalu lalang, walapun begitu tak lama kami langsung didekati seorang pelayan. Ia pun mengajak kami ke belakang ruangan menuju rak pendingin. Rupanya di rak tersebut terdapat piring-piring plastik hijau berisi aneka sayuran, aneka baso, mi udon, aneka pangsit, tahu, kembang tahu, jamur, aneka olahan seafood, dll.

Ramainya pengunjung yang memilih aneka bahan makanan membuat piring-piring yang baru ditaruh ke dalam rak oleh pelayan langsung habis. Yah, jadi harus adu cepat dengan sesama pengunjung. Pelayan yang mengantar berdiri dibelakang kami dengan membawa nampan yang segera kami isi dengan 3 piring sayuran, 1 pangsit, 1 jamur, 1 lumpia kembang tahu. Kami pun minta pelayan untuk menambah 1 piring daging (yaitu 4 lembar daging super tipis) dan 1 suikiaw karena tidak ada di rak.

Sekembalinya kami di meja sudah tersedia 2 set piring kecil plus mangkok plus sendok serta sumpitnya. Lalu ada 2 mangkok kecil sambal cabe merah cair dan panci untuk merebus yang bentuknya bulat tapi tengahnya menonjol tinggi dan bolong. Nah panci ini yang disebut Hot Pot, sehingga nama restoran ini adalah 'Hot pot garden'.

Panci ini segera dituangi air kaldu oleh pelayan. Sementara kami menunggu airnya mendidih, telah disediakan sepiring kecil camilan kacang mete berwarna coklat dan diselimuti bawang, rasanya manis, renyah, dan kriuk. Oh ya kami juga meminta 2 mangkok nasi serta 1 mangkok mi udon yang telah direbus secara terpisah.

Ketika air mendidih, kami mulai memasukkan aneka bahan pilihan kami. Tak perlu menunggu lama semua rebusan segera matang dan segera kami taruh ke dalam mangkuk masing-masing. Baik pangsit, lumpia dan suikiaw sendiri masing-masing berisi 6 buah.

Perlahan saya sendok sepotong suikiaw, ditiup pelan dan diseruput kuahnya yang masih panas mengepul hmm... betapa enak dan gurihnya kuah kaldu ini rasanya persis kuah sop. Pantesan saya tadi sempat bertanya-tanya kok hanya diberi sambal? Biasanya kalau shabu-shabu disajikan bersama aneka saus. Jadi tanpa perlu tambahan bumbu apapun (kecuali sambal tentunya) rasanya sudah enak.

Begitu pula dengan sayurannya terasa segar, aneka olahan pangsit, lumpia dan suikiaw juga enak karena berisi adonan campuran udang, seafood dan sayuran. Badan pun mulai terasa hangat dan segar. Wah benar nih kalo makan disini disiang hari pasti keringetan, walaupun telah diredam oleh 5 pasang AC yang dipasang berderet.

Masakan ini menurutku enggak beda dengan shabu-shabu yaitu makanan khas Jepang yang berupa irisan tipis daging sapi yang dicelup ke dalam panci khusus berisi kaldu. Sedangkan Hot pot adalah nama panci yang tengahnya menonjol, tinggi dan bolong itu tadi. Jadi Hot Pot Garden adalah restoran yang khusus menyediakan bahan makanan yang direbus dalam panci hot pot, jadi tidak ada menu lain. Kalau shabu-shabu biasanya tidak memakai panci hot pot, melainkan panci bulat biasa.

Harganya cukup ramah kok, paling murah adalah sayuran Rp 7.000 dan paling mahal adalah daging, suikiaw, pangsit dan lumpia @ Rp 15.000. Sedangkan jamur Rp 8.000, udon Rp 9.000 dan jus kedondong Rp 10.000. Tetapi kalau makannya banyak ya jatuhnya lumayan juga, buktinya total tagihan untuk makanan kami Rp 140.800. Oh ya, setelah diteliti di bon rupanya ada tagihan kacang mete Rp 7.000 ternyata snacknya tidak gratis. Nah buat yang mau mencoba menu Hot Pot ini silahkan saja langsung meluncur ke Sabang. Selamat mencoba ya!

Hot Pot Garden Seafood Restaurant
Jl. H. Agus Salim No. 20 (Sabang)
Jakarta Pusat
Telp: 021-3193 1318