Tuesday, October 21, 2014

Resep Pai singkong ayam jamur








Hidup bertetangga itu harus menjalin silahturahmi karena saudara kita yang terdekat adalah ya tetangga kita itu lah, yang bisa menolong apabila kita ada kesulitan. Oleh karena itu setiap 2 bulan sekali diadakanlah arisan di kompleks ku dimana kali ini untuk mengisi acara diadakan lomba kreasi makanan dari bahan singkong.

Dulu sudah pernah saya ikut acara serupa, dan saya membuat pizza singkong. Kali ini saya membuka http://www.sajiansedap.com/ untuk mencari kudapan unik dengan bahan singkong. Nah ini dia ada resep menarik yaitu Pai singkong ayam jamur, yang penampilannya menarik, modern dan istimewa. Tapi karena budgetnya hanya Rp 30.000 harus dimodifikasi sedikit agar lebih murah.

Ini dia saya sajikan resepnya :

Bahan kulit pai :
  • -      75 gr margarin
  • -      200 gr singkong dikukus, lalu dihaluskan
  • -      1 butir telur, dikocok lepas
  • -      100 gr tepung terigu, sebaiknya protein sedang
  • -      ½ sendok teh baking powder
  • -      ¼ sendok teh garam


Bahan isi pai :
  • -      1 potong dada ayam, dipotong kotak kecil
  • -      100 gr jamur merang, di iris-iris
  • -      2 siung bawang putih, di cincang halus
  • -      2 cabe merah keriting, di iris serong
  • -      1 sendok makan saus tiram
  • -      1 batang seledri, di iris-iris
  • -      1 sendok makan minyak goreng untuk menumis
  • -      Gula, garam, merica, air secukupnya
  • -      Keju parut untuk hiasan


Cara membuat :
  • -      Panaskan minyak goreng, tumis bawang putih dan cabe merah sampai harum.
  • -      Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna.
  • -      Masukkan jamur, saus tiram, gula, garam, merica, aduk rata.
  • -      Tuangi air, masak sampai meresap dan matang, lalu angkat dan sisihkan.
  • -      Aduk rata bahan kulit pai, lalu giling tipis.
  • -      Cetak di cetakan pai kecil pendek yang telah diolesin margarin, lalu tusuk-tusuk dengan garpu.
  • -      Oven hingga matang.
  • -      Setelah kulit pai dingin, lepaskan dari cetakan.
  • -      Masukkan isi kedalam mangkok pai.
  • -      Hiasi dengan taburan seledri dan taburan keju parut.



Setelah dinilai oleh juri, maka hasilnya pai singkong saya juara 1, yey...Hadiahnya sih ngga penting, tapi moment kumpul-kumpulnya itu yang terpenting.

Thursday, October 16, 2014

Hati-hati makan Ayam Goreng Ancuur (*)






Melintas jalan Ir. H. Juanda Jakarta Pusat, pas jam makan siang, tersedia beberapa pilihan tempat makan. Kami parkir didepan RM padang Sari Bundo, tapi saya malah tertarik dengan sebuah rumah makan bernama Ayam Ancuur khas Solo. Hmm kayanya unik nih dan patut dicoba.

Masuk kedalam rumah makan ini, tempatnya sederhana, terbuka dan ruangannya memanjang kebelakang. Didepan ada sebuah gerobak dengan nama RM Ayam Ancuur, isinya berupa tumpukan potongan ayam yang berukuran besar-besar, tampak menggoda.

Ternyata apabila membaca daftar menunya, menu yang tersedia disini banyak juga jenisnya yaitu Timlo ayam solo, nasi goreng, bakmi goreng / godok, nasi liwet, ayam bakar / goreng ungkep, pecel kyai slamet, nasi pecel empal / ayam, capcay, selat solo, rawon keraton, tengkleng, tongseng, sosis solo, sayur asem, gudeg & tempe daun.

Saya sih harus mencoba menu andalannya si ayam ancur  dan suami memesan nasi pecel empal. Untuk minumannya kami memesan jus tomat & alpukat. Sambil menunggu, diatas meja kami ada sebuah piring yang berisi tumpukan tempe yang ukurannya tipis, kami jadi iseng mengambil tempe seorang 1. Tempe goreng terasa garing dan agak keras karena tipis. Belum selesai saya mengunyah tempe, pesanan kami sudah datang.

Ayam pesanan saya disajikan diatas piring melamin hijau beralaskan daun pisang, isinya adalah sepotong ayam goreng berukuran besar, bagian paha atas sampai bawah, nasi, tahu goreng, sambal hijau dan lalapan. Nah ayamnya itu dipotong-potong sampai tulangnya hancur tapi ayam masih terlihat utuh. Ketika ku makan rasanya sih biasa saja ya, bumbunya tidak gurih, manis juga ngga. Daging ayam cukup empuk tapi masalahnya karena tulang ayam hancur jadi susah makannya, harus ekstra hati-hati jangan sampai tertelan atau nyangkut di gigi, karena tulangnya keras dan tajam. Hmm sepertinya saya kapok makan sajian ini.

Saya juga mencicipi pesanan suami saya, nasi pecel empal. Dagingnya termasuk empuk tapi rasanya biasa juga. Lalu pecelnya sedikit banget bumbunya, rasanya pedas dan manis banget. Untuk minumannya, jus alpukat pesanan saya tampak menggiurkan, dihiasi kucuran susu kental manis coklat, tapi rasanya kurang manis.

Selesai makan dan meminta billnya, tertera disana harga ayam ancur Rp 20.000, nasi pecel empal Rp 30.000, 2 tempe daun @ Rp 2.000, rempeyek Rp 5.000, jus tomat Rp 9.000 dan jus alpukat Rp 10.000. Oh jadi tempe yang kami makan itu bernama tempe daun toh, tapi ngga ada daunnya sih, tempe goreng biasa, mungkin tempe sebelum digoreng dibungkus daun kali ya.


Sepertinya saya cukup sekali makan disini, karena rasanya kurang istimewa, walaupun harganya masih terjangkau. Yang penasaran hendak kesini alamatnya adalah Jl. Ir. H. Juanda no 5B Jakarta Pusat. Awas hati-hati ya makan ayam goreng ancurnya...

Tidak bisa take away udon / soba kuah di Tempura Tenya Tendon (*)


Selama ini kalau kami makan ke Citos, jarang sekali naik ke lantai 2. Karena itu ketika saya melihat sebuah restoran tempura bernama Tempura Tenya Tendon di lantai 2, saya mengajak suami untuk mencobanya. Sebelumnya kami pernah makan di restoran tempura sejenis ini di PIM 1 bernama Ten Ten. Nah coba kita bandingkan dengan Tempura Tenya Tendon ini, mana yang lebih enak.
Memasuki tempat ini, ruangan dengan interior yang didominasi kayu berwarna terang, kami duduk didekat dinding yang berhiaskan lukisan Tempura Tendon Tenya berukuran besar. Dari daftar menu yang diberikan, terdapat berbagai macam menu tempura seperti udang, cumi, ikan, crab stick dan sayuran. Karbohidrat pendampingnya adalah nasi, soba dingin/panas serta udon. Untung daftar menu ini didampingi gambarnya, sehingga memudahkan kami untuk memilih. Kami tertarik memesan menu yang bergambar semangkok tempura dengan soba panas karena terbayang akan kehangatannya.

Pesanan kami datang tidak begitu lama. Dua buah nampan yang masing-masing berisi semangkok tempura, semangkok soba panas, sepiring kecil sambal dan potongan daun bawang, terhidang didepan kami. Rupanya semangkok tempura itu adalah nasi yang ditutupi tempura diatasnya dan disiram saus, sehingga merembes ke nasinya. Wah andai kata saya tau pesanan kami tsb sudah ada nasinya, pasti saya tidak memesan soba, atau sebaliknya tidak memesan nasinya. Rupanya Tendon artinya adalah “nasi yang disajikan dalam mangkuk dengan aneka tempura, kemudian disiram dengan saus khas”, yah mana ku tau. Ya sudahlah, daripada ribut saya pilih makan tempura dengan nasinya, biar sobanya dibungkus saja.

Tempura terdiri dari udang, ikan, crab stick dan buncis, yang disiram saus khusus yang rasanya manis. Ketika ku makan sajian tempura ini, rasanya lumayan sih tapi saya masukkan kedalam kategori standar, biasa saja, tidak istimewa, masih lebih enak Ten Ten atau Marugame.

Karena kekeyangan, saya putuskan untuk memanggil pelayan untuk membungkus sobanya. Tapi alangkah terkejutnya saya karena dijelaskan oleh pelayan bahwa disini tidak tersedia tempat untuk membungkusnya. Saya jadi dongkol karena tidak suka membuang-buang makanan, apalagi harganya cukup mahal yaitu Rp 68.000. Andai kata saya tau pesanan kami ini mengandung 2 jenis karbohidrat, tentu saya hanya memesan 1 jenis saja. 

Saking sebalnya, ketika meminta bill saya bertanya, bisakah saya memesan tempura udon untuk dibawa pulang. Eh pelayan nya menjawab bisa lagi, semakin marah lah saya. Loh bagaimana cara membungkusnya, pakai bungkus apa, kan udon juga sejenis mi kuah, sama dengan soba, apa bedanya ? Setelah saya tanya seperti itu, penyataan diralat lagi oleh pelayannya, bahwa tempura udon tidak bisa dibungkus, disertai penjelasan bahwa di tempat aslinya di Jepang, soba/udon tidak bisa di take away karena akan berubah rasanya.

Saya sarankan kepada manajemen Tempura Tenya Tendon, mohon ditulis didaftar menu bahwa “Soba / Udon panas tidak disarankan untuk dibawa pulang karena akan merubah rasa”, tapi tetap dong disediakan tempat untuk membungkus makanan karena hal tsb merupakan hak customer yang telah membayar. Toh pembeli tidak bisa complain karena sudah ada peringatannya.


Selesai membayar, kami keluar dari restoran di iringin salam “Arigatao gozaimashita, selamat datang kembali”, dalam hati saya berkata “ngga mau datang lagi...”

Thursday, October 09, 2014

Sajian kelas premiun di Sulawesi @Kemang (***)







Hari raya Idul Adha 2014 jatuh pada hari Minggu. Setelah selesai sholat Id di mesjid komples rumah kami, kami pergi kerumah orang tua suami, setelah itu baru kerumah orangtua saya. Hari itu cuaca panas sekali, tapi kami bertekad tetap nyekar ke makam Bapak mertua di Jeruk purut. Selesai nyekar disiang hari bolong, pas matahari diatas ubun-ubun, kepala saya mulai terasa pusing, sepertinya saya dehidrasi. Segera kami masuk kedalam mobil dan mencari tempat makan yang adem. Suami saya teringat, dia pernah makan bersama rombongan dosen dari kampusnya disebuah restoran seafood di Kemang, sehingga dia pun berinisiatif mengajak saya makan siang disana.

Tiba di Jl. Kemang selatan raya no. 2A, kami berhenti disebuah restoran besar yang kelihatannya mewah dan parkirannya sudah penuh, bernama Sulawesi @Kemang. Ketika kami masuk, pengunjung tampak ramai sehingga kami mendapat tempat dimeja belakang. Interior restaurant didominasi oleh kayu tampak mewah dan mahal. Semua meja terbuat dari kayu yang besar, tebal dan kokoh. Begitupula dengan kursinya, ada yang terbuat dari kayu, anyaman maupun sofa. Langit-langitnya juga terbuat dari kayu, dindingnya merupakan kombinasi antara kayu dan batu alam. Aksesoris pelengkapnya berupa lampu-lampu cantik, tirai kain, hiasan dinding dan berbagai pernak pernik pajangan.

Buku menu yang diberikan terasa tebal dan berat, berisi daftar menu serta gambarnya yang mengundang selera. Berbagai macam seafood kelas papan atas seperti lobster, kepiting, cumi, kerang, aneka udang dan ikan tertera dalam daftar bersama berbagai pilihan cara mengolah atau memasaknya. Selain menu seafood tersedia juga masakan ayam, sayuran, tahu/tempe, sate serta nasi/mie/bihun goreng. Dibagian minuman tersedia banyak pilihan seperti aneka jus, teh, coklat, kopi, milkshake, softdrink, mocktails, smooties, sparklers, beers dan aneka es khas Sulawesi.

Agak pusing juga kami memilih dari buku menu tsb, sehingga tanpa melihat lagi kami memesan ikan kerapu goreng crispy dan sayur pocay asparagus. Untuk minumannya saya memesan jus leci dan suami memesan jus nanas dan es jeruk pontianak. Didepan pintu masuk ada sebuah rak display yang berisi kue-kue khas Sulawesi, sehingga suami memesan panada untuk dibawa pulang.

Ada cerita khusus mengenai waitress disini, mereka itu berkali-kali bertanya dan meng confirm pesanan kami, kaya yang takut salah banget. Pesanan ikan kami saja, dia bertanya dulu ke dapur, confirm lagi, bolak balik, lebih dari sekali, begitu pula dengan pesanan es jeruk kami, cape deh. Sambil menunggu pesanan, kami bergantian sholat Dzuhur di mushola belakang. Selesai sholat, pesanan kami sudah lengkap diatas meja.

Ikan kerapu goreng crispy disajikan diatas piring kayu dengan hiasan bunga anggrek, tampak cantik dan mengundang selera. Ukuran ikan besar dan memang sudah diconfirm berat ikan yang tersedia paling kecil adalah 6 ons. No problem, kan bisa dibungkus jika tidak habis. Daging ikan telah di fillet dan disajikan bersama kerangkanya, dan digoreng tepung. Ketika dimakan, ikan terasa crispy diluar, lembut didalam. Ciri khas masakan ikan khas Makassar adalah bumbunya minimalis sehingga menonjolkan kesegaran rasa ikan sesungguhnya, dan dimaksudnya agar lebih enak bila dimakan bersama aneka sambal khas Makassar yang super pedas dan lezat. Kemudian tumis pocay asparagus juga tampak spesial dan istimewa yaitu pocay dan asparagus ditumis bersama telur dan berkuah kental, rasanya lembut, segar dan nikmat. Minuman pesanan kami juga terasa segar dan berkualitas.

Kesimpulan aneka sajian disini memang enak dan berkualitas premium, begitu pula dengan panada yang kami nikmati dirumah, kulitnya empuk dan lembut, isinya penuh, pedas dan lezat. Kekurangan restaurant ini hanya satu, harganya mahal banget. Ikan kerapu yang ternyata ikan kerapu macan hidup harganya Rp 48.000 per ons kali 6 ons jadi Rp 288.000. Pocaynya Rp 52.000, aneka minuman @ Rp 32.000 dan panada @ Rp 7.000, sehingga total billing kami menjadi Rp 574.500.

Kemungkinan sebagian besar bahan baku didatangkan khusus dari Sulawesi karena memang sulit untuk mendapatkan ikan seperti sukang, papakulu, katamba, kudu-kudu di Jakarta. Begitupula dengan udang sitto, gorilla galah, caviar dan jeruk ponti. Saya jadi teringat ketika kami ke Makassar, makan di rumah makan Paotere yang kondang itu, berenam orang hanya habis tiga ratus ribuan, jauh ya...

Saturday, October 04, 2014

Daftar kuliner halal di Bali


100% halal Chinese food & live seafood di Restoran Renon Denpasar (**)






Hari pertama di Bali, setelah kami selesai membereskan barang dan istirahat sejenak di Hotel Kuta Beach Heritage Bali, sore harinya kami memanggil taxi dan menuju daerah Denpasar untuk mencari makan. Sebenarnya kami belum tau tujuannya kemana, jadi ketika melewati jalan Cok Agung Tresna tepatnya no 85, ada sebuah tempat makan yang ramai bernama Restoran Renon dan ada logo halal didalam billboardnya, kami pun segera berhenti hendak makan disini.

Bangunan tampak depan terlihat besar dan modern, area parkirnya pun luas. Nama Restoran Renon berbentuk lampu huruf terletak mencolok diatas bangunan. Ketika masuk, ruang makan terlihat luas tanpa sekat seperti sebuah hall.

Dari menu yang disodorkan, restoran ini menyajikan 100% halal Chinese food, seafood & dimsum. Keistimewaan restoran ini adalah menyajikan seafood hidup seperti ikan, kerang, udang, lobster dan kepiting. Menu lainnya adalah sop, cumi, kodok, ayam, bebek, sapi, tahu, sayuran, nasi & mie serta menu vegetarian. Karena kami bertanya apa menu unggulan disini yaitu bebek panggang renon, maka kami memesan menu tsb serta menambah sop asparagus kepiting dan tumis po cay.

Pelayanan disini cukup cepat, pesanan kami pun segera tiba dimeja. Sop asparagus kepiting tersaji didalam mangkok besar yang bisa dibagi menjadi 4 mangkok kecil, wah bakal kekeyangan nih. Tumis po cay tersaji dipiring putih bertabur cincangan bawang putih, warnanya yang hijau tua sungguh mengundang selera, rasanya pun lembut dan segar. Kemudian bebek panggang renon rupanya adalah setengah ekor bebek peking yang disajikan ala restoran Duck King. Bumbunya yang meresap dan saus pendampingnya yang kental dan manis menambah kenikmatan makanan ini. Sayang kalau menurut saya daging bebek ini kurang empuk. Andaikan lebih empuk pasti menjadi sajian yang sempurna.

Mengenai harganya memang tidak termasuk kategori murah tapi sesuailah dengan porsinya yang besar. Seperti setengah ekor bebek panggang tsb dihargai Rp 128.000, sop asparagus Rp 48.000 dan tumis po cay Rp 28.000. Untuk minumannya Jus orange manggo Rp 20.000 dan es jeruk Rp 15.000.

Kesimpulan makan disini tempatnya bersih, besar dan luas, tempat parkir luas, makanan enak dan segar, pelayanan cepat dan harganya pun terjangkau. Halal merupakan suatu keharusan sehingga menambah daftar panjang kuliner halal di Bali.


Balinese & Seafood at ULAM Restaurant Nusa Dua (**)







Hari kedua kami pergi ke daerah Nusa Dua, karena suami ada perlu mengunjungi Bali Nusa Dua Hotel & Convention. Setelah selesai suami mengajak makan siang ke tempat langganan para peserta conference yaitu Ulam, Balinese & Seafood restaurant, Jl. Pantai Mengiat no. 14 Nusa Dua.

Ulam adalah salah satu the best restaurant in Nusa Dua yang menyajikan masakan tradisional Bali dan Seafood, yang disajikan bersama sambal khas Bali. Beberapa menu yang tersedia disini adalah salad dan sup, aneka seafood fresh from the grill, seafood basket, paket kombinasi ayam & seafood, serta menu-menu Indonesia seperti nasi goreng, mi goreng, Indonesian curry, gado-gado, sate ayam, bakso ayam & Balinese crispy duck. Nah menu yang terakhir ini saya langsung memesannya, sedangkan suami saya memilih special ikan bakar ulam. Untuk minumannya saya memesan jus alpukat dengan es krim, saking laparnya, dan suami memilih kelapa muda.

Pesanan kami disajikan cukup cepat. Balinese crispy duck adalah setengah ekor bebek goreng yang dibagi menjadi 2 potong, disajikan diatas hot plate. Bebek goreng ini memang crispy dibagian luarnya tapi lembut didalamnya, daging bebek terasa empuk, kulitnya berlemak, dan rasanya gurih, apalagi dengan taburan bumbu diatasnya, semakin nikmat dimakan bersama nasi putih hangat.
Kemudian special ikan bakar ulam adalah seekor ikan kakap bakar, but nothing special for me. Selain itu kami juga diberi semangkok sup bening berisi sayur daun-daunan dan sepiring sambal. Tapi kami kurang jelas, sop dan sambal tsb sebagai pendamping makanan yang mana.

Sebagai restoran bertaraf internasional yang berada di daerah elite Nusa Dua, maka harga makanan diisini termasuk mahal yaitu crispy duck Rp 89.975 dan Ikan bakar Rp 72.975 sudah termasuk nasi, sambal, sop & krupuk. Untuk minumannya kelapa muda Rp 20.500 dan jus alpukat es krim Rp 27.500.


Restorant ini menyuguhkan atmosfer Bali yang kental akibat dari penyajian bangunan, interior dan masakan tradisional khas Bali, sehingga banyak disukai turis manca negara yang bersantap disini. Tapi bagi saya, yang penting Ulam sudah menambah panjang daftar kuliner halal saya selama di Bali.


Warung Mak Beng Sanur (***)

Hari ketiga, suami saya penasaran ingin makan siang ke Warung Mak Beng di Jl. Hang Tuah no. 45 Sanur, akibat banyaknya orang-orang yang merekomendasikan tempat ini. Nah karena saya sudah pernah membuat reviewnya, jadi mohon baca kembali di :


http://www.yukmakan.com/review/members/Warung-Mak-Beng/6308/Warung-Mak-Beng,-Kesederhanaan-yang-Melahirkan-Kedahsyatan


Mall Beachwalk Kuta


Malam minggu didaerah Kuta, mau mencari makan, yang halal pula, naik taxi supirnya bawel, mengeluh karena macet. Ya sudah jalan kaki saja ke Mall Beachwalk Bali Jl. Pantai Kuta Badung. Banyak makanan mall yang sama dengan di Jakarta, seperti Eat & eat, Bon Chon Chicken, Bebek Tepi sawah, Kitchenette, Burger King, Domino pizza, Fish & Co, Cafe Betawi, Pepper lunch, Johny Rockets, Nanny’s pavilion, MM juice, Sushi Tei dan masih banyak lagi. Memang bukan kuliner khas Bali tapi mau bagaimana lagi, itupun harus tanya dulu dan baca daftar menunya sebelum masuk resto, takutnya beda lagi menunya dengan cabang di Jakarta. Kalau saya sih udah jelas pilih Sushi Tei karena memiliki 2 pilihan rasa yaitu enak dan enak sekali.

Mentari restaurant Bedugul (*)

Hari minggu kami pergi ke daerah Singaraja, yang jaraknya sekitar 5 jam dari tempat kami menginap di Jimbaran, itu pun sudah termasuk makan siang dan nyasar-nyasar serta foto-foto. Mirip perjalanan dari Jakarta ke Bandung lewat puncak. Singaraja dulu adalah ibukota pulau Bali sebelum Denpasar. Wisata yang paling terkenal adalah pantai Lovina, tapi jaraknya masih 9 km lagi dari Singaraja, yakni untuk melihat ikan lumba-lumba yang banyak bermunculan pada jam 6 pagi. Tapi kami kesana bukan hendak berwisata melainkan ingin mengunjungi rumah pakde suami saya yang orang Bali asli, rumahnya saja sudah termasuk cagar budaya karena dibangun sebelum abad 19.

Kalau kesana harus menyewa mobil dengan tarif luar kota. Kami mendapat supir yang ya ampuuun, jangankan dia ngomong ngasih info, bahkan kami tanya atau kami ajak ngomong saja dia ngga mau jawab, bikin pusing.

Karena kami sudah tau bakal mengalami perjalanan yang panjang dan lama, sebelum pergi kami sudah siap-siap breakfast di Hotel, makan yang banyak biar kenyang. Kakak sepupu kami juga sudah berjanji menanti disana dan akan membawa kami makan siang dirumah makan miliknya yang baru buka tapi sudah terkenal dan banyak penggemarnya.

Ketika kami sampai didaerah Bedugul, mirip daerah Puncak Jabar, tiba-tiba tanpa peringatan, supir menghentikan mobilnya disebuah tempat makan bernama Mentari Restaurant, Jl. Raya Bedugul km 50. Ketika kami bertanya kenapa berhenti disini, jawabnya adalah nanti susah lagi cari tempat makan. Yah terpaksalah kami makan siang dulu disini, mana perut masih kenyang lagi.

Sebelum masuk kedalam, wajib bertanya dulu mengenai kehalalannya. Setelah diperoleh kepastian, kami dipersilahkan duduk dan dijelaskan oleh waitres bahwa makan disini memakai sistem all you can eat, sudah termasuk minuman teh dan kopi, seharga Rp 100.000 per orang. Kami perhatikan bahwa restauran ini penuh dengan pengunjung yang rata-rata adalah peserta tour yang melewati daerah Bedugul, pasti mampir untuk makan disini.

Masakan yang disajikan sesuai dengan lidah Internasional karena ditujukan untuk turis manca negara, alias menu standard bagi kami, yaitu Sup kental tahu, Salad, ayam goreng, Sate lilit, mi goreng, gado-gado, tumis sayuran, nasi goreng & nasi putih, lumpia, krupuk, aneka buah potong, bubur ketan hitam, aneka kue & puding, serta teh dan kopi. Rasanya yah standard, tidak istimewa. Kalau ingin memesan minuman jus akan kena biaya lagi. Karena suasana hati yang agak kesal, maka saya jadi lupa mengambil foto makanannya.

Sebenarnya letak restoran ini sangat strategis, diseberang tempat wisata Danau Beratan Candi Kuning Bedugul. Sebelum restaurant ini adalah kawasan wisata kebun raya Bedugul. Lalu tak jauh dari resto ini, bisa berjalan kaki, ada sebuah mesjid Al Hidayah yang ukurannya besar dan indah. Dari mesjid tsb yang letaknya diatas, kita bisa melihat pemandangan Danau Beratan nan indah.


Karena letaknya yang strategis, makanan yang mudah diterima seluruh pengunjung dan halal pula maka resto ini menjadi persinggahan wajib para wisatawan. Maka bertambah lagi lah daftar kuliner halal saya selama di Bali.


Sop Kepala Ikan khas Makasar, Jl Dewi Sartika Singaraja (***)









Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan karena harus konsentrasi takut kesasar, maka sampailah kami ke rumah pakde di Singaraja. Rupanya kakak sepupu kami ini membuka rumah makan didepan rumah yaitu Baso tulang Muda, tepatnya di Jl. Gajah Mada no. 111. Rumah makan ini cukup terkenal karena letaknya yang strategis, dipinggir jalan besar dan disamping sekolah, sehingga menjadi tempat nongkrong anak muda. Sayangnya ketika kami kesana, hari minggu, rumah makannya tutup karena persediaan baso sedang habis. Ah kecewanya hati ini, membayangkan semangkok baso panas nan pedas di pelupuk mata. Tapi tak perlu kuatir, sepupu kami ini masih memiliki sebuah rumah makan lagi yang baru dibuka tapi katanya sudah lumayan terkenal dan banyak pelanggannya. Nah bikin penasaran kan, segera kami konvoi menuju Jl. Dewi Sartika.

Tiba disana terlihat spanduk besar terpampang didepan toko bernama Sop Kepala Ikan Dewi Sartika. Tempatnya berupa kedai makan sederhana yang terdiri dari 2 ruangan yang dibuka menjadi satu. Didinding ditempel spanduk berisi menu yang tersedia disini beserta gambarnya, dan ada satu lagi spanduk yang berisi fakta-fakta mengenai sop kepala ikan, tapi bergaya guyon sehingga mengundang tawa orang yang membacanya.

Kedai ini tidak menyediakan banyak menu melainkan hanya 2 menu spesial yaitu sop kepala ikan khas Makasar dan ayam kosek, serta 2 menu tambahan yaitu nasi goreng dan pecel lele. Tersedia juga minuman pendamping yang sangat pas yaitu es teler & sop buah, serta aneka jus. Sepupu kami dengan sigap menghidangkan semangkok sop ikan (karena isinya daging bukan kepala ikan) dan 2 porsi ayam kosek. Mumpung masih panas segera kami cicipi sop ikannya.

Kuah sop terlihat bening kekuningan, ditaburi bawang goreng dan daun kemangi serta potongan tomat, aromanya begitu wangi menggoda. Ketika diseruput aah terasa nikmat dan segar. Ikan yang dipakai adalah ikan kerapu dimana dagingnya berwarna putih dan lembut, tidak berbau amis, sedap nian.

Puas menyantap sop, kami beralih ke ayam kosek. Penampilannya agak menyeramkan versi saya yang penyuka pedas level elementary, tapi sangat menggoda bagi suami yang penggemar pedas level advance, hahaha. Bagaimana tidak, sepotong ayam goreng yang ditaburi sambal kosek yaitu sambal cabe rawit hijau dan merak yang diulek kasar lalu disiram minyak panas hingga matang, disajikan diatas cobek kayu, diberi pendamping tahu goreng, kremesan dan lalapan, wah wah mantapnya. Segera saya sisihkan sambalnya dan langsung disambar suami, itupun ketika saya makan rasanya masih jeletot, menghantam lidah karena rasa pedas sudah meresap kedalam ayam. Tak terasa peluhpun bercucuran dan nasi semakin menipis saking lahapnya. Untung saya memesan segelas sop buah, yakni minuman yang berisi aneka potongan buah dan cincau yang diberi susu kental dan sirup melon, mampu meredam rasa pedas yang menjalar kemana-mana.

Kami juga disuguhi segelas tuak yaitu air sadapan yang diambil dari aren, disebut nira, rasanya manis dan tidak mengandung alkohol karena belum berfermentasi. Nira dikumpulkan didalam wadah bambu dan dijajakan berkeliling. Sekarang sudah jarang orang yang berjualan minuman tradisional ini, sehingga sepupu kami menjadi pelanggannya.


Sajian disini memang bukan kuliner khas Singaraja, tapi dalam waktu singkat sudah mampu merebut hati para penggemarnya. Saya perhatikan juga, selama kami makan, pengunjung datang silih berganti tak berhenti. Keistimewaannya adalah selain makanannya memang enak, penampilannya menggiurkan, tempatnya bersih, halal dan harganya itu loh, alamak murah banget. Masa ayam kosek dan sop ikan @Rp 12.000, nasgor Rp 10.000, pecel lele Rp 9.000, sop buah Rp 6.000, es teler Rp 7.000 dan aneka jus Rp 5.000. Nah kurang apalagi, segera masukkan sajian ini kedalam daftar kuliner halal di Bali.


Ayam Betutu khas Gilimanuk (***)








Hari terakhir di Bali, kami segera packing, membereskan barang-barang karena ingin segera check out dari hotel. Pesawat kami masih pk 5 sore tapi kami belum sempat membeli oleh-oleh, sehingga rencananya setelah check out, lalu membeli oleh-oleh, kemudian makan siang dan langsung menuju Bandara.

Dimana kami akan makan siang sebelum ke Bandara ? Hampir setiap orang akan merekomendasikan makan di ayam Betutu khas Gilimanuk, Jl. Raya Tuban no. 2X, yang jaraknya hanya beberapa menit dari Bandara. Selesai berbelanja kami segera meluncur kesana.

Tempat makan ini berupa rumah makan sederhana dengan ruangan terbuka dan luas. Mejanya berukuran besar-besar untuk makan berombongan. Ketika kami tiba disana, pengunjung sudah penuh dan kami bergabung satu meja dengan tamu lainnya.

Rupanya selain ayam betutu, banyak menu lain yang tersedia disini yaitu bebek betutu kuah / goreng, ayam bakar / goreng, soto, lawar, sate, pepes ikan / ayam, lindung goreng, sayur ares, plecing dan nasi campur. Karena menu unggulan disini ayam betutu, maka rugilah kalau belum mencoba, sehingga kami memilih ayam betutu kuah dan goreng.

Walaupun pengunjung penuh dan ramai, pesanan kami datang cukup cepat. Ayam betutu ini terdiri dari seperempat ayam dan plecing. Penampilan ayam betutu kuah sungguh menggoda, yaitu ayam yang diungkep lama sampai empuk dengan bumbu aneka rempah, ayam disajikan berlumuran bumbu dan berkuah. Ketika dimakan, hmm daging ayam terasa empuk, bumbunya meresap, wangi, dengan citarasa khas. Kalau betutu goreng, penampilannya seperti ayam goreng biasa tapi dengan citarasa khas karena bumbu yang sudah meresap tadi.

Ayam betutu disajikan bersama plecing kangkung yaitu kangkung rebus yang diberi sambal tomat, sambal bawang merah mentah dan kacang goreng. Makan ayam betutu beserta plecingnya membuat tubuh berkeringat karena pedas, tapi masih kalah pedas dengan ayam taliwang. Untuk meredam rasa pedas saya memesan es campur. Penampilan es campur ini agak berbeda, yaitu lebih banyak isinya dari pada es serut nya, sehingga tidak begitu dingin, sedikit airnya, mengenyangkan banget tapi kurang menyegarkan, sampai kami tidak sanggup menghabiskannya.


Saking lezatnya sajian ini, kami memesan 2 ekor ayam lagi untuk dibawa pulang, satu untuk makan malam kami, satu lagi untuk rumah orangtua saya. Mengenai harganya, ayam betutu kuah Rp 28.000, sedangkan yang goreng Rp 29.000, belum termasuk nasi Rp 5.000, dan 1 ekor ayam Rp 80.000. Padahal di Jakarta sudah ada loh cabangnya, tapi kenapa kurang bergaung yah gemanya. Yang pasti sajian disini halal dan menambah panjang daftar kuliner halal saya selama di Bali.

Hotel di Bali - antara Kuta dan Jimbaran


Alhamdulillah, memang kalau rezeki ngga kemana. Suami saya mendapat penginapan gratis 2 malam di Kuta Beach Heritage Bali dari Accor grup, eh tak disangka saya juga mendapat penginapan gratis 2 malam di Le Meridien Jimbaran Bali sebagai pemenang quiz Kompas, terima kasih Kompas.Com. Jadilah kami bulan September lalu jalan-jalan 5 hari 4 malam di Bali.

Hotel Kuta Beach Heritage Bali (*****)








Hotel ini tergolong masih baru. Letaknya sangat strategis didepan persis pantai Kuta. Jadi banyak turis asing yang membawa papan selancarnya menginap disini. Hotel ini tampak depan tidak menyolok dan biasa saja, tidak istimewa. Tapi ketika masuk kedalam dan melalui lorong yang panjang dan berliku, sampailah kita ke lobi hotel yang indah. Lorongnya yang indah dihiasi taman pasir disisi kiri dan foto-foto deburan ombak didinding sisi kanan. Asyiknya lagi kami mendapat kamar dilantai yang sama dengan lobi. Kami mendapat kamar yang luas dan lengkap fasilitasnya. Restorant tempat breakfast ada dilantai paling atas yaitu lantai 4, menjadi satu dengan kolam renang. Pemandangan dari lantai ini sungguh indah, langsung menghadap pantai Kuta yang cantik dan berombak besar. Kami jadi betah disini, mungkin lain waktu kami akan kembali lagi kesini.

Hotel Le Meridien Jimbaran Bali #Lmeclairs (*****)










Hotel ini sudah lama berdiri dan letaknya yang tersembunyi. Mobil yang masuk kesini akan melalui jalan kecil, lalu ketika melalui pintu gerbang harus diperiksa detektor dulu dari bawah. Mobil tidak bisa berhenti di lobi untuk alasan keamanan dan kenyamanan tamu hotel, sehingga kami harus turun dan mobil harus parkir. Kemudian kami diantar ke lobi diatas dengan memakai mobil golf.
Lobinya sungguh keren seperti masuk ke sebuah cafe dan menawan dengan pemandangan kolam serta seluruh kompleks hotel yang terbentang luas. Kami mendapat kamar dilantai 5 dengan ukuran kamar yang luas serta fasilitas kamar yang lengkap.

Setelah menaruh barang dikamar, segera kami turun untuk melihat-lihat suasana sekitar. Pertama kami berjalanan ditengah kompleks hotel yang berisi kolam renang yang berliku-liku seperti sungai, jalurnya juga melewati kamar-kamar dilantai dasar sehingga kamar tsb seperti mendapat private swimming pool, hmm asyik nya. Diujung kolam renang ada bar minuman dengan kursi didalam kolam. Kolam renang dikelilingi taman dan kursi-kursi pantai yang indah. Ada sebuah gerobak yang menjual gelato dari cafe WaLa, kami segera membeli untuk menemani jalan-jalan kami agar semakin asyik.

Karena sudah sore dan ingin menikmat sunset dipantai Jimbaran, kami harus keluar hotel melewati restorant Bamboo chic, tempat breakfast besok, dan cafe WaLa. Setelah diluar kami baru paham, hotel ini berada persis diseberang cafe Menega yaitu restorant seafood terkenal di Jimbaran. Jadi apabila ingin ke pantai harus masuk ke salah satu cafe seafood yang berjajar disepanjang pantai, diseberang hotel ini.

Menginap disini serasa lebih pribadi karena letak hotel yang jauh dari pusat keramaian. Cocok untuk yang ingin beristirahat dan menikmati fasilitas hotel. Pernah suatu malam kami kelaparan, tapi ketika melihat daftar menu hotel terbaca menu babi kecap, kami jadi mual. Ketika kami menuju cafe Menega, semua cafe yang berjejer tsb sudah tutup jam 10 malam. Jika ingin pergi keluar harus cari taxi dulu, aduh udah cape dan ngantuk. Akhirnya kami membeli The fameous Le Méridien Éclair dari cafe WaLa, wow enaknya.


Menginap di hotel yang papan atas seperti ini, entah kapan lagi kami akan kesini, jadi sekali lagi terima kasih Kompas.Com atas hadiahnya.

Thursday, October 02, 2014

Tumpah ruah di HDL 293 Cilaki (***)









Bingung baca judulnya ? Kalau urang Bandung mah pasti langsung ngerti maksudnya. Saya sendiri baru menemukan tempat ini secara tidak sengaja. Jadi sewaktu awal bulan September lalu, biasa suami saya ngajar di Bandung, saya diajak dan menginap semalam. Biar cuma semalam ya harus tetep wiskul dong. Kebetulan saya memang sudah agak lama tidak jalan-jalan di Bandung. Maka pada malam harinya kami berniat menjelajah kota Bandung untuk mencari tempat makan yang rame.

Ketika melewati Jl. Diponegoro tepatnya no. 54, kami menemukan tempat makan super ramai oleh pengunjung. Letaknya di hook jalan, diseberang resto Alas Daun. Nama tempatnya adalah HDL 293 Cilaki. Jelas kami tertarik dan langsung menepikan mobil.

Ketika masuk, ruang makan yang terletak didepan sudah penuh, tidak ada bangku kosong, kami pun beranjak kedalam. Ruang makan didalam terbagi dalam beberapa kamar dan itu pun penuh semua. Kemudian kami beranjak lagi ke belakang dan ternyata masih ada sebuah ruang makan yang luas tapi lagi lagi penuh juga. Untungnya saya bertemu dengan sepupu saya dari Jakarta, dia bersama teman-teman kantornya, dan hampir selesai makan, kami pun segera mengambil alih tempat mereka.

Meja makan dirumah makan ini bentuknya besar-besar untuk makan berombongan. Jadi kalau cuma berdua seperti kami, ya harus bergabung dengan orang lain makan dalam 1 meja. Hebatnya lagi rumah makan ini cukup luas dan mampu menampung banyak pengunjung tapi semua meja penuh dan masih ada antrian, wah luar biasa.

Pelayan yang banyak dan super sibuk lalu lalang sehingga agak sulit dipanggil untuk membersihkan meja dan memesan makanan. Akhirnya saya berinisiatif ke kasir untuk meminta daftar menu. Saya diberi selembar kertas menu. Walaupun saya melihat dimeja pengunjung lain ada buku menu yang tebal yang kelihatannya berisi foto-foto yang menggetarkan perut serta kerongkongan, apadaya buku menu tsb menjadi rebutan dan kami harus puas membaca daftar menu yang dipadatkan dalam selembar kertas.

Aneka masakan kepiting, udang, kerang, sapi, gurita, cumi, ikan, ayam, sayuran, mie dan nasi berjejer bikin pusing memilihnya. Belum lagi masalah klasik suami saya alias penyakit asam uratnya yang menghalangi saya memilih rajanya seafood yaitu kepiting, aaakh..

Oke kami putuskan untuk memesan menu aman yaitu ikan baronang bakar dan bihun goreng seafood, tapi pelayan lewat membawa udang diatas hot plate, ya sudah pertahanan kami jebol dan menambah lagi seporsi udang saus tiram. Untuk minumannya kami memesan es jeruk dan es kelapa muda batok.

Untuk ukuran pengunjung yang membludak ini, pesanan kami datang cukup cepat, ngga sampe bikin marah-marah. Porsi yang terhidang berukuran lumayan besar. Saya agak menyesal memesan 2 porsi nasi karena lapar. Nah sekarang mari kita cicipi.

Udang saus tiram disajikan diatas hot plate, sausnya sungguh berlimpah dan meletup-letup saking panasnya. Udangnya berukuran besar dan jumlahnya cukup royal. Rasanya, tidak usah ditanya, pasti lezat jawabnya. Kemudian bihun goreng seafood, ini lebih banyak isinya daripada bihunnya, sampe saya kais-kais mencari bihunnya. Kalau baronangnya, sebenar sudah enak bumbunya, ukuran ikannya juga besar, cuma agak gosong sehingga banyak rasa pahit yang menggangu selera makan. Tak lupa minumannya juga berkualitas, es jeruknya manis dan daging kelapanya juga muda dan mudah dikerok.

Jadi penilaian saya terhadap aneka hidangan ini adalah cukup berkualitas dan rasanya lezat. Dari segi harga apabila saya baca daftar menunya sebenarnya cukup relevan. Harga seafood yang paling murah adalah kerang sekitar Rp 40.000 dan paling mahal adalah kepiting super antara Rp 150.000 - 450.000. Kalau menu ayam dan sapi sekitar Rp 40.000. Tapi kalau mau makan seafood murah dan kenyang ya pesen aja nasi / mie / bihun / kwetiauw goreng seafood harganya hanya Rp 35.000, dijamin lezat, berlimpah isinya dan kenyang. Tagihan kami sendiri harganya adalah Rp 80.000 untuk baronang, Rp 70.000 untuk udang, Bihun Rp 35.000, es kelapa Rp 13.000 dan jeruk Rp 10.000 serta nasi Rp 5.000.

Kami sempat bertanya menu apa yang menjadi unggulan disini yaitu masak pletok, yaitu udang / cumi / gurame yang digoreng tepung, kelihatannya kriuk kriuk, ditambah cocolan mayones, alamaaak enaknya...#ngintip meja sebelah.

Selesai makan dan membayar, kami menyambangi dapurnya yang heboh oleh teriakan para koki dan pelayan. Kami asyik mengambil foto pesanan-pesanan yang baru dimasak serta bahan baku yang berlimpah dan segar.

Nah sekarang sudah mengertikan, kenapa judulnya tumpah ruah di HDL 293 Cilaki, karena baik pengunjungnya, porsi menu yang dihidangkan, pelayan dan bahan bakunya semua tumpah ruah di HDL 293 Cilaki.


HDL ini merupakan singkatan loh yaitu Hidangan Dari Laut, dimana rumah makan ini memiliki 6 tempat, dan tempat kami makan disini hanya cabangnya saja. Yang dicabangnya saja begini hebohnya, apalagi yang dipusatnya di Jl. Cilaki...tumpah ruah.