Thursday, January 14, 2010

ULASAN KULINER : PASAR MODERN BSD CITY (**)




Akibat dari seringnya membaca review tentang Pasar modern BSD city di dunia maya, yang menceritakan sebuah pasar tradisional tapi bersih, luas, teratur & komplit, serta ini yang paling penting, tempat yang cocok untuk wisata kuliner, membuat kami berdua mengunjungi pasar ini disuatu minggu pagi yang cerah, dengan niat sarapan pagi dong.
Karena kami belum pernah kesana, maka jalan yang ditempuh adalah (sebenarnya ini agak muter-muter) dari arah Jakarta kami masuk tol JORR, lalu keluar di pintu tol BSD, terus menuju mall BSD Junction yang tersambung dengan ITC BSD, kemudian putar balik, sesampainya kembali ke Junction langsung belok kiri ke jalan Letnan Sutopo, lurus terus, nanti juga ketemu…Masya Allah…itu disebelah kanan jalan terlihat parkiran mobil penuh banget, baik diluar maupun didalam kompleks pasar. Dalam hati langsung membaca ayat Al Kursi & langsung mendapat parkir didepan sebuah ruko, Alhamdulillah.
Bangunan ini bila dilihat dari luar adalah bangunan persegi empat dimana keempat sisi luarnya merupakan deretan ruko 2 lantai. Jadi sama sekali tidak kelihatan tanda-tanda adanya pasar disini. Kami pun berjalan menyusuri ruko ini dan menemukan gang bertuliskan jalan masuk pasar. Sesampainya didalam, wow, rupanya pasar ini berada didalam ruangan hall yang luas & berlangit-langit tinggi, sehingga sirkulasi udaranya menjadikan ruangan tidak panas (kaya lapangan futsall aja). Deretan los pasar berada ditengah ruangan, letaknya sangat teratur seperti los ikan, daging, sayur, buah, dll. Lalu disekelilingnya yakni di keempat sisi dalam bangunan terdapat aneka kios yang menjual sembako, berbagai masakan, baju, toko kado, dll. Para pengunjung berseliweran dengan membawa keranjang plastik yang diikat disebuah troli, sangat praktis, sehingga banyak bapak-bapak yang dengan setia menarik belanjaan istri nya. Tetapi keranjang tsb ngambil darimana ya ? Apakah disewakan ? belum ketemu jawabannya.
Perut kami yang dari pagi belum terisi semakin keroncongan mencium aneka aroma masakan yang harum tapi tidak tercium bau busuk yang berasal dari limbah pasar. Hebat kan. Walau lapar tetap kami tahan dulu sebentar, karena ingin berkeliling dulu sebentar untuk menjajaki, sarapan apa yang bakal kami santap. Cara ini membuat kami agak pusing & bingung memilih makan apa. Habis segala ada sih, dari masakan Indonesia sampai masakan cina, baik yang halal maupun yang haram, masakan extreme seperti ular juga ada, belum lagi aneka kue & aneka goreng yang baru diangkat dari wajan serta tak lupa kedai kopi. Lagi asik-asiknya tengok kiri tengok kanan eh malah ketemu temen sekantor yang memang rumahnya di BSD. Katanya “kok jauh amat belanjanya ?” He..he..he..jadi malu.
Akhirnya pilihan kami jatuh pada kios nasi gudeg & nasi liwet. Tapi yang dijual disini cukup beragam loh, ada nasi langgi, nasi pecel, soto, lontong sayur, dll. Duduknya di kursi kayu tinggi dan bermejakan kayu yang menempel disekeliling kios ini. Duduknya pun ngak boleh boros, harus berhimpitan saling berbagi dengan pengunjung yang lain. Aku pesen nasi liwet & suami pesen nasi pecel+krecek+telor+ayam opor+empal+rempeyek teri, rame banget ya. Nasi liwet ku berisi suwiran ayam, ½ telor, tim tahu, disiram areh (santan kental) & sayur labu berkuah merah dimangkok terpisah, dimakan bersama rempeyek, uenak tenan. Porsi nasinya cukup nendang diperut, jumlah lauknya juga seimbang, ngak pelit ngasihnya & yang pasti rasanya enak, sehingga tak terasa hidangan habis kami santap, nyam nyam.
Setelah perut penuh terisi, kami kembali berjalan-jalan menyusuri berbagai los & kios. Karena tidak ada rencana belanja, kami hanya membeli se ons teri medan untuk membuat kering tempe kacang teri, dan obat batuk herbal di sebuah toko obat cina untuk mengobati batuk ku yang tak kunjung sembuh. Rupanya didalam pasar ini restoran Oen Pao ada juga loh, penuh pula.
Setelah puas berjalan di dalam pasar, kami pun beralih menyusuri ruko diluar pasar. Sebagian besar ruko menjual masakan, tapi ada juga tempat kursus bahasa, kursus masak bogasari, ada toko peralatan bikin kue, terus ada sebuah toko pudding dimana pudding berbentuk imut, lucu & bagus banget serta aku ingat ini pernah dibahas di Detikfood. Ah aku jadi teringat ibu ku & tetangga geng kepompong ku, pasti mereka senang sekali diajak kesini.
Minggu depannya kami kesini lagi, tapi sekarang waktunya adalah malam hari. Jangan bingung ya, malam-malam ke pasar, mana pasarnya tutup pula. Karena kompleks ini menjelma menjadi wisata kuliner malam yang komplit buanget. Berbagai warung tenda buka disini, bahkan ada juga ruko makanan yang buka sejak pagi sampai malam. Mau masakan khas negara Jepang, Korea, Thailand, Cina, atau dari berbagai daerah di nusantara, ada disini, mantap kan.
Karena udara cukup dingin kami pun memilih makan shabu-shabu di Genji. Letaknya di dekat pintu timur pasar dan terdapat di 2 tempat yaitu didalam ruko & di warung tenda didepan ruko. Kami pun memilih bersantap didalam. Walaupun ruangannya cukup sempit, tapi saat itu lebih baik karena diluar gerimis sudah mulai turun.
Ketika lembaran menu disodorkan, tertulis ada 3 macam shabu, yaitu shabu-shabu : bumbu Jepang, kuah tom yam & iga sapi. Lalu ada 3 macam porsi, untuk sendiri, 2 & 3 orang. Isi nya bisa pilih : aneka daging baik lokal maupun import, udang, cumi, pangsit, baso, sayuran, tahu, jamur & telor. Bisa pake nasi, soun atau udon. Menu lainnya : iga bakar & yakiniku. Pilihan kami jatuh kepada shabu-shabu bumbu Jepang, yang direbus sendiri didalam sebuah mangkuk sapo, diatas kompor gas kecil diatas meja. Ketika dimakan, rasanya hmm sungguh enak & segar, kuah kaldunya juga sudah gurih. Nikmatnya sekelas dengan restoran, walaupun harga disini jauh lebih murah. Harga paling murah untuk baso-basoan adalah Rp 2.000 & yang paling mahal adalah daging new Zealand sirloin Rp 32.000.
Selesai menyantap makan malam, kamipun mengitari kompleks dengan memakai mobil, melihat-lihat warung yang ada. Sungguh beragam, dari masakan seafood, bubur ayam, Chinese food, Pattaya masakan Thailand sejenis shabu-shabu, bakmi Jogja, bebek goreng, dll pokoknya susah disebutkan saking banyaknya. Nah sekarang ngak bingung lagi kan kalo lagi pengen makan enak dengan budget terbatas.

Monday, December 28, 2009

ULASAN KULINER : BASO URAT BOBOHO (*)




Menunggu jam besuk sore hari di RS Azra Jl Raya Pajajaran Bogor sempat membuat kami bingung hendak menunggu dimana, karena kondisi cuaca yang hujan rintik-rintik membuat kami malas turun ketempat perbelajaan. Tapi tanpa sengaja kami melewati jalan Bangbarung Raya & melihat sebuah antrian parkir mobil disebuah tempat makan yang bernama Baso Urat Boboho, Jl. Bangbarung Raya no. 51, Bantarjati Bogor, telpon 0251 835 3774. Wah boleh juga nih, cocok untuk menunggu sambil mengisi perut & menghangatkan badan yang kedinginan akibat hujan ini.
Setelah kami memarkir mobil diseberang jalan, kami berpayungan & berlari memasuki tempat makan yang terbuka & sederhana ini, tapi cukup nyaman karena tempatnya lumayan luas & bersih. Pelayan disini cukup banyak & berseragam, dengan sigap menanyakan pesanan kami. Tapi karena baru sekali kesini, kami harus membaca daftar menu yang tersedia dimeja, isinya adalah mi baso urat 1 porsi Rp 10.000, kalau ½ porsi Rp 8.000, ada juga mi yamin Rp 7.000, bila plus baso menjadi Rp 11.000. Minumannya yang tersedia adalah aneka jus & aneka varian es seperti es teller, es campur, es kelapa & es jeruk, semua dibanderol dengan harga @ Rp 7.000. Nah pesanan ku adalah seporsi baso urat tanpa mi, sedangkan pesanan suami adalah mi yamin baso. Terus walapun kedinginan, kami tak mampu menolak semangkuk es teller.
Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun segera tiba. Semangkok baso berisi 1 baso urat besar yang dibelah 4 seperti kembang, 4 baso halus kecil, toge mentah, sawi, bawang goreng & ada beberapa potongan kecil kecoklatan yang mengambang. Apa ini ? Segera ku sendok & ku kunyah, oh rupanya ini adalah gajih atau tetelan yang digoreng garing, jadi rasanya kriuk kriuk gurih serasi dimakan bersama kuah baso yang bening, gurih & tak berminyak. Nyam nyam. Untunglah aku memesan baso tanpa toge & sawi, karena aroma toge dengan kuat menyeruak seiring dengan asap kuah baso yang panas. Kalau aku sih tak lupa memasukkan potongan kripik pangsit yang tersedia didalam keranjang plastik. Nah kalau suami tak lupa memasukkan sambal cabe rawit hijau. Kulirik mi yamin nya yang berwarna kecoklat & bertabur bawang goreng, kelihatannya cuma sedikit. Kucicipi sedikit, rasanya, hem bagaimana ya, kok lengket ya, wah kayanya aku ngak doyan nih. Setelah selesai menyantap sajian, badan sudah mulai agak berkeringat, tapi segera kami dinginkan lagi dengan menyeruput es teller, ah nikmat, dingin menyegarkan, menghapus rasa gurih & pedas sisa baso tadi. Secara keseluruhan sajian ini pantas direkomendasikan karena isi nya yang unik, rasanya enak & ramah dikantong.

ULASAN KULINER : RUMAH SUMSUM (**)





Kedatangan kami ke Bogor disambut hujan deras sekali, sehingga kami yang berada didalam mobil menjadi mengigil kedinginan. Akhirnya rencana makan siang kami mencari soto mi menjadi gagal total, karena malas kehujanan pas turun dari mobil. Tapi perut lapar memaksa kami menyusuri jalanan mencari-cari tempat makan alternative yang lebih nyaman & tidak kehujanan. Kebetulan sekali ketika melewati jalan Lawang Gintung no. 21 (Bogor Selatan 16134), perlahan kami menepi karena tertarik pada papan nama sebuah rumah makan yaitu Rumah Sumsum (telpon 0251 831 4579). Wah suami ku sungguh berbinar-binar menemukan makanan favorit nya yang jarang ada. Sungguh cocok untuk menghangatkan badan yang kedinginan ini. Tapi dalam hati ku berharap, semoga ada menu lain karena saya tidak doyan sumsum.
Pelayan dengan sigap memayungi kami sampai kedalam rumah makan dengan desain terbuka ini. Tempatnya cukup nyaman, bersih, tidak terlalu luas tapi tidak sempit. Kami segera mempelajari menu yang disodorkan & untunglah lumayan beragam, yaitu menu aneka sate, iga, ayam, empal, sop sumsum, sop buntut, sop kambing, sop ayam kampung, aneka nasi bakar yang ternyata semua pedas serta nasi sunda. Terus ada juga dessert andalan yaitu es bubur sumsum, yang langsung kami pesan. Suami ku segera memilih nasi bakar sumsum plus sop sumsum, sedangkan aku tadinya memilih nasi sunda, tapi ayamnya bukan ayam kampung sehingga beralih memilih sop ayam kampung.
Ketika pesanan datang, mata kami terbelalak melihat ukuran tulang sumsum didalam sop, wow besar sekali ya. Kayanya kami belum pernah menemukan ukuran tulang sebesar ini di rumah makan di Jakarta. Tulang yang penuh dengan sumsum ini disajikan didalam kuah sop panas dalam sebuah mangkuk putih & berisi potongan wortel, kentang, daun bawang, tomat, bawang goreng serta potongan kecil daging sapi, lalu diberi sedotan besar serta sendok kecil bergagang panjang. Sedikit kucicipi sumsumnya yang berlemak & kuah sopnya yang bening tapi gurih ini, hmm enak. Suami ku langsung seruput seruput slruup, asik menyedot si sumsum dalam tulang.
Kemudian dia mulai membuka nasi bakarnya yang berukuran tidak terlalu besar ini, nasi disajikan diatas piring bersama potongan bawang merah & cabe merah serta sambal kacang. Ketika daun pisang dibuka, wuih sungguh berminyak, karena nasi dicampur dengan sambal merah & sumsum lalu dibakar, sehingga nasi menjadi merah & berminyak. Ketika kucicipi rasa nasi gurih-gurih pedas & sungguh berlemak. Oh no. Kulihat dia sih asik asik saja melahap sajian ini. Hmm be careful darling, jangan keseringan.
Sekarang giliran ku nih, sop ayam disajikan dalam mangkuk, kuahnya berwarna bening kekuningan tapi tidak terlalu berminyak, berisi suwiran ayam, irisan kol, potongan tomat, daun bawang & bawang goreng. Ketika kumakan, hmm rasanya gurih nikmat, tak berlemak. Tak memerlukan waktu lama bagi kami untuk menandaskan sajian panas mengenyangkan ini.
Nah sekarang giliran dessertnya, penampilannya sungguh mantap, disajikan dalam gelas tinggi, isinya secara berurutan adalah potongan nangka paling bawah, lalu potongan bubur sumsum hijau, lalu cente manis merah bulat, lalu diberi es batu serta susu kental manis putih & coklat. Rasa wow, unik, manis & menyegarkan, nyam nyam slruup. Nikmatnya rasa manis ini cocok menghalau rasa gurih, pedas & berlemak sisa santap siang kami.
Rumah makan ini pantas direkomendasikan, harganya pun masuk akal, berkisar antara Rp 12.000 – Rp 23.000 & minumannya berkisar antara Rp 2.000 – Rp 12.000. Sedangkan menu yang kami makan adalah nasi bakar Rp 12.000, sop sumsum Rp 23.000, sop ayam Rp 19.000, nasi putih Rp 3.000 & es bubur sumsum Rp 12.000, total kami membayar Rp 69.000 plus 2 gelas teh panas gratis. Nah boleh tuh dicoba, asal ingat kadar kolestrol anda.

Sunday, December 27, 2009

ULASAN KULINER : SAUNG DESA (*)




Jalan Cipete Raya Jakarta Selatan sungguh kaya akan pilihan kulinernya, dari awal sampai ujung jalan padat dengan berbagai pilihan tempat makan, dari martabak sampai steak. Masakan Indonesia saja ada beberapa resto seperti Dapur Sunda, Sambara, Sate Tomang hingga Ikan Bakar Cianjur. Bahkan sekarang bertambah 1 resto lagi yaitu Saung Desa, Jl. Cipete II no 1 Jak Sel 12410, telpon 021766 7000, Fax 021 766 2680. Walaupun belum begitu lama berdiri, resto ini sudah mendapatkan hati para penggemarnya, terbukti dari parkirannya yang selalu penuh terisi, & menimbulkan rasa penasaran kami yang sering melewati jalan ini.
Akhirnya kesempatan itu datang juga. Saya bersama suami pun mampir untuk makan siang. Memasuki resto ini, ruangan lumayan luas & nyaman, interiornya mirip-mirip dengan resto-resto masakan sunda lainnya yang berada dijalan yang sama. Disebelah kiri ruangan kita langsung berhadapan dengan display makanan yang panjang & bisa langsung kita pilih, terdiri dari aneka jenis masakan ayam, bebek, ikan, pepes, tumis serta aneka lauk pelengkap. Tetapi apabila kita langsung dudukpun akan disodori buku menu yang berisi aneka menu seafood yang lumayan lengkap.
Karena kami berniat makan ikan gurame dan jenis pilihan masakannya banyak, maka kami pun bertanya, jenis masakan apa yang menjadi unggulan. Pelayan menyarankan ikan gurame goreng saus saung desa dan kami pun setuju. Sebagai tambahan kami memilih tumisan jamur, daun singkong, serta ikan asin kapas cabe ijo. Minumannya kami pilih kiwi fantasi yang gambarnya mengundang selera.
Karena kata pelayannya, saus saung desa itu sedikit pedas, maka kami ingin penyajiannya dipisah. Ikan disajikan dipiring, tidak melengkung, penampilan sausnya merah, berisi potongan tomat, cabe merah, daun bawang, bawang putih & kemangi, penampilan & rasanya mirip saus asam manis, cuma bedanya ini sedikit lebih pedas. Tambahan lauk lainnya rasanya standard saja, tidak istimewa, bahkan ikan asinnya keras & tidak kriuk gitu loh, jadi beda dari bayangan. Secara keseluruhan rasa masakan ini standard tapi lumayanlah, sebagai alternative restorant sejenis.
Yang lumayan istimewa justru jus nya, si kiwi fantasi adalah jus dalam gelas tinggi, terdiri dari 3 lapis jus yaitu paling bawah jus kiwi warna hijau, jus jeruk warna kuning, jus sirsak warna putih. Perpaduan rasa kiwi yang paling asam, rasa jeruk yang manis asam & rasa sirsak yang manis saja menjadikan rasa jus ini menjadi segar & unik, cocok banget untuk membilas rasa pedas & gurih yang tersisa dari lauk makan siang tadi.
Mengenai range harga disini juga standard kok, menu yang dalam display antara Rp 3.500 – Rp 27.000, sedangkan harga menu seafood per 100 gr antara Rp 7.500 – Rp 24.000 (udang pancet). Kami sendiri menghabiskan Rp 113.000 incl tax. Nah silahkan mencoba alternatif baru.

Thursday, December 24, 2009

ULASAN KULINER : SOUP RESTAURANT (**)


Soup Restaurant ? Sebelumnya aku sama sekali tidak tau mengenai keberadaan restaurant ini, maklumlah karena letaknya berada di Plaza Indonesia lt. 3 no 22, Jl. MH Thamrin 28-30, Jak Pus, telpon 021 3983 8220, dan aku jarang banget ke Plaza ini. Tetapi kemudian aku telah memenangkan voucher makan gratis dari Detikfood, dan jadilah malam minggu lalu aku mengajak suami beserta orangtua makan kesini. Sebelumnya ku telfon dulu dong untuk mereserved tempat & memastikan kehalalannya, yang Alhamdulillah halal.
Sesampainya disana, rupanya restaurant ini sungguh penuh & ada antrian didepan pintu masuk. Untunglah aku sudah reserved. Kami mendapat meja bulat dipojok ruangan. Walaupun restaurant ini cukup luas karena terdiri dari 3 kavlling (dari no 22-24), tetapi tetap saja terasa agak sesak karena penuhnya pengunjung, meja yang berdempetan & pelayan yang sibuk hilir mudik melayani pengunjung.
Segera kami membaca & mendiskusikan berbagai pilihan menu kami. Walaupun judulnya Soup Restaurant, menu disini rupanya cukup banyak & bervariatif. Menu soup nya sendiri hanya 8 jenis. Sedangkan menu lainnya adalah berbagai menu ayam, daging sapi, seafood, mi, nasi, sayur bahkan daging rusa. Semua menu ini sangat kental dengan nuansa khas tradisional cina dan banyak memakai bahan-bahan herbal, sehingga makanannya dipastikan cenderung menuju ke makanan sehat. Bahkan menu supnya bisa menjadi obat. Hal ini bisa terlihat dari judul supnya & bahan supnya, yaitu sup ayam dengan tim waisan & akar gingseng, sup ayam hitam dengan tim scallop kering, sup ayam dengan labu & kurma cina, sup ayam dengan tien chee, sup buntut herbal dll dimana rempah-rempah khas tradisional cina ini sebagian besar aku memang kurang familier.
Untunglah didalam buku menu ini, semua menu ada gambarnya, sehingga memudahkan kami. Maka pilihan kami adalah Sup buntut helbal, tahu sapi cincang, nasi tim ayam jamur, nasi goreng yangchow, selada saus tiram & nasi sapo sapi. Sengaja kami pilih menu yang familier karena takut tidak doyan. Sembari menunggu pesanan kami datang, pelayan menghidangkan sepiring kacang tanah rebus yang ukuran kacangnya besar-besar & ketika dimakan rasanya enak sekali, manis & sangat empuk, hmm aku sampai ketagihan. Rupanya pelayanan disini cepat sekali ya, apalagi kalau mengingat pengunjung yang penuh. Tak berapa lama sup buntut pun datang, disusul pesanan kami yang lainnya. Semua disajikan dalam piring & mangkuk saji keramik putih.
Pertama kucicipi sup buntutnya yang berisi beberapa potong tulang buntut, wortel & kentang, rasanya sangat alami, tanpa rasa msg, cenderung manis yang berasal dari kaldu & rempah-rempahnya serta tidak berlemak, jauh deh dengan rasa sup buntut kebanyakan, terus daging buntutnya itu loh empuk banget, jadi ngak perlu cape mengunyah. Kemudian kuambil nasi gorengnya, yang berwarna putih kekuningan dan berisi telur orak arik, rasanya enak & pas bumbunya. Kemudian tahu sapi cincang adalah tahu sutra yang sudah dihancurkan dan dicampur dengan tumisan daging sapi cincang, rasanya empuk & terasa asin manisnya. Nasi timnya adalah nasi yang dikukus bersama 2 potong ayam & jamur utuh, rasanya juga enak & bumbu rempahnya terasa sangat meresap. Sedangkan nasi sapo sapi adalah nasi yang disajikan dalam mangkuk sapo, kemudian permukaan nasi ditutupi daging sapi cincang yang empuk & rasanya gurih manis, lalu dihiasi oleh sebuah kuning telur matang yang utuh, hmm cantik & lezat. Terakhir selada saus tiram adalah selada yang ditumis dalam saus tiram. Pokoknya keseluruhan masakan rasanya enak, pas bumbunya, terasa asin manisnya, semua lauknya empuk & tidak terasa pemakaian msg. Pantas diancungi jempol. Pantesan semua orang rela antri demi masakan lezat & menyehatkan ini.
Mengenai harganya adalah sup buntut Rp 45.000, tahu sapi Rp 35.000, nasi tim Rp 28.000, Nasi goreng Rp 35.000, nasi sapo Rp 32.000 & selada Rp 32.000. Tapi kenapa ya nasi sapo yang penuh dengan daging sapi cincang & diberi telur itu sama harganya dengansepiring selada ya ? Sungguh aneh. Harga minumannya adalah fresh orange Rp 25.000 & es teh Rp 8.000. Yang mengagetkan & saya sesali adalah ditagihnya kacang rebus Rp 7.000 serta 4 tisu basah @ Rp 500. Ih maksa banget. Sebagai catatan, disini tidak disediakan wastafel sehingga apabila ingin cuci tangan harus keluar restaurant dan berjalan agak jauh ke toilet umum. Aduh. Total ku membayar hanya Rp 65.835 aja, itu setelah dikurangi voucher sejumlah Rp 200.000. Terima kasih Detikfood atas kesempatannya untuk menikmati pengalaman baru kuliner lezat & menyehatkan ini.

Sunday, December 20, 2009

ULASAN KULINER di : TERASKOTA





TERASKOTA ENTERTAINMENT CENTER, Jl. Pahlawan Seribu, CBD Lot VII B, Lengkong Gudang Serpong, BSD City 15322

1. AUNTY LI KOPITIAM (*)


Nasi Dagang ? Wah kayanya baru denger tuh. Begini ceritanya, ketika aku mengunjungi sebuah entertainment center didaerah BSD yaitu “Teras kota” minggu lalu, dan ingin mencoba kenikmatan kuliner baru untuk makan siang, mata langsung tertumbuk pada sebuah kedai yang bertuliskan “Aunty Li Kopitiam”. Hmm boleh juga nih dicoba.
Memasuki ruang kedai ini, ruangannya benar-benar kecil & pas-pasan. Didalam hanya tersedia sebuah meja bulat besar & sebuah meja kotak kecil. Karena aku cuma makan berdua, otomatis ku menempati meja yang kecil tsb. Di teras depan juga dipasangi beberapa meja sih, tapi karena udara sedang panas, maka kami lebih memilih duduk didalam ruangan saja.
Menu yang disajikan disini rupanya tidak terlalu beragam, tapi benar-benar masakan andalan disini. Jadi ketika saya bertanya apa menu andalan disini, jawabannya adalah nasi dagang & mi kacang. Nama masakan ini terasa asing ditelinga kami sehingga kami pun bertanya daerah asal masakan ini, yaitu kuliner khas kepulauan Riau.
Menu nasi dagang disajikan dengan berbagai pilihan yaitu porsi kecil yang dibungkus dengan daun & porsi besar yang disajikan dipiring dengan pilihan lauk ayam atau lauk daging sapi, telur & ikan teri goreng. Nah saya pun memilih dengan ayam goreng. Lalu ada menu mi, yaitu mi kacang sebagai menu andalan tidaklah kami pilih, tetapi suami ku lebih memilih mi ayam biasa. Tersedia juga menu lontong melayu, otak-otak serta beberapa pilihan minuman teh & kopi.
Sambil menunggu pesanan kami tiba, saya mulai mengamati ruangan ini. Didinding belakangnya terpampang sebuah poster merah menyala yang berisi gambar Aunty Li, lalu huruf kanji cina & tulisan “Aunty Li Kopitiam” dibawahnya, lalu dibawahnya lagi ada tulisan “History of Aunty Li Kopitiam”, lalu dibawahnya ditulis sejarah yang menerangkan bahwa Aunty Li ini berasal dari keluarga peranakan Cina Malaysia yang menyajikan kuliner dengan resep keluarganya yang turun temurun. Terus dinding sebelah kanan juga dipenuhi poster gambar masakan yang disajikan disini, hmm tampak menggiurkan. Sedangkan didinding sebelah kiri ada sebuah jendela sebagai tempat mengeluarkan masakan dari ruang dapur.
Tak lama datanglah pesanan kami. Rupanya nasi dagang itu adalah nasi yang dimasak bersama rempah-rempah dan diaduk bersama butiran kacang hijau kecil sehingga warna nasi menjadi agak kecoklatan, rasanya hmm enak & gurih, nasinya pulen & wangi aroma rempah. Nasi disajikan bersama ayam goreng sesuai dengan pesananku, tapi ayam gorengnya tidaklah istimewa & bahkan bukan ayam kampung. Kemudian diberi sambal merah, krupuk serta hiasan timun, tomat & kol.
Kemudian mi ayamnya adalah mi yang diberi ayam cincang yang berbumbu warna coklat serta irisan ayam merah, lalu diberi toge mentah & sayur sawi, serta disajikan dengan kuah yang terpisah. Rasanya enak & gurih, mi terasa lentur, tapi porsinya tidak terlalu besar sehingga dalam hitungan menit, mi pun segera tandas.
Selesai menyantap makan siang kami yang bercitarasa gurih, memang pas bila dibilas dengan es susu yang rasanya manis, berwarna pink serta berisi cente manis, hmm segar. Harga makanan nya pun tidak membuat kantong kering yaitu nasi dagang Rp 19.500, mi ayam Rp 14.500 & es susu Rp 10.000 sehingga kami cukup membayar Rp 49.125 saja. Nah mari kunjungi kedai dengan citarasa unik ini. Telfon 021 300 25 800.

2. Menghapus Stress Dengan Cup O'Brownie (***)

This summary is not available. Please click here to view the post.

Friday, December 18, 2009

ULASAN KULINER : TOKO COKLAT (*)












Toko Coklat, Jl. Cimanuk no 5, Bandung, telp 022 7273481

Monday, December 14, 2009

ULASAN KULINER : RM PAGI SORE – MASAKAN PADANG MEDAN (***)

Yang namanya rumah makan padang banyak banget, ada disetiap sudut jalan. Tetapi walaupun rumah makan padang semakin menjamur, rumah makan yang sudah lama berdiri, jarang yang kehilangan pelanggannya, yang ada malah bertambah pelanggannya, apalagi bila rumah makan padang tsb sudah mempunyai ciri khas masakan yang sangat digemari para pelanggan fanatiknya.
Contohnya adalah rumah makan Pagi Sore masakan Padang-Medan di Jl. Jend. Sudirman, Pasar Bendungan Hilir no 36A Jakarta 10210, telpon 021 5738941. Secara memang di ps Benhil adalah gudangnya kuliner lezat.
Caranya kesana adalah dari jalan Sudirman kan belok kiri ke arah pasar Benhil, lurus terus melewati bangunan pasar, tidak jauh, sampai ketemu RM Sunda Ampera disebelah kiri jalan, sedangkan disebelah kanan ada restoran Kentucki fried chicken, ada jalan, langsung belok kanan, beberapa langkah kemudian ada deh RM Pagi Sore disebelah kiri jalan.
Ciri-ciri rumah makan ini adalah sebuah bangunan sederhana, bercat putih & berukuran sedang, dimana di bagian teras depannya pun dipasang meja kursi, yang ditutupi kain spanduk, sehingga yang makan diteras tidak terlalu terlihat & terlindung dari panas. Lalu dipintu masuk ada seorang pengamen yang duduk dengan gitar kecilnya & menyanyikan lagu-lagu tempo doeloe.
Terus terang saya adalah pelanggan berat RM ini. Kalau sudah sebulan saja tidak makan kesini rasanya kangen berat, padahal saya sudah ratusan kali makan kesini. Dan jelas saya sudah kenal sama pemilik & para pelayannya.
Kalau saya & teman-teman kantor makan kesini, mereka langsung cari tempat duduk, karena dapat dipastikan, meja kursi disini hampir selalu penuh alias antri, sedangkan tugasku adalah langsung ketempat Uda dibagian display makanan. Saya tinggal bilang “Pak, panjang 5 potong” kataku. “Iya duduk aja, nanti saya antar”, kata Uda.
Jadi yang dimaksud dengan “panjang” itu adalah potongan ikan kakap goreng dibagian perut tengah, sehingga bentuk potongan ikannya panjang, mengikuti bentuk tulangnya. Jadi tinggal sebut “panjang” artinya kami semua memesan ikan kakap goreng. Ini adalah menu unggulan disini. Selain itu ada juga ikan kerapu goreng & ikan kakap masak asam padeh yang sama lezat nya.
Tapi apabila ingin makan disini, jangan sampai terlambat datang, apalagi kalau sudah lewat dari pk 12.30, kadang kami tidak kebagian ikan kakap gorengnya. Masih mending kalau kebagian pun bentuk potongan ikannya bantet-bantet karena bukan bagian perut tengahnya. Maka hari yang agak luang untuk makan disini adalah hari Jumat, dimana para lelaki masih sholat Jumat.
Setelah kami duduk, tak lama diantarlah pesanan kami, yaitu ikan kakap goreng, nasi putih (jangan minta setengah, seporsi pasti habis), disajikan bersama sayur daun singkong, urap, sambal cabe merah yang sangat berminyak, ikan asin (biasanya jambrong), serta yang paling penting adalah sepiring kecil kuah taoco. Itu kalau lagi komplit, tapi biasanya kami sering kehabisan urap & ikan asinnya.
Ikan kakap ini rasanya uenak banget karena bumbunya sudah meresap kedalam daging ikan. Sambalnya hmm juara, kuah taoco nya yahud punya. Pokoknya makan pasti lahap deh apalagi kalau ditambah krupuk putih. Kalau aku yang makan sih, ikan cukup sepotong saja karena ukurannya cukup besar, tapi kalau yang makan itu para lelaki biasanya minimal 2 potong.
Selain ikan kakap, ku juga pernah makan ikan kerapu goreng, tapi seringnya kehabisan sih. Rasanya juga sama lezatnya. Lalu ada juga temanku yang penggemar ikan masak asam padeh yaitu masakan ikan dalam kuah yang bercabe, bumbunya hampir sama dengan bumbu rendang, tapi tidak memakai santan. Pokoknya menu unggulan disini adalah ikan, walaupun ada juga masakan ayam & dagingnya, tapi kami belum pernah mencobanya.
Para pelanggan disini adalah 75% laki-laki karena hanya kaum lelakilah yang tahan makan ditempat panas, pasti keringetan & banyak kucing berseliweran. Jadi kaum wanita yang 25% itulah yang paling tau, panasnya makan disini sebanding dengan kelezatan makanan yang disantapnya. Bahkan kadang ku kasian kepada kucing yang mengeong memelas dikolong kursiku, karena ku tak kan rela berbagi secuil ikan untuknya.
Oh ya, sedikit tips untuk para wanita, kalau makan disini lebih baik memakai celana panjang, biar gampang menendang kucing & jangan memakai baju blazer atau jas, karena baju bisa basah kuyup, serta kalau sudah tiba dikantor segeralah memakai parfum.
Untuk harganya sangat murah bagi masakan selezat ini karena harga sepotong ikan kakap hanya Rp 13.000. Tapi yang namanya sambal, sayur & kuah taoconya gratis walaupun nambah porsinya. Jadi yang bayar cuma nasi, minum, krupuk, ikan asin & urap. Nah bagaimana, siap mencoba rasa kelas 1, harga kaki lima ?

Wednesday, December 09, 2009

ULASAN KULINER : TREE HOUSE CAFÉ (**)














Sudah lama tidak mengunjungi rumah kakak ipar di jl Imam Bonjol di kawasan Dago Bandung, maka ku sangat antusias ketika melihat sebuah café baru di ujung jalan masuk yang kelihatannya menarik sekali. Café yang dominan warna hijau itu penuh dengan lampu lampion & lampu-lampu kecil, dan sesuai namanya, ada sebuah rumah pohon kecil yang dilengkapi berbagai mainan anak-anak dihalamannya. Terus ada tulisan Home Made Recipe Sausages yang tertera di bagian pinggir café. Dalam hatiku, semoga ada menu lain yang tak kalah enak.
Akhirnya setelah selesai bersilahturahmi, datanglah kesempatan untuk mengunjungi café pada malam hari. Dari luar terlihat suasana begitu cantik & romantis akibat sorotan lampu serta cerah ceria akibat warna dominan hijau muda.
Café ini berasal dari sebuah rumah hook diujung jalan antara jl Hassanudin dengan jl Imam Bonjol, alamat tepatnya jl Hassanudin no 5 Bandung 40132, telpon 022 2533 647.
Karena letak café yang tinggi dari jalan raya, maka kita harus naik beberapa anak tangga batu dihalaman depan, dimana setiap anak tangga dihiasi oleh piring-piring keramik yang ditempel. Begitu pula ketika duduk dikursi yang terbuat dari kayu, senderannya dihiasi keramik-keramik kecil. Atapnya berupa kain terpal panjang bergelombang warna hijau dan putih selang seling, disepanjang terpal digantungi lampu-lampu lampion bulat warna hijau putih juga. Disebelah kanan tangga masuk ada sebuah kolam ikan kecil yang pinggirannya dihiasi batu-batu besar. Di dekat kolam ada tempat duduk yang terbuat dari batu yang melingkar & senderannya juga dilapisi keramik, serta ada juga kursi-kursi terbuat dari besi yang berwarna putih. Lalu ada juga sebuah kursi rotan warna putih yang digantung ditali sehingga berfungsi sebagai ayunan. Hmm benar-benar unik. Bagian dalam ruangan tak kalah unik, romantis & ceria. Karena dinding dihiasi wallpaper bunga-bunga, sofa rotan bantalannya juga bunga-bunga. Ah indahnya.
Nah sekarang kita akan memesan menu. Seperti biasa kalo café yang penuh dengan pengunjung, para pelayannya sangat sibuk. Jadi agak susah memanggil pelayan. Ketika buku menu disodorkan, rupanya banyak juga variannya. Dari masakan Indonesia seperti sop buntut, nasi bakar, nasi timbel, menu ala western ada burger & sosis sebagai menu andalan. Menu ala itali ada pizza & pasta. Dessertnya ada pancake & ice cream. Karena perut sedang tidak begitu lapar, maka ku pilih dessert yang agak ringan diperut. Tapi sebagai penggemar coklat, ku bingung memilih antara milkshake dark chocolate with ice cream atau all about chocolate yaitu ice cream coklat dengan wafer coklat. Akhirnya kupilih yang terakhir. Suamiku memilih country burger & cozy hot chocolate.
Sambil menunggu datangnya pesanan, ku melihat-lihat rumah pohonnya itu berupa rumah kayu kecil yang menempel disebuah pohon, dan bisa menampung beberapa orang anak kecil. Tinggi tangganya cuma setinggi badanku saja. Lalu dari rumah itu terbentang sebuah tali untuk flying fox mini. Aduh serunya anak-anak itu bermain.
Akhirnya pesanan kami datang. Sebelumnya kakak ipar ku bilang makanan disini lumayan enak cuma ngak kenyang & berat diongkos. Jadi aku ngebanyangin ice creamnya paling cuma 1 scop aja. Ternyata yang datang adalah sebuah mangkuk putih yang berisi 2 scop ice cream coklat yang dihiasi sebuah wafer bulat panjang, sirup coklat, chocolate chips & ditaburi dark chocolate bubuk. Rasa dark cocholatenya kental plus ada rasa rumnya, hmm nyummi. Hot chocolatenya juga nyummi, secangkir coklat panas plus susu berhiaskan marsmalow & ditaburi dark chocolate bubuk, top bgt. Cangkirnya juga cantik banget, motif bunga-bunga. Sekarang burgernya, isinya daging sapi, telor mata sapi, selada & mayones, disajikan bersama kentang goreng. Enak & kenyang sih, dagingnya empuk pula, nyam 3x.
Mengenai harganya nih, burger Rp 17.000, ice cream Rp 14.000 & Hot chocolate Rp 12.000. Dasar orang Jakarta, ku sebut ini harga yang terjangkau. Sebab kalo di Jakarta sih belum pernah nemu café seindah ini memasang harga ramah dikantong. Makanya kalo libur panjang, Bandung suka macet euy. Selamat datang di Bandung.