Satu lagi tempat makan murmer yummy di kawasan kebayoran baru, yaitu Soto Ceker Gandaria. Letaknya di Jl Gandaria VI, caranya, dari kawasan Taman Puring ps Mayestik kita belok kiri ke jalan Gandaria arah Radio Dalam, pelan-pelan, liat disebelah kiri jalan ada taman yang banyak gerobak pejual makanannya, langsung belok kekiri ke jl Gandaria I, disitu memang ada soto ayam ceker, tapi yang aku makan bukan disitu. Jadi jalan terus kedalam sampai ketemu taman lagi yang lebih luas dan ada mesjid nya, nah langsung keliatan tuh ada keramaian yang berasal dari pengunjung soto ayam ceker, satu-satunya gerobak makanan yang ada disitu. Tempat makannya adalah deretan meja kursi yang tersusun rapi disepanjang pinggir pagar taman tsb. Tapi jangan harap makan disini kalo hujan ya, sebab atapnya adalah langit yang berbintang. Terus buka nya juga cuma malam, karena siapa sih yang tahan makan dibawah sinar matahari di siang hari bolong ?
Begitu sampai, aku langsung pesan semangkok soto ayam ceker dengan nasi (mas nya pasti nanya dulu, mau pisah atau campur ?) dan semangkok lagi tanpa ceker untuk Yayang. Tapi karena semua kursi sudah terisi, terpaksa ku tunggu dulu pengunjung yang sudah selesai makan. Sambil menunggu aku perhatikan si mas yang sedang meracik soto. Bihun, toge, suwiran ayam & sepasang ceker ditaruh dimangkok lalu disiram kuah soto. Lalu para pelayan yang cukup banyak jumlahnya, hilir mudik mengantarkan soto pesanan, yang disertai dengan sepiring sate ati rempela & sate telor usus. Kulihat juga dia mengambil bungkusan kecil-kecil dari sebuah toples. “Mas itu apa sih ?” tanya ku. “Ini kripik kulit mba” katanya. Wow boleh juga nih, pikir ku.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya ada juga kursi yang kosong. Soto langsung diantar ke meja dan diiringi sepiring sate serta 2 bungkus kripik kulit. Di setiap meja sudah tersedia setoples krupuk udang & emping, sepiring jeruk nipis & sebotol sambal. Dalam kegelapan malam yang diterangi cahaya lilin, ku ambil sepotong jeruk nipis, ku peras diatas soto, ku aduk, ku suap dan heem segarnya kuah soto ini menyeruak didalam mulut. Kuperhatikan kuah soto yang bening, tidak kuning dan berminyak seperti biasanya, sehingga rasanya pun ringan & segar, tapi tetap terasa gurih. Suwiran ayamnya pun cukup banyak. Segera kusuap sesendok nasi putih hangat yang telah ditaburi bawang goreng, serta kubuka plastik yang berisi kripik kulit nya. Pas kumakan, o o enaknya, rupanya ini kulit ayam yang digoreng garing sehingga berwarna coklat & berbunyi kriuk kriuk kalau dimakan, serta rasanya gurih asin, melengkapi nikmatnya soto ayam ini. Terakhir ku makan cekernya yang lembut sebagai penutup, hanya saja satu-satunya yang kusesali adalah kenapa cekernya cuma sepasang sih ?
Ku curi dengar pembicaraan 4 orang bapak-bapak yang pasti baru pulang kantor dan duduk disebelahku, karena kami memang duduk dalam 1 meja, “wah kalau makan disini pas bulan puasa, antri banget, sampe makannya sambil berdiri” katanya berpromosi pada temennya. Ya ampun, pikirku, kebayang deh kehebohannya. Segera kami tuntaskan acara candle light dinner kami, karena banyak nya rombongan yang baru berdatangan. “Piro mas ?” Tanya Yayang. 2 soto, 2 nasi, 1 sate, 1 teh botol & 4 kripik kulit (yang 2 dibawa pulang, enak sih) total Rp 42.000. Nah ini dia yang bikin mahal, rupanya kripik kulitnya @ Rp 5.000. Kalau sotonya doang sih antara 7 sampe 8 ribuan. Murmer kenik (murah meriah kenyang nikmat). Jangan lupa, bukanya malem mulai jam 18 sampe sotonya abis…
Labels
- Kuliner Jakarta (224)
- Dakwah (99)
- Kuliner Bandung (53)
- Kuliner Tangerang (53)
- Pengalaman (37)
- yukmakan (20)
- Artikel (17)
- Detik Food (17)
- Kuliner Jateng (15)
- Kuliner Bogor (14)
- Kuliner Jabar (13)
- FOTO-FOTO (11)
- Hotel (6)
- Resep (6)
- Kuliner Cirebon (5)
- Kuliner Jatim (4)
- Kuliner Kalimantan Selatan (4)
- Kuliner Lampung (4)
- Prakarya (4)
- Kuliner Bali (3)
- Kuliner Medan (3)
- Jualan (2)
- Kuliner Thailand (2)
- Kuliner Malaysia (1)
- Kuliner Singapore (1)
- Kuliner Sulawesi (1)
- Novel (1)
Sunday, June 14, 2009
ULASAN KULINER : SOTO CEKER GANDARIA (*)
Thursday, June 11, 2009
3 HAL
Ada tiga hal yang membuat seseorang dinaungi, dirahmati, dan dimasukkan surga oleh Allah:
1. jika diberi rezeki, ia bersyukur;
2. jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf;
3. jika marah, ia bisa menahannya.
(HR Hakim)
daarut-tauhiid@yahoogroups.com
agus lutfi
1. jika diberi rezeki, ia bersyukur;
2. jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf;
3. jika marah, ia bisa menahannya.
(HR Hakim)
daarut-tauhiid@yahoogroups.com
agus lutfi
Tuesday, June 09, 2009
Terpikat Nasi Punclut Waroeng Sunda (**)

http://food.detik.com/read/2009/06/09/150111/1144843/287/terpikat-nasi-punclut-waroeng-sunda
Kania Kurniasari - detikFood
Jakarta - Nama: Kania Kurniasari
Email: kania.kurniasari[at]id.ey.com
Tak perlu jauh-jauh pergi ke Bandung demi merasakan kelezatan makanan rumah a la Sunda dan Jawa. Karena di Tangerang ada sebuah rumah makan yang menyediakan segala macam masakan gabungan dari keduanya. Mulai dari aneka pepes, sop, sampai dengan nasi punclut. Hmm..seperti apa sih nasi punclut itu?
Semakin seringnya saya ke daerah Tangerang, membuat saya semakin kenal bahwa Tangerang juga kaya akan kulinernya. Selalu ada saja tempat makan yang baru yang layak dicoba. Selain itu banyak juga koran, majalah & website yang mengulas kuliner kawasan Tangerang.
Kalau saya menjemput suami dari Bandara, saya sengaja lewat Serpong dan melewati tol JORR untuk menghindari macetnya tol dalam kota. Nah, saat melewati daerah itulah saya mampir ke sebuah resto yang bernama Waroeng Sunda. Kenapa say amemilih mampir ke temapt ini, karena saya pernah melihat ulasan tentang resto ini disebuah Koran di Jakarta. Selain itu juga tiap kali saya lewat are parkirnya tidak pernah sepipengunjung, ini yang membuat saya makin penasaran.
Memasuki rumah makan itu, sekitar jam 8.30, dan hujan rintik-rintik, disambut oleh petugas parkir yang sigap memayungi kita. Saat masuk, tempat makan terbagi menjadi beberapa ruangan, yaitu didalam ada ruangan untuk umum, dibelakang ada ruangan untuk VIP reserved, serta diluar ada saung-saung serta lesehan. Tapi karena hujan, kita pilih duduk didalam saja. Cuma tempat duduknya itu loh, berbentuk gelondongan kayu bulat yang gak ada senderannya. Wah ini tandanya gak bisa santai lama-lama disini nih.
Setelah disodori buku menu masakan khas Sunda & Jawa, yang terdiri dari aneka masakan ikan gurame, patin, lele, udang, cumi, pepes, sate, ayam, sop, daging sapi, jeroan, nasi Punclut, sayur, gorengan pelengkap, menu anak-anak, jajanan tradisional, minuman tradisional, jus & es campur, maka pilihan saya jatuh pada : nasi punclut, lele goreng & sop buntut goreng serta es cincau hijau.
Nasi Punclut, rupanya menu rekomendasi di sini, yaitu nasi yang berbentuk kerucut, seperti tumpeng kecil, yang ditaruh di piring, bisa memilih nasi putih, merah atau uduk, disertai 4 macam pilihan lauk, yaitu gurame goreng tepung, ayam bakar / goreng, atau empal. Lalu ditambah tahu & tempe serta sayur asem.
Pilihan saya tentu saja gurame goreng tepung, yaitu potongan daging gurame yang digoreng dengan tepung, ditambah dengan bumbu kremes, rasanya enak, gurih serta empuk. Mantap, cocok sekali dengan selera saya. Tahu dan tempenya juga besar-besar, enak & gurih. Serta sayur asemnya enak & segar, isinya juga lengkap. Ditambah kerupuk kampung berbentuk oval, lalu dicocol dengan sambel, uenak tenan!
Disini kita bisa mengambil aneka sambal & lalap sepuasnya. Ada sambal dadak, dimana pas saya datang, mba nya tengah sibuk 'ngulek' dimeja sambal ditengah ruangan, lalu ada sambal terasi, kalasan, kecap & dabu-dabu. Semua jenis sambal itu kita coba semua loh!
Sop buntut gorengnya sedikit unik. Potongan buntutnya lumayan banyak tapi buntut nya berbentuk seperti semur,tidak kering, diselimuti saus kental yang rasanya manis tajam. Sebenarnya enak sih buat penggemar manis, empuk pula. Sopnya semangkuk besar, kuahnya banyak, berisi potongan wortel, rasanya enak & gurih, serta disajikan dengan emping. Sehabis makan, saya mencoba cincau hijau nya, dengan sirup gula putih & diberi sedikit santan, wah acara bersantap jaid semakin enak dan segar!
Saat membayar saya cukup terkejut, pasalnya harganya cukup murah untuk rasa yang uenak tenan! Seporsi nasi punclut hanya berkisar dari Rp 18.500- Rp 20.000,00. Lelenya Rp 12.000. Nah buntut nya Rp 27.000 saja. Ditambah nasi, krupuk, ati ampela, cincau & teh, total tagihan hanya Rp 116.050. Wah boleh juga nih, enak, kenyang tapi terjangkau.
Waroeng Sunda
Jl Raya Serpong KM 8 no. 88
(Sebelah SPBU Pertamina) Pondok Jagung, Tangerang
Telp 021 5315 7976, fax 021 5315 7671
Jam buka jam 11 pagi -10 malam. Yuu dicoba
Wednesday, June 03, 2009
ULASAN KULINER : AYAM & SEAFOOD TALIWANG 5 RASA (*)

Kami, anak kantor, sangat menggemari masakan ayam taliwang bersaudara yang berada di jl Panglima polim itu. Masakan ayam kampung dengan bumbu super pedas menyiksa diri itu sangat dasyat rasa nikmatnya. Tapi pas mendengar kabar ada tempat makan baru berjudul “taliwang 5 rasa”, wah boleh juga nih dicoba. Bikin penasaran aja, emang rasanya rame kaya nano-nano ? Jadi pergilah kami pas jam makan siang, menyambangi rumah makan tsb yang letaknya cukup dekat dari kantor yaitu jl. Wolter monginsidi no 50, Jak Sel, telp 021 7279 5151 / 3385 9977.
Sesampainya disana, rumah makan tsb memang baru dibuka sekitar sebulanan, jadi tempatnya masih baru, bersih, sederhana, tapi tertutup dan ber AC serta ada TV nya, sehingga suasana menjadi nyaman terhindar dari panas debu dan berisiknya jalan walter monginsidi. Pembakaran diletakkan diluar sehingga asapnya tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.
Setelah diberi kertas menu, barulah kami paham, mengapa disebut dengan “5 rasa”, yaitu rasa manis kecap, pedes sedeng, pedes, pedes sekali, super pedes. Jadi inget Yayang, yang selalu memesan makanan super pedes, sedangkan aku selalu pesen yang tidak pedes sama sekali. Dasar jodoh, memang unik. Karena kami datang berlima, maka kami memesan paket keluarga untuk 4 orang yang terdiri dari 4 nasi, 2 ayam, 2 pelecing kangkung, 2 beberok terong, 4 aqua. Tambah ½ ekor ayam lagi untuk ku yang memesan rasa “pedes sedeng” (tumben), karena yang lain pesennya “pedes”. Tak lupa kami juga memesan seporsi tahu goreng & bakwan jagung, serta kerang ijo saos padang.
Sebenarnya gambar masakan seafood dalam kerta menu sangatlah menggiurkan. Tetapi kami sebagai “fans taliwang” harus fokus terhadap rasa ayam taliwang ini, sehingga bisa menilai dan membandingkan dengan masakan sejenis. Walaupun begitu kami berjanji, lain hari haruslah mencoba menu alternatif yang ditawarkan, yaitu nasi pepes ayam kremes, nasi bogana, nasi goreng, oseng pete, tumis pucuk labu, tahu telor, tempe mendoan, udang, cumi, kerang ijo & dara serta ikan bakar. Berbagai seafood tsb bisa diolah menjadi masakan asam manis, goreng mentega, saos padang, goreng tepung, saos nipis Pontianak & bakar taliwang. Lumayan banyak pilihannya & menggiurkan.
Makananpun disajikan dan kamipun terdiam, asik dengan makanan masing-masing dan mulai berkeringat karena kepedesan. Kami masing-masing memakan ½ ekor ayam dengan ukuran sedang sebagai ayam kampung dan rasanya juga lumayan enak & gurih, karena bumbunya sudah meresap. Ayam yang empuk ini kami cuil dan cocolkan kedalam sambal kacang yang kental & pedas. Pelecing kangkung & beberok terong yang rasanya pedas segar menambah deras keringat kami. Untuk menetralisir rasa pedas, segera kami suap tahu goreng yang telah dilumuri kecap manis. Sungguh perpaduan yang pas. Bakwan jagungnya berbentuk bulat lebar tipis, begitu banyak jagungnya, rasanya gurih manis & garing. Enak deh, aku doyan. Tak lupa suapan kami lengkapi dengan kerang ijo saos padang yang rasanya manis & tidak begitu pedas. Jadi makan siang kami ini dipenuhi rasa pedas gurih & manis. Pas.
Makan disini tidak begitu membuat tongpes loh, karena harganya terjangkau & tidak ada yang lebih dari Rp. 40.000. Tagihan kami aja terdiri dari paket keluarga Rp 108.000, tambahan ayam ½ ekor Rp 19.500, tahu Rp 7.500, bakwan jagung Rp 9.000 & kerang Rp 10.000. Jadi kami bertekad, suatu saat pasti kembali untuk mencoba seafoodnya. Yuk!
Sunday, May 24, 2009
ULASAN KULINER PENANG BISTRO (***)
Penang Bistro, dari namanya aja udah ketahuan ini masakan Malaysia. Terbayang sudah nasi lemak, gulai, kari, dan masakan lainnya yang tidak jauh dari santan. Hampir mirip dengan masakan Padang, jadi agak malas mencobanya. Tapi sekarang image itu sudah berubah 180 derajat. Kenapa ? Ini dia kisahnya.
Untuk merayakan farewell dinner temen kantor ku, maka ku tanya sama dia, mau makan dimana. Jawabannya adalah Penang Bistro. “Enak kok mba, temen-temen kantor suamiku sering makan disini, cobain yuk” katanya. Ya okelah minta menunya dulu, di fax ke kantor. Rupanya menunya cukup variatif loh, dan hilanglah bayangan gulai & nasi lemak itu.
Menu ala carte nya terdiri dari :
1. Appetizer & soup, diantaranya roti canai, satay, shark fin soup, tom yam soup, seafood soup. Harganya antara 19.000-27.000 kecuali shark fin 125.000.
2. Noodle & rice, diantaranya kway teow, mee goreng, bee hoon, mee shua, laksa, nasi lemak, nasi hainam, nasi goreng. Harganya antara 35.000-42.000.
3. Beef & poultry, diantaranya manggo chicken, ayam goreng terasi, roasted chicken tangry sauce, claypot chicken curry, kung pao chicken, sizzling beef, black pepper beef, beef oriental sauce. Harga chicken antara 43.000-48.000 & harga beef antara 79.000-81.000.
4. Vegetable, diantaranya buncis, kangkung, tahu, kalian, tau miaw, mushroom. Harganya antara 38.000-45.000.
5. Seafood, diantaranya berbagai jenis udang, kepiting, cumi, ikan, kerang. Harganya minimal 34.000 sampai tergantung harga per ons nya.
6. Dessert, diantaranya es kacang, durian cendol, pulut hitam, merah delima, es campur, ice cream, mantao, mixed fruit & jus. Harganya antara 16.000-39.000.
Wah jadi lapar mata nih. Tapi karena harganya lumayan mahal & kita juga memilih makan tengah, maka pilihan menu kami jatuh pada : roti canai chicken curry & Roti canai tissue sebagai pembuka, nasi dengan lauk udang mayones, ayam goreng terasi, kailan ikan asin, Malay mee goreng, 3 kind baby mushroom, dessert es kacang, ice pink guava, jus kopyor & fruit platter.
Sekarang pilihan lokasinya, ada 3 nih di Jl. Pakubuwono VI no 2 Jak Sel, Jl. Kebon sirih raya no 59 Jak Pus & Oakwood residence Jl. Lingkar mega kuningan. Nah kami pilih lokasi di Oakwood, karena cukup adil bila dijangkau dari gd. BEI & Grand Melia. Telponnya 021 2554 2318-19.
Tibalah hari H, kami berangkat setelah Magrib dari BEI, dan jalanan macet karena besok adalah long weekend. Tapi rasa cape kami terobati setelah sampai di tempat. Oakwood residence adalah sebuah apartemen diseberang mall Ambasador, dimana ruang lobi masuknya dipenuhi dengan berbagai café & restoran, dan Penang bistro terletak di lobi lantai 2. Memasuki ruang restorannya yang bagus & mewah, dengan karpet tebal, kami mendapat meja bundar dengan pemandangan keluar. Pengunjungnya cukup banyak, berpenampilan keren & banyak bulenya. Kita langsung rileks & nyaman, hanyut dalam obrolan & foto-foto. Setelah semua teman berkumpul, langsung ku pesan menu sesuai kesepakatan semula.
Istimewanya pelayanan di sini cepet juga ya. Tidak begitu lama, roti canai kami tiba dimeja. Roti berbentuk lipatan dan tipis, lalu digoreng sehingga roti mengembang, garing, berwarna kuning kecoklatan, pinggirannya kriuk-kriuk crunchy dan bagian tengahnya empuk, disajikan bersama kari ayam. Cara makannya roti disobek, dan dicocol ke kari. Wuih enaknya, roti yang rasanya gurih dicocol ke kuah kari yang kental, kaya akan bumbu rempah & rasa karinya tajam, walaupun memakai ayam tapi rasanya seperti memakai daging kambing & wangi. Sedap nian deh, istimewa. Lalu roti canai tissue adalah roti canai yang lebih super tipis lagi seperti tissue, sehingga digoreng sehingga garing & melengkung. Roti berwarna putih agak kecoklat disana-sini. Roti yang kering renyah rapuh rasanya enak, manis gurih karena memakai butter & susu kental manis.
Dalam sekejap hidangan pembuka kami ludes, tapi tak berapa lama hidangan utama pun datang. Udang mayones adalah udang digoreng tepung lalu diselimuti mayones, ukuran udangnya besar-besar & rasanya enak & gurih. Ayam goreng terasi adalah potongan ayam dengan tulangnya, yang digoreng tepung yang telah mengandung bumbu-bumbu & terasi, hingga kering & berwarna coklat, rasanya enak & gurih. Kailan ikan asin adalah tumis sayur kailan yang ditaburi dengan potongan ikan asin jambal roti, sayur terasa segar & enak. Malay mee goreng adalah mi goreng yang mirip dengan mi aceh gitu, dimana rasanya kaya akan rempah, tidak begitu asin, campurannya adalah telur, kentang goreng yang dipotong kotak-kotak, toge serta udang & cumi. Terakhir, 3 kind baby mushroom adalah 3 jenis jamur yang masih kecil-kecil yang ditumis bersama jagung putren & bokcoy, bumbu tumisannya itu berwarna coklat yang rasanya asam segar & tidak begitu asin. Semua masakan ini bumbunya sangat pas & nikmat.
Akhirnya dessert time. Fruit platter terdiri dari potongan buah melon, semangka & jeruk sunkis, isinya banyak & segar. Es kacang adalah semacam es campur yang berisi berbagai kacang kecil-kecil seperti kedelai, ditambah potongan cincau hitam & cente manis kecil-kecil dan warna warni, ditutupi dengan es serut yang diberi susu & sirup moka. Istimewa. Ice pink guava adalah jambu biji yang dipotong kecil-kecil dicampur dengan cente manis kecil-kecil dan warna warni juga, sama dengan es kacang, lalu ditutupi es serut dan diberi sirup merah. Ah segar. Sedangkan jus kopyor adalah kopyor yang di jus, diberi susu dan sirup rasa rose, pas diminum masih ada kopyor yang belum lumat. Enak sekali. Pokoknya kita semua kenyang deh, memuaskan, yummy.
Tibalah waktu pulang, kita saling berpelukan & bertukar pesan. Sedih juga melepas teman kerja yang sedikit demi sedikit berkurang karena mendapat kesuksesan ditempat lain. Apalagi setelah bekerja lebih dari 10 tahun. Semoga sukses kawan, jangan lupakan aku…
ULASAN KULINER : OMAH SENDOK (**)
Paling jarang aku makan di restoran yang khusus menyajikan makanan Indonesia. Kenapa ? Karena menu masakan Indonesia itu pasti berkisar di seputar soto, sate, sop, ayam, nasi goreng, gado-gado, dll yaitu menu yang sangat lazim dijumpai dimana-mana, bahkan dirumah. Dari senin – jumat adalah hari masakan Indonesia. Kalo weekend, aduh jangan menu itu lagi dong.
Sudah lama aku mendengar restoran Omah Sendok, tapi baru kali ini aku menyempatkan diri berkunjung kesana. Gara-gara ada temennya Yayang yang menikah disana, tapi kita gak bisa datang. Jadi dia penasaran pengen kesitu, pengen tau, restaurant apa sih yang bisa dipakai buat tempat pernikahan. Akhirnya malam minggu lalu kita ke Omah Sendok, jl. Empu Sendok no 45, Blok S, Kebayoran Baru, JakSel. Telpon 021 521 4531.
Jalanan menuju kesana, agak kecil ya. Yaitu dari jl Senopati, beberapa meter dari kawasan SCBD, belok ke kiri ke jl. Bakti, langsung belok kiri lagi ke jl. Empu Sendok, ikuti jalan sebentar dan gak berapa lama kelihatan sebuah rumah dengan pohon besar dan disampingnya ada lampu hijau yang membentuk nama “Omah”. Masuk melalui pintu depan, selayaknya sebuah rumah biasa, kita langsung berada diruang utama, yang tidak begitu besar dan suasananya hommy banget. Disamping ruang utama ada ruang kamar depan untuk berjualan batik. Lalu ruang kamar belakang adalah toko buku, dimana kalau kita mau ke toilet harus melalui toko buku dulu. Ya sudah cuma segitu. Tapi kalau kita keluar melalui teras samping, menuju halaman belakang, wah luasnya, ada kolam renang nya lagi. Malam itu sungguh indah karena ada acara ulang tahun, jadi suasana semakin romantis dengan penambahan penerangan obor & lilin.
Kita kembali lagi kedalam ruang utama untuk memesan makanan. Menu utama yang ditawarkan adalah nasi bakmoy, sop buntut, soto bogor, soto iga, soto tangkar, rawon, ayam bakar, bebek goreng, garang asem, nasi goreng, nasi petis Madura, sate ikan bali, sate ponorogo, sate sapi, nasi ulam, nasi timbel, urap, baso solo, siomay, bestik jawa, gurame & rolade. Selebihnya adalah makanan ringan & dessert khas Indonesia, lalu minuman es & hangat. Harganya cukup terjangkau kok, tidak ada lebih dari Rp 50.000.
Lalu aku pesan lontong sate ponorogo. Yayang pesan soto tangkar. Menu ini jarang ada loh, sesuai dengan ciri khas Omah Sendok, menyajikan masakan tradisional & langka, warisan kuliner Indonesia. Keistimewaan sate ponorogo adalah sate ayam dimana cara memotong dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Lalu sate direndam bumbu yang berwarna kuning sehingga meresap kedalam daging lalu dipanggang. Sate ini dagingnya besar-besar sehingga tusukannya ada 2 loh. Unik kan. Sate disajikan bersama bumbu kacang yang ditumbuk halus, disertai irisan bawang merah dan cabai rawit. Jadi aku yang ngak doyan pedas ini, ya kepedesan bo. Rasa satenya enak, empuk & kaya bumbu. Sekarang soto tangkar adalah soto iga sapi yang kuahnya memakai santan yang berwarna kuning kemerahan. Lalu diberi tomat iris, potongan kentang goreng, ditaburi bawang goreng & bawang daun, disajikan bersama emping & jeruk nipis. Rasanya jelas enak & segar, kaya bumbu, gurih & pedas. Lalu aku pesan lumpia khas omah loh. Jadi bukan lumpia semarang. Melainkan lumpia modern yang bentuknya langsing, isinya cincangan daging ayam & sayur. Enak deh. 1 porsi isi 2 lumpia. Terakhir adalah dessert es tape ketan hijau yang rasanya manis & legit, enak & segar, kepedesan jadi hilang dalam sekejap.
Ah nikmatnya makanan ini. Harganya pun cukup terjangkau. Sate ponorogo Rp 27.000, soto tangkar Rp 35.000, lumpia Rp 9.500, es tape ketan Rp 9.500, 2 the hangat Rp 16.000, total menjadi Rp 106.700. Oh ya, pelayanan disini juga ramah loh. Jadi jangan lupa mampir kesini & turut melestarikan warisan kuliner Indonesia.
ULASAN KULINER “SEHARI DILAMPUNG”
Banyak sekali suka duka berumah tangga tapi masing-masing bekerja diluar kota. Ya contohnya aku ini. Aku di Jakarta, suami di Lampung, berkumpul seminggu sekali. Memerlukan tenaga & biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kalau ada acara kantor yang memerlukan kehadiran keluarga. Untungnya kalau acara kantor ku biasanya hari sabtu minggu, pas ada suami datang. Jadi dia lebih mengenal karena lebih sering berkumpul dengan temen kantor ku. Tapi kalo aku jarang banget hadir ke acara kantor dia. Gak enak rasanya, suka ditanya-tanyain kapan hadir di Lampung. Nah kebetulan, besok hari kamis adalah tanggal merah & ada acara arisan serta perpisahan temen kantor suami yang dipindahtugaskan ke kebun. Segera ambil cuti dihari jumat & let’s go to Lampung.
Pk. 4.30 : Tibalah hari H. Ayo bangun, mandi, sholat. Dengan berbekal 2 kotak sarapan, isi nasi & roti, minuman & novel, kusiap pergi bertiga, bersama Jalal & Ijah, para asisten dirumah.
Pk. 5.30 : Kita siap berada dimobil, berangkat lewat jl. Panjang Kebun Jeruk langsung masuk tol menuju pelabuhan merak.
Pk. 7.30 : Tiba di pelabuhan karena jalan masih sepi dan lancar. Langsung masuk kapal & membayar Rp 198.000 untuk mobil dengan 5 penumpang yang masuk kedalam kapal.
Pk. 8.00 : Kapal mulai berangkat, kita parkir diatas dek kapal, disamping pagar, jadi tetap nyaman bila tetap ingin berada didalam mobil, tinggal buka jendela, angin laut yang kencang, asin & segar masuk, plus menikmati indahnya pemandangan laut selat sunda.
Pk. 10.30 : Akhirnya tiba juga di pelabuhan Bakauheni. Nah itu dia Yayang, sudah menunggu diparkiran penjemputan, karena rencananya kami memang mau bertukar mobil. Kedua asisten akan balik lagi langsung ke Jakarta. Dan aku langsung ke tempat acara yang jaraknya hanya 1 menit dari tempat kos Yayang.
Pk. 12.30 : Green Leaf, resto & gallery (*)
Sampailah kita di Green Leaf, resto & gallery, tempat acara berlangsung. Jl. Gatot Subroto no 109, Bandar Lampung, telp 0721 750 9129 / 483520. Restoran ini memiliki interior dinding, meja & kursi dari bambu, tiangnya dari pohon kelapa, langit-langit yang tinggi, sehingga suasana terasa sejuk & ada 1 lantai lagi diatas. Dindingnya banyak dihiasi lukisan, sehingga disebut dengan gallery, karena memajang karya para pelukis Lampung. Ruang utama dibawah, terdiri dari 4 meja, sudah kita booking semua, lalu ada panggung untuk nyanyi, ada keyboard yang sedang dimainkan oleh sepasang suami istri, yang juga teman kantor Yayang, dimana suaminya pintar main keyboard & istrinya penyanyi. Dan oo, rupanya setiap orang wajib nyanyi, kalo ngak nyanyi, ngak boleh pulang. Waduh gawat. Pas ku datang sih semua sedang makan. Menunya ikan gurami goreng asam manis, ayam goreng kremes, sapi lada hitam, tumis kangkung & toge. Keistimewaan restoran ini adalah bisa nyanyi-nyanyi tanpa batasan waktu, serta makanannya murah & enak. Menunya cukup beragam yaitu aneka masakan ayam, bebek, daging sapi, seafood, ikan gurame, steak & sup, dan harganya itu loh, paling mahal Rp 50.000 yaitu untuk seporsi kepiting.
Pk. 15.00 : Setelah acara selesai, istirahat dulu di kos an Yayang.
Pk. 16.00 : Mi Khodon (***)
Jalan-jalan dulu ah, kangen udah lama gak kesini. Kota Lampung yang sepi, belum banyak mengalami perubahan yang berarti. Terus kangen juga sama Mi Khodon. Ini waktu yang tepat buat makan mi Khodon, yang memang baru buka jam 4 sore & akan segera habis setelah Magrib. Lokasinya di Teluk Betung, didepan taman Dipangga, diseberang polda Lampung, dekat bunderan yang ada patung gajah, dan juga dekat Chandra Dept Store. Mi Khodon adalah mirip mi tek-tek kalau di Jakarta atau mirip mi Jawa, tapi keistimewaannya adalah bentuk mi yang lebih besar dari biasanya, lalu dimasak bersama suwiran ayam kampung & udang ebi, irisan kol & sawi serta bumbunya itu loh, terasa beda & istimewa, pas gurih asin manisnya. Ada 2 macam yaitu, mi goreng yang berwarna coklat karena pake kecap, rasanya cenderung manis gurih serta mi rebus yang berwarna putih tanpa kecap, terasa segar dan cenderung gurih asin. Terus pelanggan disini banyak banget. Penuh oleh parkiran mobil, jadi lumayan lama juga nunggu pesanan datang. Harganya sih murah yaitu Rp 8000 per porsi. Tapi yang penting rasanya enak & bikin kangen euy.
Pk. 18.00 : Segera pulang ke kos, siap-siap mau ke Jakarta lagi.
Pk. 19.30 : Griya Liwet (**)
Sebelum pulang harus makan malam dulu kata Yayang. Karena kitakan naik bis Damri yang AC nya dingin banget. So perut harus kenyang, pake jaket yang tebel, supaya gak masuk angin. Kebetulan didepan kos ada rumah makan baru buka sekitar sebulanlah. Tempatnya terang, bersih, tidak sempit, ada kolam renangnya, dan ada lesehannya. Tapi sepi, maklumlah di Lampung kalau malam sepiii. Namanya Griya Liwet, Jl. Way pungur no 3, Pahoman Bandar Lampung, telpon 0721 483 217, 482 738. Menu andalannya pasti deh nasi liwet. So segera kupesan nasi liwet dengan ayam goreng. Tapi Yayang pesen batagor karena masih kenyang. Ternyata enak loh. Nasinya itu rasanya gurih karena telah dimasak bersama bumbu-bumbu. Lalu ayam gorengnya juga enak karena bumbunya meresap dan ditaburi bumbu kremes. Bagaimana dengan batagornya ? Ya enak juga. Pokoknya makan disini bisa diulang deh. Harganya juga murah, Nasi liwet Rp 6.000, Ayam goreng Rp 12.500, Batagor Rp 12.000, Kelapa muda Rp 8.000. Alhamdulillah kenyang (banget). Ayo segera cari angkot menuju stasiun KA, karena bis Damrinya disitu.
Pk. 21.15 : Bismillahhirahmannirahhim, Ya Allah lindungilah kami selama perjalanan dari Lampung menuju Jakarta, selamat sampai dirumah. Amin. Selamat tinggal Lampung, aku tidur dulu ya, nanti sampai di Gambir pk. 5.30. Daah…
Pk. 4.30 : Tibalah hari H. Ayo bangun, mandi, sholat. Dengan berbekal 2 kotak sarapan, isi nasi & roti, minuman & novel, kusiap pergi bertiga, bersama Jalal & Ijah, para asisten dirumah.
Pk. 5.30 : Kita siap berada dimobil, berangkat lewat jl. Panjang Kebun Jeruk langsung masuk tol menuju pelabuhan merak.
Pk. 7.30 : Tiba di pelabuhan karena jalan masih sepi dan lancar. Langsung masuk kapal & membayar Rp 198.000 untuk mobil dengan 5 penumpang yang masuk kedalam kapal.
Pk. 8.00 : Kapal mulai berangkat, kita parkir diatas dek kapal, disamping pagar, jadi tetap nyaman bila tetap ingin berada didalam mobil, tinggal buka jendela, angin laut yang kencang, asin & segar masuk, plus menikmati indahnya pemandangan laut selat sunda.
Pk. 10.30 : Akhirnya tiba juga di pelabuhan Bakauheni. Nah itu dia Yayang, sudah menunggu diparkiran penjemputan, karena rencananya kami memang mau bertukar mobil. Kedua asisten akan balik lagi langsung ke Jakarta. Dan aku langsung ke tempat acara yang jaraknya hanya 1 menit dari tempat kos Yayang.
Pk. 12.30 : Green Leaf, resto & gallery (*)
Sampailah kita di Green Leaf, resto & gallery, tempat acara berlangsung. Jl. Gatot Subroto no 109, Bandar Lampung, telp 0721 750 9129 / 483520. Restoran ini memiliki interior dinding, meja & kursi dari bambu, tiangnya dari pohon kelapa, langit-langit yang tinggi, sehingga suasana terasa sejuk & ada 1 lantai lagi diatas. Dindingnya banyak dihiasi lukisan, sehingga disebut dengan gallery, karena memajang karya para pelukis Lampung. Ruang utama dibawah, terdiri dari 4 meja, sudah kita booking semua, lalu ada panggung untuk nyanyi, ada keyboard yang sedang dimainkan oleh sepasang suami istri, yang juga teman kantor Yayang, dimana suaminya pintar main keyboard & istrinya penyanyi. Dan oo, rupanya setiap orang wajib nyanyi, kalo ngak nyanyi, ngak boleh pulang. Waduh gawat. Pas ku datang sih semua sedang makan. Menunya ikan gurami goreng asam manis, ayam goreng kremes, sapi lada hitam, tumis kangkung & toge. Keistimewaan restoran ini adalah bisa nyanyi-nyanyi tanpa batasan waktu, serta makanannya murah & enak. Menunya cukup beragam yaitu aneka masakan ayam, bebek, daging sapi, seafood, ikan gurame, steak & sup, dan harganya itu loh, paling mahal Rp 50.000 yaitu untuk seporsi kepiting.
Pk. 15.00 : Setelah acara selesai, istirahat dulu di kos an Yayang.
Pk. 16.00 : Mi Khodon (***)
Jalan-jalan dulu ah, kangen udah lama gak kesini. Kota Lampung yang sepi, belum banyak mengalami perubahan yang berarti. Terus kangen juga sama Mi Khodon. Ini waktu yang tepat buat makan mi Khodon, yang memang baru buka jam 4 sore & akan segera habis setelah Magrib. Lokasinya di Teluk Betung, didepan taman Dipangga, diseberang polda Lampung, dekat bunderan yang ada patung gajah, dan juga dekat Chandra Dept Store. Mi Khodon adalah mirip mi tek-tek kalau di Jakarta atau mirip mi Jawa, tapi keistimewaannya adalah bentuk mi yang lebih besar dari biasanya, lalu dimasak bersama suwiran ayam kampung & udang ebi, irisan kol & sawi serta bumbunya itu loh, terasa beda & istimewa, pas gurih asin manisnya. Ada 2 macam yaitu, mi goreng yang berwarna coklat karena pake kecap, rasanya cenderung manis gurih serta mi rebus yang berwarna putih tanpa kecap, terasa segar dan cenderung gurih asin. Terus pelanggan disini banyak banget. Penuh oleh parkiran mobil, jadi lumayan lama juga nunggu pesanan datang. Harganya sih murah yaitu Rp 8000 per porsi. Tapi yang penting rasanya enak & bikin kangen euy.
Pk. 18.00 : Segera pulang ke kos, siap-siap mau ke Jakarta lagi.
Pk. 19.30 : Griya Liwet (**)
Sebelum pulang harus makan malam dulu kata Yayang. Karena kitakan naik bis Damri yang AC nya dingin banget. So perut harus kenyang, pake jaket yang tebel, supaya gak masuk angin. Kebetulan didepan kos ada rumah makan baru buka sekitar sebulanlah. Tempatnya terang, bersih, tidak sempit, ada kolam renangnya, dan ada lesehannya. Tapi sepi, maklumlah di Lampung kalau malam sepiii. Namanya Griya Liwet, Jl. Way pungur no 3, Pahoman Bandar Lampung, telpon 0721 483 217, 482 738. Menu andalannya pasti deh nasi liwet. So segera kupesan nasi liwet dengan ayam goreng. Tapi Yayang pesen batagor karena masih kenyang. Ternyata enak loh. Nasinya itu rasanya gurih karena telah dimasak bersama bumbu-bumbu. Lalu ayam gorengnya juga enak karena bumbunya meresap dan ditaburi bumbu kremes. Bagaimana dengan batagornya ? Ya enak juga. Pokoknya makan disini bisa diulang deh. Harganya juga murah, Nasi liwet Rp 6.000, Ayam goreng Rp 12.500, Batagor Rp 12.000, Kelapa muda Rp 8.000. Alhamdulillah kenyang (banget). Ayo segera cari angkot menuju stasiun KA, karena bis Damrinya disitu.
Pk. 21.15 : Bismillahhirahmannirahhim, Ya Allah lindungilah kami selama perjalanan dari Lampung menuju Jakarta, selamat sampai dirumah. Amin. Selamat tinggal Lampung, aku tidur dulu ya, nanti sampai di Gambir pk. 5.30. Daah…
Thursday, May 14, 2009
Tammak Thai, Kemang (***)
Tamnak Thai Restaurant
Plaza Adorama Level 1
Jl. Kemang Raya No. 17
Kemang, Jakarta Selatan
Phone: (021) 719 9000
Fax: (021) 719 1444
Wednesday, May 13, 2009
ULASAN KULINER : Restaurant VIETOPIA (***)
Jaman dulu, dikantor ada retoran Vietnam yang namanya Pho Hoa. Tapi sekarang udah gak ada lagi. Padahal restorannya cukup laku loh, karena rasanya memang enak, apalagi kalo lagi flu menyerang atau saat dingin-dingin karena hujan, sedap nian menyeruput kuahnya yang panas menyegarkan.
Apa sih Pho Hoa itu ? Pho adalah sejenis mi Vietnam yang terbuat dari tepung beras, berwarna putih, empuk tidak kenyal, berbentuk pipih & lebar, mirip kwetiau, tapi bedanya kwetiau lebih lebar & kenyal. Lalu disajikan dalam mangkok putih yang besar yang telah berisi kuah kaldu berwarna bening yang banyak & panas, kemudian diberi irisan daging sapi yang tipis & lebar, seperti daging sukiyaki, bisa dengan atau tanpa lemak, atau bisa juga disajikan dengan seafood atau baso. Dilengkapi dengan irisan daun bawang dan bawang bombay, touge, potongan cabe rawit dan daun ketumbar untuk rasa yang unik khas Vietnam, serta perasan air jeruk nipis untuk menambah segar. Ah enaknya, kebayangkan.
Nah sekarang setelah sekian lama mencari dan membandingkan, telah ditemukan restoran pengganti Pho Hoa yang sebanding rasa nikmatnya, yaitu Vietopia, jl Senopati no 66, JakSel, telpon 021 726 1162 & 29. Kalau mencari restaurannya ini harus agak hati-hati, jangan ngebut takut kelewat, apalagi jalannya satu arah, yaitu dari jl Gunawarman kan belok kekanan, nah mulai deh pelan-pelan, karena letaknya disebelah kanan jalan & papan namanya tidak terlalu besar. Memasuki ruang restaurannya yang bernuansa putih, dan tidak besar, mungkin hanya ada sekitar 30an kursi lah, terdiri dari ruangan didalam & luar, tapi kalau hujan turun, maka kapasitas tempat duduknya akan semakin menciut karena ruang makan diluar gak bisa dipakai, kehujanan. Dan itulah yang terjadi hari ini.
Makanan andalan disini jelas Pho dong. Tapi ada juga nasi beserta lauk pauknya. Suatu waktu pernah temen seruanganku dapet kiriman nasi & lauk pauk nya dari Vietopia, yaitu masakan ikan, udang & cumi. Aku ikut menyicipi, ih enak banget. Jadi ngidam pengen makan langsung ditempatnya. Maka hari ini aku pesan Ca Mu Chien Vol Gung (panjang & susah yak) alias ikan kerapu goreng. Sedangkan Yayang karena belum pernah nyobain Pho nya, maka ku sarankan dia memesan Pho Bo alias mi yang pake daging sapi. Pho disajikan persis seperti yang kugambarkan diatas dan rasanya enak, gurih & segar. Sedangkan ikan kerapunya digoreng lalu dilumuri saus kental coklat yang ditaburi cincangan bawang putih & cabai merah. Rasanya asam, gurih & pakai terasi, dan yang pasti enak banget deh.
Akhirnya ludes & tandas semua makanan kami. Pengennya sih pesen lumpia, karena rupanya merupakan appertizer andalan disini & semua orang keliatannya memesan lumpia, tapi kami gak sanggup euy, kenyang. Sedangkan bagi penggemar kopi, disinilah tempat yang tepat. Karena kopi Vietnam terkenal enak & cara penyajiannya yang unik yaitu gelas yang telah berisi susu & gula lalu diatas gelas diberi saringan, sehingga kopi dituang diatas saringan, dan menetes kedalam gelas. Aku sih gak kuat minum kopi, bakalan gemeter & gak bisa tidur deh. Cukup melirik orang-orang disamping yang minum kopi, sambil membayangkan kenikmatannya.
Bill yang datang berisi Pho Bo Rp 42.000, Ca Mu Chien Vol Gung Rp 45.000, 2 hot tea Rp 22.000, plus tax, total menjadi Rp 126ribuan. Ngak murah memang tapi makanannya mantap sih.
Sunday, May 03, 2009
ULASAN KULINER RESTO YIN YANG, LAMIEN – DIMSUM (**)
Karena deket rumah, udah pasti aku sering ke PIM. Tapi masih ada aja resto yang luput aku coba. Bukannya aku gak tau, tapi resto itu letaknya agak jauh dari jalanan yang ramai & ngak ada kehebohan disitu, sehingga maleslah aku coba. Tapi kata Nia, resto itu lumayan enak & gak begitu mahal. Heem jadi penasaran. Apa sih ? Yaitu restaurant YinYang, Lamien & Dimsum, PIM 1 lt 2 no 230, telp 021 769 2350. Resto ini letaknya di lantai 2, jadi dari eskalator deket Metro naik menuju pintu masuk Mi GM, lalu kepala tengok ke kiri, nah nun jauh disana udah keliatan tuh tulisan Lamien – Dimsum. Jadi letaknya tusuk sate ya.
Saat pertama ku coba, makan berdua sama nyokap, karena udah malam & malas makan nasi, jadilah aku kesitu. Nyokap pesen lamien & aku pesen dimsum yang lagi promo, yaitu beli 3 porsi harganya lebih hemat. Oh ya, sebelum menceritakan rasa makanannya, aku ceritain sejarah makanannya dulu ya.
Lamien adalah masakan khas Tiong Kok, yaitu mi yang dibuat secara tradisional, tidak pakai mesin, dengan mengandalkan ketrampilan & kekuatan jari tangan sang juru masak. Caranya adonan mi dibanting-banting ke meja sambil ditarik, sehingga adonan langsung buyar menjadi mi. Hebat euy. Makanya dikasih nama Lamien, karena berasal dari kata La = Tarik & kata Mian = Mie, alias mi tarik.
Kalo Dimsum berasal dari bahasa Kanton Cina, yang artinya makanan kecil yang serba dikukus atau digoreng, yang biasanya disajikan sebagai teman minum teh disore hari, atau saat sarapan pagi atau saat brunch (jam makan nanggung, pagi ngak siang juga belum). Bentuknya beraneka ragam & mungil, & terkadang rumit, sehingga memerlukan ketrampilan sang juru masak. Rasanya bisa gurih asin atau manis & jenisnya bisa sampai ratusan jumlahnya kalo dinegara asalnya.
Nah pesanan sudah datang, mari kita bahas. Lamien yang dipesan nyokap adalah lamien pangsit, yaitu mi disajikan didalam mangkok putih yang besar dan sudah dicampur dengan kuah kaldu serta diberi pangsit rebus. Bentuk mi nya lebih besar & tebal dibandingkan mi biasa. Pas dimakan, aah kuah beningnya yang panas mengepul, rasanya gurih & segar serta ada rasa yang unik yang berasal dari daun. Lebih enak lagi kalo ditambah sambal cabe kering yang berminyak. Lalu dimsumnya, karena pesen yang promo, maka dikasih yang jenisnya udah biasa, yaitu kaki ayam, bakpau ayam & siomay ayam, tapi rasanya enak sih, bisa diulang. Btw aku lagi pantang seafood, jadi terpaksa makan yang isi ayam semua, tapi gak nyesel kok. Pokoknya makan malam berlangsung kenyang dan sukses.
Nah kali kedua aku datang lagi bersama Yayang, karena dia juga penasaran. Kali ini pesenannya adalah bubur ayam hainam untuk Yayang, dan karena aku agak kenyang maka aku cuma pesen 1 macam dimsum, yaitu pangsit yang berisi campuran udang ayam sayur lalu diberi sedikit kuah sechuan. Dimsumnya enak dong. Sedangkan buburnya adalah bubur doang ditaro dimangkok, disajikan secara terpisah adalah potongan ayam goreng yang masih ada tulangnya, lalu pelengkapnya adalah kecap asin, potongan kripik pangsit yang sangat tipis & kecil-kecil, tongcai, daun bawang, sambal, ramuan bawang putih & tak lupa kalo Yayang biasa tambah cabe rawit potong. Rasanya uenak rek & kenyang banget. Harga bubur nya Rp 33.000 & dimsum 18.000. Pokoknya menu di situ gak ada yang lebih dari Rp 50.000 ribu kok. Oh ya kalo mau makan tengah disini bisa juga loh, karena banyak menu seafood seperti kepiting soka, udang, cumi, dll serta berbagai sayuran. Lain kali balik lagi ah ngajak sekeluarga makan tengah disini. Yummi.
Saat pertama ku coba, makan berdua sama nyokap, karena udah malam & malas makan nasi, jadilah aku kesitu. Nyokap pesen lamien & aku pesen dimsum yang lagi promo, yaitu beli 3 porsi harganya lebih hemat. Oh ya, sebelum menceritakan rasa makanannya, aku ceritain sejarah makanannya dulu ya.
Lamien adalah masakan khas Tiong Kok, yaitu mi yang dibuat secara tradisional, tidak pakai mesin, dengan mengandalkan ketrampilan & kekuatan jari tangan sang juru masak. Caranya adonan mi dibanting-banting ke meja sambil ditarik, sehingga adonan langsung buyar menjadi mi. Hebat euy. Makanya dikasih nama Lamien, karena berasal dari kata La = Tarik & kata Mian = Mie, alias mi tarik.
Kalo Dimsum berasal dari bahasa Kanton Cina, yang artinya makanan kecil yang serba dikukus atau digoreng, yang biasanya disajikan sebagai teman minum teh disore hari, atau saat sarapan pagi atau saat brunch (jam makan nanggung, pagi ngak siang juga belum). Bentuknya beraneka ragam & mungil, & terkadang rumit, sehingga memerlukan ketrampilan sang juru masak. Rasanya bisa gurih asin atau manis & jenisnya bisa sampai ratusan jumlahnya kalo dinegara asalnya.
Nah pesanan sudah datang, mari kita bahas. Lamien yang dipesan nyokap adalah lamien pangsit, yaitu mi disajikan didalam mangkok putih yang besar dan sudah dicampur dengan kuah kaldu serta diberi pangsit rebus. Bentuk mi nya lebih besar & tebal dibandingkan mi biasa. Pas dimakan, aah kuah beningnya yang panas mengepul, rasanya gurih & segar serta ada rasa yang unik yang berasal dari daun. Lebih enak lagi kalo ditambah sambal cabe kering yang berminyak. Lalu dimsumnya, karena pesen yang promo, maka dikasih yang jenisnya udah biasa, yaitu kaki ayam, bakpau ayam & siomay ayam, tapi rasanya enak sih, bisa diulang. Btw aku lagi pantang seafood, jadi terpaksa makan yang isi ayam semua, tapi gak nyesel kok. Pokoknya makan malam berlangsung kenyang dan sukses.
Nah kali kedua aku datang lagi bersama Yayang, karena dia juga penasaran. Kali ini pesenannya adalah bubur ayam hainam untuk Yayang, dan karena aku agak kenyang maka aku cuma pesen 1 macam dimsum, yaitu pangsit yang berisi campuran udang ayam sayur lalu diberi sedikit kuah sechuan. Dimsumnya enak dong. Sedangkan buburnya adalah bubur doang ditaro dimangkok, disajikan secara terpisah adalah potongan ayam goreng yang masih ada tulangnya, lalu pelengkapnya adalah kecap asin, potongan kripik pangsit yang sangat tipis & kecil-kecil, tongcai, daun bawang, sambal, ramuan bawang putih & tak lupa kalo Yayang biasa tambah cabe rawit potong. Rasanya uenak rek & kenyang banget. Harga bubur nya Rp 33.000 & dimsum 18.000. Pokoknya menu di situ gak ada yang lebih dari Rp 50.000 ribu kok. Oh ya kalo mau makan tengah disini bisa juga loh, karena banyak menu seafood seperti kepiting soka, udang, cumi, dll serta berbagai sayuran. Lain kali balik lagi ah ngajak sekeluarga makan tengah disini. Yummi.
Subscribe to:
Posts (Atom)