Mumpung
lagi diajak ke Bandung oleh suami, sambil menunggu beliau bekerja, sekalian saja
saya menengok neng Egha yang katanya sakit sampai dirawat seminggu yang lalu. Sekarang
sih sudah taraf pemulihan dan memasuki masa “mamayu” yaitu timbul nafsu makan
setelah sembuh dari sakit. Saya tanya sama dia, kamu ngidam makan apa neng.
Ngga tanggung-tanggung, ngidamnya pengen makan steak. Jadilah saya googling, steak
apa yang belum pernah kami coba. Setelah sedikit berdebat, akhirnya kami putuskan
untuk makan steak Karnivor di Jl. LLRE Martadinata No.127, dengan alasan kami
berdua belum pernah mencoba dan steak ini hanya ada dikota Bandung.
Tiba
disana, resto ini 1 kompleks dengan Nanny’s Pavilion, sehingga tempat parkirnya
cukup padat. Dari luar bangunan resto ini tampak seperti bangunan jaman purba
terbuat dari batu dan kayu, lengkap dengan susunan pagar kayu kotak-kotak
didepannya. Nama resto ini terpampang besar diatas pintu masuk yaitu
KARNIV.012.
Ketika
kami masuk lebih dalam, ruang makan terbagi menjadi beberapa area, rasanya
seperti memasuki kandang singa, lengkap dengan pelayan berseragam coklat ala petugas
Taman Safari. Suasana dibuat temaram, dindingnya merupakan kombinasi antara dinding
bata, dinding plesteran gompal-gompal, satu sisi dinding dan langit-langit dilapisi
wallpaper altlas dunia, pembagian ruangan dibatasi dengan pagar kayu dan sekat
besi, meja kursi makannya terbuat dari kayu, sehingga desain bangunan dan
interior menghasilkan suasana yang unik.
Sesuai
dengan slogannya “let’s meet our meat”, daftar menu berisi masakan daging,
khususnya menu steak sebagai andalannya. Menu terdiri dari menu hamburg steak
yaitu steak daging cincang, menu monster yaitu menu dengan porsi jumbo untuk
dimakan bareng-bareng, menu lapar yaitu menu steak dengan ukuran antara 200-500gr,
selain itu ada juga pizza, chicken steak, sop buntut, nasi goreng, dll, menu
isenk atau makanan ringan, dessert dan minuman.
Sebenarnya
saya menghindari makan daging, tapi saya kurang bernafsu bila memilih chicken
steak ukuran 200gr, jadi saya memilih mozarella hamburg yang tampak menggiurkan
yaitu 175gr patty steak atau steak daging cincang, dengan topping keju
mozzarella yang meleleh dengan jejak bakaran, disajikan diatas hotplate,
beralaskan sayuran buncis, bersama kentang goreng dan disiram saus mushroom.
Tekstur patty steak empuk, dipotong dengan garpu saja sudah cukup, dimasak well
done, tanpa aroma daging yang mengganggu, semakin nikmat dimakan bersama
lelehan mozzarella. Saus mushroom sedikit tergenang di hotplate, tidak disiram diatas
steak maupun diatas kentang, saus mushroom ini rasanya cenderung manis dan
tidak ada potongan mushroomnya, tapi kenapa lama kelamaan saus mushroom ini
rasanya agak pahit dilidah ya ? Saya rasa saus mushroom ini terbuat dari jamur
yang diproses sampai halus.
Sedangkan
neng Egha memesan 300gr T-Rex bone steak dengan simbol pistol alias menu most
wanted, disajikan diatas piring putih bersama sayuran wortel dan buncis serta
kentang goreng, tapi karena tidak melihat genangan saus maka dia memesan extra
saus mushroom lagi. Hal ini kami sesali karena ternyata dia juga merasakan hal
yang sama yaitu semburat rasa pahit saus mushroom yang merusak citarasa steak
yang sudah sempurna.
Untuk
mendampingi makanan yang tinggi protein ini, saya memesan jus range berry alias
orange strawberry yang rasanya asam menyegarkan. Harga makanan disini menurut saya
standard saja yaitu Rp 99.000 untuk T-bone, Rp 49.000 untuk hamburg steak,
extra saus murshroom Rp 12.000, jus range berry Rp 22.000 dan teh manis Rp
9.000. Jadi yang ingin merasakan sensasi makan daging dikandang singa, silahkan
datang kemari.
No comments:
Post a Comment