Monday, January 23, 2012

Nikmat lembut kornet lidah sapi di Warung Garem Garem (***)

http://www.yukmakan.com/review/members/Warung%20Garem%20Garem/3660/nikmat-lembut-kornet-lidah-sapi-di-warung-garem-garem





Welcome to Warung Garem Garem family kitchen. Hmm sebuah nama yang unik. Dengan logo bergambar botol tempat garam, warung ini kami lihat ketika melewati jalan Diponogoro. Tapi saya tidak yakin dengan sebutan warung tsb karena bangunannya keren, bagus, rapih dan baru sehingga lebih layak disebut cafe atau restaurant. Kami pun sepakat untuk mampir kesana disaat makan malam karena tempatnya cukup ramai oleh pengunjung.

Ketika kami tiba disana, kami disambut ramah oleh seorang waitres dan diantar ke meja kursi kayu sederhana. Suasana disini homey banget, sederhana, nyaman tapi indah. Dindingnya saja berupa batu bata, lantainya semen serta sebagian dinding bagian atas dan langit langitnya dilapisi kayu.

Menu yang tersedia disini sangat jauh dari menu warung biasa, yaitu sebagian besar menu ala Eropa seperti steak, pasta, salad, pita bread, beef bockwurst, dll. Supaya pesanan kami pas, kamipun bertanya kepada waitres, menu andalan apa yang tersedia disini. Waitres merekomendasikan masakan kornet lidah sapi yang ternyata merupakan resep warisan keluarga pemilik warung ini. Uniknya lagi sketsa gambar pemilik warung ini, yang terdiri dari 3 orang, terpampang jelas di sampul buku menunya. Suami yang memang penggemar masakan lidah sapi langsung setuju untuk mengorder menu tsb. Sedangkan saya sangat tertarik dengan gambar menu pan fried chicken piccata. Untuk minumannya saya memesan hot chocolate dan suami memesan peach iced tea. Karena kedatangan kami pas diwaktu sholat Magrib, kami pun sholat diruang sholat yang kecil tapi bersih dan rapih.

Pesanan kami tiba diwaktu yang tidak begitu lama. Penampilan kornet sapi sungguh menggugah selera. Empat potong lidah sapi yang cukup tebal disajikan didalam kuah kaldu bening yang dihiasi bawang dan tomat. Pendampingnya adalah nasi putih, semangkuk sambal serta irisan wortel dan baby buncis. Ketika dimakan hmm empuk banget lidahnya, kuahnya pun gurih dan harum. Wah enak dan istimewa.

Sekarang giliran menu pesanan saya yaitu pan fried chicken piccata yaitu sebuah dada ayam tanpa tulang yang dibalut telur dan digoreng kering. Hmm aroma telur gorengnya menguar gurih memancing selera. Disajikan bersama spageti dengan topping saus tomat. Ketika dimakan daging ayamnya empuk, lapisan telurnya terasa garing dan gurih, pas banget berpadu dengan spageti yang rasanya asam segar yang berasal dari saus tomatnya.

Jangan salah, bukan hanya makanannya saja yang istimewa, minumannya pun terasa nikmat. Minuman pesanan saya sih standar yaitu hot chocolate tapi aromanya itu loh yakni aroma caramel yang terasa kuat dihidung tapi ketika diminum rasanya tidak begitu manis, sehingga disediakan 2 bungkus gula bila ingin terasa lebih manis, tapi kalau buat saya sih pas banget rasanya. Sedangkan minuman peach iced tea pesanan suami saking enaknya sampai pesan 2 gelas, yaitu es teh biasa yang diberi bubble tapi bubble tersebut lapisannya tipis sekali sehingga ketika pecah dimulut keluarlah cairan rasa peach, wah enak banget. Saking penasarannya kamipun bertanya nama bubble tersebut yaitu popping boba. Hmm beli dimana ya ?

Mengenai harga disini relative terjangkau, yaitu lidah sapi Rp 32.000, chicken piccata Rp 45.000, ice tea Rp 19.000 dan hot chocholae Rp 15.000. Ternyata warung ini melayani waktu breakfast juga loh yaitu pk 6.30 - 10 pagi dengan menu khusus seperti nasi goreng, mi rebus, bubur ayam & bolu kukus daging yaitu bolu kukus isi daging cincang disajikan bersama siomay. Wah terbayang keunikan dan kenikmatannya.

Warung Garem Garem
Jl. Diponegoro No. 3A, Bandung
Telp: 022-4263051/4265062

Menikmati nasi ayam kremes meni “Sedep Raos” pisan (**)






Bulan Januari ini, hujan turun tak henti-henti, tapi tak menyurutkan langkah kami berlima untuk pergi berbelanja sekalian arisan bulanan. Kali ini tujuan belanja kami adalah ke PGC alias Pusat Grosir Cililitan. Tak disangka, hari Minggu sore ini ternyata PGC dipenuhi pengunjung yang berdesak desakan. Setelah puas bekeliling mencari barang barang kebutuhan, tubuh terasa letih dan lapar. Tetapi tempat makan di PGC hanya sedikit pilihannya serta dipenuhi antrian pengunjung. Akhirnya kami putuskan untuk makan di jalan menuju arah pulang ke rumah kami didaerah Cilandak.
Seorang teman saya teringat, ada sebuah rumah makan kecil dimana masakannya lumayan enak, pilihannya banyak dan harganya terjangkau. Terbukti dia sering membungkus makanan dari sana untuk dibawa pulang. Hmm boleh juga tuh kami coba. Jadilah kami menuju kedai “Sedep Raos” di jl. Cipete Raya no 6, Cilandak.
Rekomendasi teman ku ini sungguh tak mengecewakan. Begitu banyak jenis menu pilihan disini yaitu dari masakan (muslim) Chinese food yang terdiri dari 85 jenis menu, lalu ada aneka gudeg komplit termasuk ceker opor dan paket kendil, aneka bakmi jawa dan nasgor, serta masakan andalan “SR” yaitu ayam kremes, bakar dan peyet serta rawon, soto kwali, nasi langgi & nasi liwet. Apabila hanya ingin makan kudapan, disini tersedia serabi solo 20 rasa dan batagor, serta aneka cemilan pelengkap makan seperti rempeyek, krupuk dan emping. Bahkan menu minumannya pun ada 20 macam.
Atas rekomendasi temenku itu, kami sepakat memesan nasi ayam kremes dan gudeg komplit. Penampakan ayam gorengnya sungguh menggoda hati yaitu sepotong ayam goreng yang diselimuti tepung kremes yang bergumpal dan menempel didaging. Ketika ayam hendak disuir, tangan kami tak kuasa memegangnya saking panasnya. Ayam disajikan bersama nasi putih, lalapan serta semangkok sambal. Sambal terdiri dari 2 jenis yaitu sambal matang dan mentah yang ditaro bersisian. Ayam terasa empuk dan gurih dengan bumbunya yang meresap kedalam daging. Begitu pula dengan bumbu kremesnya terasa gurih dan garing. Ketika dicocol bersama sambal, wuah, sambal mentahnya terasa pedas menggigit. Ini pasti sambal cabe rawit. Hati-hati, sambal ini hanya cocok untuk penggemar sambal kelas tinggi karena kedasyatannya. Temanku yang orang Padang saja setelah menghabiskan setengah porsi sambal dia mulai menyerah dan menyingkirkan sambalnya. Saya pun terpaksa meminta kecap manis untuk mengurasi rasa pedas dari sambalnya.
Untungnya kami memesan 1 porsi gudeg komplit sebagai penawar rasa pedas. Gudeg komplit terdiri dari gudeg, krecek, sepotong tahu & tempe bacem, sepotong paha ayam, sebutir telur serta opor ceker. Gudegnya berwarna merah kehitaman diberi daun singkong dan santan kental atau areh. Gudegnya kering, rasanya enak & manisnya tak berlebihan, cocok bagi lidah saya. Selain itu kreceknya besar-besar dengan kuah merah berminyak dengan beberapa cabe rawit yang mengambang. Tahu tempe serta ayamnya nya juga berukuran besar, dibacem dengan rasa manis yang pas. Yang agak jarang ditemui adalah opor ceker, yaitu 3 potong kaki ayam yang berukuran besar dan empuk, kuahnya pun banyak. Hmm pokoknya enak deh.
Harga disini lumayan terjangkau yaitu nasi ayam kremes nya Rp 19.500 dan gudeg komplitnya Rp 29.500. Enaknya lagi disini menerima pesanan catering & nasi box serta delivery oder bila dirumah tidak sempat masak, dengan minimal pemesanan Rp 100.000. Nah tunggu apalagi, yang mau DO bisa telpon ke 021 7581 8530. Oh ya ketika saya baca bill nya, rupanyanya Sedep Raos disini adalah cabang Jogja loh yaitu di jl. Seturan Raya no 15. Pantesan enak ya.

Sunday, January 08, 2012

Kuliner Cirebon


Nasi Lengko
Garang Asem




Ayam Bahagia
Garang Asem

Ayam Bahagia
Ayam Bahagia

Sere Manis

Sere Manis


The Baked Goods


The Baked Goods


The Baked Goods
The Baked Goods

The Baked Goods
Sere Manis




The Baked Goods
Kalau ada libur lebih dari 2 hari gatal rasanya kalau tidak pergi. Jadi ketika ada tambahan libur sehari setelah Natal, suami saya mendadak ngajak pergi ke Cirebon, pada hari Minggu jam 1 siang, langsung cari tiket kereta api dan hotel serta rencana pulang hari Senin. Kebetulan hari Sabtu ada tamu, lalu hari Minggu pagi pun ada tamu lagi. Setelah tamunya pulang, kami siap-siap pergi makan siang keluar, eh entah mengapa dia malah terinspirasi pergi ke Cirebon dan langsung telpon sana sini untuk mencari tiket kereta api dan hotel. Dan dimulailah petualangan kami.



1.    Makan siang di Pondok Hijau Garang Asem, Jl. RS Fatmawati no. 12 Jak Sel (*)

Sebelum pergi ke Gambir, lunch dulu dong. Kebetulan kami teringat sebuat rumah makan baru di jl. RS Fatmawati yaitu Garang Asem yang belum kami coba. Rumah makan ini bernuasa hijau daun sehingga diberi nama Pondok Hijau. Ada 3 jenis garang asem yang tersedia yaitu garang asem iga, ikan & ayam kampung. Selain itu ada juga masakan jawa lainnya seperti ayam goreng / bakar, pecel, tempe tahu, dll. Suami saya memesan garang asem iga sedangkan saya memesan ayam goreng saja, karena takut tidak doyan, ditambah tahu sambal kecap serta minuman jus kedondong jeruk.
Didalam buku menu tertulis : “ Spesial menu Garang Asem, masakan khas Jawa Tengah, dimasak dengan cara dikukus memakai daun pisang, tanpa micin, tanpa minyak, tidak berkolestrol, rasanya asam gurih seger pedas, bisa juga tidak pedas, dan mak nyuuus. Khasiat blimbing wuluh mengobati darah tinggi, asam urat.”
Tak berapa lama hidangan pun diantar ke meja kami. Yang belum tau masakan garang asem itu apa, mari saya jabarkan.
Sebuah mangkuk bening beralaskan daun pisang berisi potongan daging iga tanpa tulang dengan bumbu bumbu : belimbing wuluh, tomat hijau, daun salam, sereh, lengkuas, bawang merah dan putih serta cabe rawit, dimana semua bumbu tsb masih terlihat utuh atau dipotong besar-besar, serta berkuah bening.
Ketika ku cicipi, daging terasa empuk, rasa kuahnya sesuai kata iklannya yaitu “asam gurih seger pedas” tapi dengan katagori sopan sehingga semua kalangan bisa menikmati hidangan ini dengan nyaman baik di lidah maupun di perut.
Cara memasaknya sebenarnya gampang saja, yaitu daging direbus dengan bumbu dan rempah tersebut diatas. Setelah daging matang dan empuk, tuangkan kedalam mangkok daun pisang lalu dikukus sehingga aroma daun pisangnya menguarkan wangi harum menggugah selera, hmm…
Tahu sambal kecapnya cukup istimewa di lidah. Yaitu 3 potong tahu putih berbentuk kotak, lalu diatasnya dikerat vertical horizontal, lalu digoreng hingga berwarna kecoklatan, dihidangkan bersama kecap yang diberi irisan cabe rawit dan bawang, rasa tahu nya patut di acungi jempol, asli, enak dan lembut.
Yang terakhir, yang juga istimewa yaitu jus kedondong jeruk, rasanya manis dengan semburat rasa asam segar, jauh dari rasa kecut, hmm enak.
Secara keseluruhan penilaian rumah makan ini bagus, baik dalam kualitas dan rasa makanan, kerapihan dan kebersihan ruangan, pelayanan sopan dan cepat. Mengenai harganya standard saja yaitu Rp 35.000 untuk garang asem, Rp 17.000 untuk ayam goreng, tahu Rp 5.000 dan Rp 12.000 untuk jus nya. Ditambah nasi, krupuk, teh, dll lalu dikurangi diskon grand opening, maka kami cukup membayar Rp 65.250 saja.
Nah buat penggemar masakan jawa, rumah makan ini bisa menjadi alternative baru.

2.    Makan malam Nasi Lengko & sate kambing H. Barno jl. Pagongan Cirebon (**)

Berangkat ke Cirebon dengan kereta api Argojati pada pk 17.15, AC di stel pol dinginnya. Rasa lapar mendera kami. Walaupun begitu kami tahan, jangan sampai makan di kereta api, sebab rencana kami ingin segera makan malam di kota Cirebon. “Tapi jangan makan nasi jablang yah” kata suami ku, “kan sudah pernah, kita coba makanan yang lain” ajaknya. Saya sih menurut saja, kan dia yang sudah menguasai lapangannya.
Becak yang membawa kami dari stasiun kota Cirebon diarahkan suami menuju jalan Pagongan. Rupanya disana ada sebuah warung berjudul Nasi Lengko H. Barno. Saya sama sekali tidak memiliki bayangan seperti apa hidangan tersebut. Jadi saya pasrah saja ketika suami saya memesannya. Rupanya disini tersedia juga sate. Tapi sayangnya hanya tersedia sate kambing saja. Mata saya langsung mendelik, jangan sampai dia makan sate kambing, bisa bengkak tuh kakinya kena asam urat. “Sate kambingnya untuk ku saja ya 5 tusuk” kataku “Tapi kamu jangan makan ya” pesanku.
Walaupun bisa dimasukkan kedalam kategori warung, tempat makan ini cukup luas dan memanjang kedalam. Sedangkan nasi lengko serta sate dimasak di atas gerobak didepan pintu masuk warung.
Yang belum tau nasi lengko itu seperti apa, saya pun baru tau saat itu. Yaitu nasi putih yang diberi potongan tahu tempe goreng, lalu ditaburi potongan ketimun, daun kucai serta bawang goreng, disiram kecap manis dan sambal kacang.
Rasanya unik, manisnya kecap, pedasnya sambal serta segarnya ketimun berpadu dimulut, ditambah tahu tempenya yang terasa asli dan segar. Hmm enak. Tapi semua itu tentulah lebih nikmat bila ditambah lauk sate kambing. Tapi eh kok hilang 1 tusuk ya ? Mata saya kembali mendelik ke arah suami saya yang sedang asik mengunyah sate. Piring sate pun saya pindahkan menjauhi dia.
Penampilan sate cukup mungil menurut saya. Setiap tusuk hanya berisi 3 potong dengan urutan : daging lemak daging. Sate tidak terlihat gosong bahkan daging masih terlihat putih dan bersih. Disajikan bersama bumbu kecap manis dan sambal kacang yang sama dengan nasi lengko, plus acar ketimun. Sate terasa enak dan empuk serta tidak bau. Potongan lemaknya justru yang paling besar. Memang sih tidak sehat dan menyeramkan bagi kesehatan jantung. Tapi saya menyerah, 4 tusuk sate tsb langsung ludes saya habiskan. Sayangnya masih kurang 1 jenis pendamping lagi yaitu krupuk yang persediaannya sedang habis.
Setelah kenyang, badan kembali terasa hangat dan segar, siap menempuh perjalanan menuju hotel. Harganyanya pun ramah dikantong yaitu Rp 27.000 untuk 2 porsi nasi lengko, 5 tusuk sate serta minuman teh hangat. Buat yang akan berkunjung ke kota Cirebon jangan lupa singgah kemari, sebagai salah satu tujuan wisata kuliner.

3.    Ayam goreng “Bahagia” ibu Hj. Sunarti jl. Bahagia no 69-71 Cirebon, telpon 0231 2070254 (**)

Makan siang dimana nih sebelum pulang ke Jakarta ? Kali ini suami saya mengarahkan tukang beca menuju jl Bahagia. Rupanya disini ada sebuah rumah makan ayam goreng / panggang ibu Hj Sunarti. Setelah masuk, kita harus langsung menuju meja pemesanan. Sayangnya ketika suami memesan ayam panggang, rupanya menu tsb sudah tidak tersedia lagi disini.
Dimeja pemesanan ini terhampar aneka potongan ayam seperti dada, paha, kepala, ati, ampela, sate usus, sate tunggir, tahu, tempe dan pete yang digantung. Ayamnya adalah ayam kampung tapi saya melihat tumpukan ayam berwarna hitam. “Apa ini bu ?” tanya saya. Oh rupanya ini adalah ayam cemani. Wah daripada nanti takut tidak doyan, lebik baik kami memesan ayam kampung biasa saja deh. Setelah kita pilih mau lauk yang mana, lalu tinggal digoreng.
Pilihan minumnya juga banyak yaitu aneka jus, teh, softdrink, kelapa, jeruk, dll. Saya melirik ke meja meja pengunjung lain, banyak yang memesan jus alpukat, hmm tampaknya menggiurkan. Saya pun memesan jus alpukat sedangkan suami memesan es jeruk. Sekali lagi saya melirik ke nasi nasi yang diantar ke meja pengunjung, wah wah wah kok tampak sementung banyaknya. Saya pun berpesan agar ukuran nasi saya dikurangi.
Lalap sambal telah diantarkan ke meja. Melihat pengunjung yang memesan sayur asem, suami saya menjadi tertarik dan ikut memesan. Ketika jus alpukat diantarkan, jus terasa kental berisi alpukat murni yang ditambah susu coklat, oh alangkah nikmatnya. Es jeruknya juga oke, cukup kental dan manis.
Setelah agak lama, akhirnya pesanan kami datang juga, yaitu paha goreng yang ditusuk seperti sate, ampela, kepala serta tempe. Sambal yang disediakan berupa sambal yang digoreng. Tak sabar rasanya ingin segera makan, tapi apa daya, ayam goreng masih terasa sangat panas ditangan. Sabar sedikit dan nyam, ayam terasa gurih dilidah, bumbunya sungguh meresap kedalam daging. Tempe walaupun warnanya agak dekil, ternyata enak. Tempe Cirebon jauh deh sama yang di Jakarta, asli kedelainya. Sayur asemnya saja sungguh segar. Kuahnya banyak dan bening, jagungnya besar dan manis, ditambah labu siam, daun melinjo dan kacang panjang. Tak terasa nasi dipiring hampir habis. Kami menyesal karena masing masing hanya memesan sepotong paha, padahal ukuran ayam kampung kan kecil. Tapi kalau nambah ayam lagi sepertinya bakalan lama nih menggorengnya.
Selesai makan, kami segera membayar. Harga ayam Rp 14.000, tempe Rp 1.500, kepala Rp 2.500, ampela Rp 3.000, sayur asem Rp 3.500, nasi Rp 3.500, alpukat Rp 8.000 dan jeruk Rp 7.000. Badan terasa berkeringat dan segar kembali, siap menghadapi dinginnya AC kereta api Argojati. Goodbye Cirebon.

4.    Sere Manis, Jl. H. Agus Salim no. 16, Sabang, Jak Pus, Telpon 021 3190 9025 (*)

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di stasiun Gambir. Waktu hampir menunjukkan pk 6 sore. Waktu Magrib akan segera tiba serta perut kami sudah mulai berdendang akibat kedinginan. Segera kami mencari tempat untuk beristirahat, sholat dan makan malam. Sebenarnya tujuan kami hendak ke jalan Sabang sebagai pusat kuliner. Tapi ketika berbelok terlihat sebuah gedung baru dipojokan jalan Agus Salim, dimana di lantai bawah ada sebuah toko kue “The Baked Goods” milik artis Erwin Parengkuan & istrinya Jana. Wah toko kue ini memang sedang kucari-cari tempatnya, akhirnya ketemu juga. Kebetulan lagi dilantai 2 terdapat sebuah restaurant bernama “Sere Manis”. Wah cocok nih sebagai tempat beristirahat dan mengisi perut.
Menilik dari namanya, pasti restaurant ini menyajikan masakan Indonesia. Memang benar sih, tetapi selain itu disini juga banyak menyajikan kudapan seperti dim sum, bubur kacang hijau, bubur sumsum & ketan hitam, roti bakar, roti prata, singkong goreng, pisang goreng, tape goreng, mendoan, kroket, risoles, lupis, gemblong, dll. Belum lagi minuman seperti bajigur, bandrek, es cendol, es campur, teh daun sereh, teh tarik, aneka kopi, dll. Sedangkan untuk makanan beratnya tersedia menu aneka soto seperti soto tangkar, soto betawi, soto kudus, soto mi, soto daging, sop buntut dan sop iga. Lalu aneka ayam, bebek, ikan, iga dan empal. Aneka mi, bihun dan kwetiau, dan masih banyak lagi seperti pempek, asinan jakarta, udang goreng telur asin, kepiting soka, pindang patin, nasi bakar menado, dll.
Selain menunya yang beragam, jam bukanya pun memiliki keunggulan yaitu dari pk 7 pagi sampai tengah malam. Letaknya di Jakarta Pusat tepatnya di sentra kuliner jl Agus Salim no. 16 Sabang, maka tentulah restaurant ini cocok untuk aneka kebutuhan yaitu tempat sarapan sebelum ke kantor, tempat lunch dan dinner, tempat janji ketemuan karena letaknya yang strategis, tempat nongkrong sepulang kerja, bahkan tempat nunggu kemacetan reda atau menunggu waktu 3 in 1 habis.
Nah malam ini kami memilih menu mi ayam jamur dan mi goreng jawa, untuk minumannya kami pilih teh jahe panas dan jus semangka. Untuk mi ayam jamurnya, memakai mi keriting tapi ketika dimakan terasa tektur mi nya agak tebal dan kenyal, diberi topping ayam, jamur bawang goreng serta sawi, rasanya sih standard saja. Sedangkan mi goreng jawa memakai mi yang tidak keriting, tekturnya lebih kecil dan lebih empuk, digoreng bersama potongan ayam, irisan kol dan daun bawang, ditaburi bawang goreng, dan warnanya coklat pekat sehingga rasanya muanis banget, berlebihan kalau buat ku sih. Sehabis makan yang manis, tenggorokan terasa lega dibilas teh jahe yang pedas dan terasa hangat diperut.
Walaupun begitu, keunggulan akhir disini adalah harganya yang masuk akal yaitu antara sepuluh ribu dan maksimal tidak lebih dari empat puluh ribu. Hmm mungkin lain kali kami akan mampir untuk mencoba makanan beratnya untuk makan siang.
Sebelum pulang tak lupa kami mampir ke “The Baked Goods” untuk membungkus aneka kue untuk camilan nanti malam. Ah saya penasaran dengan bublanina yaitu dessert khas ceko yang memakai strawberry segar sebagai salah satu bahannya. Suami saya sangat tertarik dengan quiche yaitu pai yang isinya terbuat dari susu, telur, keju dan jamur.
Sepertinya kami suatu saat kami harus kembali kesini untuk menikmati kue kue cantik dan lezat ini langsung ditempatnya. Saya penasaran ingin mencoba choco lava dan fruit knedliky. Tuh kan, kalian penasaran juga…

Tuesday, November 15, 2011

International chef at CJ Tom Yum (**)



Jarang jarang menemukan restaurant yang berkelas didaerah perumahan seperti Lebak bulus ini. Walaupun ada, itu pun terbatas pada masakan Indonesia atau chinesse food saja. Tapi ini ada sebuah restaurant dengan international chef, yang menyajikan masakan Thailand di perumahan daerah Lebak bulus yaitu  CJ Tom Yum yang letaknya di jl Adhyaksa no. 5.
Apabila kami hendak kerumah ortu di Cinere, kami pasti melewati resto ini. Dari hari ke hari kami makin penasaran dan sangat bergairah untuk mencobanya karena jumlah pengunjung yang datang selalu terlihat ramai. Akhirnya pada suatu minggu malam kami pun mampir kesini. Dua buah patung gajah putih khas Thailand pun meyambut kami dipintu gerbang resto ini.
Ruang resto terbagi dua yaitu teras depan dan ruang dalam yang ber AC. Untunglah kami masih mendapat meja di ruang dalam. Dinding ruangan dihiasi dengan lampu lampu yang bergambar aneka menu masakan yang menggiurkan, sehingga semakin memancing selera makan kami. Walaupun begitu kami harus tau diri, karena cuma makan berdua paling maksimal hanya bisa memesan 3 menu saja.
Dalam daftar menu pilihannya sangat beragam yaitu aneka seafood kepiting, ikan, kerang, cumi & udang. Selain seafood ada juga ayam, bebek, sapi, burung dara & sayur. Menu unggulannya tentu Tom yum. Tapi saya melihat sebuah menu tom yum yang tak biasa yaitu tom yum kai atau sup tom yum isi ayam kampung. Hmm suami saya langsung tertarik dan memesannya. Sebuah gambar di dinding mirip pangsit goreng menarik perhatian saya. Rupanya itu adalah lumpia udang goreng ala resto tom yum. Wah bolehlah juga tuh menjadi pilihan saya. Terakhir kami sepakat memesan mi goreng udang.
Beberapa menu tersedia dalam 2 ukuran yaitu small dan medium. Tom yum ayam pesanan kami berukuran small, tapi ternyata lumayan banyak juga isinya. Dihidangkan dalam sebuah mangkuk sapo, bedanya dengan tom yum seafood adalah kuahnya tidak berwarna merah dan tidak pedas, tapi citarasanya tetap asam segar dan kaya rempah. Sayangnya kalau menurut saya, ayam kurang lama direbus karena ketika dimakan ada daging yang masih berwarna merah dan kurang empuk. Sedangkan lumpia udangnya saya suka sekali, berisi 5 potong dan disajikan bersama saus sambal asam manis cair. Kulit lumpia rasanya kriuk tapi isinya terasa lembut. Ide kami untuk memesan mayones sebagai saus pelengkap tambahan sehingga rasanya makin yahud. Terakhir mi gorengnya yang dimasak bersama telur, toge, daun bawang & udang, sebenarnya rasanya enak tapi sayangnya terlalu gurih sehingga mengurangi kenikmatan.
Tapi terlepas dari itu semua, saya pasti mau bila diajak balik lagi kesana. Karena saya doyan seafood dan masih banyak menu lain yang penasaran pengen saya coba. Yang mau kesini telpon dulu di 021 7592 1405.

Thursday, November 10, 2011

Kuliner Bandung : 4 Restaurant bernuansa Bali di Bandung

1.    Bali Seafood : jl. Wastu Kencana no. 57
2.    Café Bali : Jl RE Martadinata no. 215, telpon 022 7217 490
3.    Ikan Bakar Jimbaran : Jl. Sulanjana no. 14, telpon 022 4209 415 / 4230 539
4.    Bali Heaven (Baven) : Jl.Pasir Kaliki no.185-189

Baven

Baven

Baven

Baven

Baven

Baven

Bali Seafood

Bali Seafood

Bali Seafood

Bali Seafood

Bali Seafood

Cafe Bali

Cafe Bali

Cafe Bali

Cafe Bali

Aneka masakan seafood segar & lengkap di Bali Seafood (*)

Bapak mertua saya penggemar masakan ikan bakar. Sejak tinggal di Bandung dia hobi berburu tempat yang menyajikan masakan ikan bakar. Diantaranya ada 2 tempat yang pernah dia ajak kami kesana yaitu Ikan Bakar Jimbaran, Jl. Sulanjana no 14 dan Bali Seafood, jl. Wastu Kencana no 57. Kedua tempat itu bernuasa Bali. Tapi kali ini saya mau membahas Bali seafood karena kami sekeluarga, berempat belas anak cucunya, baru saja makan disana pas malam takbiran Idul Adha lalu.
Resto ini menyediakan aneka jenis masakan seafood yang lumayan lengkap. Sebelum mencari tempat duduk, sebaiknya singgah dulu ketempat pemesanan di depan pintu masuk. Aneka seafood segar tersedia disini, tinggal kita pilih seafood mana yang kita sukai dan ingin dimasak seperti apa.
Ngga tanggung tanggung, kakak ipar saya memilih lebih dari 10 jenis masakan yaitu kepiting jantan saus tiram & saus Singapore, ikan baronang bakar, ikan kerapu goreng, cumi goreng crispy, udang windu bakar & saus mentega, kerang darah rebus & saus padang, cah kangkung bawang putih, cah baby kaelan, serta sop asparagus. Huaaa banyak banget. Sambil menunggu pesanan kami datang, pelayan mengantarkan camilan pembuka yaitu otak otak.
Saking banyaknya pesanan kami, saya tidak bisa mencicipi semua masakan. Sajian pertama yang datang adalah kerang darah rebus yang langsung habis diserbu. Kemudian saya mengambil kepiting masak Singapore, yaitu kepiting yang diselimuti saus kental berwarna merah, yang berasal dari campuran telur, sehingga rasanya manis gurih. Hampir semua orang suka masakan ini, tapi ada kelemahannya. Hati hati ketika menyendok sausnya karena banyak mengandung serpihan kulit kepiting yang keras, awas keselek.
Masakan kedua adalah kerang darah saus padang, walaupun warna merahnya garang serta banyak mengandung serpihan cabai dan daun bawang, tapi rasa pedasnya masih bisa ditolerir. Masakan ikan kerapu goreng dan cumi goreng crispy hampir serupa yaitu sama sama dibalut tepung tipis dan ditaburi serabut telur. Hmm kedoyanan saya nih, yang garing garing. Lalu udang windu bakarnya besar besar dan manis karena dibumbui kecap.
Ada 2 masakan yang saya kurang doyan yaitu ikan baronang bakar yang rasanya manis bersemu pahit karena kegosongan & dagingnya sedikit keras karena kekeringan serta sop asparagus kepiting yang rasanya agak hambar. Ah sayang sekali. Menu lainnya tidak sempat saya cicipi karena perut sudah tidak kuat menampung.
Oh ya ada satu lagi kekurangan yang cukup fatal bagi kami yaitu tidak disediakan sambal pendamping yang layak. Andaikata disediakan berbagai jenis sambal kondimen semisal sambal mangga atau dabu dabu, dijamin sajian seafood disini pasti jauh terdongkrak.

Jagung bakar rasa Barbeque di Café Bali (**)

Merayakan lebaran Idul Adha di rumah kakak ipar, di Bandung, pasti disajikan menu khas lebaran yaitu ketupat, opor ayam dan kawanannya. Begitupula ketika kami berkunjung ke rumah sanak family yang lain. Bosan juga seharian makan ketupat disana sini dan agak sedikit enek akibat dari masakan yang bersantan.
Karena itu suami sengaja mengajak saya berkeliling untuk mencari tempat makan baru. Ketika melewati jl RE Martadinata, tak sengaja kami melihat sebuah resto yang ramai oleh pengunjung. Padahal kami sering sekali melewati daerah ini, tapi baru kali ini kami berniat mencobanya, yaitu Café Bali di jl RE Martadinata no 215.
Resto ini lumayan luas karena berasal dari 2 kavling bangunan yang dijadikan satu. Apabila kita duduk dibagian kavling bagian kiri, akan diberikan sebuah buku menu yang isinya tak hanya masakan khas Bali atau Indonesia, melainkan tersedia juga masakan khas Eropa yaitu steak, pasta, dll. Tapi apabila kita menyebrang ke kavling sebelah kanan, disini tersedia berbagai masakan Indonesia yang disajikan diatas rak display, sehingga kita tinggal menunjuk masakan yang diminati, lalu masakan tsb dipanaskan dulu sebelum dihidangkan kehadapan kita.
Kami memilih duduk dikavling kiri dan siap memesan dari buku menu. Ketika itu saya melihat beberapa pengunjung yang memesan jagung bakar. Wuah kayanya nikmat banget menikmati jagung bakar dalam cuaca dingin dingin begini, hujan rintik rintik dan perut pun tidak terlalu lapar. Ada 2 pilihan rasa jagung yaitu rasa Barbeque dan rasa Caramel. Wah saya pasti pilih yang asin dong yaitu rasa BBQ. Secangkir hot chocolate pun saya pilih untuk mendampingi kudapan ini. Suami saya yang lapar memilih nasi bebek Bali dan es cincau. Sebagai appertizer kami memesan lumpia Vietnam.
Sambil menunggu pesanan datang, kami sibuk berfoto-foto. Kebetulan kami duduk di teras belakang, dimana disampingnya terdapat halaman yang rimbun oleh tanaman hias. Interior ruangannya itu sendiri terdiri dari berbagai furniture yang terbuat dari kayu dan bergaya tradisional, begitupula dengan aksesoris pelengkapnya seperti lampu, patung, piring keramik, vas bunga, dll bergaya khas Jawa.
Puas berfoto kami siap menikmati sajian. Yang pertama adalah lumpia Vietnam, yaitu 2 potong lumpia yang isinya mirip otak otak, lalu dikerat kerat sehingga hasilnya menjadi agak kering setelah digoreng, disajikan bersama saus sambal kacang yang rasanya asam manis. Kemudian jagung bakar penampilannya menggiurkan banget, ukurannya besar, ditusuk seperti sate, agak sedikit gosong serta berlumuran bumbu barbeque yang berwarna merah. Ketika dimakan, rasa pedas asam manis asin menyeruak dimulut, hmm enak banget. Jagungnya sendiri empuk dan manis, mantap deh.
Tak lupa saya sempatkan untuk mencicipi nasi bebek bali nya yaitu nasi yang dibungkus daun pisang disajikan bersama bebek yang digoreng kering, rempeyek kacang, lalapan serta 4 macam sambal dan acar, yaitu sambal rawit, acar bawang, acar cabe besar, dan tumis labu siam. Saya cicipi bebek gorengnya yang berwarna coklat kehitaman, hmm enak, garing banget dan bumbunya gurih meresap kedalam daging.
Semua sajian ini dihargai dengan pantas yaitu Rp 42.500 untuk nasi bebek. Sedangkan harga jagung Rp 9.000, minuman @ Rp 15.000 dan lumpia Rp 12.000. Masih banyak menu lain yang patut kami jajal, karena itu kami pasti kembali dilain waktu.

BALI HEAVEN – FO BANDUNG RASA BALI (*)

Jangan bingung melihat judulnya, katanya ulasan kuliner tapi judulnya FO. Karena FO ini punya keistimewaan yaitu super lengkap karena selain menjual produk fashion, tersedia juga salon untuk spa & perawatan kecantikan khas Bali, toko oleh oleh dan kerajinan khas Bali serta ada cafe nya.
FO ini terletak di persimpangan jalan Pasirkaliki & Pasteur, tepatnya di Jl.Pasir Kaliki No.185-189 Bandung. Selain arsitektur bangunan dan interior yang bergaya khas Bali, lengkap dengan pura sebagai pintu gerbangnya, pendengaran kita juga dibuai dengan alunan music gamelan angklung khas Bali.
Seperti biasa kami penasaran dengan kuliner yang tersedia disana, karena selain tempatnya cukup luas dan indah, apabila datang dimalam hari akan terlihat semakin romantic, pengunjung pun  terlihat memadati tempat ini.
Ada 3 jenis menu yang tersedia disini yaitu masakan khas Bali, “Just sosis resto” yang menyajikan menu sosis & bratwursh (sosis khas Jerman), steak, burger, hotdog & nasi goreng, serta “Baso Bedugul” yaitu aneka baso isi, mi, batagor, siomay, serta tahu lembang.
Setelah kami bertanya, menu unggulan yang sering dipesan adalah Dragon sosis yaitu sosis sepanjang 40cm yang disajikan dengan siraman mayonaisse, keju, saus tomat dan sambel kemudian juga di bagian pinggirnya ada irisan kentang goreng serta keripik singkong. Sayangnya kami kurang tertarik memakan sosis sebesar itu.
Menu unggulan lainnya adalah nasi goreng kelapa yaitu nasi goreng yang disajikan didalam batok kelapa. Nah ini suami saya langsung berminat, apalagi setelah melihat banyak pengunjung yang sedang menikmati nasi goreng tsb. Sedangkan pilihan saya adalah chicken steak. Sebagai appertizer kami memesan semangkok baso yang berisi baso keju, baso telur dan baso urat.
Menurut saya rasa basonya standard saja. Nah kalau nasgornya cukup unik yaitu nasi goreng seafood yang ditaruh didalam batok kelapa muda, disajikan bersama telur dadar, krupuk udang dan acar. Uniknya potongan kelapa mudanya pun dicampur dan digoreng bersama nasi sehingga ada sensasi rasa manis disela sela gigitan. Terakhir penampilan chicken steaknya yang biasa banget yaitu dada ayam yang di grill disajikan bersama tumis sayuran yang berasal dari frozen vegetable serta disiram saus jamur, rasanya pun standard abis. Walapun begitu sayang melewatkankan tempat ini, karena setelah kenyang, kita bisa langsung belanja belanji product fashion yang sedang trend.

Tuesday, November 08, 2011

Delicieux Chicken melt at Le Marly Pantry (***)










Ketika kami pergi ke Bandung minggu lalu, ada sebuah tempat kuliner baru di jalan Citarum no. 10. Maksudnya mungkin saya baru liat. Padahal kami sering lewat sini loh. Setelah kami ingat ingat, rupanya tempat ini dulunya adalah restoran Raja Melayu.
Tempatnya terlihat nyaman, berkilau & ramai. Ruang resto jelas terlihat dari luar karena dinding depannya terbuat dari kaca. Lahan parkir penuh sesak sampai ke pinggir jalan. Di papan billboard tertulis “Le Marly Pantry”. Ketika itu malam minggu, hujan rintik rintik menyelimuti kota Bandung. Gabungan antara cuaca dingin dan rasa penasaran lah yang membuat kami segera memutuskan mampir kesini.
Rupanya kami masuk dalam daftar antrian pengunjung, tapi syukurlah tak lama kemudian tersedia sebuah meja bulat kecil untuk kami berdua. Daftar menu yang terbuat dari bahan kayu yang lebar menginformasikan berbagai menu disini yaitu salads, soup, galette de sarasin (waduh apa ini), crepe de froment (kalau ini masih ada bayangan sedikit), pasta, pizza, pancakes/waffles, main specialties yang berupa menu steak, savouries alias snack serta butter rice dengan pilihan topping daging, ayam dan tuna. Masing masing jenis memiliki pilihan rasa dengan nama nama yang terus terang saja saya tidak mengerti karena dalam bahasa Itali. Ada sih deskripsi nya dalam bahasa inggris, tapi daripada lama membacanya, mending kami panggil saja waitress nya.
Hal pertama yang kami tanyakan adalah galette itu apa sih ? Jawabannya adalah pancake atau kue dadar yang tipis yang terbuat dari tepung buckwheat atau gandum yang rasanya asin dan memakai topping yang gurih seperti daging, telur, keju, dll. Bedanya dengan crepe adalah rasanya yang manis dan memakai topping manis seperti coklat, buah, es krim, dll. Pertanyaan selanjutnya adalah menu apa yang menjadi unggulan disini ? Ah rupanya didalam daftar menu, menu unggulan ditandai dengan tanda “chef recommendation”. Suami saya tertarik dengan sebuah menu yang terdengar menggiurkan yaitu chicken melt. Belum belum saya sudah membayangkan lelehan keju dimulut, hmm. Sayangnya perut saya dalam keadaan tidak lapar karena kekeyangan makan es krim “Rasa” tadi sore. Apa boleh buat, daripada tidak habis, saya memilih Caesar salad.
Untuk minumannya, saya bingung, karena tidak tercantum dalam list menu. Untuk lah waitress segera menunjuk sebuah botol wine bohongan, karena terbuat dari plastik, yang berada diatas meja kami, dimana daftar minumannya ditempel disekeliling botol tsb. Hmm unik ya, keren lagi. Special beverage disini adalah Mojito sehingga suami memilih Bloody Mojito serta hot chocolate untuk menghangatkan badan saya.
Walaupun pengunjung ramai, tak memerlukan waktu yang lama untuk menyajikan pesanan kami. Bloody Mojito datang dalam sebuah toples kaca bening, mirip toples tempat selai. Warnanya yang merah sungguh menggiurkan. Rasanya apalagi, sungguh menyegarkan. Bayangkan saja rasa Fanta merah yang dicampur dengan jeruk nipis, daun mint dan strawberry. Terbayangkan, rasa manis, asam, dingin dan semriwing mengalir ditenggorokan. Sedangkan hot chocolate datang dalam sebuah mug hitam bertuliskan Le Marly, keren.
Kemudian Chicken melt datang diatas piring putih yaitu 2 fillet dada ayam yang di grill lalu ditumpuk, diberi keju didalamnya, diatasnya diberi butter yang sedang meleleh, kemudian disiram saus jamur berwarna coklat, disajikan bersama potongan kentang dan bayam rebus yang berlumuran saus krim putih, serta ditaburi sedikit peterseli. Rasanya hmm enak dong, daging ayam nya empuk, saus jamur nya nendang rasanya, kentang dan bayamnya lembut dan gurih, wah melayang deh, delicieux ! Tapi jangan salah, Caesar salad pun tak kalah enak. Aneka daun lettuce segar dilumuri sedikit krim, ditaburi keju parmesan bubuk, disajikan bersama potongan ayam yang di grill hingga kering dan ditambah sepotong garlic bread, hmm perfecto.
Karena seusai makan kami hendak ke rumah kakak, tak lupa kami bungkus makanan untuk dimakan ramai-ramai. Nah kalo ini yang paling cocok ya pizza lah. Atas rekomendasi waitress kami pun memesan Bianchi Russo yaitu pizza tipis yang berisi topping daging asap, sosis, nanas, jamur dan keju mozzarella. Tapi saya penasaran banget sama menu galette de Sarasin. Akhirnya saya pesan larochelle yang ditandai dengan “chef recommendation”. Pikir saya, kalau dimakan ramai-ramai, masih muat kok di perut saya ha ha ha. Menurut deskripsi menu, larochelle adalah pancake tipis yang diberi topping beef patty, telur, bawang, keju & mayonnaise. Tuh kan dari deskripsinya saja saya sudah ngiler.
Seusai makan kami masih sempat foto-foto, karena interior resto ini keren dan unik. Sesuai dengan konsepnya yaitu pantry, pengunjung akan serasa makan didapur sendiri. Tapi ngga mungkinlah, dapur saya tidak secantik disini, malah saya serasa makan didapur hotel berbintang he he he. Interior resto penuh dengan rak rak yang berisi aneka peralatan makan dan memasak. Lalu dapurnya sendiri memakai konsep open kitchen sehingga kita bisa menonton proses memasak secara langsung.
Puas foto-foto kami pun meminta billnya. Harga disini cukup relevan kok. Pesanan kami yang termahal adalah chicken melt Rp 49.000, harga pizza dan gallete hampir serupa yaitu Rp 39.000 dan Rp 38.000, yang termurah adalah salad Rp 20.000. Minumannya mojitos Rp 22.000 dan chocolate Rp 15.000.
Segera kami menuju rumah kakak mumpung pizza nya masih hangat. Benar kan, dalam hitungan menit pizza ludes dalam sekejap. Saya segera mengambil pisau untuk memotong galette. Pancake tipis ini sebenarnya berbentuk bulat persis crepes, tapi dilipat dikeempat sisinya sehingga berbentuk kotak, diatasnya diberi daging cincang yang berbentuk seperti daging burger, lalu telur mata sapi yang cantik karena kuning nya berada ditengah dan masih setengah matang, salad daun lettuce, tumisan bawang Bombay, terakhir saya siram dengan saus berwarna kecoklatan dan mustard mayonnaise. Kombinasi yang komplit ini menghasilkan rasa yang nikmat. Rasa yang gurih, asam mustard dan manisnya saus menyeruak dimulut, sungguh perpaduan yang pas dan menyegarkan. Ah saya pasti kembali kesini. Eit jangan lupa telfon dulu ya ke 022 7273 533.