Monday, November 26, 2012

Sop tulang sumsum maha besar di RM Sipirok - Medan (***)

























http://www.yukmakan.com/review/members/Sop%20Sumsum%20Sipirok/4236/sop-tulang-sumsum-maha-besar-di-rm-sipirok--medan

Akhirnya sampai juga saya di kota Medan, kota kelahiran suami saya, putra Jawa kelahiran 
Sumatera. Suami saya setiap habis berkunjung dari kota Medan, karena dinas dari kantornya, selalu bercerita tentang kuliner kota Medan yang terkenal enak dan enak sekali. 
Hari ini, kami berdua datang dari Jakarta dengan pesawat pk 8 pagi. Otomatis masih banyak waktu untuk berjalan-jalan berburu kuliner sejak pagi ini. Rupanya menurut keterangan para supir taxi dan supir becak motor Medan, wisata kuliner kota Medan yang terkenal itu kebanyakan buka pada malam hari. Hanya ada beberapa tempat makan terkenal saja yang buka siang hari. 
Ada 2 tempat kuliner terkenal yang ditawarkankan suami kepada saya, mau makan Sop sumsum Sipirok atau Mi Aceh Titi Bobrok. Untungnya jarak kedua tempat itu agak berdekatan, jadi kami sempat survey dulu. Akhirnya kami putuskan untuk makan Sop sumsum dulu hari ini, besok siang baru makan Mi Aceh.
Sop sumsum Sipirok terletak di Jl. Sunggal no. 14. Kami berhenti didepan rumah makan ini yang tempat parkirnya sudah dipenuhi mobil. Masuk kedalam rumah makan ini, merupakan ruangan yang besar dan luas, tanpa penyekat, penuh dengan meja kursi serta kipas angin yang terpasang dilangit-langit. Bagi suami saya, ini adalah kunjungannya yang kedua. Pada kesempatan pertama dia sudah kehabisan sop sumsum karena datang kesorean. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, tidak ada karyawan kantor yang secara mayoritas biasanya menyesaki tempat makan ini. 
Suami saya langsung memesan sop sumsum dan sop daging yang langsung diantar ke meja kami bersama menu pelengkap lainnya yaitu sepiring ikan teri, daun singkong tumbuk, tumis bunga pepaya, sepiring udang ukuran kecil-kecil banget, lalapan, dan sepiring lagi, menurut tebakan kami, adalah irisan daging ikan yang diberi sambal. 
Ketika sop sumsum dihidangkan, kami kaget luar biasa. Bentuknya adalah sepotong tulang kaki sapi bagian bawah yang ukurannya besar banget, terus dibagian luarnya masih banyak kikil dan daging yang masih menempel ditulang. Disajikan diatas piring dengan kuah sop yang bening, serta dilengkapi dengan pisau untuk mengiris kikil dan daging yang masih menempel pada tulang, serta sedotan untuk menyedot sumsum yang berada didalam tulang. 
Sop daging tak kalah hebohnya, yaitu sepiring sop kuah bening hanya berisi potongan daging sapi yang besar-besar, murni tanpa sayuran, hanya ditaburi daun bawang saja. Wah bagaimana menghabiskannya? Untunglah kami mengajak supir taxi yang kami carter untuk makan juga. Langsung saja sop dagingnya kami antar kemeja dia. 
Suami saya yang paling repot kalau makan, sudah pasti saya yang mengiris-iris daging dan kikil yang menempel pada tulang, dia sih tinggal menyuap saja. Hmm rasanya enak banget, daging dan kikil terasa empuk dan lembut, tanpa perlu cape mengunyah. Kuah sopnya terasa murni dan segar, tidak berlemak, bumbunya sederhana tapi pas banget. Tak terasa kuah sop hampir habis tapi masih banyak kikil yang menempel. Kami pun minta tambah kuahnya lagi. Siang siang begini makan sop, peluh pun mengalir deras dari wajah kami. Ruangan yang besar dan luas serta banyaknya kipas angin tidak mampu menolong kami yang basah kuyup oleh keringat kenikmatan. Hmm nyam nyam.
Hidangan yang lain tak luput kami coba. Yang pertama adalah ikan teri yaitu ikan teri goreng yang berukuran besar, ditumis bersama sedikit cabe. Rasanya tidak terlalu asin, tidak terlalu pedas, pas lah. Kedua adalah daun singkong tumbuk yang agak berkuah, karena diberi sedikit santan. Rasanya segar dan ringan, karena kuahnya encer, tidak seperti gulai daun singkong buatan RM Padang. Ketiga adalah tumis udang yang ukurannya kecil-kecil banget. Setelah ditanya, rupanya itu adalah udang kecepe. Ditumis dengan cabe dan aneka bumbu tapi tidak ada rasa yang menonjol. 
Hidangan lain yang tidak kami sentuh dibawa kembali oleh pelayannya. Tapi kemudian pengunjung disamping meja kami berbincang bincang dengan suami dan bertanya apakah sudah mencoba hidangan daging bakarnya, karena itu termasuk salah satu hidangan yang paling dicari. Loh yang mana ya, kami pun kebingungan. Oh rupanya yang kami kira adalah irisan daging ikan yang diberi sambal itu rupanya daging sapi yang dibakar lalu dipotong kotak-kotak tipis, lalu diberi sambal. Segera kami pesan kembali sepiring daging bakar, rugi dong kalau tidak dicoba. Rasa hidangan ini seru juga loh yaitu irisan daging sapi bakar yang diberi sambal cabe merah, potongan bawang merah mentah serta air jeruk nipis. Dagingnya empuk tanpa ada rasa bumbu yang menonjol berpadu dengan rasa asam dan pedas, dengan aroma bawang yang kuat. Unik tapi enak, hidangan ini langsung kami habiskan. Sebagai penutup segelas es ketimun yang berwarna hijau langsung menyegarkan tenggorokan kami, mak nyees.
Satu lagi keunikan RM ini adalah pemilik RM bertindak sekaligus sebagai kasir, tidak berdiam diri dimeja kasir, melainkan berjalan-jalan memantau meja-meja para pengunjung, sambil memberi perintah langsung kepada anak buahnya bila ada permintaan dari pengunjung, sembari menyapa para pelanggan setianya, sambil membawa segepok uang hasil transaksi pembayaran para pengunjung dimejanya masing-masing. Kami hanya membayar sekitar seratus ribu lebih, karena rupanya sop tulang sumsum yang maha besar itu hanya dihargai Rp 35.000 loh. Fantastis.

Friday, November 16, 2012

Grand Swiss-Belhotel Medan *****



Pemandangan kota Medan dari lt 25
Check in

Swimming pool

Di Selasar Hotel
Rendez-vous lounge
Superior deluxe # 1109
Konter jus



Fasilitas Hotel
Penghargaan

Konter mi rebus
Buffet 4 sisi
Yogurt & Muesli
Sky dining di lt 27
My favorit breakfast, westen food



Secara tak terduga suami saya mengajak pergi ke kota Medan untuk mendampingi dia dalam sebuah acara kantor. Wah saya senang sekali, karena selain saya belum pernah kesana, saya juga juga penasaran dengan kota kelahiran suami saya yang “pujakesuma” alias “putra Jawa kelahiran Sumatera”, dan terkenal dengan wisata kulinernya yang enak dan enak sekali.

Suami saya memilih Grand Swiss Belhotel yang berbintang 5, dengan alasan letaknya yang strategis dipusat kota Medan, dekat dengan Bandara Polonia, berdampingan dengan Cambridge Mall, mudah mendapatkan kendaraan umum serta dekat dengan pusat kuliner kota Medan. Dengan kata lain akses mudah menuju tempat wisata belanja dan kuliner.

Memasuki lobi Hotel ini, kemewahan sudah terlihat dari lantai dan dinding Hotel yang terbuat dari granit berwarna krem. Lobi hotel memanjang kedalam menuju “Rendez-vous lounge” dengan pajangan koleksi wine didinding bar. Ditengah ruangan terdapat meja reception disisi kanan dan sofa untuk menunggu disisi kiri. Ruang tengah itu sendiri dihiasi dengan 3 pilar yang berukir dan bercahaya diempat sudut ruangan.

Kantor suami saya sudah memesan kamar sejak beberapa hari yang lalu dan sudah dilunasi. Kami pergi dari Jakarta dengan pesawat pk 8 pagi dan tiba di hotel untuk check in pada pk 11 siang. Kamar kami tentu belum siap, sehingga kami pun menitipkan koper dan melanjutkan acara jalan-jalan kami. Sayangnya sampai pk 14.30, janji pihak hotel untuk menelfon kami ketika kamar siap, tidak ada. Sehingga harus ditelfon lagi, harus dikonfirmasi lagi, lama deh. Baru pk 15 kamar kami siap dan kamipun segera menuju hotel.

Kami mendapat kamar superior deluxe # 1109 yang berada disudut bangunan hotel, sehingga memiliki 2 sisi pemandangan yaitu pemandangan kota Medan dan pemandangan condominium Cambridge yang letaknya memang berdampingan dengan hotel kami. Kamar kami memiliki desain yang minimalis dan modern tapi tetap terlihat bahwa hotel ini sudah cukup lama berdiri. Dinding kamar berwarna krem, dengan tirai coklat muda, furniture kayu coklat tua, karpet berwarna hijau bercorak. Kamar mandi memiliki lantai dan dinding terbuat dari granit hitam, dengan ruang shower dan bathub yang terpisah. Fasilitas kamar lengkap, dengan tambahan hairdryer yang kusuka. Sayangnya tidak ada setrika untuk baju.

Kelebihan lain dari hotel ini adalah memiliki restaurant yang menyajikan “Sky dining” yaitu sensasi bersantap dengan suasana pemandangan kota Medan dari lantai 27. Sayangnya kami tidak sempat kesana. Fasilitas lainnya adalah ada music lounge & bar, meeting room, swimming pool, spa & massage room, Ballroom, dan Swiss café sebagai tempat sarapan kami besok pagi. Keunggulan terakhir adalah saya lihat ada certificate : “Winner certificate of excellent 2012” dimeja reception.

Tiba waktunya untuk breakfast, kami tiba pk 8 pagi, jam padat pengunjung. Kami menunggu cukup lama, bahkan ketika meminta bantuan waitres untuk mendapatkan tempat makan. Sambil menunggu saya mengambil kesempatan untuk mempelajari makanan buffet dan mengambil fotonya. Ruangan resto bergaya kontemporer dengan tempat duduk modern dengan konsep open kitchen. Pilihan menu sarapan sangat beragam dan mewah serta terlihat lezat. Dimulai dengan konter mi kuah baso, bubur ayam & soup, konter roti dan kue, serta konter jus yang menyajikan 5 jenis jus. Kemudian konter masakan telur, susu & sereal serta pancake jadi satu didalam open kichen. Ditengah ruangan terdapat konter buffet 4 sisi. Sisi pertama menyajikan masakan asia seperti nasi & mi goreng, tumisan sayur, kakap goreng tepung, yang merupakan favorit suami saya. Sisi kedua adalah menu favorit saya yaitu western breakfast seperti read bean, potatoes, sosis, tumis jamur dan sayuran. Sisi ketiga tersedia yogurt & bubur gandum, keju serta beef salami. Sisi kempat adalah aneka buah. Terakhir adalah konter aneka sayuran untuk salad serta sausnya. Semua makanan terbukti lezat kecuali sosisnya saya kurang suka karena keras, dan potongan keju yang tidak sesuai selera saya yaitu terasa pahit dilidah.

Secara keseluruhan hotel ini recommend walaupun saya rasa “Winner certificate of excellent 2012” nya kurang tepat. Sebab ada 3 kejadian yang kurang berkenan dihati kami. Tapi yang pasti hotel ini cocok bagi turis dengan tujuan berwisata berbelanja dan kuliner, karena letaknya yang strategis. Yang berminat menginap disini alamatnya adalah Jl. S. Parman 217 Medan 20152 Sumatera Utara. Telpon (62-61) 457 6999. Selamat berlibur.

Wednesday, October 31, 2012

Pesta seafood di atas dermaga Green Bay (**)













Malam ini malam istimewa buat kami grup Accounting. Pasalnya salah satu teman kami baru di promoted sekaligus ultah. Tak ayal dia menjadi bahan palakan kami, menagih minta ditraktir. Si bos mengusulkan makan malam ditempat super jauh dari kantor kami di kawasan Sudirman yaitu di Bandar Djakarta Pluit. Waduh apa ngga kurang jauh tuh, mana rumah kami mencar-mencar semua, ada yang di Bekasi, Kebayoran bahkan di Sawangan. Tapi tekad kami sudah bulat, tidak terhalang jarak dan waktu. Pulang kantor pk 17.30 teng, rombongan yang terdiri dari 9 orang dan memakai 2 mobil langsung tancap gas menuju kawasan Pluit. Si Bos yang sudah sering makan disana ikut didalam mobil yang saya tumpangi, sehingga perjalanan kami lancar dan sempat sholat magrib. Sedangkan mobil kedua nyasar sampai Ancol, wah kasian yah, mana muter baliknya macet lagi.
Rombongan mobil saya otomatis sampai duluan. Wah saya kaget melihat tempatnya yang tersembunyi didalam kompleks apartemen Green Bay, yaitu dibelakang kantor pemasarannya. Ketika saya lihat billboardnya, resto ini berjudul Seafood City by Bandar Djakarta. Wah tempatnya keren banget, seolah-olah kita makan diatas kapal yang sedang berlabuh didermaga. Area paling depan adalah pasar ikan hidup. Berbagai seafood hidup komplit tersedia disini. Dibelakangnya ada tempura dan sashimi corner. Tempat makannya terbagi menjadi 2 area yaitu indoor dan outdoor. Area outdoor terlihat romantis, yaitu makan dibawah temaram lampu gantung dan kerlip lilin, dengan latar belakang deburan ombak. Tapi kami sendiri sudah reserved tempat diruang ber AC yang lebih nyaman, dengan dinding kaca, sehingga kami tetap bisa menikmati suasana malam yang indah.
Sambil menunggu rombongan kedua yang datang, kami bergegas memilih aneka seafood dipasar ikan. Pilihan seafood kami adalah udang vaname hidup, kepiting king jantan, kerang batik, cumi serta ikan kerapu tikus dan cantang fresh. Menu pelengkap lainnya adalah tahu isi udang, jamur enoki goreng special, kangkung terasi & kaylan bawang putih. Setengah jam berlalu, pesanan kami datang bersamaan dengan datangnya rombongan kedua yang sudah kelaparan. 
Berhubung yang memilih menu adalah Bos saya, laki-laki, maka yang dipilih adalah sajian berbumbu minimalis. Sebagai hidangan pembuka adalah tahu isi udang & jamur enoki goreng. Tahunya besar dan mantap, isinya banyak, campuran udang dan sayur, digoreng tepung, renyah dan nikmat. Jamur enoki adalah jamur yang bentuknya mirip toge tapi panjang-panjang, digoreng tepung sampai garing, rasanya gurih dan kriuk-kriuk. Hmm my favorit.
Hidangan selanjutnya adalah udang & kerang batik rebus. Baru sekali ini saya makan kerang batik, dimana dagingnya berwarna kuning. Kedua sajian ini sangat fresh, sehingga ketika dimakan terasa lembut, kres serta bersemu manis, semakin nikmat bila dicocol dengan sambal yang bercitarasa asam.
Kemudian ikan kerapu tikus, kerapu cantang dan cumi, semuanya dibakar. Caranya, seafood yang sudah dilumuri bumbu dibakar sampai agak gosong, lalu dibalur bumbu lagi sebelum dihidangkan. Rasa bumbunya yang pedas manis gurih sudah meresap kedalam daging. Tapi kalau saya yang pilih, pasti salah satu kerapunya saya masak steam.
Terakhir, ini dia yang saya tunggu-tunggu, yaitu kepiting king jantan. Wuih ukurannya besar banget. Kepiting yang cangkangnya berwarna merah ini dimasak chinesse herbal. Coba kalau saya yang pilih menunya, pasti saya masak lada hitam atau saus padang. Tapi saya tidak jadi kecewa, lantaran ternyata olahan chinesse herbal yang berbumbu minimalis ini semakin menonjolkan rasa asli si kepiting. Daging kepiting yang gemuk, lembut dan bersemu manis ini semakin nikmat dimakan, dikorek-korek dan dihisap-hisap. Untung ngga semua orang doyan makan kepiting, malah ada pula yang malas menyantapnya, sehingga kepiting bagian saya jadi semakin banyak deh. Hmm puaaas?
Pertama kali, saya pikir pesanan kami terlalu banyak, tapi ternyata ludes juga. Ketika sedang asyik mengobrol sambil menikmati dessert buah potong, datang sebuah kejutan. Serombongan waitress datang sambil bernyanyi dan membawa aneka tetabuhan, sambil membawa bakpau raksasa yang dikelilingi oleh bakpau-bakpau kecil. Diatasnya ditancapkan sebatang lilin untuk ditiup oleh Lisbeth, teman saya yang berulangtahun. Lucunya lagi, lilin tsb tidak mati-mati walau ditiup berulangkali, sehingga ruangan restaurant langsung heboh oleh ketawa kami dan ketawa pengunjung lain. Puas mengerjai Lisbeth yang mukanya merah padam, diapun diberi bingkisan kenang-kenangan dari Bandar Djakarta.
Waktu sudah menunjukkan pk 9 malam, time to go home. Saya pun mengurus pembayaran. Saya lihat harga seafood termahal dimenangkan oleh ikan kerapu tikus @ Rp 588.000/ons, Kepiting @ Rp 268.000/ons (untung diskon 50%), kerapu cantang @ Rp 248.000/ons, udang @ Rp 208.000/ons, cumi @ Rp 78.000/ons dan kerang @ Rp 42800/ons. Itu belum termasuk ongkos masak loh yaitu Rp 120.000 karena kami memilih menu dari pasar ikan hidup. Kalau harga minuman dan menu pelengkap lainnya sih standard saja, antara 10 sampai 25ribuan. Hmm kasian juga Lisbeth, akhirnya setengah dari bill tsb kami tanggung bersama. Terima kasih dan jangan kapok ya Lisbeth.

Ngemil kepiting di Bintang Kepiting (**)



http://www.yukmakan.com/review/members/Bintang%20Kepiting%20Serpong/4015/ngemil-kepiting-di-bintang-kepiting

Gara-gara makan siang diundangan kawinan tapi kurang kenyang, maka jam 4 sore perut sudah terasa keroncongan lagi. Kamipun sepakat ngemil Es Pisang Ijo Pemuda di jl Gading serpong boulevard. Habis makan es pisang ijo, eh kok masih terasa lapar yah, jadi pengen makan kepiting nih, gara-gara melihat banyaknya rumah makan seafood bertebaran disepanjang jalan Serpong.
Tiba-tiba suami saya menghentikan mobilnya didepan restaurant Bintang Kepiting Serpong, jl Raya Serpong km 9 no 28D-E. Aha ketahuan nih, rupanya dulu dia pernah makan disini, tapi ngga ngajak-ngajak saya. Restaurant terlihat sepi, pengunjungnya pun hanya kami berdua. Ya jelas saja, wong waktu baru menunjukkan pk 16.45, mana ada orang yang makan siang / malam jam segini, ini waktunya ngemil sore. Tapi kami malah memesan seporsi kepiting jantan lada hitam, karena merupakan menu unggulan disini. Pilihan bumbu lain sih banyak, bisa saos tiram atau saos padang. Pilihan menu seafood lainnya adalah kepiting soka, udang, cumi, kerang dan ikan.
Sepiring kepiting yang masih panas telah dihidangkan dihadapan kami. Kepiting tertutup bumbu lada hitam yang berminyak, melekoh dan luber. Ketika disantap, wuih rasa pedas dari bumbu lada hitam benar benar menonjok rongga mulut, membuat tenggorokan terasa panas dan tubuh menjadi hangat. Lada hitamnya bener-bener asli dan masih kasar, mantap. Rasanyanya pedas dengan semburat rasa manis dan gurih. Daging kepitingnya gemuk alias banyak dagingnya, rasanya lembut dan segar. Hmm enaknya dimakan bersama nasi panas. Selesai mengorek-ngorek dan menghisap-hisap tubuh kepiting, tubuh kami sudah basah oleh keringat dan hidung pun meler. Sungguh nikmat cemilan sore ini.
Untuk harga lumayan mahal loh yaitu Rp 144.000 untuk sekitar 5 ons lebih. Yang ingin mencoba kesini bisa telepon dulu ke 021 5315 5542. Dijamin makan malam kalian lebih berbintang.

Thursday, October 18, 2012

Menyantap masakan warisan Chinatown di Soup restaurant (**)





Minggu siang ini saya bersama suami menemani Bapak berkunjung ke apartemen baru di Kuningan City. Ketika kami tiba, jam menunjukkan pk 12 dan Bapak ingin bersantap siang dulu. Kebetulan akses masuk ke apartemen bisa melalui mall. Kamipun diberi arahan tempat makan di lantai 3 oleh security. Ketika lift terbuka, langsung terlihat sebuah resto didepan kami bernama Soup restaurant, dimana sebelumnya kami sudah pernah mencobanya di Plaza Indonesia. Sepertinya Bapak bakal cocok makan disini karena dia lagi pengen makan chinesse food.

Memasuki ruang restaurant ini, interiornya sungguh cantik. Ruangan dihiasi dengan partisi partisi kayu gaya cina. Ditengah ruangan terdapat sebuah pohon sakura buatan yang besar, sehingga kami seolah olah makan dibawah kerindangan pohon tsb. Sungguh cantik dan indah. Setiap pengunjung yang datang langsung disajikan sepiring kecil kacang merah rebus yang ukurannya besar besar. Rasanya wow sungguh enak, gurih bersemu manis. Sepertinya kacang direbus bersama gula, garam serta mentega karna ada rasa legit didalamnya. Makan dibawah pohon dengan iringan lagu slow mandarin sungguh membuat terlena. Pelayanannya pun cepat dan sigap. Selalu ada waitres yang berjaga disamping meja. Kebetulan ketika kami datang, ruangan masih setengah terisi pengunjung. Memang Kuningan City Mall ini masih tergolong baru dan belum ramai oleh pengunjung. 

Karena kami makan bersama bapak yang memiliki penyakit ginjal, maka kami harus memilih menu makanan sehat. Menu yang kami pilihpun harus minim rasa asin. Pilihan kami jatuh kepada menu san yu fillet tauge dan pocai enoki. Sedangkan kami berdua sepakat menambah menu udang telur asin untuk menyempurnakan rasa menu sebelumnya. Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun tiba dengan cepat. 

Menu pertama adalah san yu fillet tauge yaitu fillet ikan kerapu yang ditumis dengan toge. Penampilannya pucat yaitu fillet kerapu dan toge sama sama berwarna putih, diberi sedikit garnis daun bawang dan irisan cabe merah. Tumisan sedikit berkuah dengan bumbu minimalis bawang putih. Menu sehat kedua adalah pocai enoki yaitu tumis daun pocay dengan bumbu saus tiram, diatasnya diberi jamur enoki. Penampilannya mengundang selera, daun pocai yang hijau pekat diberi jamur enoki berwarna putih diatasnya, dikelilingi dengan kuah saus tiram yang berwarna coklat pekat. Kedua menu ini enak dan segar. Bapak pun makan dengan lahap dan nasinya habis.
Tapi makanan kami lebih enak karena dilengkapi dengan udang telur asin yaitu udang pacet yang berlumuran kuning telur asin yang berwarna keemasan. Rasa masir dari si telur asin sungguh nikmat terasa. Sayang udang isinya sedikit banget, cuma 8 potong, mana mahal lagi yaitu Rp 65.000. Fillet ikan kerapunya Rp 55.000 dan tumis pocainya Rp 45.000. Belum lagi harga minuman, jus jeruk sunkis Rp 22.000, teh tarik Rp 15.000 serta teh olong refill Rp 8.000. Ternyata si kacang merah itu bayar loh yaitu Rp 7.000. Parahnya lagi sampai rumah saya baru sadar bahwa tisu basah yang disediakan juga dicharged @ Rp 1.800. Alamak, pantas kami makan hanya 3 menu, kebanyakan sayur pula tapi bayarnya mahal banget sampai Rp 273.000. Haduh duh, untung dibayarin. Enak sih cuma mahal.

Tuesday, October 16, 2012

Makan diresto negeri Gajah Putih (**)



Siang ini kami berkunjung ke sebuah mall yang baru grand opening beberapa minggu yang lalu yaitu Lippo Mall Kemang village di jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Pembangunan mall ini belum sepenuhnya rampung, dan masih banyak yang harus diselesaikan. Mall ini berada didalam kompleks apartemen serta hotel JW Marriot, sehingga dengan tujuan menarik minat pembelian tempat tinggal maka mall tersebut dibuka terlebih dahulu daripada yang lainnya.
Belum banyak restaurant yang buka disini, tapi ada satu yang menarik hati kami yaitu Restaurant White Elephant, Thai cruisine. Restaurant ini tidak terletak didalam mall melainkan diberanda depan mall. Pengunjung bisa memilih bersantap diluar atau didalam ruangan. Memasuki ruangan resto yang tidak begitu luas, terlihat interior ruangan dihiasi dengan berbagai patung dan lukisan khas Thailand. Kamipun memilih duduk didalam ruangan.
Buku menu diberikan kepada kami, terdapat banyak menu yang terdiri dari appertizer, salads, soups, hidangan curry, hidangan utama yang terdiri dari masakan ikan, udang, kepiting, ayam, daging, bebek, sayur serta masakan dari nasi dan mi. Tak lupa aneka dessert dan minuman. Oleh waitress, kami ditawari chef specialty menu yang tidak terdapat didalam buku menu. Kuay tiew tom yam kedengarannya menarik, bolehlah kami pesan itu. Sebenarnya kami tertarik masakan bebek tapi hanya tersedia 2 pilihan menu dimana gambar menu bebek pertama seperti berkuah dan gambar menu bebek kedua seperti bebek disuir suir, akhirnya kami batal memilih menu bebek. Sebagai gantinya kami tergoda gambar menu kepiting yaitu poo jaa. Untuk sayurnya kami memilih pak boong phud ga pi, sebuah nama yang sulit untuk sebuah tumis kangkung. Untuk minumannya kami pilih ice greentea with milk dan thai ice coffe milk.
Pelayanan disini cukup bagus dan cepat. Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun segera tiba. Yang pertama, poo jaa yaitu cangkang kepiting yang diisi adonan daging kepiting dicampur dengan daging ayam, lalu digoreng hingga kecoklatan dengan balutan telur, sehingga telur berbentuk serabut. Ketika dimakan rasanya mirip perkedel tapi lembut dan enak serta merupakan favorit suami saya. Masakan kedua adalah tumis kangkung dengan taburan ebi, rasanya mantap banget, bumbu terasinya sungguh tajam, ditingkahi rasa ebi yang asin semakin meningkatkan selera makan kami. Terakhir adalah Kuay tiew tom yam yaitu mi soun yang berwarna bening dengan kuah tom yam dan topping ayam cincang serta toge. Ketika dimakan wuih saya terkejut dengan rasa pedas dan rasa unik dari cincangan kacang tanah yang tidak terlihat karena sudah bercampur dengan daging ayam cincang. Muka saya yang memerah karena kepedasan segera saya basuh tenggorokan saya dengan segelas thai ice coffe milk, hmm nikmatnya mak nyes. Untung tadi sudah saya tanya, kopinya keras ngga dilambung ? Katanya sih ngga, sehingga saya habiskan setengah gelas dan sisanya saya berikan kepada suami. Ice greentea with milk juga nikmat. Pengalaman kuliner ke negeri gajah putih ini menghabiskan dana sekitar seratus delapan puluhan, yang terdiri dari Poo jaa Rp 39.500, kuay tiew tom yam Rp 38.000 serta kangkung Rp 29.500. Sawadika, sampai jumpa lagi...

Thursday, October 04, 2012

Indonesia International Motor Show 2012

Belajar Fotografi sendiri, pakai Canon power shot G12. Bagaimana hasilnya ?