Sunday, May 24, 2009

ULASAN KULINER PENANG BISTRO (***)





Penang Bistro, dari namanya aja udah ketahuan ini masakan Malaysia. Terbayang sudah nasi lemak, gulai, kari, dan masakan lainnya yang tidak jauh dari santan. Hampir mirip dengan masakan Padang, jadi agak malas mencobanya. Tapi sekarang image itu sudah berubah 180 derajat. Kenapa ? Ini dia kisahnya.
Untuk merayakan farewell dinner temen kantor ku, maka ku tanya sama dia, mau makan dimana. Jawabannya adalah Penang Bistro. “Enak kok mba, temen-temen kantor suamiku sering makan disini, cobain yuk” katanya. Ya okelah minta menunya dulu, di fax ke kantor. Rupanya menunya cukup variatif loh, dan hilanglah bayangan gulai & nasi lemak itu.
Menu ala carte nya terdiri dari :
1. Appetizer & soup, diantaranya roti canai, satay, shark fin soup, tom yam soup, seafood soup. Harganya antara 19.000-27.000 kecuali shark fin 125.000.
2. Noodle & rice, diantaranya kway teow, mee goreng, bee hoon, mee shua, laksa, nasi lemak, nasi hainam, nasi goreng. Harganya antara 35.000-42.000.
3. Beef & poultry, diantaranya manggo chicken, ayam goreng terasi, roasted chicken tangry sauce, claypot chicken curry, kung pao chicken, sizzling beef, black pepper beef, beef oriental sauce. Harga chicken antara 43.000-48.000 & harga beef antara 79.000-81.000.
4. Vegetable, diantaranya buncis, kangkung, tahu, kalian, tau miaw, mushroom. Harganya antara 38.000-45.000.
5. Seafood, diantaranya berbagai jenis udang, kepiting, cumi, ikan, kerang. Harganya minimal 34.000 sampai tergantung harga per ons nya.
6. Dessert, diantaranya es kacang, durian cendol, pulut hitam, merah delima, es campur, ice cream, mantao, mixed fruit & jus. Harganya antara 16.000-39.000.
Wah jadi lapar mata nih. Tapi karena harganya lumayan mahal & kita juga memilih makan tengah, maka pilihan menu kami jatuh pada : roti canai chicken curry & Roti canai tissue sebagai pembuka, nasi dengan lauk udang mayones, ayam goreng terasi, kailan ikan asin, Malay mee goreng, 3 kind baby mushroom, dessert es kacang, ice pink guava, jus kopyor & fruit platter.
Sekarang pilihan lokasinya, ada 3 nih di Jl. Pakubuwono VI no 2 Jak Sel, Jl. Kebon sirih raya no 59 Jak Pus & Oakwood residence Jl. Lingkar mega kuningan. Nah kami pilih lokasi di Oakwood, karena cukup adil bila dijangkau dari gd. BEI & Grand Melia. Telponnya 021 2554 2318-19.
Tibalah hari H, kami berangkat setelah Magrib dari BEI, dan jalanan macet karena besok adalah long weekend. Tapi rasa cape kami terobati setelah sampai di tempat. Oakwood residence adalah sebuah apartemen diseberang mall Ambasador, dimana ruang lobi masuknya dipenuhi dengan berbagai café & restoran, dan Penang bistro terletak di lobi lantai 2. Memasuki ruang restorannya yang bagus & mewah, dengan karpet tebal, kami mendapat meja bundar dengan pemandangan keluar. Pengunjungnya cukup banyak, berpenampilan keren & banyak bulenya. Kita langsung rileks & nyaman, hanyut dalam obrolan & foto-foto. Setelah semua teman berkumpul, langsung ku pesan menu sesuai kesepakatan semula.
Istimewanya pelayanan di sini cepet juga ya. Tidak begitu lama, roti canai kami tiba dimeja. Roti berbentuk lipatan dan tipis, lalu digoreng sehingga roti mengembang, garing, berwarna kuning kecoklatan, pinggirannya kriuk-kriuk crunchy dan bagian tengahnya empuk, disajikan bersama kari ayam. Cara makannya roti disobek, dan dicocol ke kari. Wuih enaknya, roti yang rasanya gurih dicocol ke kuah kari yang kental, kaya akan bumbu rempah & rasa karinya tajam, walaupun memakai ayam tapi rasanya seperti memakai daging kambing & wangi. Sedap nian deh, istimewa. Lalu roti canai tissue adalah roti canai yang lebih super tipis lagi seperti tissue, sehingga digoreng sehingga garing & melengkung. Roti berwarna putih agak kecoklat disana-sini. Roti yang kering renyah rapuh rasanya enak, manis gurih karena memakai butter & susu kental manis.
Dalam sekejap hidangan pembuka kami ludes, tapi tak berapa lama hidangan utama pun datang. Udang mayones adalah udang digoreng tepung lalu diselimuti mayones, ukuran udangnya besar-besar & rasanya enak & gurih. Ayam goreng terasi adalah potongan ayam dengan tulangnya, yang digoreng tepung yang telah mengandung bumbu-bumbu & terasi, hingga kering & berwarna coklat, rasanya enak & gurih. Kailan ikan asin adalah tumis sayur kailan yang ditaburi dengan potongan ikan asin jambal roti, sayur terasa segar & enak. Malay mee goreng adalah mi goreng yang mirip dengan mi aceh gitu, dimana rasanya kaya akan rempah, tidak begitu asin, campurannya adalah telur, kentang goreng yang dipotong kotak-kotak, toge serta udang & cumi. Terakhir, 3 kind baby mushroom adalah 3 jenis jamur yang masih kecil-kecil yang ditumis bersama jagung putren & bokcoy, bumbu tumisannya itu berwarna coklat yang rasanya asam segar & tidak begitu asin. Semua masakan ini bumbunya sangat pas & nikmat.
Akhirnya dessert time. Fruit platter terdiri dari potongan buah melon, semangka & jeruk sunkis, isinya banyak & segar. Es kacang adalah semacam es campur yang berisi berbagai kacang kecil-kecil seperti kedelai, ditambah potongan cincau hitam & cente manis kecil-kecil dan warna warni, ditutupi dengan es serut yang diberi susu & sirup moka. Istimewa. Ice pink guava adalah jambu biji yang dipotong kecil-kecil dicampur dengan cente manis kecil-kecil dan warna warni juga, sama dengan es kacang, lalu ditutupi es serut dan diberi sirup merah. Ah segar. Sedangkan jus kopyor adalah kopyor yang di jus, diberi susu dan sirup rasa rose, pas diminum masih ada kopyor yang belum lumat. Enak sekali. Pokoknya kita semua kenyang deh, memuaskan, yummy.
Tibalah waktu pulang, kita saling berpelukan & bertukar pesan. Sedih juga melepas teman kerja yang sedikit demi sedikit berkurang karena mendapat kesuksesan ditempat lain. Apalagi setelah bekerja lebih dari 10 tahun. Semoga sukses kawan, jangan lupakan aku…

ULASAN KULINER : OMAH SENDOK (**)




Paling jarang aku makan di restoran yang khusus menyajikan makanan Indonesia. Kenapa ? Karena menu masakan Indonesia itu pasti berkisar di seputar soto, sate, sop, ayam, nasi goreng, gado-gado, dll yaitu menu yang sangat lazim dijumpai dimana-mana, bahkan dirumah. Dari senin – jumat adalah hari masakan Indonesia. Kalo weekend, aduh jangan menu itu lagi dong.
Sudah lama aku mendengar restoran Omah Sendok, tapi baru kali ini aku menyempatkan diri berkunjung kesana. Gara-gara ada temennya Yayang yang menikah disana, tapi kita gak bisa datang. Jadi dia penasaran pengen kesitu, pengen tau, restaurant apa sih yang bisa dipakai buat tempat pernikahan. Akhirnya malam minggu lalu kita ke Omah Sendok, jl. Empu Sendok no 45, Blok S, Kebayoran Baru, JakSel. Telpon 021 521 4531.
Jalanan menuju kesana, agak kecil ya. Yaitu dari jl Senopati, beberapa meter dari kawasan SCBD, belok ke kiri ke jl. Bakti, langsung belok kiri lagi ke jl. Empu Sendok, ikuti jalan sebentar dan gak berapa lama kelihatan sebuah rumah dengan pohon besar dan disampingnya ada lampu hijau yang membentuk nama “Omah”. Masuk melalui pintu depan, selayaknya sebuah rumah biasa, kita langsung berada diruang utama, yang tidak begitu besar dan suasananya hommy banget. Disamping ruang utama ada ruang kamar depan untuk berjualan batik. Lalu ruang kamar belakang adalah toko buku, dimana kalau kita mau ke toilet harus melalui toko buku dulu. Ya sudah cuma segitu. Tapi kalau kita keluar melalui teras samping, menuju halaman belakang, wah luasnya, ada kolam renang nya lagi. Malam itu sungguh indah karena ada acara ulang tahun, jadi suasana semakin romantis dengan penambahan penerangan obor & lilin.
Kita kembali lagi kedalam ruang utama untuk memesan makanan. Menu utama yang ditawarkan adalah nasi bakmoy, sop buntut, soto bogor, soto iga, soto tangkar, rawon, ayam bakar, bebek goreng, garang asem, nasi goreng, nasi petis Madura, sate ikan bali, sate ponorogo, sate sapi, nasi ulam, nasi timbel, urap, baso solo, siomay, bestik jawa, gurame & rolade. Selebihnya adalah makanan ringan & dessert khas Indonesia, lalu minuman es & hangat. Harganya cukup terjangkau kok, tidak ada lebih dari Rp 50.000.
Lalu aku pesan lontong sate ponorogo. Yayang pesan soto tangkar. Menu ini jarang ada loh, sesuai dengan ciri khas Omah Sendok, menyajikan masakan tradisional & langka, warisan kuliner Indonesia. Keistimewaan sate ponorogo adalah sate ayam dimana cara memotong dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Lalu sate direndam bumbu yang berwarna kuning sehingga meresap kedalam daging lalu dipanggang. Sate ini dagingnya besar-besar sehingga tusukannya ada 2 loh. Unik kan. Sate disajikan bersama bumbu kacang yang ditumbuk halus, disertai irisan bawang merah dan cabai rawit. Jadi aku yang ngak doyan pedas ini, ya kepedesan bo. Rasa satenya enak, empuk & kaya bumbu. Sekarang soto tangkar adalah soto iga sapi yang kuahnya memakai santan yang berwarna kuning kemerahan. Lalu diberi tomat iris, potongan kentang goreng, ditaburi bawang goreng & bawang daun, disajikan bersama emping & jeruk nipis. Rasanya jelas enak & segar, kaya bumbu, gurih & pedas. Lalu aku pesan lumpia khas omah loh. Jadi bukan lumpia semarang. Melainkan lumpia modern yang bentuknya langsing, isinya cincangan daging ayam & sayur. Enak deh. 1 porsi isi 2 lumpia. Terakhir adalah dessert es tape ketan hijau yang rasanya manis & legit, enak & segar, kepedesan jadi hilang dalam sekejap.
Ah nikmatnya makanan ini. Harganya pun cukup terjangkau. Sate ponorogo Rp 27.000, soto tangkar Rp 35.000, lumpia Rp 9.500, es tape ketan Rp 9.500, 2 the hangat Rp 16.000, total menjadi Rp 106.700. Oh ya, pelayanan disini juga ramah loh. Jadi jangan lupa mampir kesini & turut melestarikan warisan kuliner Indonesia.

ULASAN KULINER “SEHARI DILAMPUNG”

Banyak sekali suka duka berumah tangga tapi masing-masing bekerja diluar kota. Ya contohnya aku ini. Aku di Jakarta, suami di Lampung, berkumpul seminggu sekali. Memerlukan tenaga & biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kalau ada acara kantor yang memerlukan kehadiran keluarga. Untungnya kalau acara kantor ku biasanya hari sabtu minggu, pas ada suami datang. Jadi dia lebih mengenal karena lebih sering berkumpul dengan temen kantor ku. Tapi kalo aku jarang banget hadir ke acara kantor dia. Gak enak rasanya, suka ditanya-tanyain kapan hadir di Lampung. Nah kebetulan, besok hari kamis adalah tanggal merah & ada acara arisan serta perpisahan temen kantor suami yang dipindahtugaskan ke kebun. Segera ambil cuti dihari jumat & let’s go to Lampung.

Pk. 4.30 : Tibalah hari H. Ayo bangun, mandi, sholat. Dengan berbekal 2 kotak sarapan, isi nasi & roti, minuman & novel, kusiap pergi bertiga, bersama Jalal & Ijah, para asisten dirumah.

Pk. 5.30 : Kita siap berada dimobil, berangkat lewat jl. Panjang Kebun Jeruk langsung masuk tol menuju pelabuhan merak.

Pk. 7.30 : Tiba di pelabuhan karena jalan masih sepi dan lancar. Langsung masuk kapal & membayar Rp 198.000 untuk mobil dengan 5 penumpang yang masuk kedalam kapal.

Pk. 8.00 : Kapal mulai berangkat, kita parkir diatas dek kapal, disamping pagar, jadi tetap nyaman bila tetap ingin berada didalam mobil, tinggal buka jendela, angin laut yang kencang, asin & segar masuk, plus menikmati indahnya pemandangan laut selat sunda.

Pk. 10.30 : Akhirnya tiba juga di pelabuhan Bakauheni. Nah itu dia Yayang, sudah menunggu diparkiran penjemputan, karena rencananya kami memang mau bertukar mobil. Kedua asisten akan balik lagi langsung ke Jakarta. Dan aku langsung ke tempat acara yang jaraknya hanya 1 menit dari tempat kos Yayang.

Pk. 12.30 : Green Leaf, resto & gallery (*)
Sampailah kita di Green Leaf, resto & gallery, tempat acara berlangsung. Jl. Gatot Subroto no 109, Bandar Lampung, telp 0721 750 9129 / 483520. Restoran ini memiliki interior dinding, meja & kursi dari bambu, tiangnya dari pohon kelapa, langit-langit yang tinggi, sehingga suasana terasa sejuk & ada 1 lantai lagi diatas. Dindingnya banyak dihiasi lukisan, sehingga disebut dengan gallery, karena memajang karya para pelukis Lampung. Ruang utama dibawah, terdiri dari 4 meja, sudah kita booking semua, lalu ada panggung untuk nyanyi, ada keyboard yang sedang dimainkan oleh sepasang suami istri, yang juga teman kantor Yayang, dimana suaminya pintar main keyboard & istrinya penyanyi. Dan oo, rupanya setiap orang wajib nyanyi, kalo ngak nyanyi, ngak boleh pulang. Waduh gawat. Pas ku datang sih semua sedang makan. Menunya ikan gurami goreng asam manis, ayam goreng kremes, sapi lada hitam, tumis kangkung & toge. Keistimewaan restoran ini adalah bisa nyanyi-nyanyi tanpa batasan waktu, serta makanannya murah & enak. Menunya cukup beragam yaitu aneka masakan ayam, bebek, daging sapi, seafood, ikan gurame, steak & sup, dan harganya itu loh, paling mahal Rp 50.000 yaitu untuk seporsi kepiting.

Pk. 15.00 : Setelah acara selesai, istirahat dulu di kos an Yayang.

Pk. 16.00 : Mi Khodon (***)
Jalan-jalan dulu ah, kangen udah lama gak kesini. Kota Lampung yang sepi, belum banyak mengalami perubahan yang berarti. Terus kangen juga sama Mi Khodon. Ini waktu yang tepat buat makan mi Khodon, yang memang baru buka jam 4 sore & akan segera habis setelah Magrib. Lokasinya di Teluk Betung, didepan taman Dipangga, diseberang polda Lampung, dekat bunderan yang ada patung gajah, dan juga dekat Chandra Dept Store. Mi Khodon adalah mirip mi tek-tek kalau di Jakarta atau mirip mi Jawa, tapi keistimewaannya adalah bentuk mi yang lebih besar dari biasanya, lalu dimasak bersama suwiran ayam kampung & udang ebi, irisan kol & sawi serta bumbunya itu loh, terasa beda & istimewa, pas gurih asin manisnya. Ada 2 macam yaitu, mi goreng yang berwarna coklat karena pake kecap, rasanya cenderung manis gurih serta mi rebus yang berwarna putih tanpa kecap, terasa segar dan cenderung gurih asin. Terus pelanggan disini banyak banget. Penuh oleh parkiran mobil, jadi lumayan lama juga nunggu pesanan datang. Harganya sih murah yaitu Rp 8000 per porsi. Tapi yang penting rasanya enak & bikin kangen euy.

Pk. 18.00 : Segera pulang ke kos, siap-siap mau ke Jakarta lagi.

Pk. 19.30 : Griya Liwet (**)
Sebelum pulang harus makan malam dulu kata Yayang. Karena kitakan naik bis Damri yang AC nya dingin banget. So perut harus kenyang, pake jaket yang tebel, supaya gak masuk angin. Kebetulan didepan kos ada rumah makan baru buka sekitar sebulanlah. Tempatnya terang, bersih, tidak sempit, ada kolam renangnya, dan ada lesehannya. Tapi sepi, maklumlah di Lampung kalau malam sepiii. Namanya Griya Liwet, Jl. Way pungur no 3, Pahoman Bandar Lampung, telpon 0721 483 217, 482 738. Menu andalannya pasti deh nasi liwet. So segera kupesan nasi liwet dengan ayam goreng. Tapi Yayang pesen batagor karena masih kenyang. Ternyata enak loh. Nasinya itu rasanya gurih karena telah dimasak bersama bumbu-bumbu. Lalu ayam gorengnya juga enak karena bumbunya meresap dan ditaburi bumbu kremes. Bagaimana dengan batagornya ? Ya enak juga. Pokoknya makan disini bisa diulang deh. Harganya juga murah, Nasi liwet Rp 6.000, Ayam goreng Rp 12.500, Batagor Rp 12.000, Kelapa muda Rp 8.000. Alhamdulillah kenyang (banget). Ayo segera cari angkot menuju stasiun KA, karena bis Damrinya disitu.

Pk. 21.15 : Bismillahhirahmannirahhim, Ya Allah lindungilah kami selama perjalanan dari Lampung menuju Jakarta, selamat sampai dirumah. Amin. Selamat tinggal Lampung, aku tidur dulu ya, nanti sampai di Gambir pk. 5.30. Daah…

Thursday, May 14, 2009

Tammak Thai, Kemang (***)



















Tamnak Thai Restaurant
Plaza Adorama Level 1
Jl. Kemang Raya No. 17
Kemang, Jakarta Selatan
Phone: (021) 719 9000
Fax: (021) 719 1444

Wednesday, May 13, 2009

ULASAN KULINER : Restaurant VIETOPIA (***)



Jaman dulu, dikantor ada retoran Vietnam yang namanya Pho Hoa. Tapi sekarang udah gak ada lagi. Padahal restorannya cukup laku loh, karena rasanya memang enak, apalagi kalo lagi flu menyerang atau saat dingin-dingin karena hujan, sedap nian menyeruput kuahnya yang panas menyegarkan.
Apa sih Pho Hoa itu ? Pho adalah sejenis mi Vietnam yang terbuat dari tepung beras, berwarna putih, empuk tidak kenyal, berbentuk pipih & lebar, mirip kwetiau, tapi bedanya kwetiau lebih lebar & kenyal. Lalu disajikan dalam mangkok putih yang besar yang telah berisi kuah kaldu berwarna bening yang banyak & panas, kemudian diberi irisan daging sapi yang tipis & lebar, seperti daging sukiyaki, bisa dengan atau tanpa lemak, atau bisa juga disajikan dengan seafood atau baso. Dilengkapi dengan irisan daun bawang dan bawang bombay, touge, potongan cabe rawit dan daun ketumbar untuk rasa yang unik khas Vietnam, serta perasan air jeruk nipis untuk menambah segar. Ah enaknya, kebayangkan.
Nah sekarang setelah sekian lama mencari dan membandingkan, telah ditemukan restoran pengganti Pho Hoa yang sebanding rasa nikmatnya, yaitu Vietopia, jl Senopati no 66, JakSel, telpon 021 726 1162 & 29. Kalau mencari restaurannya ini harus agak hati-hati, jangan ngebut takut kelewat, apalagi jalannya satu arah, yaitu dari jl Gunawarman kan belok kekanan, nah mulai deh pelan-pelan, karena letaknya disebelah kanan jalan & papan namanya tidak terlalu besar. Memasuki ruang restaurannya yang bernuansa putih, dan tidak besar, mungkin hanya ada sekitar 30an kursi lah, terdiri dari ruangan didalam & luar, tapi kalau hujan turun, maka kapasitas tempat duduknya akan semakin menciut karena ruang makan diluar gak bisa dipakai, kehujanan. Dan itulah yang terjadi hari ini.
Makanan andalan disini jelas Pho dong. Tapi ada juga nasi beserta lauk pauknya. Suatu waktu pernah temen seruanganku dapet kiriman nasi & lauk pauk nya dari Vietopia, yaitu masakan ikan, udang & cumi. Aku ikut menyicipi, ih enak banget. Jadi ngidam pengen makan langsung ditempatnya. Maka hari ini aku pesan Ca Mu Chien Vol Gung (panjang & susah yak) alias ikan kerapu goreng. Sedangkan Yayang karena belum pernah nyobain Pho nya, maka ku sarankan dia memesan Pho Bo alias mi yang pake daging sapi. Pho disajikan persis seperti yang kugambarkan diatas dan rasanya enak, gurih & segar. Sedangkan ikan kerapunya digoreng lalu dilumuri saus kental coklat yang ditaburi cincangan bawang putih & cabai merah. Rasanya asam, gurih & pakai terasi, dan yang pasti enak banget deh.
Akhirnya ludes & tandas semua makanan kami. Pengennya sih pesen lumpia, karena rupanya merupakan appertizer andalan disini & semua orang keliatannya memesan lumpia, tapi kami gak sanggup euy, kenyang. Sedangkan bagi penggemar kopi, disinilah tempat yang tepat. Karena kopi Vietnam terkenal enak & cara penyajiannya yang unik yaitu gelas yang telah berisi susu & gula lalu diatas gelas diberi saringan, sehingga kopi dituang diatas saringan, dan menetes kedalam gelas. Aku sih gak kuat minum kopi, bakalan gemeter & gak bisa tidur deh. Cukup melirik orang-orang disamping yang minum kopi, sambil membayangkan kenikmatannya.
Bill yang datang berisi Pho Bo Rp 42.000, Ca Mu Chien Vol Gung Rp 45.000, 2 hot tea Rp 22.000, plus tax, total menjadi Rp 126ribuan. Ngak murah memang tapi makanannya mantap sih.

Sunday, May 03, 2009

ULASAN KULINER RESTO YIN YANG, LAMIEN – DIMSUM (**)

Karena deket rumah, udah pasti aku sering ke PIM. Tapi masih ada aja resto yang luput aku coba. Bukannya aku gak tau, tapi resto itu letaknya agak jauh dari jalanan yang ramai & ngak ada kehebohan disitu, sehingga maleslah aku coba. Tapi kata Nia, resto itu lumayan enak & gak begitu mahal. Heem jadi penasaran. Apa sih ? Yaitu restaurant YinYang, Lamien & Dimsum, PIM 1 lt 2 no 230, telp 021 769 2350. Resto ini letaknya di lantai 2, jadi dari eskalator deket Metro naik menuju pintu masuk Mi GM, lalu kepala tengok ke kiri, nah nun jauh disana udah keliatan tuh tulisan Lamien – Dimsum. Jadi letaknya tusuk sate ya.
Saat pertama ku coba, makan berdua sama nyokap, karena udah malam & malas makan nasi, jadilah aku kesitu. Nyokap pesen lamien & aku pesen dimsum yang lagi promo, yaitu beli 3 porsi harganya lebih hemat. Oh ya, sebelum menceritakan rasa makanannya, aku ceritain sejarah makanannya dulu ya.
Lamien adalah masakan khas Tiong Kok, yaitu mi yang dibuat secara tradisional, tidak pakai mesin, dengan mengandalkan ketrampilan & kekuatan jari tangan sang juru masak. Caranya adonan mi dibanting-banting ke meja sambil ditarik, sehingga adonan langsung buyar menjadi mi. Hebat euy. Makanya dikasih nama Lamien, karena berasal dari kata La = Tarik & kata Mian = Mie, alias mi tarik.
Kalo Dimsum berasal dari bahasa Kanton Cina, yang artinya makanan kecil yang serba dikukus atau digoreng, yang biasanya disajikan sebagai teman minum teh disore hari, atau saat sarapan pagi atau saat brunch (jam makan nanggung, pagi ngak siang juga belum). Bentuknya beraneka ragam & mungil, & terkadang rumit, sehingga memerlukan ketrampilan sang juru masak. Rasanya bisa gurih asin atau manis & jenisnya bisa sampai ratusan jumlahnya kalo dinegara asalnya.
Nah pesanan sudah datang, mari kita bahas. Lamien yang dipesan nyokap adalah lamien pangsit, yaitu mi disajikan didalam mangkok putih yang besar dan sudah dicampur dengan kuah kaldu serta diberi pangsit rebus. Bentuk mi nya lebih besar & tebal dibandingkan mi biasa. Pas dimakan, aah kuah beningnya yang panas mengepul, rasanya gurih & segar serta ada rasa yang unik yang berasal dari daun. Lebih enak lagi kalo ditambah sambal cabe kering yang berminyak. Lalu dimsumnya, karena pesen yang promo, maka dikasih yang jenisnya udah biasa, yaitu kaki ayam, bakpau ayam & siomay ayam, tapi rasanya enak sih, bisa diulang. Btw aku lagi pantang seafood, jadi terpaksa makan yang isi ayam semua, tapi gak nyesel kok. Pokoknya makan malam berlangsung kenyang dan sukses.
Nah kali kedua aku datang lagi bersama Yayang, karena dia juga penasaran. Kali ini pesenannya adalah bubur ayam hainam untuk Yayang, dan karena aku agak kenyang maka aku cuma pesen 1 macam dimsum, yaitu pangsit yang berisi campuran udang ayam sayur lalu diberi sedikit kuah sechuan. Dimsumnya enak dong. Sedangkan buburnya adalah bubur doang ditaro dimangkok, disajikan secara terpisah adalah potongan ayam goreng yang masih ada tulangnya, lalu pelengkapnya adalah kecap asin, potongan kripik pangsit yang sangat tipis & kecil-kecil, tongcai, daun bawang, sambal, ramuan bawang putih & tak lupa kalo Yayang biasa tambah cabe rawit potong. Rasanya uenak rek & kenyang banget. Harga bubur nya Rp 33.000 & dimsum 18.000. Pokoknya menu di situ gak ada yang lebih dari Rp 50.000 ribu kok. Oh ya kalo mau makan tengah disini bisa juga loh, karena banyak menu seafood seperti kepiting soka, udang, cumi, dll serta berbagai sayuran. Lain kali balik lagi ah ngajak sekeluarga makan tengah disini. Yummi.

Monday, April 27, 2009

CUTI DARI ANCOL KE CIPADU




Udah sejak dari sebulan yang lalu mba Nur, tetangga ku, selalu ngingetin, kalo nanti pas ultah dia, kita pergi ke Ancol, duduk di pantai terus makan di Bandar Jakarta. Tapi pas hari H, tg 17 April 09, eh banyak yang ngak bisa. Bu Irfan gak punya pembantu, Bu Kuntjoro anaknya lagi tes persiapan masuk universitas, parahnya lagi mba Erry udah gak pulang kerumah selama 4 hari, padahal pamit ke ibunya cuma mau ngelayat orangtua temennya yang meninggal. Wadau. Jadilah Jumat itu aku cuti sambil update my blog. Nah seminggu kemudian baru deh semua udah pada bisa, kecuali bu Kun yang lagi cemas nungguin anaknya yang sedang UN SMA.

Pk 5.00
Abis sholat shubuh kadang-kadang aku tidur lagi. Kebiasaan buruk itu dikarenakan ngantuk akibat bt, inget mesti ke kantor. Tapi hari itu semangat, karena inget aku cuti. Segera aku ganti baju mau jalan pagi sekalian pesen kue “Risoles Edut” di jl Maritim (021 7662323) sebelah kantor pos, buat bekel dijalan & pesenan nyokap. Kue disitu ngak cuma risol loh, tapi ada juga tahu, pastel, combro, arem-arem, lemper, sosis solo, sus, lumpur, bolu kukus, dll serta harganya antara Rp 1.000 – 1.500. Jadi laku banget, murmer & enak sih. Apalagi nyokap yang langganan pesen buat acara pengajian & arisan. Abis dari situ cari sarapan nasi uduk di Tarogong. Disitu yang jual nasud ngak cuma ada 1, tapi banyak. Sekarang aja aku lagi coba penjual yang baru. Menunya sih sama nasi uduk, bihun, gorengan, semur, krupuk & sambal, harganya juga murah standard. Cuma aku lagi menganalisa, mana sih yang paling yahud di lidah. Ini mah judulnya bukan jalan pagi, tapi cari makanan. :D

Pk 9.00
Menjemput dimulai dari rumah bu Irfan, lalu ke rumah mba Nur sekalian mba Erry udah disitu. Tapi mesti kerumah nyokap dulu nih, antar pesanan kuenya & ambil pesanan kue ku. Loh ? Ya iyalah, aku lagi pesen kue cake buat ultah mba Upik. Yang bikin kue si Hera, adek ku. Dia itu bisa buat kue pastry, pie, cake, pudding, coklat, dll. Kue yang ku pesen ukuran 10x20 cm, dihias siraman coklat & dekorasi bunga serta ada tulisan ”Happy Birthday”nya. Rupanya hari itu dia juga ngerjain pesenan kue ultah anak, ukuran 20x20 cm, sama disiram coklat juga, pake hiasan coklat warna warni, jadinya lebih lucu. Harganya Rp 110.000 saja bila cakenya vanilla / coklat biasa. Semakin rumit ya semakin mahal, tergantung pesenan. Tapi masih lebih murahlah dari pada toko kue. Abis dari situ ngedrop kue mba Upik ke kantor. Eh malah dapet kue lagi dari pak Nur ultah. Rezeki. Ya udah, langsung cabut ke Ancol.

Pk 10.30
Tibalah di pintu masuk Ancol. Setelah membayar sekitar Rp 70ribuan unt berlima + 1 mobil, mulailah kita menyusuri tempat unuk gelar tiker dipantai. Tapi kok banyak tukang plus pasir & batu bata disepanjang pantai ya. Yah rupanya lagi buat pager disepanjang pantai. Yah gak seru nih. Untunglah kami berhasil menemukan sepotong pantai tak berpagar. Tiker digelar, kue & kripik dikeluarkan, sambil tiduran, sembari ngunyah, ngobrol sana ngobrol sini, diselingi foto-foto, eh kita malah membahas usaha sampingan apa yang bisa kita jalankan bersama. Apalagi dikantor lagi ada warning pengurangan karyawan. Waduh mesti siap-siap merintis other income nih.

Pk 12.00
Waktunya makan siang, siap-siap ke Bandar Jakarta. Pas kita datang, pengunjung masih sedikit, jadi kita langsung cari meja deket pantai dan mba Nur pilih seafood didepan. Menunya udang bakar, cumi goreng tepung & ikan gurame goreng. Untung gak nambah menu lagi, sebab porsinya lumayan banyak loh buat kita berempat. Makanannya enak ya, udang bakarnya gede-gede, dilumuri bumbu yang banyak, sampe kulit udangnya kalo di isep-isep, rasanya manis gurih. Begitu pula cuminya, begitu putih, empuk, garing dan gurih. Guramenya juga lumayan, standard sih. Tapi yang paling penting, makanannya rasa kabel, kagak beli, ditraktir yang ultah. Makasih mba Nur.
Tak terasa pengunjung terus mengalir, dan restoran menjadi penuh oleh rombongan-rombongan. Eh dimeja sebelah ada rombongan kru berbaju hijau, dimana salah seorang lagi mensyuting makanan dari meja ke meja. Wah acara kuliner nih. Tapi gak berapa lama, muncullah sesosok cowok ganteng yang datang bergabung, Surya Saputra. Aaah kita langsung berjanji abis makan mau foto-foto sama dia. Sekarang makan dulu. Dan sehabis makan...loh mana dia si ganteng udah gak ada. Yaah. Ya udah aku sholat dulu. Tapi sehabis sholat...mba Nur & Bu Irfan melotot, “ih kameranya kok dibawa sih, sebab rupanya tadi Surya baru selesai ganti baju, dan para pengunjung langsung pada rebutan foto-foto”. Yah mana ketehe. Gatot (gagal total) deh blog ku berhias Surya Saputra. Untuk menutupi rasa kecewa, akhirnya kita berfoto didepan resto, disamping delman tak berkuda.

Pk 13.30
Keluar dari Ancol kita berdebat, mau lanjut ke Asemka atau ke Cipadu. Nah mba Nur yang belum tau dua-duanya. Jadi dia yang ambil keputusan pergi ke Cipadu, Cipulir, Tangerang, jauh, dari ujung ke ujung.

Pk 15.00
Setelah melalui perjalanan panjang yang panas & macet, sampailah kita ke Cipadu, yaitu tempat toko-toko bahan kain baju, bantal, sprei, handuk, dll yang lebih murah & kualitasnya lebih rapih dibanding Tanah Abang. Kita langsung menuju toko langganan bu Irfan. Alamatnya : Toko Yantih, Cipadu Jaya gg. Muha no 2 Tangerang, telp 021 7374117, 91303172. Disana aku tertarik membeli bantal cinta, yaitu bantal yang ukurannya panjang. Ada ya bantal yang ukuran 1,80 m dengan harga Rp 120.000 (kalo di Semanggi mall diatas Rp 150.000), tapi sarung motif dewasa lagi habis. Jadinya aku beli yang ukuran 1 meter doang hanya gara-gara tertarik motif sarungnya, gambar sapi jantan betina dengan tulisan “do you still love me”. Wadau cocok nih buat Yayang. Harganya Rp 40.000 saja. Mba Nur juga beli, yang motif beha... :D Lalu aku beli handuk kecil motif anak-anak dengan harga Rp 7.500 buat oleh-oleh anak Jalal & anak Tante ku. Mba Nur survey bahan kain kebaya buat seragam nikahan. Udah sore nih, takut hujan & macet, pulang yuk.

Pk 17.00
Tiba dirumah masing-masing dengan selamat. Tapi dirumah, aku disambut lantai rumah yang banjir akibat kran air kloset bocor, adu du...piye iki.

Monday, April 20, 2009

Resep bubur Injin ala resto Le Seminyak



Rezeki memang datangnya tak terduga. Tiba-tiba suatu hari aku dikirim email oleh bu Bos, mau ditraktir makan oleh seorang pensiunan Partner kantorku, yang sekarang punya KAP sendiri. Dulu aja dia sering traktir kita anak accounting, eh udah gak sekantor masih mau traktir juga. Emang baik banget tuh bapak. Padahal yang diajakin makan kulihat level bos-bos semua, cuma aku aja yang penggembira, bagian pembersihan. Jadilah aku makan siang di resto masakan Bali Le Seminyak, di Pacific Place SCBD. Makanannya sih biasa. Cuma itu loh dessertnya berkesan, yaitu bubur Injin. Apaan tuh ? Yaitu bubur ketan hitam alias injin dalam bahasa bali, tapi penyajian di resto ini agak berbeda yaitu bubur ketan hitam hangat yang diberi santan diatasnya, lalu disajikan bersama es krim vanila, heem enak banget deh. Kulihat harganya cukup mahal yaitu Rp 22.800. Kupikir-pikir kalau buat sendiri di rumah, enak juga juga, bisa makan sepuasnya. Setelah kucari resepnya di website & tanya nyokap juga, dapet juga nih resep.

Bahan bubur :
- 150 gr ketan hitam
- 100 gr ketan putih
- 2 lembar daun pandan
- 2 lt air

Bahan sirup gula :
- 250 gr gula merah yang disisir halus
- 125 lt air
- 1 lembar pandan
- Garam secukupnya

Bahan saus santan :
- 30 ml santan kental (kara)
- 2 lembar daun pandan
- Garam secukupnya

Cara membuatnya :
1. Rendam ketan hitam & putih (jangan dicampur) semalaman, biar cepat lunak ketika dimasak.
2. Rebus gula merah yang telah disisir halus, bersama pandan & sedikit garam, lalu saring.
3. Rebus ketan hitam & putih bersama daun pandan sampai setengah matang, lalu matikan kompor & tutup pancinya, biarkan sampai ketan mekar.
4. Setelah ketan mekar, tuangkan sirup gula merah, lalu masak kembali sampai menjadi bubur.
5. Rebus santan bersama pandan & sedikit garam, aduk terus sampai mendidih, jangan sampai pecah.

Cara penyajian :
- Bubur ketan ditaruh di mangkok, biarkan sampai agak hangat
- Tuangkan sesendok (atau sesuai selera) santan kental diatas bubur
- Sajikan bersama 1 scop es krim vanila

Untuk : 5 porsi.
Selamat mencoba, kasitau ya kalau udah jadi...

Wednesday, April 15, 2009

ULASAN KULINER SELAMA LOONG WEEKEND







1. SELASA : ULASAN KULINER RESTO WAROENG SUNDA (**)

Semenjak semakin seringnya aku ke daerah Tangerang, maka semakin aku mengenal bahwa daerah Tangerang itu kaya akan keragaman kulinernya. Selalu ada aja tempat makan yang baru yang layak dicoba. Selain itu banyak juga koran, majalah & website yang mengulas kuliner kawasan Tangerang.
Kalau aku jemput Yayang dari Bandara, kalau lewat tol dalam kota kan pasti macet, apalagi jam pulang kantor atau pas hujan, wuih penuh. Tapi sekarang sih sejak sudah hafal daerah Tangerang, kalau pulang pasti lewat Serpong dan masuk tol JORR. Keuntungannya selain gak macet, ya banyak banget pilihan tempat makan di jalur arah pulang. Nah kali ini aku mau coba Resto Waroeng Sunda. Kenapa pilih itu ? Sebab aku inget pernah dibahas di koran Kontan. Lagipula aku udah sering banget melewati tempatnya yang selalu penuh pakirannya, jadi penasaran kan.
Memasuki rumah makan itu, malam, sekitar jam 8.30, dan hujan rintik-rintik, disambut oleh petugas parkir yang sigap memayungi kita. Pas masuk, tempat makan tsb terbagi menjadi beberapa ruangan, yaitu didalam ada ruangan untuk umum, dibelakang ada ruangan untuk VIP reserved, serta diluar ada saung-saung serta lesehan. Tapi karena hujan, kita pilih duduk didalam saja. Cuma tempat duduknya itu loh, berbentuk gelondongan kayu bulat yang gak ada senderannya. Wah ini tandanya gak bisa santai lama-lama disini nih.
Setelah disodori buku menu masakan khas Sunda & Jawa, yang terdiri dari aneka masakan ikan gurame, patin, lele, udang, cumi, pepes, sate, ayam, sop, daging sapi, jeroan, nasi Punclut, sayur, gorengan pelengkap, menu anak-anak, jajanan tradisional, minuman tradisional, jus & es campur, maka pilihan kita jatuh pada : nasi punclut, lele goreng & sop buntut goreng serta es cincau hijau. Mengenai rasanya, nah ini dia...
Nasi Punclut, rupanya menu rekomendasi di sini, yaitu nasi yang berbentuk kerucut, seperti tumpeng kecil, yang ditaruh di piring, bisa memilih nasi putih, merah atau uduk, disertai 4 macam pilihan lauk, yaitu gurame goreng tepung, ayam bakar / goreng, atau empal. Lalu ditambah tahu & tempe serta sayur asem. Pilihan ku tentu saja gurame goreng tepung, yaitu potongan daging gurame yang digoreng dengan tepung, ditambah dengan bumbu kremes, rasanya enak, gurih serta empuk. Mantep, cocok banget sama selera ku. Tahu & tempe nya juga gede, enak & gurih. Serta sayur asemnya juga enak & segar, kaya akan isinya yang lengkap. Ditambah krupuk kampung berbentuk oval, lalu dicocol dengan sambel, enak tenan.
Disini kita bisa mengambil aneka sambel & lalap sepuasnya. Ada sambal dadak, dimana pas aku datang, mba nya lagi sibuk ngulek dimeja sambel ditengah ruangan, lalu ada sambal terasi, kalasan, kecap & dabu-dabu. Semua jenis sambal itu kita coba semua loh, karena si Yayang kan penggila sambal. Ku lirik dia yang asik dengan lele goreng nya yang gede, disajikan dengan pelecing kangkung. Gimana Yang, enak ? Si Dia dengan dengan keringat bercucuran, menjawab, enak. Ibu ku lalu mencolek sambal pelecing kangkungnya, wuih, pantas dia keringetan, pedas banget. Cocok banget deh ame selera nya.
Sekarang giliran Mamah, sop buntut gorengnya lucu deh. Potongan buntutnya lumayan banyak, sampe dibagi dua buat Yayang, tapi buntut nya berbentuk kaya semur, ngak kering, diselimuti saus kental yang rasanya manis tajam. Sebenarnya enak sih buat penggemar manis, empuk pula. Sopnya semangkok besar, kuahnya banyak, berisi potongan wortel, rasanya enak & gurih, serta disajikan dengan emping. Sehabis makan, kucoba cincau hijau nya, dengan sirup gula putih & diberi sedikit santan, wah enak juga, segar & manis.
Udah malam nih, mba minta bill nya dong. Oo rupanya nasi punclut ku hanya Rp 20.000. Si Jalal, supir ku juga pesan nasi punclut empal, hanya Rp 18.500. Lelenya Rp 12.000. Nah buntut nya Rp 27.000 saja. Ditambah nasi, krupuk, ati ampela, cincau & teh, total kita ditagih Rp 116.050. Wah boleh juga nih, enak, kenyang tapi terjangkau. Top markotop. Nih ku kasih alamatnya, Jl Raya Serpong KM 8 no. 88 (Sebelah SPBU Pertamina), Pondok Jagung, Tangerang, Telp 021 5315 7976, fax 021 5315 7671, website : http://www.waroengsunda.com/. Jam buka jam 11 pagi – 10 malam. Yuu dicoba.

2. RABU : ULASAN KULINER RM BAKWAN PABEAN SURABAYA (*)

Rabu, pulang kantor, dijemput Yayang yang lagi cuti sehari, hujan rintik-rintik & anginnya itu loh, aduh gede banget, dingin, menggigil, menunggu Yayang di halte BEI, dengan pemandangan antrian orang menunggu taksi yang panjang mengular. Akhirnya dia datang juga, udah mau beku nih. Yang lapar nih, tapi macet, makan dimana dong, kata ku. Makan kuah yang panas-panas yuk, katanya. Iya cocok sih, tapi dimana ya. Setelah merenung agak lama...ahaa, aku inget Yang, kan ada tempat makan bakwan, yang udah ada sejak lama banget, sejak kita kecil, di Panglima Polim. Yang mana ya, aku lupa, katanya. Ya udah jalan terus deh, lurus terus, kata ku semangat.
Nah itu dia, kata ku menunjuk RM Bakwan Pabean Surabaya, Jl. Panglima Polim Raya no 75B, Jakarta Selatan (sebelah Ace hardware). Oo ini toh, ini sih sejak aku SD juga suka makan disini, kata Yayang, cuma sekarang-sekarang udah terlupakan. Sekarang, nostalgia dulu lah.
Memasuki ruang makan yang sepi pengunjung, tidak membuat surut langkah kami. Setelah duduk & disodori lembaran kertas menu, yang berisi menu bakwan, bakmi, bihun, kwetiaw, nasgor, ifumi, capcay & ayam goreng mentega, dimana harga nya gak ada yg lebih dari Rp 20.000, akhirnya Yayang memilih bakwan campur plus nasi, dan aku sendiri memilih bakwan satuan, siomay basah & goreng, tahu isi basah & tim udang goreng.
Tak berapa lama pesanan pun datang, wah gede juga ya, pasti gak abis nih, pikir ku. Siomay basah & tahu disajikan dalam semangkok kuah yang banyak, bening, tak berlemak, gurih & segar serta menghangatkan badan. Siomay goreng & tim udang alias baso udang goreng, disajikan terpisah tanpa kuah. Kumakan siomay basah & tahunya dulu, yang lumayan gede, empuk, gurih & terasa ikan nya. Ku lirik bakwan campur punya Yayang, yang berisi 5 biji, yaitu siomay basah & goreng, tahu, tim udang serta baso. Tapi kok si Yayang mengoper tim udang nya ke piring ku ya ? Pak...panggilnya ke si mas pelayan, saya pesen baso halus & urat campur ya, kata nya. Yee rupanya si dia menggemari basonya nih. Aku jadi ingat ibu ku, pasti seneng nih, dingin-dingin dioleh-olehin baso. Pak...saya bungkus baso halus ya, sekalian siomay goreng & tim udang punya saya dibungkus juga deh, kata ku kekenyangan. Tapi tak urung juga ku cicipi es cendol pesenan yayang, tapi rasanya biasa ah, kurang menarik, walaupun begitu, gak berapa lama tuh cendol abis juga diminum Yayang.
Aah masih enak ya rasanya, masih seperti yang dulu, kata Yayang sambil ”menyusut” keringat akibat panas & pedasnya kuah baso. Udah kenyang nih, ayo minta bon nya, takut keburu nyokap makan malam. Ku lihat tagihan di bon, 1 bakwan campur Rp 15.500, 1 ½ baso halus Rp 26.500, ½ baso urat Rp 9.000, siomay basah + siomay goreng + tahu + tim udang Rp 21.000, es cendol Rp 5.000 & teh, total kita ditagih Rp 80.000. Banyak juga ya pesenan kita, batin ku tersenyum, enak sih. Oh ya, ini kucatat no telpon nya : 021 7222 049 & 7393 875. Jam buka : pk. 10 pagi – 10 malam. Nah selamat bernostalgia...

3. KAMIS : ULASAN KULINER RESTO PONDOK KEMANGI (*)

Bagi orang yang melewati jalan Raya Serpong, pasti terheran-heran akan betapa penuhnya parkiran pengunjung di 2 buah restoran, yaitu Seafood Telaga & Pondok Kemangi yang letaknya bersebelahan, sehingga pasti mengundang rasa penasaran orang untuk mencoba menyantap disitu. Maka sehabis selesai acara “mencontreng tg 9 April”, berangkatlah kita berempat untuk makan siang di Pondok Kemangi di jl. Raya Serpong kav 201, BSD sektor VI no 7 (sebelah Suzuki) Serpong, Tangerang. Telpon 021 537 9226, Fax 021 537 9042.
Bener aja, sesampainya disana, parkiran sangat penuh, begitu pula ketika masuk restoran, kita harus antri untuk reserved tempat, karena semua kursi telah terisi. Padahal restoran ini cukup luas loh tempatnya, ada ruang ber AC didalam & ruangan berangin diluar. Para pelayan sibuk hilir mudik menangani pesanan, begitu pula dengan para pengunjung yang sibuk hilir mudik ke sebuah meja yang berisi aneka sambal & lalap yang tersedia gratis di tengah-tengah ruangan. Penasaran kulihat aneka sambal itu ada sambal : mentah, matang, terasi, kecap, mangga & dabu-dabu, serta aneka lalapan. Lalu aku lihat sebuah counter es puter di pintu masuk, yang juga sibuk melayani pesanan. Boleh dicoba dulu kok mba es nya, kata si mba, ketika aku mendekat, sambil menyodori tester es puter. Heem, rupanya ini es puter rasa duren, yang enak & wangi & duren nya terasa banget. Pesan 2 ya mba, kata ku langsung. Kulihat penampilan es tsb, yang disajikan dalam sebuah gelas plastik yang diberi sedikit ketan hitam dulu, lalu diberi 2 scop es duren, benar-benar mengiurkan. Harganya, Rp 5.000 saja.
Mejanya sudah siap bu, kata si mba sambil menunjuk ruangan diluar. Setelah kita duduk dan disodori buku menu yang berisi aneka jenis masakan sunda & seafood, maka kita memilih menu gurame goreng, ayam bakar, sop buntut, tahu telor, kangkung polos bawang putih, karedok serta minuman es jeruk & es campur. Maunya sih makan seafood, karena selain gambarnya menggiurkan, aku liat juga dimeja lain rata-rata pada memesan kepiting & udang. Tapi kita sekeluarga lagi pantang seafood sih. Sambil menunggu pesanan datanglah seporsi otak-otak, yang langsung aku santap. Iih enak banget, terutama bumbu kacangnya kental & terasa asin & manis tajam disertai rasa asam segar. Otak-otaknya masih panas banget, empuk, lumayan gede & terasa ikannya. Pokoknya enak deh.
Nah makanan telah datang, aku mulai mencoba satu persatu. Guramenya berpenampilan menarik, melengkung, rasanya enak & gurih, apalagi dicocol dengan sambal kecap. Ayam bakarnya juga empuk, enak & manis. Begitu pula dengan sop buntut, dagingnya cukup banyak & cukup empuk, kuah nya banyak, segar & gurih. Secara keseluruhan semua masakan enak & meresap bumbunya. Cuma tahu telornya agak kecil & tipis, seperti bikin telor dadar dirumah. Terus ada yang kurang nih, pesenan krupuk kita gak datang-datang, ya udahlah batalin aja. Tapi tetep makanan kita akhirnya ludes tak bersisa.
Nah sekarang dari pada minta ambilin bill nya, mending nyamperin ke kasir deh, daripada lama & takut ada yg gak sesuai. Rupanya harganya cukup terjangkau loh. Guramenya Rp 41.000, ayamnya Rp 12.000, sayur Rp 11.000, sop buntut Rp 28.000, tahu telor Rp 12.000, total kita membayar sekitar Rp 200ribuan lah. Mengenai jam buka dari pk. 11 – 15 & pk. 18 – 22. Harga : Makanan mulai Rp. 9.000,00 - Rp. 42.000,00 & minuman : Rp. 5.000,00 - Rp. 10.000,00. Nah selamat mencoba alternatif baru.

4. KAMIS : ULASAN KULINER WARUNG SOTO APJAY (**)

Yang, udah lama kita gak ngajak jalan nyokap bokap ya, kata ku. Yuk deh, kata Yayang, kita makan di Serpong aja sehabis “ nyontreng“, kan nyokap bokap belum pernah nyoba makan di restoran Pondok Kemangi. Oke, setuju, kataku. Jadilah kita berempat ”maksi” kesana. Setelahnya kita jalan-jalan, menyusuri daerah Serpong menuju Karawaci, lalu ke Bandara, balik lagi ke Tangerang, belok ke arah Kebon Jeruk, dan ngaso di JCO mal Puri Kembangan, sambil makan yogurt ice. Akhirnya magrib sampai juga di rumah nyokap. Sepulang dari situ, kalau mau makan malam, masih kenyang, ya udah pulang dulu deh ke rumah, mandi.
Jam 9.....kruk..kruk..kruk, perut mulai bernyanyi. Lets go kita makan. Jalan terus tak tentu arah, tak terasa sampelah kita di kawasan Panglima Polim. Loh...kok banyak orang makan di seberang Apotik Century, jl Panglima Polim ? Kulihat ada 3 gerobak makanan yang bersebelahan, yang dikelilingi meja kursi, didepan pagar tembok rumah orang, serta semua kursi penuh terisi. Wah kalo hujan, mantep nih, bubar jalan, basah kabeh. Ah sudahlah, pikirku, gak mungkin hujan sekarang. Rasa penasaran lebih kuat dari pada rasa kawatir. Segera parkir.
Kami hampiri gerobak pertama, oh jagung bakar. Wah ini sih buat dessert, pikir ku. Melangkah lagi, gerobak ke dua, sate madura. Ada sate ayam & kambing, kata tulisan di kain spanduk. Gerobak ketiga, wow mata ku berbinar, soto ayam ceker. Cihuy, aku ini aja Yang, kataku, segera duduk di kursi kayu gerobak soto, yang kebetulan baru ditinggal si pengunjung. Sedangkan yayang kulihat memesan sate daging ayam campur kulit dengan telor & lontong, pake bahasa madura pula. Bisa juga dia. Ah suamiku memang pandai berbagai bahasa daerah.
Tak lama, soto ku datang. Soto dengan kuah berwarna kuning, harum baunya, mengundang selera makan, berisi soun, toge, irisan kol & tomat, suwiran ayam dan ceker ayam yang banyak. Setelah diberi perasan jeruk nipis, perlahan kusendok & kutiup, pas kusuap, heem segar, gurihnya pas & enak tenan. Untunglah aku gak pesan nasi, karena porsinya kelihatannya cukup mengenyangkan. Kusuap sebuah ceker, dagingnya yang lunak langsung terlepas didalam mulut, tanpa perjuangan. Ah sedap nian, ini soto ceker terenak & terbanyak cekernya, selama pengalamanku. Tangan ku mulai menuju piring sebelah, kuambil setusuk sate kulit ayam yang diujung dalamnya ada bulatan kuning sebesar telor puyuh, rupanya bukan telor beneran, tapi ya enak. Satenya juga empuk, gurih & meresap bumbunya. Sepertinya kulit ayam direbus dulu sebelum dibakar, jadi empuk. Terus wanginya sate ayam ini loh sungguh menggoda selera. Segera ku habiskan soto ku, sehingga bisa kunikmati cekernya belakangan tanpa gangguan. Dengan tulang kaki ayam yang berserakan disamping piringku, Yayang melirik sambil berkata, wah wah kamu asik banget, enak ya, tanyanya. Aku mengacungkan jempol sambil tetap menghisap ceker. Aku tersenyum dalam hati, sebab aku tau, senikmat-nikmatnya ceker ayam, dia gak bakalan mau coba. Dulu pernah kutanya, kenapa dia gak doyan makanan lezat ini. Hii, katanya, itu kaki habis mengais-ngais tanah, kukunya item tuh. :D
Sehabis menyantap hidangan, gak bisa terlalu lama duduk disini. Kasian yang antri. Tapi terus terang pemandangan di sini lumayan yahud, dalam arti kata, yang datang kesini muda & kece-kece, samalah dengan pengunjung cafe atau mall. Kontras dengan lokasi gerobak yang terletak di depan rumah orang dan misbar, gerimis bubar. Kulihat alamat rumah itu, Jl Panglima Polim IX, letaknya persis diperempatan jalan, dan dikelilingi oleh restoran menado Chamoe-chamoe, gado-gado Boplo & Apotik Century, jadi gak bakal nyasar. Setelah membayar soto seharga Rp 13.000 & sate seharga Rp 14.000, plus plus, total membayar sekitar Rp 30ribuan. Sambil melangkah keluar, aku membaca nama si gerobak soto, yaitu Soto ApJay, singkatan Apotik Jaya. Sekarang aku baru ngeh, Apotik Century itu dulu kan Apotik Jaya. Gak rugi makan disini, dengan berbekal Rp 50.000 untuk berdua, sudah bisa makan enak & kenyang, mata pun jadi segar. Tapi jam bukanya malam doang loh, yaitu jam 5 sore sampai jam 2 pagi. Jadi bila malam semakin larut, pasti akan semakin ramai & heboh...

5. SABTU:ULASAN KULINER MASAKAN PALEMBANG SARI SANJAYA (***)

Suatu saat ketika sedang iseng melihat-lihat sebuah kios majalah di depan ITC Mangdu, aku tertarik pada sebuah majalah yang berpenampilan sangat menggiurkan, yang akhirnya kuputuskan untuk membelinya, yaitu majalah “yuk makan di Kelapa Gading”. Rupanya majalah ini berasal dari website www.yukmakan.com, dan salah satu tukang saran majalah ini adalah pak Bondan “mak nyus” Winarno. Yuk makan di Kelapa Gading terdiri dari 4 edisi yaitu makanan Indonesia, makanan Asia & seafood, makanan Amerika & Eropa, serta makanan rupa-rupa seperti roti, kue, camilan, es, dll. Akibatnya aku jadi kangen pengen makan di Kelapa Gading.
Jadi pada suatu sabtu siang, akhirnya aku hunting makanan ke sana. Sambil menyusuri jalan Boulevard yang penuh dengan pilihan tempat santap disepanjang kiri kanan jalan, akhirnya ku putuskan makan masakan Palembang di restoran Sari Sanjaya, jl Boulevard Raya blok QA 1 no 8-9, Kelapa Gading Permai, diseberang MKG. Telp 021 453 5038, 4584 5550.
Memasuki restoran ini, disambut oleh aroma wangi asap pembakaran ikan & otak-otak didepan pintu masuk, sehingga aku yang tergoda, langsung memesan seporsi otak-otak sebelum masuk. Ruangan restoran hampir penuh terisi, dan kami berdua beruntung langsung mendapat meja. Memilih menu didalam buku menu yang lumayan komplit & membuat lapar mata, benar-benar suatu pilihan yang sulit. Berbagai foto masakan Pempek, Model Ikan & Tekwan, Burgo, Laksan, Lakso, Mie Celor, Mie Tumis, Pindang Ikan Belida, Pindang Ikan Patin, Pindang Tulang Iga, Pepes Ikan Patin dan aneka ikan bakar & goreng, membuat kami menelan air liur. Karena tujuan kami adalah makan siang pake nasi, maka kuputuskan memilih ikan patin bakar, ikan seluang goreng, ikan belida goreng pandan, tak lupa dessert es kacang merah.
Sambil menunggu pesanan datang, kusantap otak-otak yang 1 porsinya berisi 5 tapi berukuran cukup besar & pas dibuka daunnya, aduh panas banget, bener-bener baru dibakar nih. Bumbu kacang & sambal sudah tersedia disetiap meja. Dan otak-otaknya, aduhai enak sekali, terasa ikannya serta bumbu kacangnya juga terasa asin manis tajam, asam & segar. Mantap. Kusapu pandangan keseluruh ruangan, yang berisi sebagian besar pengunjung keluarga, sekelompok ibu-ibu (arisan kali), sekelompok bapak-bapak (kantoran kali), serta beberapa pasangan seperti kami. Disebelah kiri pintu masuk ada rak tempat berbagai macam krupuk palembang, kupilih krupuk berbentuk keriting tuk temen makan. Sedangkan disebelah kanan pintu masuk ada berbagai macam kue khas palembang, wah boleh juga buat dessert. Akhirnya ku ambil 2 mangkok plastik srikayo yang berwarna hijau.
Menghadapi nasi yang dengan ikan yang masih panas mengebul, adalah godaan. Pertama, ku suap ikan seluangnya, begitu garing & berbunyi kriuk, bentuk ikannya kecil-kecil seperti ikan balita, digoreng kering berwarna coklat & rasanya asin gurih. Yang kedua, ikan patin bakar, yaitu sepotong ikan disajikan bersama semangkuk kecap dengan potongan cabe & bawang merah mentah. Sebelum ikan dibakar mungkin sudah direndam bumbu & kecap sehingga bumbunya meresap banget ke daging ikan, jadi rasanya manis gurih. Yang ketiga, ikan belida goreng pandan, yaitu selembar daun pandan yang dililitkan ke badan ikan, lalu dilumuri sedikit tepung lalu digoreng. Tujuannya mungkin agar badan ikan tidak buyar ketika digoreng. Tetapi menghasilkan aroma pandan yang wangi bercampur dengan rasa bawang putih, asin gurih. Ikan belida adalah ikan dengan tulang besar & keras ditengah-tengahnya & ada lemak yang menempel ditulangnya. Semua ikan-ikan ini rasanya yahud & lezat, tidak berbau lumpur atau amis, sehingga tak terasa nasi pun licin tandas. Apalagi ditemani krupuk yang dicocol dengan sambal kacangnya otak-otak. Mantap nian. Ketiga jenis ikan ini adalah ikan yang hidup di sungai musi palembang, tapi mungkin dibudidayakan karena hampir punah.
Sekarang giliran dessetnya, es kacang merah adalah, kacang merah yang ditutupi serutan es dan diberi susu coklat. Enak dan segar. Sedangkan Srikayo adalah terbuat dari campuran telur, gula, tepung terigu, daun pandan & daun Suji. Fungsinya menghilangkan rasa asam pedas di mulut, enak & manjur.
Selesailah sudah makan siang yang mengenyangkan, lezat & bergizi tinggi ini. Aku langsung menuju kasir yang tidak menerima pembayaran credit card ini. Didalam bon tercantum harga ikan patin Rp 20.000, ikan seluang Rp 17.500, ikan belida Rp 27.500, otak-otak Rp 20.000, krupuk Rp 10.000, es kacang merah Rp 12.500, srikayo Rp 4.000, plus nasi & teh, total ku membayar sekitar Rp 130ribuan lah. Harganya cukup terjangkau, sesuai dengan kelezatannya. Jam buka resto dari pk 10 – pk 22. Ayo dicoba, pasti anda suka.

Monday, March 30, 2009

ULASAN KULINER RESTO THE RED DUCK (***)




Akhir bulan Maret, adalah hari-hari ”extreme busy” di kantor. Pekerjaan numpuk, sampe meja gak keliatan wujudnya, ketutup kertas ”to do”. Disaat-saat kritis bikin suntuk gitu, eh rezeki datang ngak dinyana, masa ada alumni kantor, yang sekarang udah sukses berat, karena naik grade terus, ngajakin ketemuan mau traktir makan. Wuiiih kebeneran nih. Loh tapi katanya extreme busy, tapi kok bisa teng go sih ? Ya bisa lah, kan masih ada hari esok, yang bisa OT sampe subuh...walah. Prinsipnya, jangan sampe ada yang nawarin traktir, kita tolak, iya ngak.
Mereka sih ngajakinnya ke Blok S, tapi disana kan banyak si cemong alias si pussy, kasian kan ada yang phobia sama si meong. Karena kita yang mau ditraktir lebih gaul daripada yang mereka yang mau mentraktir, maka kita yang ambil keputusan. Kita bawa mereka makan di ”The Red Duck”, di mal FX lifestyle x’nter lt. F4, Jl. Jend. Sudirman, pintu 1 Senayan, Telpon 021 2555 4168. Buset ngajakin ke Blok S, dibawa ke mall ? Kan mahal. Kan ada RBS 50%, beres, jatohnya sama kok, apalagi bebas meong...he..he..he. Sebenarnya udah lama aku pengen makan disitu, gara-gara ngeliat pak Bondan bilang mak nyus pas menyantap bebek panggangnya. Akhirnya kesampaian juga, gratis lagi.
Sesampai disana, kita berlima dapet tempat yang strategis, yaitu diruangan berkaca yang menonjol ke luar gedung, dimana lantai atas dan bawah juga dari kaca, sehingga kita bisa ngeliat pemandangan keluar gedung, serta pemandangan orang yang makan diatas maupun dibawah kita. Serukan. Cocok nih buat foto-foto.
Nah sekarang menunya. Kita pesen banyak banget, buat ukuran berlima doang, cewe-cewe semua. Yaitu bebek panggang, baby kailan saus tiram, 2 nasi hainam, mi sapi samcam soup, berbagai dimsum : 2 hakau, 2 siao long pao, 2 siew mai, 2 tahu isi udang, 3 kaki ayam lada hitam, serta chinese tea refill. Waduh, laper atawa kalap nih.
Bebek panggang andalan mereka, dagingnya empuk, tapi kulit bebeknya garing kriuk, dan bumbunya meresap, jadi gurih, disajikan dengan 2 macam saus, yaitu saos coklat yang gurih & kental, serta saus bening yang manis & kental. Baby kailan saus tiram nya enak, gurih, sayurnya empuk & gak pahit. Mi sapi samcam soup adalah mi yang ukurannya kecil-kecil, yang dicampur dengan kuah kaldu gurih rasa ebi, diatasnya dikasih irisan daging sapi yang gede-gede, ditambah sayur kailan. Wuih mantap deh. Sekarang dimsum nya. Kedoyanan ku, kaki ayam lada hitam, ukurannya gemuk-gemuk, berisi 5 kaki ayam dalam 1 porsi. Siew mai alias siomay, isinya potongan udang. Hakau, yang kulitnya putih, berbentuk kerang, isinya udang. Tahu isi udang, yaitu tahu bentuk kotak, tapi diatasnya ditempelin adonan udang. Yang terakhir Siao long pao. Nah ini dia yang jarang ada, yaitu dimsum bentuk bulat kaya kantung, diatasnya bolong kecil, gunanya menyedot kuah yang ada didalam dimsum tersebut. Hati-hati panas nih. Jadi menyantapnya harus ditaro dalam sendok sup, lalu setelah dihisap, baru digigit, isinya campuran kepiting & udang. Semua dimsum, berisi 4 biji dalam 1 porsi.
Makan disini memang sensasi nikmat deh. Makanannya enak-enak semua, jadi ludes & kekenyangan. Inilah yang disebut wisata kuliner, makanannya gak biasa tapi enak. Sebenarnya kita pengen coba dessertnya juga loh, sebab bentuknya menarik banget. Tapi selain kita kekenyangan, harga dessertnya mahal & ngak kena RBS 50%. Lain kali aja deh. Jadi total kita ditagih Rp 255 ribuan, after diskon. Lumayankan...Terima kasih Ira, semoga karir mu semakin meningkat & sukses. Amin.