Saturday, September 24, 2011

KULINER TANGERANG

BUPE
BUPE


Saung Serpong

Saung Serpong

Garry's

Saung Serpong

Saung Serpong

Garry's

Rumah Air

Rumah Air

Rumah Air

Rumah Air

1.    Taman Santap Rumah Kayu, Jl. Ki Hajar Dewantara SKL 002 Summarecon Gading Serpong, dekat sekolah Pahoa. Telpon 021 5421 2010 – 15.

2.    Rumah Air, Jl. Raya Boulevard CBD, Bogor Nirwana Residence, no. STA 000-0240, Bogor Selatan. Telpon 0251 8200 666.

3.    Saung Serpong (021 5389 9022 / 23) & Garry’s Kopitiam (021 538 9025 / 26), Jl. Pahlawan Seribu Kav. 3A No. 5-5A, Serpong, Tangerang Selatan.

4.    Bukit Palayangan, Jl. Cilenggang I no. 53A, BSD, Tangerang Selatan. Telpon 021 5382 626.

EATING – FISHING – PLAYING di RUMAH AIR, BOGOR NIRWANA RESIDENCE (*)

Awalnya kami menuju daerah Cibubur untuk mencari tempat kuliner baru, tapi berhubung jalanan di Cibubur selalu macet, kami jadi malas meneruskan perjalanan. Akhirnya kamipun berbelok dan masuk kembali ke jalan tol dan langsung menuju arah Bogor. Untunglah saya segera teringat cerita teman sekantor saya yang merekomendasikan resto Rumah Air yang terletak di kawasan Bogor Nirwana Residence.
Sesampainya disana, wah ternyata resto ini luas sekali ya. Tempatnya berupa saung-saung bambu dan kayu khas pedesaan, yang terletak diatas danau yang penuh dengan ikan. Sayangnya seluruh saung telah penuh oleh pengunjung, dan kami pun diantar ke ruang restoran yang masih kosong. Kami memilih duduk di area luar, yaitu diteras restaurant yang menghadap ke arah danau. Di area dekat tempat duduk kami, terdapat sebuah organ tunggal dengan soundsystem yang menggelegar guna mengiringi penyanyi sehingga mampu menghibur pengunjung di tempat yang luas tsb.
Buku menu telah disodorkan, seperti biasa menu yang tersedia adalah aneka masakan Indonesia & seafood. Kami sepakat memesan sop ikan nila kelapa muda bakar sebagai menu unggulan di resto ini serta menu pelengkap lainnya seperti ayam goreng, karedok, pepes jamur serta tahu tempe goreng. Untuk minumannya kami tertarik dengan es salju rumah air & es teler.
Sambil menunggu pesanan, kami hendak mengobrol tapi mustahil terdengar karena terkalahkan oleh suara sound system, lagi pula baru sebentar saja kuping kami sudah mulai berdenging. Akhirnya suami saya langsung berinisiatif mencari tempat lain yang agak jauh dan “Alhamdulillah Ya” mendapat tempat di sebuah saung kecil didekat pintu utama.
Nah sekarang baru nikmat. Suasana gubuk sungguh asri dan romantis, semilir angin bertiup sambil menghantarkan melodi yang indah dari sang biduan. Pemandangan alam bagaikan lukisan. Dari jauh tampak siluet gunung salak menghiasi kaki langit nan biru.
Tak sampai 5 menit, pesanan kami pun datang. Wow cepat sekali, padahal pengunjung begitu banyak. Perhatian kami langsung tertumpah pada sop ikan nila kelapa muda bakar, yaitu sebuah kelapa muda yang sudah bersih kulitnya, ketika dibuka tutupnya, tampaklah sop ikan dengan kuah bening. Daun kemangi dan potongan cabe rawit hijau tampak mengambang dipermukaan kuah sop. Segera kami menyiduk potongan potongan ikan nila yang berwarna putih itu. Ketika dimakan, hmm segar rasanya, karena kuah terasa asam dan sedikit pedas. Ikanpun terasa lembut dan tidak amis. Sayangnya kuah sop agak kurang panas, sehingga sedikit mengurangi kenikmatan. Sedangkan rasa makanan lainnya tidak mengecewakan. “Because of you, my life has changed, thank you for the love
and the joy you bring, because of you...” Sesekali suami bersenandung kecil, menikmati tembang tembang kenangan favorit dia. Hari yang indah, siang yang sempurna. Oh ya saya suka sekali sama minuman es salju rumah airnya, yaitu minuman air susu putih, mirip milkshake, tapi diberi kerokan daging kelapa muda. Rasanya manis dan segar. Para penggemar minuman susu pasti suka.
Selesai menikmati makan siang, masih ada sisa nasi yang kami lempar lempar ke dalam danau. Ikan koi yang gemuk gemuk saling berebut. Lantai saung yang menghadap danau tidak diberi pagar pembatas, bahkan diberi sedikit teras sehingga kami bisa duduk duduk sambil kakinya menjulur kedalam danau. Hati hati buat yang membawa anak kecil, kalau ngga mau diam bisa nyemplung ke dalam danau.
Setelah puas memandangi ikan dan foto foto kami minta billnya. Harga disini standard saja, yang termahal tentu sop ikannya yaitu Rp 54.500, disusul dengan es salju Rp 26.500 dan es teler Rp 20.500. Sedangkan harga lauk lainnya dibawah Rp 20.000.
Setelah beranjak dari saung, kami mulai mengitari tempat ini. Disini disediakan fasilitas musholla & toilet yang cukup bersih dan nyaman. Bangunan keduanya terbuat dari bambu dan kayu. Selesai sholat kami mulai mengitari fasilitas taman rekreasi. Sebuah papan pengumuman menginformasikan semua jenis permainan yang tersedia, yaitu ATV, motor mini, otoped, bumper boat, bola air, becak mini, funny boat, istana balon, dan remote control area. Tapi jangan salah, semua ini tidaklah gratis. Harga permainan paling murah adalah Rp 20.000 untuk waktu 10 menit saja, yang paling mahal adalah Rp 50.000 untuk remote control area selama 1 jam. Disini tersedia juga area memancing yang cukup luas. Sebuah tempat yang asyik dan cocok buat keluarga yang ingin berekreasi diwaktu weekend tanpa perlu menginap.

PERAHU & BECAK MINI DI SAUNG SERPONG (*)

Ada 2 buah restorant yang terletak di tikungan deket ITC BSD jalan Pahlawan Seribu. Keduanya berada dalam 1 kompleks dimana yang satu namanya Saung Serpong, satu lagi bernama Garry’s kopitiam. Bulan puasa yang lalu kami mencoba makan kesini. Diantara kedua bangunan resto itu ada meja reseptionnya. Seorang waitres bertanya kepada kami hendak makan di resto yang mana, dan kami pun memilih makan di Saung Serpong.
Memasuki tempat ini terlihat ruangan resto cukup luas. Didekat pintu masuk terdapat rak display yang menjajakan aneka roti. Masih ada area makan yang lebih luas lagi yang terletak taman dibelakang. Meja meja disusun disepanjang area teras. Terdapat juga saung saung dipinggiran taman. Ditengah tengah taman ada sebuah panggung bulat beratapkan rumbia, yang berisi aneka peralatan musik dan soundsystem. Panggung tsb dikelilingi oleh kolam yang berisi aneka perahu mini yang bisa dikayuh dengan tangan. Sedangkan disekeliling kolam terdapat jalur track untuk becak mini. Dikiri kanan jalur track tsb dibatasi oleh pagar tanaman berbunga. Karena semua saung sudah dipenuhi pengunjung, kamipun duduk di area teras. Taman disamping teras terlihat indah dan asri dengan berbagai tanaman hias serta kandang burung. Bahkan terdapat sumur sebagai hiasan.
Buku menu yang disodorkan berisi aneka masakan Indonesia dan seafood. Menurut penjelasan waitres, menu khas disini adalah masakan ikan gabus pucung, yaitu masakan khas Betawi yaitu ikan gabus yang dimasak dengan kuah rawon, lalu disajikan didalam sebuah bambu. Nah unik dan serukan. Kami jadi penasaran dan berniat memesan. Tapi saya berpikir ulang setelah melihat bentuk ikannya yang mirip lele. Karena saya tidak suka lele, bagaimana kalau saya ngga doyan, mana buat buka puasa lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan menu lain yaitu gurame goreng terbang, jamur enoki crispy, tahu bom dan es Kristal. Karena disetiap meja juga terdapat menu dari resto Garry’s kopitiam yang memajang gambar dessert andalannya yaitu roti canay tissue yang bentuknya seperti kerucut, maka saya juga tertarik memesannya plus tambahan appertizer sop sui kiaw ayam udang.
Ternyata pesanan kami datang secepat kilat. Padahal kami datang kesini cukup awal yaitu sekitar pk 5 an. Masih banyak waktu tersisa sambil menunggu beduk Magrib. Kekhawatiran kami terbukti. Semua hidangan yang kami santap sudah berangsur angsur dingin. Ikan guramenya sih enak, bumbunya meresap serta ditaburi bumbu kremes. Pasti renyah kalau dinikmati bila masih panas. Untung jamur enoki yang bentuknya kaya toge itu masih agak renyah. Kalau tahu bom nya saya kurang doyan yaitu tahu isi yang digoreng tepung, bentuknya besar, tahunya putih dan tebal, jadinya rasanya kurang crispy. Es Kristal juga hampir seluruhnya mencair, yaitu potongan jelly merah dan buah nanas yang diberi es serut lalu diberi susu kental manis serta ditaburi jelly bulat warna warni menyerupai Kristal, tapi jadi kurang manis rasanya. Sop sui kiaw ayam udang alias sop pangsit juga lebih enak bika dinikmati kala panas. Yang terakhir adalah roti canay adalah roti yang bentuknya bulat dan lebar mirip crepes tapi super tipis yaitu setipis tissue, sehingga rasanya renyah dan garing, ketika roti baru jadi dan masih panas harus cepat cepat digulung hingga menyerupai kerucut, lalu dikucuri susu kental manis, bisa pilih rasa coklat atau original. Hmm ini baru enak, sobek rotinya lalu kres kres kres, rotinya asin tapi ditimpali rasa manis dari susunya.
Makan malam kami dihibur oleh lagu lagu yang dinyanyikan oleh band lokal serta hiruk pikuk anak anak bermain perahu dan becak. Selesai makan dan sholat Magrib di musholla yang cukup luas, kami meminta bill nya. Harga yang termahal adalah ikan gurame yaitu Rp 42.900, tahu Rp 25.000, Jamur dan roti canay @ Rp 22.500, sup pangsit Rp 18.000 serta es Kristal Rp 15.000. Makan di resto ini lumayan menghibur, terutama untuk keluarga yang membawa anak. Anak anak menjadi riang gembira serta semangat makannya.

MENAHAN RASA LAPAR di RESTO BUPE (*)

Lebaran tahun ini, kami mendapat hadiah libur seminggu dari kantor. Sayangnya kami tidak punya rencana bepergian keluar kota. Selain jalanan macet, berita mengenai kecelakaan lalulintas sangat santer ditayangkan dimana mana. Sebagai gantinya kami rajin berburu tempat kuliner baru sebagai bahan review dan referensi.
Contohnya hari sabtu ini saya membaca kolom “jalan jalan” di surat kabar Kompas yang membahas 2 buah resto yang bernuansa desa yaitu resto Talaga Sampireun yang berada dekat pintu keluar tol Bintaro Pondok Aren, serta resto Bukit Pelayangan di Jl. Cilenggang I no 53A BSD yaitu dekat pintu keluar tol Serpong, disamping perumahan the Green. Suami saya jadi penasaran, selama ini kami sering bolak balik kedaerah Serpong tapi belum pernah melihat ada bukit, apalagi resto diatas bukit. Nah untuk membuktikannya, langsung saja siang ini kami menuju resto Bukit Palayangan untuk makan siang.
Pertama kami telpon dulu ke resto Bukit Palayangan untuk mendapat ancar ancar lokasinya. Kemudian kami langsung masuk ke jalan tol JORR dan keluar dipintu arah BSD. Terlihat 8 buah menara emas mirip obor lambang perumahan the Green yang menjulang tinggi. Beberapa meter setelah melewati perumahan tsb ada sebuah jalan kecil, jangan ragu, langsung belok kiri dan tak lama kemudian terlihat nama BUPE resto.
Karena kami tiba disana sekitar pk 12.30, lahan parkir sudah padat terisi, tapi untunglah masih bisa parkir di area parkir dalam. Segera kami turun dan mencari tempat. Oh rupanya ini bukan bukit, melainkan dataran tinggi biasa, tapi resto ini terletak dipinggirannya yang menurun tajam seperti lembah, dan menghadap ke arah perumahan the Green. Jadinya ya seolah olah berada diatas bukit sih, karena tempat makan yang berbentuk saung saung ditengah taman ini ada yang terletak diatas dan ada yang dibawah.
Sayangnya semua meja sudah penuh terisi, kamipun menghampiri petugas ber HT minta dicarikan tempat. Setelah bekeliling cukup lama, katanya hanya tinggal 1 meja diluar. Kamipun diantar kesebuah meja……batu ??? Wah penghinaan, ini sih bukan meja makan, melainkan meja batu buat tempat pot bunga. Sudah begitu kamipun ditinggal pergi. Sebenarnya kami tadi melihat beberapa meja kosong, tapi kata petugasnya meja itu untuk rombongan bukan untuk berdua.
Setelah ditinggal, kami mencari meja lagi sampai ke area paling belakang. Nah ketemu nih, disebuah teras rumah, ada 2 buah meja, dimana meja yang 1 telah penuh berisi rombongan keluarga yang sedang memesan makanan, yang 1 lagi kosong dan masih berantakan ditinggal pengunjung sebelumnya. Kami segera duduk dan menunggu petugas yang membersihkan dan mencatat pesanan. Karena lama, akhirnya kami minta tolong petugas dari meja disamping kami. Lagi lagi kami ditinggal pergi dan menunggu lagi. Akhirnya tak sabar suami mencari meja lagi ketempat yang lebih ramai, karena area tempat duduk kami sungguh terpencil. Percaya tidak, mencari tempat saja sudah menghabiskan waktu sejam.
Akhirnya kami mendapat meja disebuah ruangan. Dari buku menu yang kami baca, disini tersedia masakan ikan gurame kipas, bakar, asam manis & saus buah, lalu steam ikan pelayangan, lalu ikan kakap, kuwe & baronang bakar. Lalu ada masakan ayam coca cola, ijo pelanyangan, kalasan & bakar jimbaran. Ada juga masakan udang, cumi, iga & buntut, serta aneka cah sayuran. Tapi ketika hendak memesan, ikan gurame habis, tahu tempe saja habis. “Jadi yang ada tinggal apa pak ?” Tanya kami. “Tinggal ayam saja pak, Bapak mau coba ayam ijo pelayangan ?” Tanya nya. Ya sudahlah, perut kami sudah keroncongan, pasrah dengan menu ayam ijo serta lalapan.
Sambil menunggu pesanan, saya sholat dulu. Selesai sholat pesanan belum datang. Akhirnya kami berjalan jalan mengamati daerah sekitar. Anak anak banyak berlarian dan asyik melihat ikan dikolam sekitar. Aku memperhatikan meja meja dalam ruangan kami pun pesanannya belum datang. Wah kacau, kapan giliran kami ? Es campur & jus jambu pesanan kami sudah habis, tapi makan siang belum juga datang. Sejam sudah berlalu, suami mulai complain dengan petugas ber HT tadi. “Apakah ini efek koran Kompas ?” Tanya suamiku. Rupanya ada koki yang sakit dan banyak petugas yang pulang kampung karena Lebaran. Aduh kenapa mesti dipaksakan buka sih, kan kasian pengunjung yang terlantar. Lagipula pengunjung yang kecewa akan kapok & tidak mau balik lagi serta menyiarkan bad recommendation kepada orang lain (Contohnya ya kaya saya ini).
Setengah jam kemudian datanglah pesanan kami. Ayam ijo adalah ayam goreng utuh yang disiram sambal goreng cabe ijo, seperti khas Padang. Rasanya enak walau tidak istimewa, tapi habis wong lapar. Selesai makan segera kami minta bill nya. Harga ayam Rp 60.750, es campur Rp 17.500 dan jus jambu Rp 14.500. Lamat lamat terdengar alunan azan sholat Ashar. Berarti hampir 3 jam kami berada disini. Rekor baru telah dibuat. Pelayanan dan makanan yang kami dapat sangat tidak seimbang dengan waktu yang dikorbankan. Sungguh kami tidak akan balik lagi.

Sunday, September 04, 2011

Santai dulu ah di Taman Santap Rumah Kayu (*)






Sudah beberapa kali melintasi jalan di Paramount Gading Serpong terlihat sebuah papan billboard bertuliskan “Taman Santap Rumah Kayu” dengan tanda panah “belok disini”. Ah suami saya jadi teringat sebuah restaurant yang namanya persis sama di kota Lampung. Katanya restoran ini terkenal, makanannya enak, menunya seafood, harganya terjangkau serta tempatnya pun bagus. “Aku sudah 2 kali makan disana bersama teman-teman”, katanya berpromosi. Wah saya jadi tertarik mendengarnya. “Kapan-kapan kita coba yuk, siapa tau restaurant ini merupakan cabang Lampung”, ujarnya.
Jadi beberapa minggu yang lalu jadilah kami berbuka puasa disana. Kebetulan kami datang agak awal sekitar pk 5 sore, sehingga mendapat tempat parkir yang cukup dekat dengan pintu gerbang. Wah pintu gerbangnya besar sekali, yakni berupa tembok batu berbentuk setengah lingkaran yang panjang dan tinggi serta ditopang 4 pilar hijau. Didepan gerbang terdapat kolam air mancur berbentuk lingkaran dengan tanaman disekelilinginya. Sungguh segar dan asri.
Ketika kami masuk, ternyata didalam lebih asri lagi. Tempat ini memang sebuah taman yang luas & bersih. Dipaling depan terdapat taman pasir untuk tempat bermain anak-anak yang dilengkapi dengan perosotan dan ayunan. Taman dibuat berkelok kelok dengan tanaman yang indah dan rimbun disana sini. Tempat makannya berupa saung-saung terbuka dengan atap genteng, ada yang kecil ada juga yang luas. Adapula tempat makan yang bertingkat 2 dan ber AC, serta meja meja bulat beratapkan payung untuk kapasitas berdua disetiap belokan taman. Walaupun tempatnya besar & luas ternyata banyak meja yang sudah diberi tanda “reserved”, sehingga kami berdua pun mendapat tempat dimeja bulat berpayung dipaling depan dekat taman bermain anak-anak.
Pelayan disini banyak dan ramah. Penasaran kami pun bertanya perihal restaurant dengan nama serupa di Lampung. Ternyata memang benar, resto ini merupakan cabang Lampung. Dari buku menu yang kami baca dapat disimpulkan bahwa menu yang tersedia disini terbagi menjadi 3 jenis yaitu masakan kuring khas sunda, Chinese food serta masakan khas Bangka dengan bahan baku utamanya seafood. Karena kami hanya berdua, maka kami hanya memesan gurame bakar rumah kayu, gado gado serta sup jagung kepiting.
Sambil menunggu pesanan datang, bergantian kami berjalan-jalan mengamati keadaan sekitar. Ternyata tempat ini sungguh luas, mungkin sekitar 1 hektar. Disetiap belokan ada tempat sampah besar dan wastafel. Tersedia juga toilet & mushola yang bersih dibagian belakang. Kalau perlu sesuatu, banyak pelayan yang berdiri disetiap tikungan. Lamat lamat terdengar suara kehebohan para koki yang sedang memasak dari bangunan yang terletak dipaling depan, guna meyiapkan masakan yang serempak dipesan untuk berbuka puasa. Alhamdulillah makanan kami cepat datangnya, sebelum azan Magrib, pesanan sudah tersaji semua dimeja. Disediakan juga tajil berupa es buah secara cuma cuma.
Makanan yang kami santap ini enak walaupun tidak istimewa. Yang pasti makan disini suasananya enak dan menyenangkan, sehingga kami memutuskan akan kembali lagi dengan membawa rombongan keluarga dilain waktu. Mengenai harganya lumayan terjangkaulah. Yang termahal adalah guramenya Rp 49.000 lalu sup jagung kepiting Rp 20.000 sama harganya dengan es alpukat kerok, sedangkan gado gado Rp 10.000 serta jus semangka Rp 12.000.
Yang ingin mencoba berekreasi sambil makan disini alamatnya adalah jl Ki Hajar Dewantara SKL 002 Summarecon Gading Serpong, dekat sekolah Pahoa. Telpon  021 5421 2010 – 15. Nah selamat bersantai.

Saturday, August 20, 2011

Masakan khas negeri Laskar Pelangi ada di Jakarta (*)




Mendengar cerita mengenai keindahan pulau Bangka Belitung sungguh memikat hati ingin segera kesana. Tapi kesempatan belum berpihak kepada saya. Walaupun begitu kesempatan mencicipi kuliner khas Bangka terbentang didepan mata. Kini telah hadir resto Kampoeng Bangka, Seafood dan makanan khas Bangka di Jl. Panglima Polim Raya no 102, Jakarta Selatan.
Resto ini terletak dipinggir jalan Raya Panglima Polim yang sungguh ramai (macet tentunya) dan strategis. Resto ini terdiri dari 3 lantai dimana bagian depan bangunan dihiasi dengan jendela jendela kayu model jaman dulu berwarna hijau tua, yang dibingkai kusen berwarna cokelat serta tembok bangunan yang berwarna putih. Sungguh perpaduan yang kontras dan menarik. Bilboardnya saja menyuguhkan gambar aneka masakan dan sambal yang kelihatanya mengundang selera.
Memasuki ruangan resto ini, kami disambut dengan ramah. Waitress menerangkan bahwa makanan disini langsung dihidang dimeja seperti gaya rumah makan Padang. Tapi bisa juga memesan menu lain yang tersedia di daftar menu. Daftar menu yang diberikan rupanya adalah brosur menu yang bisa dibawa pulang. Kalau melihat isi dan gambarnya, sungguh menggiurkan. Banyak sekali jenis masakan yang tersedia disini, yaitu aneka seafood seperti ikan, udang, cumi, kepiting serta kerang, bisa pilih dimasak seperti apa, yaitu digoreng kering, digoreng tepung, dibakar atau direbus, dengan bumbu asam manis, saos tiram, saos mentega, lada hitam, dll. Juga tersedia aneka masakan ayam, daging sapi, mie & kwetiau, nasi goreng, sayuran, sup, sate, serta sambal. Terakhir ada aneka camilan, dessert dan minuman.
Hmm saya tertarik dengan ayam goreng Bangka. Eh ternyata belum tersedia. Lalu beralih ke menu ikan, eh ternyata hanya ada ekor tenggiri bakar. Akhirnya kami pasrah dengan menu yang dihidang dimeja. Mungkin karena resto ini memang benar benar baru berdiri, yaitu akhir bulan July lalu, maka banyak menu yang belum lengkap tersedia.
Hidangan dimeja hampir semua berbentuk gulai yaitu sayur, ikan, udang dan kikil. Dihidangkan pula sup iga, ekor tenggiri bakar serta daun singkong kering. Oleh karena itu saya pun memesan ayam goreng daun pandan yang penampilannya sama dengan ayam pandan Thailand.
Sup iga itu rupanya bernama lempah iga daun kedondong. Rasanya segar karena bercita rasa asam seperti kuah pindang, ditambah daging yang empuk menambah nafsu makan kami. Lalu kikilnya rupanya adalah kikil tauco, yang rasanya berupa perpaduan rasa gurih manis, pedas dan asam. Kikil sudah dipotong kotak kotak kecil dan dimasak bersama potongan pete. Ekor tenggiri nya lumayan besar, dibakar dengan bumbu minimalis, dan dagingnya sudah terbelah 2 sehingga mudah diambil. Daging ikan terasa fresh dan semakin nikmat bila dimakan bersama pendampingnya si sambal cabe merah. Terakhir ayam goreng pandan pesanan ku, yang berisi 4 bungkus pandan. Rasa dari potongan daging ayam yang sudah diungkep lalu digoreng itu, bumbunya sama sekali tidak ada yang menyolok. Oh rupanya harus disiram saus pendampingnya yang berwarna coklat kental, sehingga sekarang rasanya menjadi manis. Ah sepertinya kurang cocok dengan selera saya. Terakhir, dessert pembilas rasa pedas yaitu es campur Bangka yang isinya tidak terlalu istimewa, sama seperti es campur lainnya.
Semua sajian ini dibayar dengan harga diatas standard, itupun setelah opening discount 30% for food only. Ketika saya teliti, harga yang tercantum didalam bill lebih mahal daripada harga didalam brosur, yaitu ekor tenggiri Rp 95.000 padahal di brosur hanya Rp 75.000, lempah iga Rp 45.500 sedangkan di brosur Rp 35.000, kikil Rp 20.500 di brosur Rp 20.000, harga ayam pandan sama yakni Rp 29.900, es campur Rp 19.900 sedangkan dibrosur Rp 14.500, harga sambal sama yaitu Rp 7.500, nasi Rp 5.500 sedangkan dibrosur Rp 4.000, plus tax & service total kami membayar Rp 192.284. Hmm kalau begitu brosurnya salah cetak dong karena ngga mungkin brosurnya memakai harga lama, wong restonya pun baru buka. Yah sudahlah. Yang mau mencoba kesini, bisa telpon dulu di 021 739 2344.

Friday, July 29, 2011

Tian Xi, kembalinya si bebek merah yang hilang (***)












Geng kami adalah penggemar sajian Chinese food dari Red Duck restaurant, jadi ketika kami mengetahui bahwa resto ini sudah tidak ada lagi di FX Mall, betapa kecewanya kami. Rasa yang lezat serta jarak yang dekat dari kantor kami di gedung BEI lah yang membuat kami sering menyambangi resto ini.

Jadi ketika kami mendengar sebuah kabar bahwa ada sebuah resto yang bernama Tian Xi by Red Duck di Mall Senayan City, maka segera kami ambil keputusan, bila ada salah seorang dari kami yang ultah, maka harus mentraktir makan disana. Kebetulan di bulan July yang ultah adalah saya sendiri, so jadilah sore itu sepulang dari kantor kami berlima bergegas menuju Lower Ground Mall Senayan City. Sudah terbayang di lidah kami, berbagai kelezatan dimsum serta bebek panggangnya yang empuk, hmm tak sabar rasanya ingin segera tiba kesana.

Restaurant ini mudah dicari. Dari kejauhan sudah terlihat tulisan Tian Xi berwarna putih serta huruf kanji merah disampingnya. Ketika masuk, ruangan terlihat luas dan lapang, terbagi menjadi smoking dan non smoking area, dimana area tersebut dibatasi dengan sebuah dinding tebal yang bagian tengahnya ada gerbang berbentuk setengah lingkaran, sehingga seolah olah kita akan memasuki sebuah terowongan. Disini tersedia juga ruangan VIP sehingga saya yakin resto ini bisa menampung ratusan orang pengunjung. Senangnya lagi, ada keterangan no pork & no lard yang membuat kami semakin tenang.

Buku menu yang disodorkan ada 3, yaitu buku menu utama yang tebal dan berat berisi berbagai menu bebek sebagai sajian andalan disini, lalu berbagai menu seafood kelas premium serta aneka sajian sayuran. Dua buku menu lainnya jauh lebih tipis dan ringan, yaitu yang pertama berisi berbagai menu dimsum, rice dan noodle, serta yang kedua berisi berbagai menu minuman dan dessert.

Teman yang pertama sedang pantang makan seafood dan bebek akibat dari kondisi kehamilannya, walaupun begitu kami tetap memesan menu wajib bebek panggang, lalu ayam goreng bawang putih dan buncis cabe garam biar si bumil bisa makan. Teman yang kedua sedang ngidam berat udang telur asin. Teman yang ketiga penggemar dimsum, sehingga kami memesan tim siew mai dan kaki ayam lada hitam. Kami juga sepakat memesan cakwe goreng thousand island dan yang terakhir adalah cheong fun otak-otak saus XO yang gambar menarik dan menggiurkan. Karena makanan yang dipesan sudah cukup banyak apalagi bila ditambah nasi, maka kami hanya memesan Chinese tea refill untuk pembilas dahaga.

Sembari menunggu pesanan datang, kami pun mulai beraksi dan berfoto ria. Tapi alangkah terkejut dan gembiranya kami, belum sampai 10 menit, bahkan belum sempet ngobrol, pesanan kami berangsur angsur datang. Saya pun jadi panik mengalihkan kamera ke makanan di meja, sebelum sajian cantik tersebut rusak diserbu tangan tangan bersumpit.

Berikut review makanan dari saya : bebek panggangnya memiliki kulit luar berwarna merah kecoklatan yang mengkilat, rasanya garing tapi masih berlemak didalamnya. Dagingnya empuk dan juicy, disajikan bersama saus coklat kehitaman yang rasanya manis. Kemudian ayam goreng bawang putih, penampilannya mirip sekali dengan bebek, disajikan bersama semangkuk garam bercampur merica. Bedanya kalau bebek rasanya gurih dan manis yang berasal dari sausnya, kalau ayam rasanya sudah asin.

Kemudian penampilan udang telur asinnya unik. Udang dan jagung manis pipilan digoreng tepung dan disiram telur asin, tapi telur asin telah bersatu dan meresap, tidak seperti di resto lain yang telur asinnya sampai tergenang dipiring. Untung kami memilih udang kupas, sehingga rasa telur asin lebih meresap ke daging udang daripada kami harus repot menghisap hisap kulit udangnya.

Buncis cabe garam adalah buncis yang digoreng tepung lalu ditaburi cincangan bawah putih yang royal serta potongan cabe rawit. Disajikan bersama semangkuk saus cair berwarna coklat yang penampilannya mirip dengan saus sambal kacang. Tapi ketika dicicipi, alangkah terkejutnya saya, mata pun langsung mendelik akibat rasa asam yang menyeruak di mulut. Rupanya rasa asam berasal dari air jeruk kimkit. Cocok sekali, perpaduan rasa gurih dan asam dimulut menimbulkan rasa ketagihan, menghilangkan rasa eneg tapi menyegarkan.

Kemudian cakwe nya, kulitnya garing dan bertabur wijen tapi didalamnya empuk, terbalut saus thousand island yang sudah bersatu sehingga tidak menimbulkan jejak berlebihan diatas piring.

Sekarang yang paling unik adalah cheong fun otak-otak saus XO, yaitu otak otak ikan, bentuknya kotak panjang, dibungkus gulungan tepung beras, kemudian digoreng sedikit kering dikedua sisi atas dan bawah, serta diberi topping sambal ikan teri. Ketika dimakan, otak otak terasa empuk dan tidak kenyal, rasa ikan dan bumbunya menonjol, berpadu dengan rasa tepung beras yang licin dan agak lengket, ditimpalin lagi rasa asin pedas dari sambal ikan teri nya, wah unik dan istimewa ya.
Terakhir dimsum tim kaki ayam lada hitam dan siew mai, hanya 1 comment nya, yaitu enak. 

Perasaan bila dibandingkan dengan masakan resto Red Duck, sepertinya ini lebih enak deh, atau kami memang kangen masakan mereka, ngga tau juga ya. Tapi yang penting dinner kami malam ini sukses dan kekenyangan, walaupun sedikit kurang sempurna. Apa pasalnya ? Ini gara gara rasa asin yang tidak merata pada masakan ayamnya, yaitu rasa asin yang sedang dibagian atas daging ayam, tapi rasa asin menumpuk dibagian bawah bahkan meresap ditulangnya. Batal deh acara menghisap hisap tulang ayam. Sayang kami tidak memesan dessertnya, padahal gambarnya sungguh menarik hati. Tapi apa daya, perut sudah tak sanggup menampung lagi.

Mengenai harga, yang termahal adalah udang Rp 80.000, disusul dengan ½ ekor ayam Rp 70.000, ¼ bebek Rp 55.000, cakwe Rp 48.000, buncis Rp 38.000, cheong fun otak-otak Rp 16.000, siew mai Rp 15.800, kaki ayam Rp 12.800 plus nasi, minum, tax and service, serta dikurangi diskon promo BNI card (atau CIMG Niaga) sebesar 30%, maka total saya bayar adalah Rp 348.059.

Buat yang berminat makan kesini alamatnya adalah Tian Xi by The Red Duck, Senayan City, LG # 06-08, Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta 10270, Telpon 021 7278 1532 / 7278 1527. Oh ya ada 1 info penting, disini tersedia juga all you can eat dimsum yang harganya sungguh terjangkau, tapi hanya tersedia pada siang hari saja. Ching man yung (selamat menikmati)…