Thursday, September 20, 2012

Kuliner Jogja


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna. Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja...

Sepenggal lagu karya KLa Project itu, benar benar menggambarkan keadaan suami ku banget. Bagaimana tidak, setiap ada kesempatan berkunjung ke kota Jogjakarta, dia bener bener terhanyut dalam nostalgia. Rute nostalgia pertama adalah kampus UGM, semua sudut dia jelajahi. Mulai dari ex kamar kosnya, ruang wisuda, perpustakaan, sampai ke koperasi nya. Tak lupa dia belanja aneka merchandise UGM.  Rute selanjutnya adalah mengunjungi rumah miliknya yang sekarang sudah dijual plus berbincang bincang dengan satpam kompleks. Semua rute yang dia lalui saya sudah hafal luar kepala plus latar belakang cerita kenangannya. Tapi yang paling menarik adalah wisata kuliner rasa nostalgia. Yang terakhir ini yang paling saya suka he he he.

SGPC bu Wiryo di dalam kampus UGM (**)

Live music
Meja lauk pauk
Nampang dulu ah








Dari kejauhan sudah terlihat antrian mobil yang sedang parkir. Padahal waktu baru menunjukkan pk. 9 pagi. Terdengar suara live musik akustik  yang meriah mengundang orang untuk menghampiri. Suasananya persis seperti ada hajatan. Memasuki rumah makan ini, bentuknya blong, luas seperti sebuah hall. Meja dan kursi kayu yang tersedia semuanya panjang panjang untuk makan beramai ramai. Sehingga suasana yang tercipta adalah kekeluargaan karena kita bakal berbagi meja dengan pengunjung yang lain. Pengunjung yang baru datang harus langsung menuju kebagian belakang, dimana ada sebuah meja panjang berisi aneka lauk pauk, seperti pecel, aneka gorengan tahu tempe bakwan dan perkedel. Tersedia juga sop daging, sate ayam, telor dan rempeyek. Kita tinggal tunjuk mau makan apa serta ambil minuman sendiri berupa teh, air jeruk atau jus tomat. Setelah itu kita bawa makanan dan minuman kita ke meja santap. Jangan lupa kita lengkapi santapan kita dengan krupuk yang tersedia didalam blek yang ada disetiap sudut meja makan.
Keunggulan pecel bu Wiryo ini adalah terletak pada bumbu pecelnya yang terasa nikmat, rasanya yang manis gurih serta sedikit pedas, sangat serasi berpadu dengan sayuran segar. Sebagai penggemar gorengan, tak lupa saya ambil tempe dan tahu goreng tepung. Gorengan ini tidak kering, lebih mirip mendoan tapi tidak lembek, rasa tepungnya gurih dan empuk ketika di kunyah, pokoknya enak deh. Apalagi bila dicocol dengan bumbu pecel. Lauk lain yang saya ambil adalah sate ayam dan perkedel kentang yang rasanya juga enak, gurih dan empuk. Suami saya juga mengambil sepiring sop. Iya disini sopnya disajikan diatas piring bukan mangkok. Sopnya seger banget, kuahnya bening, berisi soun, wortel, kol, kentang dan potongan daging yang lumayan besar dan banyak. Pokoknya sarapan terasa nikmat apalagi kepala ikut mengangguk angguk menikmati lagu lagu lawas yang menghentak. Seorang pengunjung perempuan didaulat bernyanyi oleh rombongannya. Suaranya sungguh merdu seperti laiknya seorang biduan. Rupanya bukan suami saya saja yang terhanyut akan nostalgi, sebagian besar pengunjungpun larut dalam suasana mengharu biru karena memang SGPC bu Wiryo ini melayani di UGM sejak tahun 1959.
Menurut saya, SGPC bu Wiryo patut dianugrahi the best nostalgia place, karena didukung oleh makanan yang enak, rasa yang konsisten sepanjang masa, harga yang murah, tempat yang sederhana tapi nyaman, serta suasana yang meriah dan menghibur.

Bebek goreng H Slamet jl Gejayan (**)

Kota Jogjakarta memang kota kenangan. Pantas bila semua orang terhanyut akan nostalgia, sampai ada lagunya segala. Begitu pula dengan peta wisata kulinernya, tak banyak yang berubah. Beda banget sama kota Bandung yang kreatif menciptakan inovasi baru. Sebulan sekali saja pergi ke kota Bandung, pasti ada kuliner baru yang unik. Malam ini kami bingung, ingin wiskul di dalam kota Jogja, tapi apa yang baru ya? Baik mi jawa, soto atau lesehan sudah sering kami coba. Kami pun bertanya pada supir taxi kami, makanan apa yang sing terkenal dan antri. Jawabannya bebek goreng H Slamet. Lah ini kan ada di Jakarta, tapi saya belum pernah coba. Tapi akhirnya kamipun sepakat kesana.
RM Begor ini terletaknya dipinggir jalan Gejayan. Tempat parkirnya sudah dipenuhi jejeran motor. Kamipun parkir diseberang jalan. Tempatnya sederhana tetapi bersih berupa ruang terbuka 2 tingkat dengan meja kursi terbuat dari kayu. Dihiasi dengan lampu, kipas angin serta poster-poster menu bebek.
Pilihan menunya hanya bebek goreng dengan pilihan paha, dada, kepala, cakar, ati rempelo serta ayam. Kami memilih dada dan paha, sudah termasuk sambal korek. Bebek yang disajikan cukup besar, terlihat garing dan berwarna coklat keemasan. Ketika digigit, daging terasa empuk dan gurih akibat bumbu yang telah meresap, enaknya lagi daging bebek tidak berbau amis. Apalagi kulit bebeknya, terasa garing dan gurih. Tapi hati hati ada beberapa bagian kulit dengan timbunan lemak yang cukup tebal.
Bebek ini dilengkapi dengan sambal korek yaitu ulekan cabe rawit merah dan hijau ditambah bawang putih serta minyak jelantah bekas goreng bebek. Hasilnya sambal ini terasa pedas menyengat dan sangat berminyak. Terus terang saya tidak kuat dan segera menuangkan kecap manis kedalam sambal. Ah nikmatnya sajian berselera ini. Tapi gawat juga, malam malam begini, nasi putih sepiring telah habis saya santap. Rusak sudah diet ku. Untuk meredam rasa pedas, segelas es jeruk manis pun mengalir menyegarkan tenggorokan.
Kekecewaan kami atas wiskul yang unik agak terobati karena makanannya cukup memuaskan. Padahal Begor H Slamet ini ada loh didekat rumah saya, tapi tidak pernah terpikir untuk mencoba. Harganya juga terjangkau yaitu Paha Rp 15.000 dan Dada Rp 16.000, es jeruknya pun hanya Rp 4.000. Pantaslah untuk direkomendasikan.

Chocolate Monggo, Kotagede (***)

Suasana dapur
Bersama mba Fit humas chocolate Monggo
Nampang berdua

Coklat bars
Aneka tester
Coklat tablets
Coklat spesial order

















Nah kalau yang ini sudah menjadi icon kota Jogja. Chocolate Monggo, the finest Indonesia chocolate ! Ini bukan cuma slogan, tapi beneran. Maksudnya coklat buatan Indonesia yang paling enak ya coklat Monggo. Bahkan lebih enak dari coklat buatan luar negri. Biji kakaonya berasal dari perkebunan di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Lalu diproduksinya juga dipabrik Kotagede Jogjakarta. Tapi yang membuatnya orang Belgia, yaitu Thierry Detournay.
Sejarahnya adalah pada tahun 2001 Thierry Detournay sedang berpetualang ke kota Jogja. Kemudian dia kecewa dengan rasa coklat buatan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil kakao. Thierry memutuskan untuk membuat coklat dengan citarasa Belgia dan diberikan ke teman-temannya di Indonesia. Ternyata coklat buatannya disukai dan akhirnya dia menjual coklat tsb disekitar UGM. Karena coklat buatannya mendapat respon positif, maka pada tahun 2005 mulailah didirikan PT Anugerah Mulia dan lahirlah produk coklat Monggo yang menjadi icon kota Jogja.
Kayanya rugi deh kalau ke Jogja tapi tidak mengunjungi pabrik coklat Monggo. Letaknya sih lumayan jauh di Kotagede. Kotagede adalah ex ibukota kerajaan Mataram sehingga memiliki situs arkeologi yang berisi sisa-sisa kraton (istana), pemakaman kerajaan, dan masjid kerajaan Mataram. Pabrik coklat Monggo sendiri letaknya hanya beberapa meter dari kompleks pemakaman raja raja Mataram. Selain itu Kotagede identik dengan pabrik kerajinan bahan perak, sehingga tidak rugi ke kotagede karena banyak tujuan wisata lain selain pabrik coklat Monggo.
Rupanya pabrik coklat Monggo itu berupa sebuah rumah Jawa kuno yang sudah direnovasi menjadi cantik. Luasnya juga tidak terlalu besar. Memasuki rumah bercat putih ini, bagian depannya terdapat teras dengan jendela kaca. Interiornya berupa kursi kayu panjang, lemari kayu dengan buku tamu diatasnya, pajangan tradisional Jawa serta pernak pernik yang berhubungan dengan kakao. Lalu ruang tengahnya adalah berisi rak display coklat Monggo untuk dijual.
Sebelum membeli bisa mencicipi testernya dulu loh. Rasa favorit saya tentunya dark chocolate tapi yang 58%. Artinya adalah coklat mengandung 58% cocoa butter / mentega kakao dan kakao massa, sisanya adalah bahan-bahan lain seperti susu, vanilla, gula, dll. Mentega kakao adalah lemak nabati yang terkandung dalam biji kakao dan didapat dari hasil proses pemisahan kakao massa. Ketika dark chocolate dimakan rasanya wuih lezat, langsung lumer dimulut dan tidak meninggalkan jejak kesat & getir, nikmat banget. Rasa pahit dari coklat sangat seimbang dengan rasa manisnya, sempurna. Pilihan dark chocolate lainnya adalah 69%, rasanya tentu lebih pahit dan tidak semua orang suka. Tapi saya juga suka, I love chocolate.
Ada beberapa jenis bentuk coklat yaitu bars & tablets serta kemasan oleh-oleh. Saya membeli 1 boks berisi 24 mini tablets dark chocolate buat teman sekantor. Kemasannya bergambar 4 punakawan. It’s very nice gift.
Ternyata rasa coklat yang diproduksi lumayan banyak loh jenisnya yaitu : Red chili (ha ha ha anda pasti kaget ketika memakannya), cashew nuts (organic dan yang biasa), orange peel, macadamia, raisin & cashew nuts, ginger, mango, marzipan, praline, caramello, strawberry, durian, milk dan white chocolate.
Puas memilih milih coklat, kami menuju ruang disamping kanan yaitu pabrik atau dapur tempat pembuatan coklat. Wah seru ya memperhatikan para karyawan yang sedang mencetak coklat. Ada yang sedang menuangkan coklat cair kedalam cetakan berbentuk tablets lalu diratakan kembali dan diletakkan didalam lemari pendingin. Ada yang sedangkan menuangkan coklat cair kedalam cetakan bentuk tablets tapi kemudian ditumpahkan kembali, kemudian diletakkan diatas rak besi sampai mengeras untuk diisi bahan seperti pasta, dll. Saya hitung jumlah karyawan didapur hanya 6 orang dengan seragam kaus hitam dan celemek serta penutup kepala warna merah tua, icon chocolate Monggo.
Terakhir, kami puas puasin mengambil foto biar temen temen yang liat pada ngiri, he he he. Lumayan juga berkunjung kesini, ada pengetahuan yang didapat, harga coklat lebih murah serta tester coklat yang banyaaak dan lezaaat…

Moro Lejar, Sleman (**)



Aneka gorengan dipintu masuk
Oseng cabe ijo
Ayam goreng balut telur
Aneka kripik dipintu masuk
Mendoan
Signboard


Gurame bakar
Saung diatas kolam
Suami saya ngotot ngajak makan masakan ikan wader. Sayapun terheran heran. Setau saya, suami saya tidak doyan ikan balita. Sedangkan ikan wader adalah ikan air tawar yang berukuran kecil seperti ikan balita. Udah gitu tempatnya jauh banget di Sleman, lebih jauh dari RM Jejamuran yang ingin saya kunjungi. Hmm pasti rasanya dasyat nih, pikir saya. Suami saya pun berpromosi, “ikan wadernya enak banget loh, garing dan gurih”, katanya. Tuh kan, mulai lagi. Ya okelah, saya manut wae. Tapi harus agak ngebut nih kesananya karena kami harus segera pulang ke Jakarta. Dan mulailah perjalanan kami dari jalan Kaliurang menuju Sleman, dikaki gunung Merapi.
Sesampainya disana, ternyata RM ini merupakan tempat makan dengan nuansa alam pedesaan. Bangunannya berupa saung saung diatas kolam ikan. Masing masing saung terlihat cukup luas. Terdapat sebuah meja besar dan tikar untuk duduk lesehan. Setiap saung juga tersedia kran untuk cuci tangan.
Spesialis masakan disini adalah aneka ikan segar air tawar yaitu ikan mas, gurame, lele, nila dan wader. Selain itu tersedia juga ayam kampung, udang, dan beberapa menu tambahan seperti nasi & mi goreng serta capcay.
Karena lapar kami agak kalap dalam memesan menu yaitu ayam goreng, gurame bakar, tempe mendoan, oseng cabe ijo, serta ikan wader goreng tentunya. Tak lupa kami berpesan agar penyajian agak dipercepat karena kami harus mengejar pesawat sore untuk pulang ke Jakarta.
Sambil menunggu pesanan datang, kami mengamati suasana RM ini. Sungguh asri rasanya dengan saung yang terbuat dari kayu dan bambu, serta atap genteng. Anak anak berebut memberi makan ikan didalam kolam dibawah saung. Makan disini, seolah olah sedang makan ditengah tengah perkebunan karena saung dikelilingi pepohonan yang rimbun. Udara terasa sejuk dan adem terkena hembusan angin semilir. Hmm mata mulai mengantuk nih.
Tidak begitu lama pesanan kami pun datang dan segera dihidangkan diatas meja. Tapi kok eh “Mas, ikan wadernya kok belum ada ?” Tanya ku. “Wadernya habis bu” kata si Mas. “Yaah tadi kok ngga bilang sih…” kata kami berbarengan. Kecewa berat nih. Jauh jauh datang kesini, lauk yang dipromosikannya tidak ada. Yah sudahlah…
Kami pun mulai menikmati makan siang kami. Ikan guramenya terasa segar dengan bumbu kecap yang meresap. Ayamnya unik karena digoreng dengan balutan telur dan ditaburi semacam kremesan dari telur. Ayamnya empuk dan gurih dengan bumbu yang meresap. Tempe mendoannya berisi 5 potong seporsi, masih hangat dan empuk. Oseng cabe ijonya berisi potongan kacang panjang, tempe, toge serta cabe ijo besar. Sayurnya terasa segar dengan semburat rasa gurih. Insiden ikan wader terlupakan sudah. Kami pun makan sajian yang terhidang dengan lahap.
Tak banyak waktu untuk berleha leha menurunkan nasi diperut, kami harus segera pulang. Kamipun beranjak menuju kasir. Harga disini lumayan terjangkau. Paling mahal adalah gurame Rp 36.000, kemudian ayam goreng Rp 15.000 (sepotong), mendoan Rp 6.000, oseng Rp 7.000, nasi Rp 4.000, kelapa muda (gelas) Rp 5.000, jus semangka Rp 7.000 serta sambal Rp 1.500, sehingga total kami membayar hampir seratus ribu.
Yang ingin berkunjung kesini alamatnya adalah Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, telpon 0274 895035-6. Disarankan reserved dulu sebelum kesini, karena pengujung yang kesini cukup ramai dan berlaku system buka tutup. Maksudnya bila pengunjung sudah full, maka parkiran akan ditutup sementara, sampai ada tempat lagi. Kasian kan kalau sudah jauh jauh kesini, eh ngga bisa masuk lagi. Bisa lemes tuh…

Thursday, September 13, 2012

Gule Kambing yang selalu diburu tamu saat Lebaran (***)




Beberapa hari sebelum lebaran ibu saya sudah sibuk menyiapkan masakan khas Lebaran. H-7 ibu saya mulai berburu daging, iga, buntut, lidah, ati serta ayam. Setelah itu, semua daging dimasukkan kedalam frezer dulu. Sebelum pembantu pulang kampung, ibu menyuruh dia memblender dan menyiapkan bumbu, memotong daging dan menggoreng kentang. Jadi ketika H-1 ibu tinggal meracik & memasak hidangan lebarannya dengan hati tenang. 
Salah satu masakan khas Lebaran buatan ibu yang selalu diburu para tamu adalah gule kambing. Tidak usah menunggu sampai Lebaran hari kedua, hari pertama pun gule kambing dapat dipastikan tinggal kuahnya doang. Terutama rombongan keluarga dari Bapak saya, sehabis makanpun tanpa malu malu masih meminta plastik untuk membungkus sisa gule. Ibu tinggal senyum senyum melihat masakannya ludes. Itu yang membuatnya masih semangat masak ketika Lebaran, padahal sudah saya larang karena ibu sudah berusia lebih dari 60 tahun dan sering sakit kecapean sehabis para tamu pulang.
Keistimewaan gule buatan ibu adalah memakai daging dan iga kambing yang direbus antara 1 – 1,5 jam sehingga daging empuk tetapi tidak hancur serta bumbunya sudah meresap banget kedalam daging, sehingga daging kambing bebas bau prengus. Aroma rempahnya terasa khas dan kuat sehingga menimbulkan aroma wangi dan menggiurkan ketika akan disantap. Kuahnya yang berwarna merah dan permukaannya yang berminyak serta potongan kecil gajih yang mengambang semakin mengundang selera. Penggunaan santan dan kemiri yang seimbang mengakibatkan kuah gule tidak kental tapi tetap mlekoh. Ketika disantap gule terasa ringan ngga bikin enek. Perpaduan bumbu rempah khas gule yang terdiri dari cabe, kunyit, cengkeh, pala, adas dan ketumbar terasa kuat dilidah dan menghangatkan badan.
Sekali waktu ibu memasak gule hanya dengan memakai daging kambing saja tanpa tulang dan iga kambing, eh sepupu sepupu saya itu malah mengomel, “Tante, gulenya kok ngga ada dagingnya ?” Loh ??? Semenjak itu ibu tak pernah lupa mencampur daging dengan tulang kambing. Kalau buat saya, malahan ibu membuat gule buntut sapi, karena daging kambing berbahaya untuk suami saya yang mengindap asam urat. Apapun isinya tetap saja gule terasa mantap dan lezat.

Sunday, July 15, 2012

Menikmati kelezatan ikan sungai Rasa Palembang (***)

Kuah pindang

Me
Air jeruk murni & es kelapa muda
Sambal sebelum diracik
Ikan seluang
Lalapan mentah + 4 jenis sambal
Sambal sesudah diracik

Ikan belida
Daftar menu
Patin bakar

Udang satang

Patin goreng












Menikmati masakan ikan yang berasal dari sungai, hmm apa bedanya ya ? Selama ini saya sebagai orang Jakarta selalu menikmati ikan laut atau ikan tambak air tawar. Kalau ikan sungai jarang ada dipasar dan harganya pasti mahal. Nah sekarang mumpung kami sedang berada di kota Lampung, ada kesempatan untuk mencicipi aneka hidangan ikan sungai khas Palembang.

Suami saya dulu pernah bertugas cukup lama di kota Lampung, sehingga dia sudah hafal tempat tempat kuliner disana. Jadi ketika hari minggu lalu kami ada acara dikota Lampung, sebelum pulang kami mampir dulu ke RM Rasa Palembang untuk menebus rasa kangen atas masakan special ikan sungai. RM ini letaknya ada di Jl. Bahari no 39 Panjang alias dekat pelabuhan Panjang.

Rumah makan ini cukup luas, bisa menampung seratusan orang lah. Walaupun tempatnya sederhana tapi suasananya terang dan bersih. Ditengah ruangan tersedia meja berukuran panjang untuk makan rame rame. Ketika kami masuk, ucapan selamat datang terdengar dari para pelayannya yang berjumlah cukup banyak.

Ketika kami duduk, sepiring lalapan mentah dan sepiring lalapan matang segera dihantarkan kehadapan kami. Menyusul 4 mangkok jenis sambal dan masing2 mendapat sepiring sambal yang belum diolah. Maksudnya adalah diatas piring itu terdapat beberapa potong tomat kecil, cabe rawit, jeruk limo dan bumbu. Tapi ulekannya ngga dikasih, he he he unik kan. Suami saya yang sudah paham langsung minta diracik dan jadilah sepiring sambal lagi. Selain itu langsung disajikan pula sepiring udang, 2 piring ikan seluang, sepiring ikan patin bakar dan 2 mangkok kuah pindang. Tak lupa kami diberikan piring makan, piring kosong untuk sambal dan kobokan. Kami belum memesan menu utama, tapi meja kami sudah hampir tidak muat lagi untuk menampung piring tambahan.

Jangan mencari buku menu disini karena daftar menu tinggal dibaca didinding yaitu tersedia masakan pepes ikan belida/baung/patin, pindang ikan baung/patin/kepala belida, ikan baung tempoyak dan telor ikan. Sedangkan ikan seluang goreng dan udang satang goreng sudah tersaji dimeja kami, sepiring udang berisi 4 ekor udang besar. Minumannya tersedia aneka jus, jeruk murni, es kelapa dan es campur. Karena kami berdua penyuka menu gorengan jadilah kami memesan ikan patin dan belida goreng serta minuman jeruk murni.

Tak perlu menunggu lama, pesanan kami segera datang. Segera kami tuangkan nasi hangat ke piring kami siap menyantap ikan goreng panas. Hmm ikannya enak tenan, empuk, gemuk dan berlemak, tak ada jejak rasa amis karena telah tertutup bumbu rempah yang telah meresap ke dagingnya. Apalagi ikan belidanya yang telah dipepes lalu digoreng menjadi wangi, sedaaap. Menyantap ikan diselingi dengan menyeruput kuah pindang yang berwarna kecoklatan dan berisi potongan buah nanas, daun bawang serta daun kemangi menjadikan makan siang kami lebih bersemangat. Rasa asam dan pedas dari kuahnya terasa lembut dan tidak menohok, ditambah rasa manis yang samar, menjadikan kuah ini istimewa dan menyegarkan.

Pasangan makan ikan sudah pastilah sambal. Aneka sambal yang tersedia disini adalah sambal nanas, sambal mangga, sambah mentah dan sambal matang. Semuanya segar dan pedas walaupun tidak sampai menonjok. Sambil makan kami mengamati piring lalapan. Banyak daun dan sayuran yang tidak kami kenal, bahkan ada semacam biji bijian berwarna hitam yang belum pernah kami lihat. Saking penasarannya kami tanya ke pelayannya. Rupanya ini adalah jaling yaitu sejenis jengkol yang lebih bau dari jengkol. Penasaran saya gigit sebutir jaling, dalamnya berwarna hijau seperti pete dan wuih baunya, maaf saya bukan penggemar jengkol.

Terakhir ikan seluangnya, bentuknya kecil kecil mirip ikan teri besar atau ukurannya sebesar ikan balita. Rasanya garing banget, kriuk kriuk, gurih tapi tidak asin, cocok dah untuk teman makan nasi. Makan siang kami ditutup dengan basuhan air jeruk murni, bener bener murni dan kental tanpa tambahan es maupun gula, mantap.

Sembari menunggu hitungan bon makan, kami mengamati banyak foto yang ditempel di dinding samping dapur. Aha rupanya banyak sekali artis dan pejabat yang sudah berwisata kuliner disini. Sudah sepantasnya lah karena masakan disini khas dan rasanya lezat. Bagaimana dengan harganya ? Sepotong ikan patin dihargai Rp 24.000, seporsi ikan seluang Rp 18.000 dan yang paling mahal adalah ikan belidanya yaitu diatas Rp 50.000. maklumlah karena ikan belida adalah ikan yang sulit didapat dan hampir langka. Terakhir air jeruk murninya Rp 18.000.

Nah buat yang ingin makan kesini bisa telpon dulu ke 0721 31747. Menurut suami saya kalau makan disini pas dihari kerja sungguh ramai dan antri. Untunglah kami datang dihari Minggu jadi pengunjung cukup lengang. Selamat mencoba ikan sungai sajian tradisional khas Sumatera Selatan.

Saturday, June 30, 2012

Sajian hot di RM Betawi H. Muhayar (**)






















http://www.yukmakan.com/review/members/Warung%20Betawi%20Haji%20Muhayar/3684/sajian-hot-di-rm-betawi-h.-muhayar-

Rumah makan betawi ini gaungnya sudah lama terdengar didunia wiskul karena menyajikan menu khas betawi yang jarang disajikan di RM lainnya yaitu aneka ikan berbumbu pecak. Masakan bumbu pecak adalah ikan yang disiram kuah pecak yaitu campuran rempah yang terdiri ulekan cabai merah, bawang merah, jahe, kunyit dan jeruk nipis, sehingga rasa yang keluar dari pecak itu asam pedas dan sedikit asin yang sempurna. Penasaran?

Weekend lalu, tiba tiba suami saya bilang pengen makan yang pedes pedes sampe keringetan, katanya. Dan dia pun teringat, pernah diajak makan temennya disebuah rumah makan betawi dekat Ragunan, sepulang rapat dari Departmen Pertanian. Tempatnya rame dan terkenal loh, kita kesana yuk, kamukan belum pernah, ajaknya. Oke deh, sahut saya.
Setibanya disana, wow memang rame ya. Walaupun berupa rumah makan sederhana yang terbuka, dipinggir jalan Taman Margasatwa no 8 Pasar minggu, samping Telkom Ragunan, tapi mobil mobil yang parkir tampak memenuhi pinggiran jalan. Bila semua meja telah penuh terisi, kita harus rela berbagi meja makan dengan pengunjung lainnya, terutama bila pengunjungnya hanya berdua seperti kami.

Menu yang ditawarkan disini adalah ayam kampung, ikan gurame, ikan mas dan ikan lele, bisa pilih digoreng saja atau diguyur bumbu pecak. Sedangkan ikan mas bisa dipepes atau dibakar. Pelengkapnya ada sayur asem, tahu tempe serta ati ampela ayam kampung. Kalau minuman andalannya paling paling es jeruk atau es teh manis.
Karena kami berdua tidak terlalu suka masakan basahan, maka pilihan menu siang ini adalah ayam goreng, ikan mas goreng, ati ampela, tahu tempe, sayur asem, krupuk serta es jeruk. Sedangkan aneka lalapan dan sambal terasi sudah tersedia dimasing masing meja makan.

Tak perlu menunggu lama, aneka pesanan kami pun dengan cepat terhidang dimeja. Aneka gorengan tampak menggiurkan, berwarna kecokelatan hasil penggorengan dengan minyak panas yang tinggi, sehingga hasilnya garing diluar, lembut didalam. Baik ikan, ayam dan ati ampela, semuanya terasa gurih akibat bumbu yang telah meresap, serta tanpa perlawanan dari gigi ketika mengunyah. Tak lupa kami cocol sambal terasinya, wuih pedasnya bener bener nonjok sampai muka kami merah kepanasan. Sambalnya bener bener seger baru diulek serta berteksturnya kasar. Saya sampai menambahkan kecap manis untuk meredam rasa pedasnya. Yang uniknya lagi sayur asemnya itu loh yaitu berisi potongan besar nangka muda, labu siam, jagung, daun melinjo, kacang bogor (dengan kulitnya) dan oncom. Kuahnya bening dan rasanya murni asam segar serta sedikit gurih. Mantap.

Saking lahapnya kami menyantap hidangan, tak terasa keringat pun membanjiri baju kami, akibat dari lauk pauk yang panas baru digoreng, sambalnya yang pedas menohok serta cuacanya pun puanas, bener bener hot deh. Untung ada segelas es jeruk nan manis sebagai penyejuk, jadi tubuh terasa mak nyes kembali.

Bila makan disini tak perlu ingat program diet, nikmati saja sajian lezat yang ramah dikantong, sekalian melestarikan resep warisan budaya betawi.

Tuesday, June 19, 2012

Asyiknya ditraktir makan Sushi ice cream & First love cakes oleh yukmakan.com (***)

Tim dari yukmakan.com
Haagen Dazs sushi ice cream tampak close up
Chef Lia dari Haagen Dazs


1 set Haagen Dazs sushi ice cream
Hasil kreasiku bersama Fitria, tapi ngga menang



Para peserta blog contest berfoto bersama
Undangan yang bikin ngileeer
Penampakan First love cake
Asyiiik, saya ditraktir makan ice cream oleh yukmakan.com dalam acara "Gathering yukmakan.com presents ice cream blog contest with Haagen Dazs". Udah gitu ice creamnya special lagi yaitu Sushi ice cream. Sebagai penggemar ice cream Haagen Dazs, saya memang sedang mengincar menu kreasi baru ini tapi belum sempet coba, eh pucuk dicinta ulam tiba, malah datang undangan makan gratis. Gambaran satu set sushi ice cream semakin terbayang bayang dipelupuk mata gara gara membaca undangannya.

Hari yang ditunggupun tiba. Saya datang setengah jam lebih awal ketempat acara yaitu di Haagen Dazs café Plaza Indonesia. Ternyata pesertanya banyak juga loh yaitu 20 orang sehingga kami duduk membentuk formasi 10 pasang sehingga selain lebih akrab juga mempermudah kami dalam melaksanakan games.

Acara dimulai dengan perkenalan yang berlangsung seru dan lucu, terutama akibat dari pembawaan tim yukmakan yang ceriwis, hangat dan akrab. Setelah itu giliran chef Lia dari Haagen Dazs yang menjelaskan secara detail mengenai sushi ice cream. Sushi ice cream ini adalah murni ice cream asli yang dibentuk menjadi mirip sushi. Bikinnya saja harus diruangan dengan temperature -45 derajat, seharian pula, bahkan salah satu jenis sushinya yaitu Mango salmon dibikin selama 1 ½ hari. Waaah harus extra sabar untuk membentuk lapisan menyerupai salmon yang terdiri dari lapisan ice cream vanilla dan mango sorbet yang diselang seling sebanyak 10 sampai 11 lapisan dengan tinggi 7 cm. Salute to the chef. Kemudian Mango salmon tsb ditaruh diatas ice cream vanilla yang diumpamakan nasinya.

Kemudian Rasberry kani sushi adalah ice cream vanilla yang diatasnya ditaro kani yaitu 3 lapis raspberry sorbet dan ice cream vanilla. Yang terakhir adalah kiwi gunkan dan strawberry gunkan yaitu ice cream vanilla yang dibalut nori yang terbuat dari coklat, dimana sushi yang pertama diberi topping potongan kiwi dan yang satu lagi diberi topping potongan strawberry. Sedangkan “nasi” nya ketika dibelah mengandung potongan strawberry juga.

Akhirnya rasa penasaran para peserta terpuaskan juga dengan disajikannya masing masing sepotong sushi dihadapan kami (ngarepnya sih satu set sushi per orang he he he). Sushi terlihat cantik dengan garnish apel hijau dan tambahan wasabi green tea ice cream. Ketika ice cream disuap dan melted dimulut rasanya benar benar mengguncang yaitu perpaduan rasa manis lembut dari nasi vanilla ice cream berbaur dengan rasa asam dari buah-buahan serta rasa manis nan legit dari coklat yang berkualitas, rasanya begitu pas dan sempurna. Saya merasa pantas dan maklum ketika mendengar harganya yang cukup mahal yaitu Rp 88.000 per set (belum termasuk pajak) karena sebanding dengan kelezatan dan kerumitan pembuatan ice cream tersebut.

Acara dilanjutkan dengan games menghias es krim, sayangnya saya tidak juara, padahal hadiahnya cukup menggiurkan loh yaitu voucher makan Haagen Dazs sebesar Rp 200.000. Ooh asyiknya.

Tapi tak disangka, setelah acara games berakhir, kami masih disuguhi sebuah cake yang katanya lagi happening di Jakarta yaitu First love cake, dimana baik rasa dan penampilannya sungguk unik dan luar biasa. Cake ini terbuat dari tumpukan crepes yang diselang seling dengan krim vanilla. Ketika dimakan rasanya sungguh creamy tapi tidak terlalu manis, lalu karena cake ini disajikan dingin maka ketika disuap rasanya lumer dimulut mirip dengan ice cake. Penampilannya yang berlapis lapis sungguh cantik dimana lapisan paling atas rasanya paling manis dan berwarna coklat keemasan akibat dari caramelisation. Pantas semua orang bakal jatuh cinta pada suapan pertama.

Ibu Nike dari First love cake ini juga menjelaskan bahwa tersedia 6 varian rasa yaitu original vanilla, strawberry, blueberry, oreo, green tea, dan coffe. Yang berminat membeli kue ini hanya dijual perloyang dan tersedia di Plaza Indonesia, Pantai Indah Kapuk atau Delivery order.

Akhirnya acarapun selesai dengan perut kenyang dan hati riang. Masih dapet oleh oleh sebuah goodie bag lagi. Nah tugas terakhir telah saya jalankan yaitu memberi review atas Sushi ice cream dan First love cake. My sweet friends please vote me and “LIKE” me, thanks.

Baca juga :

1. http://www.yukmakan.com/events/blog-haagendazs.asp
2.http://www.yukmakan.com/article/1038889/yuk-lihat-event/food-blogger-gathering-bersama-yukmakan.com
3. http://www.yukmakan.com/events/haagendazs-gallery.asp