Sunday, May 18, 2014

KULINER SULAWESI

Suami saya sebagai ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Jakarta bersama rombongan diundang ke acara ultah Mamuju Utara yang ke 11. Kesempatan ini harus kami manfaatkan sebaik-baiknya karena mungkin ada peluang usaha yang menjanjikan. Kebetulan saya pun diajak dengan agenda sebagi berikut, setelah selesai menghadiri acara ultah Matra, perjalanan akan kami lanjutkan untuk meninjau kebun kelapa sawit PT. Unggul Widya, setelah itu menuju kota Makassar untuk berjalan-jalan. Berikut pengalaman saya selama di Sulawesi.

KAMIS

RM IDAMAN, NASI KUNING MAMA JENA (***)








Kami berangkat pk. 5 pagi dari Jakarta menuju kota Palu. Tiba di Palu pk. 7.30 waktu Palu, lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Kami berempat janjian ketemu dengan rombongan lainnya untuk sarapan pagi di RM Idaman atau yang lebih dikenal dengan nama nasi kuning Mama Jena di Jl. Pattimura no 4. Sesampainya disana ternyata RM ini sudah dipenuhi pengunjung yang ingin sarapan disini. Saya pun melihat beberapa rombongan yang berasal dari pesawat yang sama dengan kami. Rupanya RM nasi kuning ini adalah destinasi wajib bagi tamu yang baru datang dari pesawat.

Ketika kami tiba disana, nasi kuning baru saja habis dan nasi baru belum selesai dimasak, sehingga kami menunggu cukup lama. Tapi kekecewaan itu langsung terobati setelah nasi kuning komplit tersaji dihadapan kami. Sepiring nasi kuning diberi lauk ayam goreng, abon sapi, telur utuh, serundeng daging dengan campuran kentang serta taburan bawang goreng. Dimeja sudah tersedia sambal dan sepiring gulai ati rempela ayam. Nasi pulen nan gurih dan harum ini memang sangat nikmat. Kuah gulainya juga yahud. Yang mengejutkan adalah sambalnya, penampilannya biasa saja yaitu sambal goreng berwarna merah, tapi ketika dimakan, ya ampun pedasnya luar biasa, badan langsung terasa hangat dan berkeringat. Harga nasi kuning komplit tsb sekitar Rp 28.000.

Berada di kota Palu, pemandangan didalam kota sangatlah indah karena sepanjang mata memandang kita akan melihat keindahan teluk Palu dengan latar belakang pegunungan yang berawan. Hal ini menjadikan penduduk Palu mendapat peringkat paling rendah tingkat stres nya. Siang ini kami langsung menuju kabupaten Mamuju Utara. Antara Palu dengan Matra harus melewati kabupaten Donggala. Disini pemandangan lebih spektakuler lagi karena kami berjalan didataran tinggi yang berkelak kelok seperti daerah puncak Jabar, tapi dibawah terhampar pemandangan laut pesisir Donggala, Allahu Akbar sungguh indah ciptaan Tuhan.

RM IKAN BAKAR TERMINAL INDAH (***)









Siang ini kami makan di RM Ikan Bakar Terminal Indah, Jl. Donggala – Palu - Kel. Kabonga kecil, telpon 0457 71617. HP 0852 4101 8650. RM ini berupa bangunan sederhana, bentuknya seperti rumah panggung kayu yang memanjang kebelakang. Bangunan ini berdiri diatas pantai pesisir Donggala. Setelah kita parkir didepan RM yang terbuka ini, kita langsung berhadapan dengan tempat pembakaran ikan. Jadi sebelum masuk kedalam, kita harus memilih ikannya dulu, yaitu ikan kakap merah atau putih, lalu pilih mau bagian kepala, badan atau ekor, kemudian ikan dicelupkankan kedalam bumbu lalu dibakar atau digoreng sesuai pesanan. Pilihan saya adalah ikan goreng dan suami saya memilih ikan bakar. Setelah itu baru kami menuju area meja makan, menunggu pesanan sambil makan rambutan yang telah disediakan disetiap meja, menikmati pemandangan laut yang membius.

Ikan pesanan kami datang bersama sepiring nasi, sepiring sambal plus ketimun, dan semangkuk kuah sayur bersantan berwarna merah mirip gulai yang isinya buncis, toge, tahu dan tomat. Jika ingin menikmati sensasi makan ikan bakar atau goreng, “fresh from sea” dengan bumbu aneka rempah alami, nah disinilah tempatnya. Sungguh nikmat rasa daging ikan yang baru ditangkap ini, empuk dan lembut tanpa bau amis, dengan bumbu rempah asli yang meresap sempurna, menjadikan ikan lebih gurih dan memancing selera makan. Apabila dibandingkan antara ikan bakar dan goreng, saya lebih memilih ikan goreng karena bagian luarnya terasa garing dan gurih, tapi didalam tetap empuk dan lembut, sedangkan ikan bakar, bagian luarnya masih terasa basah. Tapi tergantung seleralah, karena saya melihat semua peserta menyantap habis pesanannya tanpa tersisa, termasuk sambalnya yang super pedas.

Dessert yang paling tepat saat itu adalah es kelapa muda. Segelas es kelapa muda yang tebal dan lembut diberi sirup gula merah, merupakan penutup yang sempurna. Tubuh kami menjadi segar kembali, siap melanjutkan perjalanan ke kabupaten Mamuju Utara yang masih jauh.

MAMUJU UTARA

Setelah melewati daerah Donggala, sampailah kami dikabupaten Mamuju Utara, dimana ibukota Matra terletak di kecamatan Pasang Kayu. Kenapa dinamakan Pasang kayu ? Karena tanda bagi para nelayan pulang dari melaut bahwa dia telah sampai di pesisir Pasang kayu apabila telah melihat 2 buah pohon bakau yang sudah sangat tua terletak dipesisir, dan tak jauh dari situ terletak rumah dinas bupati Mamuju Utara.

Di Matra tidak ada hotel. Sesungguhnya kami berencana menginap di mess PT. Unggul Widya di kecamatan Baras. Tetapi sungguh pengalaman tak terduga karena saya berdua suami diajak menginap dirumah dinas oleh Bp. Bupati Agus Djiwa, sedangkan teman-teman lainnya disuruh menginap di rumah pribadi Bp. Bupati.

Kedatangan kami bertepatan dengan ultah kab. Matra ke 11, dengan agenda acara pembukaan KPDT (Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal) expo 2014. Ternyata ada 183 daerah yang masuk kedalam kategori daerah tertinggal, dimana penyebabnya adalah :
  1. Geografis. Umumnya secara geografis daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/ pegunungan, kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau terpencil atau karena faktor geomorfologis lainnya sehingga sulit dijangkau oleh jaringan baik transportasi maupun media komunikasi.
  2. Sumberdaya Alam. Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi sumberdaya alam, daerah yang memiliki sumberdaya alam yang besar namun lingkungan sekitarnya merupakan daerah yang dilindungi atau tidak dapat dieksploitasi, dan daerah tertinggal akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan.
  3. Sumberdaya Manusia. Pada umumnya masyarakat di daerah tertinggal mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta kelembagaan adat yang belum berkembang.
  4. Prasarana dan Sarana. Keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya yang menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
  5. Daerah Terisolasi, Rawan Konflik dan Rawan Bencana.  Daerah tertinggal secara fisik lokasinya amat terisolasi, disamping itu seringnya suatu daerah mengalami konflik sosial bencana alam seperti gempa bumi, kekeringan dan banjir, dan dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.
JUMAT

Mess PT. Unggul Widya


















Usai menghadiri acara ultah Matra, perjalanan kami lanjutkan menuju perkebunan sawit PT. Unggul Widya di kecamatan Baras. Ada 2 perusahaan perkebunan sawit yang terletak di Matra yaitu PT. Unggul Widya dan PT. Sinas Mas. Sepanjangan perjalanan dari Pasang kayu menuju Baras didominasi dengan pemandangan kebun sawit PT. Sinar Mas. Sedangkan kebun sawit milik PT. Unggul Widya letaknya masuk kedalam, tidak terlewati jalan raya.

Menginap di mess  PT. Unggul Widya kami serasa raja sehari. Bagaimana tidak, sepanjang hari kami dijamu makanan enak, banyak dan mewah. Ada satu masakan yang saya sangat terkesan, sampai saya bilang kepada ibu saya minta dimasakin, yaitu tumis daun pakis bunga pepaya. Saya sendiri kaget kenapa saya terkesan dengan masakan ini padahal saya kurang doyan makan sayur. Saya baru tau kalau daun pakis itu rasanya enak banget karena dimasak dengan tingkat kematangan sempurna, bercampur dengan bunga pepaya yang rasanya sama sekali tidak pahit. Sayangnya ibu saya bilang jarang sekali melihat daun pakis dijual dipasar Jakarta.

Masakan kedua yang saya suka adalah kepiting. Dua piring besar berisi potongan kepiting yang menggunung tersaji dimeja makan. Wah saya sampai mengingatkan suami agar jangan terlalu banyak ngemil kepiting, takut asam uratnya kambuh. Saya sendiri merasa kolestrol saya naik, untung kami membawa persediaan obat cukup banyak karena tau bakal makan-makan wae.
Urutan selanjutnya adalah sejenis semur daging. Saya suka masakan ini karena dagingnya empuk, bumbunya meresap, rasanya manis tapi pas. Kemudian ikan laut masak pesmol & sop ikan. Keistimewaannya adalah ikannya masih segar sehingga daging ikan terasa lembut dan tak berbau amis. Masakan lainnya adalah sate ayam, ayam goreng tepung, udang goreng tepung, tempe dan tahu goreng serta sop oyong.

Tak hanya makanan, buah-buahan pun berlimpah seperti pisang, jeruk, pepaya dan dukuh. Saya sedikit mengernyit melihat jeruk yang kulitnya berwarna hijau, hmm bakal asem nih pikir saya. Sebagai pendamping makanan kami, disediakan minuman air jeruk murni yang berasal dari perasan jeruk tadi. Ternyata enak banget, kental tanpa campuran air dan manis walaupun tanpa gula, trus rasanya agak beda yah dengan yang biasa saya minum, sukar saya lukiskan, pokoknya maknyus. Makanya jangan menilai sesuatu hanya dari kulitnya ya, hahaha. Diantara waktu makan kami juga disuguhin aneka camilan lezat seperti kue pastel, pisang goreng, nagasari dan kripik. Hmm timbangan badan bakal naik nih.

SABTU

Saung Raja Kuring (***)












Keesokan harinya kami berangkat dari Baras menuju kota Palu, untuk memberi presentasi mengenai perusahaan IT milik kami, PT. Indotristar Solusi Utama kepada anggota PISPI Palu. Tempat pertemuannya berada di Saung Raja Kuring, masakan ayam & seafood, Jl. Sultan Hasanuddin 74A Palu.

Disini kami sudah dipesankan makan siang berupa ikan bakar, ikan goreng tepung, cumi goreng tepung, sop ikan, tumis kangkung, tumis toge serta otak-otak. Semua masakan khas Makassar. Bumbunya nikmat, ikannya segar, harganya terjangkau, ruangannya besar, bagus dan bersih, serta kami mendapat ruangan VIP agar bisa bebas mengadakan presentasi. Karena menu makan siang sudah diurus oleh PISPI, saya tidak bisa memberi review yang mendetail. Saya hanya bisa menyajikan foto-fotonya yang mengundang selera. Selesai makan siang kami langsung menuju bandara untuk naik pesawat ke kota Makassar.

MAKASSAR

Di Makassar kami menginap di hotel dekat pantai Losari. Jadi walaupun tidak ada kendaraan, kami masih bisa ke pantai dengan memakai becak. Malam harinya kawan suami saya mengajak kami berputar-putar dikota Makassar. Mau makan malam apa di Makassar ? Sop Konro ? Coto Makassar ? Mie Titi ? Seafood Lae-lae ? Ayam goreng Sulawesi ? Atau Pallubasa ? Begitu banyak kuliner kota Makassar yang merupakan favorit para turis, tapi sebagian besar makanan khas adalah daging dan seafood. Akhirnya kami memutuskan makan pallubasa karena merupakan masakan khas Makassar yang ngga bakal bisa ditemui di Jakarta.

PALLUBASA SERIGALA (**)






Kamipun diajak ke pallubasa serigala yaitu pallbas no. 1 di Makassar. Setau saya pallubasa adalah sejenis soto daging, tapi bukan daging srigala loh, melain daging sapi. Hanya karena terletak di Jl. Serigala saja dinamakan pallbas Serigala. Saingannya adalah pallbas Onta karena terletak di Jl. Onta, letaknya pun dekat sekali dengan Jl. Serigala.

RM ini tempatnya sederhana yaitu sebuah ruangan yang disambung dengan tenda didepannya. Begitu kami duduk, kawan kami berteriak “campur 3”, aduh saya panik, saya tidak suka makan soto campur nasi. Eh rupanya artinya campur adalah dicampur dengan jeroan. Yah ini lebih gawat lagi, bagaimana nasib asam urat suami saya, bakal bengkak nih kaki. Pallbas milik kawan kami diberi kuning telur ayam kampung mentah, sedangkan milik kami tanpa telur. Nah mari kita cicipi pallbas nan terkenal ini.

Pallbas datang dalam mangkuk kecil, persis mangkuk soto kudus Blok M Jakarta. Ketika kusendok, dahi saya agak berkerut, karena semua isi soto ini bentuknya aneh-aneh. Rupanya semua berisi jeroan, saya cari-cari tidak ada dagingnya tuh. Kucicipi kuahnya, hmm harum semerbak dan sarat akan rasa rempah. Kuahnya berwarna coklat, kental dengan rasa kelapa sangrai. Ku kunyah jeroannya yang terasa agak kenyal. Pelan-pelan kupindahkan jeroan tsb ke mangkuk suami saya, hahaha. Pallbas ini enak banget buat yang doyan, dan saya tidak doyan. Saya akui kuah pallbas ini nikmat, andai pallbas saya berisi daging, pasti sudah habislah sepiring nasi. Pallbas lebih nikmat bila diberi jeruk nipis dan sambal yang tersedia dimeja. Walaupun perut saya masih terasa lapar, saya tidak kawatir, karena kuliner Makassar dimalam hari masih banyak yang menunggu.

Mie Titi (**)







Usai teman kami mengantar ke hotel, kami malah memanggil becak, karena saya mau makan Mie Titi. Saya sudah pernah makan mie Titi di RM Pelangi Jl. Wahid Hasyim no. 108 Jakarta Pusat. Nah sekarang kami mau mencoba mie Titi Jl. Datumuseng no. 23 Makassar. Mie Titi adalah ifumi ala Makassar, yaitu mie yang berukuran kecil-kecil digoreng sampai kering lalu disiram sayuran berkuah kental seperti capcay. Sayurannya hanya sawi hijau ditambah ayam dan udang, dengan kuah kental yang berwarna putih karena dicampur telur. Sebelum dimakan, diberi perasan jeruk nipis dulu biar terasa semakin segar. Makan mie yang renyah berpadu dengan kuah kental yang hangat dan sedikit asam merupakan sensasi tersendiri. Apalagi udang dan potongan ayamnya lumayan besar dan banyak.

Suami saya tidak tinggal diam, dia kembali memesan nasi goreng merah yaitu nasi goreng yang dicampur saos tomat sehingga berwarna merah, isinya potongan ayam, baso, kekian & telur orak arik. Nasi terasa empuk dan gurih dengan rasa asam yang samar. Kedua jenis makanan ini kami pesan dengan porsi kecil yaitu seharga Rp 22.000. Makan disini disediakan teh gratis loh, dimana teh disajikan didalam teko plastik, biar kita bisa minum sepuasnya.

Mie Titi ini banyak banget peminatnya. Selain makan ditempat, banyak juga yang membungkus untuk dibawa pulang. Mie kering sudah siap dibungkus kertas coklat dan dimasukkan kedalam plastik kresek, berjejer bergelantungan dipapan kayu. Begitu pula untuk yang dimakan ditempat, mie kering sudah siap diatas piring. Capcay dimasak sekaligus dalam 1 panci besar, sehingga pemesanan dapat tersaji dengan cepat.

Malam ini kami benar-benar kekenyangan, karena itu kami berniat melanjutkan perjalanan ke pantai Losari, berjalan-jalan sebentar sambil menurunkan makanan diperut.

PISANG EPE & SARABA (**)





Pantai Losari dimalam Minggu sungguh ramai dan padat. Kami asik berjalan menyusuri pantai sambil sekali-kali mengambil foto. Setelah lelah berjalan dan kira-kira kalori sudah mulai terbakar, bukannya pulang malah mampir ke pedagang pisang epe. Pedagang pisang epe tersebar disepanjang pantai Losari, mungkin jumlahnya ratusan.

Pisang epe adalah cemilan khas Makssar yaitu pisang kepok setengah tua yang dibakar diatas bara arang sampai setengah matang lalu pisang dijepit sampai pipih pake kayu, lalu dibakar lagi sampai matang, empuk dan renyah. Kemudian pisang ditata dipiring dan disiram gula merah cair yang telah dimasak bersama pandan. Nah itu pisang epe rasa original, sedangkan rasa yang telah dimodifikasi lebih banyak lagi yaitu rasa coklat, keju, strawberry, coklat kacang, nangka, duren, dll.

Malam itu kami mampir ke gerobak pisang epe no 41, dan memesan rasa keju. Untuk minumannya kami pesan saraba yaitu minuman khas Makassar yang mirip dengan bandrek. Saraba adalah minuman yang terdiri dari campuran santan dengan jahe, merica & gula merah, sehingga rasanya legit, manis dan hangat, sangat cocok diminum malam hari, dipinggir pantai, dengan hembusan angin dan deburan ombak, membuat badan menjadi hangat dan segar. Pisang epe pesanan kami setelah diberi gula merah cair lalu diberi parutan keju, sehingga rasanya jadi manis-manis legit. Wah ngga menyesal deh kami makan lagi.

MINGGU

Hari minggu pagi kami kembali ke pantai Losari karena disana menjadi lokasi car free day. Aktifitas saat itu adalah banyaknya warga yang berolahraga jalan kaki sampai senam oplosan, kemudian sarapan dan berbelanja di PKL.
Hari Minggu ini kami akan pulang ke Jakarta dengan pesawat pk. 15. Teman kami datang kembali untuk mengantar ke Bandara, tapi sebelumnya kami diajak makan siang ikan bakar di RM Paotere.

RM Paotere (**)











Kendaraan kami melaju menuju pelabuhan Paotere, tepatnya ke RM Paotere Jl. Sabutung Paotere no. 46, telpon 0411 3626366. RM ini terletak diseberang tempat pelelangan ikan pelabuhan Paotere. Dapat disimpulkan semua ikan yang disajikan disini sangat segar langsung dari laut.

Dari kejauhan sudah terlihat asap yang mengebul dari pembakaran ikan didepan RM ini. Sebelum masuk kami disuruh memilih jenis ikan yang akan dibakar. Saya agak panik karena tidak begitu mengerti jenis-jenis ikan, apalagi pelayan yang menawarkan menyebutkan berbagai nama jenis ikan yang tidak saya faham. Katanya yang best seller adalah ikan bolu, ternyata itu adalah nama lain dari ikan bandeng. Tapi ikan bandeng kan durinya halus dan banyak. Akhirnya suami saya memesan ikan bandeng dan saya memesan ikan kakap. Kalau di Makassar setiap orang memesan 1 porsi ikan untuk dimakan sendiri. Jadi kami ber 6 memesan 5 ikan bandeng, 1 ikan kakap dan 1 ikan kaneke. Kalau di Jakarta kan kita makan 1 ekor ikan untuk beramai-ramai, hahaha.

Sebelum ikannya dihidangkan dimeja, terlebih dulu dihidangkan aneka sambal pendamping seperti sambal kacang dengan irisan ketimun, sambal tomat hijau yang dicampur dengan jeruk limau, mangga muda serut, jeruk nipis dan daun kemangi. Ada 1 jenis sambal lagi yang harus kami pesan terlebih dulu yaitu sambal cabe rawit yang penampilannya pasti super pedas karena penuh dengan biji cabe dan berminyak. Selain itu dihidangkan pula semangkuk sayur santan mirip lodeh yang berisi kol, kacang panjang dan tomat hijau.

Kemudian datanglah ikan pesanan kami. Pertama saya cicipi ikan kakapnya. Wow ternyata rasanya tawar, begitu pula dengan ikan bandengnya. Rupanya semua ikan yang dibakar disini memang tak berbumbu karena itulah disediakan berbagai jenis sambal pendamping. Inilah sensasi makan daging ikan segar murni tak berbumbu, tapi kalau sudah dicocol sambal, yah nasi sepiring habislah. Saya sedikit menyesal menawarkan ikan kakap saya kepada yang lain, karena ternyata memang tidak mungkin makan ikan kurang dari 1 porsi sendiri, hahaha.

Selain ikan bakar, masih banyak menu lain yang disediakan di RM ini. Saya pun baru tau setelah selesai makan. Ada ikan kudu-kudu goreng, udang, cumi goreng tepung dan cumi bakar tinta, tak lupa otak-otak khas Makassar.

Kali ini gantian kami yang traktir. Saya siap-siap mengeluarkan kartu debit, karena kalau cash pasti ngga cukup uangnya buat ongkos pulang, hahaha. Setelah bon disodorkan ternyata hanya habis Rp 212.000 saja, sebab harga ikan bandeng @ Rp 18.000, ikan kakap & kaneke @ Rp 45.000 dan nasi @ Rp 4.000, wah murah ya.


Perjalanan kami di Sulawesi telah berakhir di RM Paotere yang merupakan RM pelopor ikan bakar Makassar yang termasyur dan sering dikunjungi para pejabat termasuk pak JK. Ah entah kapan lagi kami akan kembali...

Monday, April 14, 2014

My Kopi - O ! (**)








Just “Two cents” di Cimanuk Bandung (**)













Tanpa sengaja kami menemukan sebuah tempat ngopi asyik di Bandung, dalam arti kata, kopinya enak, makanannya enak, suasananya enak, pengunjungnya keren-keren, suasananya nyaman dan indah serta interiornya juga asyik dipandang mata. Tempat tsb bernama “Two Cents” di Jl. Cimanuk no 2, Bandung. Ketika itu kami datang pas malam minggu, sehingga cafe penuh oleh pengunjung anak-anak muda.

Untunglah masih ada sebuah meja tersisa disamping rak pajangan, kami pun segera duduk dan meminta buku menunya. Menu unggulan disini adalah minuman kopinya, selain itu menu makanannya pun cukup banyak. Kami sepakat memilih menu chicken baked rice, mushroom cheese melted dan churros. Untuk minumannya, kayanya rugi deh kalau tidak mencoba kopinya, padahal hari sudah malam dan saya takut tidak bisa tidur serta terkena perut kembung. Tapi ah nekat saja, saya pun memilih minuman the best seller, salted caramel latte, sedangkan suami saya memilih vanila latte. Tapi ketika kami memanggil waitress untuk memesan, prosedurnya bukan seperti itu, melainkan kami harus langsung memesan dan membayar ke counter kasir, setelah itu baru pesanan diambil sendiri atau diantar.

Sambil mengantri di kasir, saya mengamati etalase disamping yang berisi aneka kue-kue menggiurkan, tapi saya tetap memesan menu yang telah kami pilih. Sayangnya mushroom cheese melted nya sudah habis, padahal sudah terbayang-bayang lelehan keju diatas jamurnya, glek.
Sambil menunggu pesanan, kami melihat-lihat suasana disekeliling. Bangunan cafe ini awalnya adalah sebuah rumah yang dimodifikasi menjadi sebuah cafe. Interior disini sungguh indah, penuh dengan aneka pajangan dan hiasan pernak pernik cantik dan unik, yang membuat suasana menjadi hangat dan nyaman. Dinding dan lantai dominan dilapisi oleh kayu. Disalah satu dinding terdapat sebuah lukisan grafiti yang keren. Sedangkan dinding bagian luar cafe terbuat dari kaca, sehingga menghasilkan suasana yang terang.

Tak lama minuman kami datang. Ternyata pesanan latte kami tidak disajikan di mug melainkan digelas plastik seperti Starbucks, rasanya pun sekelas Starbucks, yaitu elegan dan lezat, hmm tidak nyesel deh.

Kemudian makanannya, chicken baked rice, penampilannya persis seperti nasgor untuk sarapan, yaitu nasi goreng dengan telur orak arik ditambah telur mata sapi, ditambah chicken katsu yang diberi topping keju, sehingga setelah di baked menjadi meleleh. Rasanya sih enak walaupun tidak istimewa. Sayangnya chicken katsunya keras dan kering sehingga kami berdua tidak mau menghabiskan ayamnya.

Terakhir adalah churros yaitu donat Spanyol yang adonannya mirip kue sus tapi digoreng, bentuknya panjang-panjang, lalu dicocol saus pendamping sebelum dimakan. Nah hot chorros di cafe ini bertaburkan gula pasir dan cinnamon, disajikan bersama saus coklat kental sebagai cocolan. Warna churros kecoklatan, bagian luarnya renyah dan lembab dibagian dalam, rasanya ya enak, wangi dan manis.


Mengenai harganya, harga minuman kopimya beda tipis dengan Starbucks yaitu Rp 38.000, sedangkan chicken baked rice Rp 49.000 serta churros Rp 27.000. Menurut saya harga disini tidak termasuk murah, tapi sebandinglah dengan kenyamanan yang didapat kalau doyan nongkrong sih. Ya just two cents lah...

Monday, March 24, 2014

Mi baso Avon, bikin mata berbintang-bintang (**)







Minggu lalu ketika kami ke Bandung, kami bela-belain bawa sepeda, biar bisa sepedaan hari Minggu pagi di ajang car free day. Car free day diwilayah Dago Bandung itu asik loh, karena banyak makanan enak dan enak buat cuci mata. Pengunjungnya unik-unik, ada kelompok senam aerobik, ada club sepeda tua nongkrong, ada mahasiswa latihan tensi tekanan darah, ada stand promo produk baru, ada yang latihan lempar botol ala bartender, stasiun radio berlomba-lomba menyiarkan lagu-lagu hits dari mobil stasiun radio, dll. Tapi yang paling banyak disana dan paling banyak dicari pengunjung adalah jajanan enak yang pas buat sarapan pagi, hahaha.

Karena kami sudah sarapan di hotel, maka kami murni olahraga loh, sampe cape keringetan. Jam 11 jalan Dago mulai dibuka kembali untuk kendaraan umum dan kami segera kembali ke hotel. Tapi eh ditengah jalan suami saya bertanya, “kamu lapar ngga ?”. Ya lapar lah, wong cape mengayuh sepeda. “Kita makan bakmi dulu yuk.” Wah asyik nih, saya langsung setuju.

Kendaraan kami berbelok menuju Jl. A. Yani dan berhenti didepan deretan toko. Tempatnya berada ditoko paling ujung kanan, no 29, dan ada spanduk bertuliskan “Baso Bintang Avon”. Tempatnya sederhana, tidak luas, memanjang kedalam tapi ada 2 tingkat. Tempat meracik baso berada dipaling depan toko, sehingga para pejalan kaki bisa melihat kesibukan meracik mi baso dikaca etalase. Karena penuh, kami duduk paling depan, dimeja kayu yang menempel didinding, persis disebelah kasir.

Didalam daftar menu terdapat 5 jenis mi yaitu Mi yamin adalah mi yang kuahnya dipisah, Mi kuah yang kuahnya dicampur, disiram keatas mi, Yahun adalah mi yamin campur bihun, terakhir adalah Bihun & Kwetiau. Kelima jenis mi ini bisa pilih bumbu rasa asin atau manis, lalu mau pilih spesial, komplit atau tambah baso saja. Tapi setelah saya tanyakan apa bedanya spesial dan komplit, katanya sama saja. Kumaha ieu teh, hahaha. Lalu ada pilihan isi kuah yaitu baso sapi, baso urat, baso ikan, siomay, pangsit, tahu, ceker, babat. Karena andalan utama tempat ini adalah mi baso maka saya pilih yamin asin baso dan suami saya pilih yamin manis baso, minumannya paling cocok es jeruk. Tak perlu menunggu lama disini, walau pengunjung penuh, pesanan kami cepat datangnya.

Nah ini dia mi baso Avon yang terkenal, semangkok mi yang ditaburi suwiran ayam berwarna kecoklatan, bawang goreng dan daun bawang. Mi berwarna kuning pucat dan ukurannya tidak terlalu tebal, ketika dimakan terasa lembut dan gurih. Suwiran ayamnya terasa agak manis. Kemudian baso kuahnya berisi 3 butir baso urat, sesuai pesanan kami. Kuahnya bening sedikit berminyak, dengan sayuran sawi yang mengambang, ketika ku hirup, hmm rasanya segar dan gurih khas kaldu sapi. Basonya terasa padat, gurih dan empuk, pokoknya enak deh. Dimeja tersedia toples plastik besar berisi pangsit goreng, tapi kami tidak mencicipinya. Sekarang baru menyesal deh. Saya juga mencicipi yamin manis punya suami saya, ternyata rasanya lebih enak loh, lebih berbumbu. Wah lain kali mesti diulang nih, hahaha.


Semangkok yamin baso dihargai Rp 20.000, es jeruk Rp 11.000. Karena sebentar lagi kami akan langsung pulang ke Jakarta, maka saya membungkus yamin baso sebagai oleh-oleh untuk keluarga. Saya yakin mata mereka pasti berbintang-bintang...

Sunday, March 23, 2014

Reunian di DIMSUM INC sama Ira yang lagi ngidam dimsum (**)












         




“Pengen makan dimsum...” begitu bunyi bbm Ira, temen kantorku yang resign pindah ke Bandung. Nah mumpung Ira lagi ada acara outing dari kantornya di Jakarta, maka dia berangkat lebih cepat, biar bisa ketemuan dulu sama kita-kita anggota grup MMG alias Makan Mulu Grup, hahaha. Sayangnya dari 5 orang anggota, ngga semua bisa hadir, jadi cuma kita ber 3 nih. Karena Ira janjian sama temen kantornya diwilayah Kuningan, maka supaya gampang kita janjian ketemuan juga di Kuningan. Untung ku teringat ada sebuah resto khusus dimsum di Pasar Fertival, yang belum pernah ku coba, tapi menurut review-review sih oke, yaitu Dimsum Inc. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan macet pada hari Jumat itu, sampailah kami pada pk 1 siang di Dimsum Inc.

Tempatnya berupa cafe dengan ruang terbuka dimana ruang dalam dan luar tidak ada batas penyekat. Interiornya unik dan keren, dindingnya masih berupa batubata dan langit-langitnya terbuka, tanpa plafon. Disalah satu dinding diberi sketsa gambar kukusan bambu dan peralatan makan lainnya. Dinding lainnya tertutup rak dengan aneka pajangan, bahkan ada sebuah motor antik yang parkir disamping rak tadi, serta meja kursinya pun terbuat dari kayu.

Kami tak menyangka siang itu pengunjung penuh sekali, untung ada sebuah meja kosong yang baru ditinggalkan pengunjung. Kami segera duduk dan meminta daftar menunya. Didinding terdapat daftar 15 best seller menu dan best seller minuman. Wah sangat membantu sekali. Daftar menu terdiri dari fried & steamed dimsum, starter, breakfast, bubur, main menu, dessert, dan aneka minuman. Sayangnya semua menu tidak ada gambarnya sama sekali, sehingga kami harus membaca penjelasan yang tertera dibawah menu dimsum. Beberapa menu ada yang ditandai dengan tulisan “must try”. Kami menanyakan salah satu menu dimsum kepada waitress, “bentuknya kaya apa sih mba ?” Waitress menunjukkan kepada kami gambar dimsum dimaksud melalui tabletnya, tapi ketika kami ingin melihat semua gambar dimsum yang ada didalam tablet tsb, waitressnya menolak karena dilarang oleh manajemen. Tebakan saya, kalau semua menu ada gambarnya, pasti menu yang penampilannya tidak favorit akan tidak laku terjual. Hmm bener juga sih.

Okelah, karena kami sangat lapar dan bermaksud ngobrol sangat lama, maka kami memesan makanan agak banyak. Dimulai dengan 4 menu best seller yaitu har gau, shiu may, chicken feet dan mayo prawn dumpling. Ditambah fried and steamed guo tie, prawn cakwe, ceong fan, dan fried mantao. Kayanya masih kurang kenyang nih, tambah menu karbo ah, hongkong chicken noodle dan hainam rice. Untuk minumannya kami sama semua yaitu 3 gelas lychee tea. Jadi total makanan yang kami pesan adalah 12 porsi. Wah makan besar kita nih.

Satu persatu pesanan mulai kami berdatangan. Pertama, hongkong chicken noodle adalah bakmi dengan ukuran kecil diberi topping irisan tebal ayam panggang dan bok choy serta ditaburi daun bawang. Kuahnya encer dan berwarna coklat kehitaman. Rasanya enak juga, gurih kearah manis. Kemudian nasi hainam kami bagi 3, pasangannya dimakan bersama prawn cakwe dan prawn dumpling cocok juga nih, enak karena udangnya cukup banyak dan terasa, gorengan juga terasa renyah. Prawn cakwe diatasnya ditaburi abon sedangkan prawn dumpling dimakan bersama mayones. Chicken feet juga enak, gemuk dan bumbunya mantap. Dimsum lainnya seperti har gau, shiu may, fried and steamed guo tie juga enak, banyak isinya dan terasa bumbunya. Aneka dimsum ini akan semakin enak bila dicocol dengan aneka saus. Dimeja telah disediakan sebotol mayones, sebotol saus sambal, lalu ada aneka toples kecil yang berisi aneka sambal, cabe potong, minyak wijen dan kecap asin. Wuih sedapnya.



Tapi ada loh 1 jenis dimsum yang tidak enak, sampe saya ngga mau menghabiskan yaitu ceong fan. Bentuknya mirip lumpia basah tapi kulitnya terbuat dari tepung beras dan diberi isian udang, kemudian disiram kuah kecap asin. Nah masalahnya adalah udangnya tidak terasa sama sekali, sampe dibongkar sama teman saya, jadi rasanya kaya makan tepung doang. Aduh mending menu ini dihapus saja deh, maaf ya. Terakhir fried mantao adalah penutup yang sempurna yaitu roti mantao goreng yang dicocol susu kental manis, hanya saja posisi perut kami sudah kekenyangan sekali, hahaha.

Dari sejak kami datang dimana pengunjung sangat ramai, sampai 3 jam kemudian pengunjung sudah sepi, kami masih asyik mengobrol. Tempat ini memang nyaman buat nongkrong, apalagi buka nya 24 jam loh. Sayangnya para perokok juga betah disini, sampai kehadiran mereka sangat mengganggu obrolan kami.



Mengenai harganya, masing-masing dimsum @Rp 19.900, kecuali prawn cakwe Rp 24.900, HK noodle Rp 29.900, nasi hainam Rp 14.900, lychee tea mahal Rp 24.900 tapi leci nya cuma 1. Tempat ini boleh juga direkomendasikan karena tidak terasa bikin perut kenyang dan kenyang ngobrol.

Saturday, March 22, 2014

Ceramah kesehatan oleh Bp. Ustad Agus

Hasil ceramah kesehatan oleh Bp. Ustad Agus

Seperti biasa IWKKC (Ikatan Wanita Kompleks Keuangan Cilandak Barat) mengadakan acara arisan setiap 2 bulan sekali. Ya kapan lagi kita silahturahmi dengan tetangga. Tetangga kan saudara kita yang paling dekat dan paling mudah dihubungi kalau kita ada kesusahan. Nah acara arisan kali ini diisi dengan acara ceramah kesehatan oleh Bp. Ustad Agus. Sayang sekali kalau isi ceramah tsb tidak saya bagikan kepada para pembaca blog saya. Berikut sekelumit point-point penting dari isi ceramah tsb.

4 tanda gejala penyakit jantung adalah :
  • · Apabila kita duduk dilantai, kaki kanan diatas kaki kiri. Beberapa menit kemudian pindah kaki kiri diatas kaki kanan. Beberapa menit kemudian kaki mulai selonjoran.
  • · Bangun tidur, telapak kaki kita sakit bila berdiri dilantai
  • · Tangan terasa kaku dan kesemutan
  • · Dada kita terasa ditusuk-tusuk jarum

Apabila kita masuk angin, JANGAN PERNAH DIKEROK (KEROKAN), karena sangat berbahaya sekali bisa terkena angin duduk atau sakit jantung. Apabila kita biasa dikerok, maka pori-pori akan membesar, maka angin dan penyakit akan mudah masuk dan daya tahan tubuh kita akan menurun. Jangan minum obat-obatan yang dijual bebas karena akan merusak pendengaran, penglihatan dan ginjal kita. Solusinya apa ? Kita ambil 2 ruas jahe merah, lalu diparut, lalu direbus, air rebusannya diminum, ampasnya dibalurkan ke punggung kita sampai ke belakang leher, sambil membaca sholawat dan doa kesembuhan.

Sebagian besar penyakit disebabkan oleh pola makan. Yang utama adalah JANGAN PERNAH MAKAN MINYAK JELANTAH. Yaitu minyak goreng yang telah bekali-kali dipakai untuk menggoreng. Kalau kita menggoreng sendiri pun, setelah kita menggoreng 1 jenis makanan jangan dipakai untuk menggoreng makanan jenis lainnya.
Darah kita berwarna merah, apabila kita sering makan gorengan dengan minyak jelantah, darah kita berubah menjadi hitam, lalu kental, lalu menyumbat sampai menyebabkan pecah pembuluh darah.
Pembuluh darah kita terletak di 4 tempat yaitu di tangan, kening, kaki dan belakang kepala. Apabila pembuluh darah kita pecah disalah satu tempat tsb akan mengakibatkan stroke.

Sebagian besar wanita jaman sekarang banyak terkena penyakit kanker yaitu kanker payudara, myom, kista dan serviks. Para wanita jaman dulu jarang ada yang terkena penyakit tsb karena tidak pernah memakai pembalut wanita yang ada dipasaran seperti sekarang ini. Pembalut tsb mengandung zat dioksidan, yang masuk melalui vagina, kemudian mengkristal dan menimbulkan penyakit kanker seperti tersebut diatas.

Apabila kita masak nasi dengan memakai dandang, nasi akan matang sempurna karena melalui proses dikaronkan dulu. Cara ini sangat dianjurkan karena lebih sehat. Apabila kita memasak nasi dengan magic jar, maka nasi akan dipaksa matang dalam jangka waktu beberapa menit saja oleh elemen magic jar. Magic jar juga dilapisi bahan anti lengket. Setelah bertahun-tahun bahan tsb bercampur dengan nasi yang kita makan dan akan menimbulkan penyakit kanker.

Selain itu kita sebagai wanita sangat dianjurkan memeriksa benjolan di payudara secara rutin dan teratur. Caranya, ketika mandi, kita pakai kain penutup tubuh lalu menghadap kiblat, lalu menekan ibu jari kita ke payudara selama beberapa menit, sambil memeriksa apakah ada benjolan sambil membaca doa dari surat yunus yaitu "Wa Syifa Ulli Ma Fis Sudur" dalam hati saja (kan kita dikamar mandi), Insya Allah apabila rutin dikerjakan kanker tsb akan keluar ketika haid.

Terakhir, apabila kita ingin terlindung dari penyakit kanker, kita bisa melakukan vaksin anti kanker di RS Dharmais, yang sayangnya harganya mahal yaitu sekitar Rp 6.000.000, bisa bebas penyakit kanker selama 60 tahun.

Atau ada cara lain yang lebih murah yaitu memakai obat tetes IMPRO concentrated minerals from great salt lake. Nah pak ustadnya menawarkan produk tsb, saya penasaran juga sehingga saya membeli 1 botol. Setelah sampai rumah saya cek di website, bisa dilihat di http://www.immunotec.co.id/ Rupanya produk tsb dijual secara mlm. Karena saya tidak jualan, maka lihat sendiri ya khasiat obat IMPRO di web nya. Saya sih penasaran saja, mudah-mudahan manjur, Insya Allah.


Pada intinya, kenapa saya posting isi ceramah ini, supaya kita mengubah gaya hidup dan pola makan kita menjadi lebih sehat. Amin ya Rabbalalamin.

Sunday, March 02, 2014

Kuliner sehari di Bali


Minggu lalu saya pergi ke Bali dalam rangka Office Outing. Hari terakhir kami adalah acara bebas untuk jalan-jalan, belanja-belanja, wiskul, dll. Kami berdelapan menyewa sebuah mobil dengan agenda : sarapan di Warung Mak Beng, belanja di Pasar Seni Guwang Sukawati & Erlangga, dan maksi di Nasi Pecel Bu Tinuk, setelah itu langsung menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Padahal kami baru selesai sarapan di Hotel. Tapi apa daya, Warung Mak Beng tidak bisa kami lewatkan. Kami pun dilanda dilema. Apabila kami datang pas waktu makan siang, dijamin bakal kehabisan makanan. Karena itu sesuai agenda, kami langsung menuju daerah pantai Sanur.

Warung Mak Beng, Bukti kesederhanaan yang melahirkan kedasyatan (***)

http://www.yukmakan.com/review/members/warung-mak-beng/6308/warung-mak-beng-kesederhanaan-yang-melahirkan-kedahsyatan












Warung Mak Beng tepatnya berada di Jl. Hang Tuah no. 45, Sanur, Denpasar. Telpon 0361 282 633. Lokasi warung ini berada dipinggir jalan dekat dengan pantai. Tempatnya sederhana, yaitu sebuah rumah yang tidak terlalu luas dengan ruang yang terbuka. Didepan ada sebuah billboard yang cukup besar bertuliskan “Warung Mak Beng (dengan gambar ikan), 1941, Ikan laut goreng, soup kepala ikan laut, soup sayur”, serta alamat & no telponnya. Meja-meja yang tersedia berupa meja makan besar, sehingga kami harus duduk berdampingan dengan pengunjung lainnya. Waktu baru menunjukkan pukul 8.30 waktu Bali, tapi sudah banyak pengunjung yang makan disini. Karena kami semua belum ada yang tau sama sekali mengenai makanan disini, maka kami meminta daftar menunya. Rupanya hanya ada 1 macam menu yaitu sandard porsi yang berisi 1 sop ikan, 1 ikan goreng dan 1 nasi. Karena kami masih kenyang tapi penasaran maka kami memesan 4 porsi menu standard untuk 8 orang. Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun tiba dengan cepat.
Penampakan sop ikan mirip dengan pindang ikan yaitu kuah bening berwarna kecoklatan yang berisi ikan dan irisan ketimun. Nah ini baru aneh, belum pernah saya makan sop ikan pake ketimun. Selama ini sop ikan kan pakai belimbing wuluh atau nenas. Ketika dimakan, wuih kuahnya terasa pedas menyengat, dibarengi dengan rasa asam yang menyegarkan. Tidak tercium bau amis, yang ada malah aroma wangi yang menggoda. Ikannya terasa lembut, terutama dibagian kepalanya, sehingga tidak perlu tenaga untuk mengunyah. Rasa ketimun yang biasanya renyah dan segar telah berubah menjadi empuk dan lembut tapi tidak hancur. Kemudian ikan goreng, terasa segar dan gurih dengan bumbu minimalis. Ikan goreng sebaiknya dimakan bersama sambalnya sehingga rasanya semakin membangkitkan selera. Tapi hati-hati loh, rasanya super pedas. Setelah kami tanyakan rupanya ikan yang dipakai adalah ikan kakap.
Tak terasa peluh mulai membasahi tubuh kami, akibat rasa pedas yang dibarengi dengan cuaca yang panas. Sambil makan, kami semua para ibu-ibu teringat dengan suami dan anak kami masing-masing, yang telah kami tinggalkan selama 3 hari, akhirnya kami pun memesan kembali untuk dibawa pulang. Harga ikan disini sangat bersahabat yaitu sop ikan dan ikan goreng @ Rp 15.000 dan nasi Rp 4.000. Warung Mak Beng ini sangat pantas menjadi destinasi wiskul Bali, terbukti kelezatannya tidak hanya menarik penduduk setempat atau wisatawan biasa, melainkan banyak artis yang sudah pernah makan disini. Terbukti dengan banyaknya foto artis yang ditempel dan memenuhi 2 sisi dinding bagian dalam warung ini. Warung Mak Beng adalah bukti kesederhanaan yang melahirkan kedasyatan.

Nasi Pecel Bu Tinuk, Keanekaragaman yang menimbulkan kelezatan (***)

http://www.yukmakan.com/review/members/nasi-pecel-bu-tinuk/6309/nasi-pecel-bu-tinuk-keanekaragaman-yang-menimbulkan-kelezatan









Jam 2 siang waktu Bali, perut kami mulai keroncongan. Agenda terakhir adalah lunch di Pecel Bu Tinuk. Walaupun nasi pecel adalah menu khas Jawa, tapi Pecel Bu Tinuk ini merupakan salah satu destinasi wiskul Bali juga loh. Karena selain enak dan terkenal, harganya terjangkau dan halal adalah hal yang paling penting. Rumah makan ini berada di Jl. Raya Tuban no. A5, hanya beberapa menit dari Bandara I Gusti Ngurah Rai. Telpon 0361 757 473.
Ketika masuk kedalam rumah makan ini, kami langsung masuk kedalam antrian. Rupanya pengunjung langsung antri memilih aneka lauk pauk yang berjajar didalam etalase kaca yang panjang. Dibelakang etalase ada beberapa orang yang melayani pesanan kami. Uniknya ditembok belakang etalase tsb terdapat kartu harga makanan yang digantung disepanjang tembok tsb. Tadinya saya tidak mengerti maksud kartu-kartu yang bertuliskan sejumlah angka dalam rupiah tsb. Tapi kemudian saya melihat pengunjung didepan saya, selesai memilih dan mengambil makanan lalu diberi kartu harga makanan tsb. Hahaha unik ya.
Berbagai macam lauk pauk yang dipajang didalam etalase sangat menggugah minat dan antusias kami. Lauk pauk tsb diantaranya adalah ayam goreng, ayam bakar, ayam cabe ijo, sate, gulai, telor bulat & dadar, aneka pepes, tahu & tempe goreng, ikan asin, kering tempe, kering kentang, sambal goreng ati, paru, sop, sayur asem, lodeh, ayam suir, perkedel jagung, urap, dan pecel tentunya. Rugi kalau sudah kesini tapi tidak makan pecelnya, maka pilihan saya adalah nasi pecel plus ayam goreng. Setelah itu saya dikasih kartu Rp 27.000. Kemudian bergeser ke tempat jus, saya memesan jus semangka Rp 12.000 dan mengambil sebungkus krupuk Rp 5.000. Baru setelah itu kami menuju meja makan karena bayarnya sehabis makan saja.

Makanan kami disajikan diatas piring ayaman yang beralaskan kertas coklat. Saya memesan pecel yang tidak pedas dan mulai mencicipinya, ternyata masih ada semburat rasa pedas yang membayangi pecel tsb. Sayurannya terasa segar dan renyah, bumbunya sangat pas komposisi bumbunya, tanpa ada rasa kencur yang berlebihan. Ayam kampungnya pun empuk dan gurih. Perut kami pun kenyang dan tubuh segar kembali, siap untuk menghadapi perjalanan pulang menuju Jakarta.