Monday, October 19, 2015

Kuliner Solo - Magetan - Madiun

Liburan tahun baru Islam tahun ini kami pergi ke Madiun dalam rangka melihat rumah nenek yang sedang direnovasi. Dari Jakarta kami berangkat hari Selasa menuju Solo dan pulang hari Rabu. Cukup semalam saja kami menginap di Madiun. Walaupun hanya semalam, saya menghasilkan 4 review tempat makan. Nah ini dia laporannya.


Soto Ayam Gading 2 – Solo (*)



Dengan memakai pesawat pk. 5.35 pagi, sengaja kami menahan lapar, dengan maksud hendak sarapan di kota Solo. Suami saya ingin sarapan soto ayam yang terkenal disana, katanya langganan para pejabat. Kaya apa sih soto tsb ?

Setelah mendarat dengan selamat, kami sudah dijemput oleh pak supir yang asli orang Solo. Kami langsung menuju Jl. Veteran. Ketika kami tiba didepan rumah makan tsb, terpampang sebuah spanduk berjudul Warung soto ayam gading 2, sedia soto ayam, soto sapi, nasi rames, nasi langgi, Jl. Veteran No.285, Solo, telpon 0271 724708.

Pengunjung saat itu cukup ramai tapi masih ada meja yang kosong. Kami bertiga bersama pak supir memesan nasi plus soto, saya memesan soto ayam tanpa toge dan suami memesan soto sapi. Dimeja telah tersedia aneka sate dan gorengan, krupuk dan sambal. Sepiring tempe terhidang dihadapan kami, tempe goreng ini terlihat kering dan tekstur tempe geruntulan karena kacang kedele nya timbul. Andaikata tempe ini lebih hangat dan empuk, tentu saya lebih suka.



Pesanan kami datang dengan segera. Soto ayam berisi suwiran ayam, soun dan kripik kentang, kuahnya banyak dan bening, dengan taburan bawang goreng dan seledri. Kuah soto ayam terasa asli dan gurih, ringan dan sederhana serta tidak berlemak. Tapi akan lebih nikmat bila ditambah garam, jeruk nipis dan sambal yang telah tersedia dimeja. Apalagi kalau dimakan bersama krupuk dan gorengan, akan semakin meriah rasanya.



Kalau soto sapi bedanya adalah memakai daging tetelan dan tanpa kripik kentang. Saya mengambil gorengan tahu isi, ketika kumakan, rupanya isinya daging cincang loh, bukan sayuran. Suami saya mengambil sate kikil dan telur dadar, eh telurnya juga isi daging cincang. Untuk minumannya, jeruk murni isinya benar-benar murni hasil perasan jeruk tanpa tambahan air dan gula. Hmm menyehatkan sih tapi tidak cukup untuk memuaskan rasa dahaga.


Makan nasi soto bertiga, plus lauk pelengkap dan aneka minuman menghabiskan dana sekitar Rp 125.000. Hmm cukup murah kan.

Pawon sewu – Magetan (*)

Perjalanan dari Solo menuju Madiun melewati jalur gunung Lawu dan 2 kabupaten yaitu Karanganyar dan Magetan. Perjalanan cukup jauh dan lama karena dibawa santai saja. Selain jalannya memang cukup berbahaya, curam dan berliku, kita memang ingin menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah dan menyejukkan.

Kami sempat beristirahat sebentar di Telaga Sarangan dan naik kuda mengelilingi telaga tsb. Sambil berkuda, kami berbincang-bincang dengan pak joki dan mendapat info sebuah rumah makan bernama Pawon Sewu di Jl. Raya Sarangan. Infonya cukup menarik dan kami memutuskan untuk segera meluncur kesana untuk makan siang, pake mobil, bukan naik kuda.


Rumah makan ini cukup mudah ditemukan karena berbentuk rumah joglo dan memiliki nama yang jelas dibaca. Terletak di Jl. Raya Sarangan km 4, Sidorejo-Magetan. Ketika kami tiba, pengunjung yang datang cukup sepi, hanya ada 1 – 2 keluarga saja. Terlihat menonjol karena RM ini termasuk cukup luas ukurannya. Selain ruang makan utama yang berada didalam bangunan bentuk joglo, ada juga lesehan didalam gazebo disekitar kolam ikan belakang belakang.

Kami duduk diruang makan utama dan mulai membaca menunya. Menu yang terkenal disini adalah ayam kukus. Agak sulit membayangkan masakan ayam kukus didaerah Jawa ini, karena yang terbayang oleh saya adalah ayam ala hainam. Maka saya memesan ayam goreng paha, suami memesan ayam kukus paha, lele goreng, sop iga bakar dan slada air. Minumannya kami pesan jus tomat dan air jeruk. Sedangkan pak supir memesan sop iga biasa.

Makanan kami tiba tidak terlalu lama. Nomer satu saya lihat dulu ayam kukusnya. O rupanya ayam kukus itu adalah ayam yang diungkep dengan bumbu rempah-rempah dan dikukus sampai empuk. Setelah itu bisa langsung disajikan atau digoreng atau dibakar. Jadi ayam goreng pesanan saya juga sama rasanya, hanya lebih garing dan kecoklatan saja dibagian luarnya. Ayam tsb bumbunya sudah meresap, dagingnya empuk dan ukurannya pun besar. Ayam bagian paha ini masih menempel ceker nya dan belum dipotong lagi kuku nya yang tajam. Suami saya segera menyodorkan ceker nya kepada saya minta dipotong, karena memang dia geli kalau melihat ceker ayam dan saya malah gembira mendapat sepasang ceker ayam.



Sajian kedua adalah sop iga bakar. Dua potong iga tersaji bersama kuah sop dan 2 potong tempe goreng. Wah tempe gorengnya terlihat menggiurkan. Sayang sekali iga bakarnya kok dingin, padahal rasanya cukup enak, empuk dan manis, tapi tidak menimbulkan selera makan. Kuah sop berisi beberapa potong wortel dan kentang, warnanya bening dengan taburan bawang goreng dan seledri tapi rasanya agak hambar.




Sajian ketiga adalah slada air yaitu daun slada air yang ditumis bersama udang, bawang, tomat dan cabe. Rasanya sih biasa saja dan kami kurang cocok dengan hidangan sayur ini. Sajian terakhir adalah lele goreng yang berisi 2 ekor lele goreng tepung, yang segera ludes dihabiskan oleh suami saya.


Nah karena ayamnya cukup mengesankan dalam hal rasa dan ukurannya, kami membungkus seekor ayam plus nasi untuk oleh-oleh penunggu rumah Madiun. Semua makanan ini totalnya tidak sampai Rp 200.000 loh. Harga ayam utuh adalah Rp 65.000, ayam potongan Rp 15.000, iga biasa Rp 25.000 dan yang bakar Rp 27.0500, lele Rp 15.000, slada air Rp 7.000, minuman jus sekitar Rp 4.000-5.000 dan nasi Rp 3.000.


Sayang sekali, sebenarnya rumah makan ini cukup asri dan menyejukkan, fasilitas nya cukup lengkap dan ruangannya pun luas, tapi kurang terpelihara keindahan dan kebersihannya, ditambah lagi karena musim panas, pohon dan tanaman jadi pada kering. Menu disini juga cukup bervariasi, tersedia juga ikan dan udang serta minuman hangat.

Nasi pecel Pojok – Madiun (**)

Baru kali ini saya menginjakkan kaki di Madiun. Biasanya sebelum saya pergi ke suatu tempat yang baru, saya selalu mencari info kuliner khas kota tsb. Tapi khusus Madiun, saya tidak perlu browsing, karena sudah pasti kami bakal makan nasi pecel, sajian melegenda khas kota tsb.

Nasi pecel mana yang terkenal ? Di sepanjang Jl. HOS Cokroaminoto saja ada beberapa tempat yang menjual nasi pecel. Ada 2 yang paling terkenal yaitu nasi pecel 99 dan nasi pecel Pojok. Saat ini kami ingin mencoba nasi pecel Pojok sesuai rekomendasi pak supir.



Sesuai namanya, tempat makan ini terletak dipojok rumah di Jl. HOS Cokroaminoto no. 121. Tempatnya berupa bangunan permanen sederhana setara bangunan warteg kalau di Jakarta. Tempatnya tidak begitu luas tapi tersedia juga kursi yang disusun disekeliling luar bangunan tsb.

Disebelah pintu masuk ada sebuah jendela besar sekaligus berfungsi sebagai meja makan, didepannya ada sebuah meja tempat meracik pecel plus tempat memajang aneka lauk pauk yang bisa langsung kita pilih. Kami datang berlima dan semua memesan nasi pecel plus tambahan lauk pauk. Saya memesan nasi pecel tidak pedas tambah ayam goreng, kalau suami pilih rasa pedas plus tambahan lauk lidah.



Pecel itu berisi sayuran daun pepaya, singkong, toge dan kembang turi. Cara meraciknya adalah pincuk daun pisang diberi nasi lalu diberi sayuran diatasnya (kalau saya minta disamping nasi), terus disiram bumbu pecel dan diberi krupuk karak. Tapi saya minta agar kerupuk karak tsb diganti oleh 2 buah rempeyek bahkan nambah sebuah lagi. Rasa bumbu pecel tsb sungguh enak dan legit, keseimbangan rasa garam dan gulanya sangat pas dan menimbulkan rasa lezat. Sayangnya bumbu pecel yang disiram keatas sayuran tsb cukup sedikit jumlahnya sehingga kurang memuaskan lidah. Lalu ayam gorengnya juga terasa hambar.


Ketika asik makan, sepiring nasi rawon lewat dihadapan kami. Hal itu tak luput dari pandangan mata suami saya yang langsung berbinar-binar. Seporsi nasi rawon pun segera dia pesan. Memang enak sih menyantap nasi yang disiram kuah rawon panas, lalu ditaburin bawang goreng. Potongan daging tanpa lemak tersaji cukup besar. Ketika ku cicipi, hmm rasanya manis, citarasa khas orang Jawa.


Makan sebanyak itu, berlima, menghabiskan biaya tidak sampai Rp 120.000. Wuih murah banget ya. Andai ku tinggal di Madiun, ngga bakal masak deh kalau bisa beli makanan semurah itu.

Warung Soto Ayam Jawa resep Pak To – Madiun (**)

Selain pecel, kuliner terkenal lainnya di Madiun adalah soto. Salah satu yang terkenal adalah Warung Soto Ayam Jawa di Jl. Asahan no. 8. Kami bertiga bersama pak Supir makan siang kesana sebelum pulang ke Jakarta.


Saat kami tiba, rumah makan ini cukup ramai oleh pengunjung. Di sisi kanan dari pintu masuk terdapat tempat meracik dan memajang makanan. Kami duduk dulu dan membaca daftar menu yang dipasang didinding. Daftar menu tsb berisi soto ayam Jawa / spesial, soto daging, baksomie biasa / super / urat, ayam bakar / goreng Jawa serta tempe penyet. Itu adalah menu aslinya. Sekarang sudah banyak menu tambahan yang baru yaitu ayam / bebek kremes / bakar, ayam tulang lunak, ayam rica-rica, oseng mercon, sop buntut, garang asem, rawon, dll.

Kami seperti orang kalap, masing-masing memesan nasi soto ayam pisah, ayam kremes tulang lunak paha, oseng mercon dan es jeruk. Setelah dipikir-pikir menyesal juga memesan menu yang sama, seharusnya saya memesan baksomie biar semua menu dicobain. Ya sudah lah. Tidak pake lama, pesanan kami segera tiba. 



Soto ayam yang tersaji kuahnya berwarna kuning kunyit, isinya toge, bihun, potongan telur rebus dan suwiran ayam kampung serta taburan bawang. Kalau kuahnya ingin agak kental, silahkan tambahkan bubuk koya yang telah tersedia diatas meja. Jangan lupa beri jeruk nipis dan sambal agar lebih pas. Tapi sebelum dicampur ini itu, cicipi dulu kuah sotonya yang asli dan gurih. Keistimewaan soto ayam ini adalah merupakan soto ayam khas Jawa resep dari Pak To. Hal ini saya ketahui dari judul daftar menu yang ditempel didinding bertuliskan “resep pakto”.


Puas menyantap soto, kami segera beralih ke ayam kremes tulang lunak, dimana ketika datang, hanya bagian paha atas nya saja. Daging ayam diselimuti kremesan yang menempel dibagian luarnya, berwarna coklat keemasan dan disajikan bersama lalap sambal. Ayam tulang lunak ini rasanya gurih, bumbunya telah meresap sempurna, dagingnya empuk tapi tidak hancur, ukurannya cukup memuaskan, dan yang paling asik adalah sensasi mengunyah tulang ayam yang kriuk kres kres.


Sajian terakhir adalah oseng mercon yaitu semur tetelan daging sapi yang ditumis bersama cabe besar. Kuahnya berwarna coklat pekat, agak kental dan rasanya enak banget, keseimbangan rasa asin dan manisnya sempurna sehingga menciptakan rasa gurih yang lezat, rasanya tidak begitu pedas, dagingnya empuk dan lemaknya tidak terlalu banyak.



Makan siang kami bertiga yang bergelimpangan daging ini menghabiskan total biaya Rp 101.000 saja, karena soto nya Rp 10.000, ayam Rp 14.000, aseng mercon Rp 12.000, nasi Rp 5.000, es jeruk Rp 6.000 dan krupuk Rp 500. “Kalau kamu ultah, temen kantor mu ku traktir disini deh” kata suami, halaaah...

No comments: