Saturday, August 20, 2011

Masakan khas negeri Laskar Pelangi ada di Jakarta (*)




Mendengar cerita mengenai keindahan pulau Bangka Belitung sungguh memikat hati ingin segera kesana. Tapi kesempatan belum berpihak kepada saya. Walaupun begitu kesempatan mencicipi kuliner khas Bangka terbentang didepan mata. Kini telah hadir resto Kampoeng Bangka, Seafood dan makanan khas Bangka di Jl. Panglima Polim Raya no 102, Jakarta Selatan.
Resto ini terletak dipinggir jalan Raya Panglima Polim yang sungguh ramai (macet tentunya) dan strategis. Resto ini terdiri dari 3 lantai dimana bagian depan bangunan dihiasi dengan jendela jendela kayu model jaman dulu berwarna hijau tua, yang dibingkai kusen berwarna cokelat serta tembok bangunan yang berwarna putih. Sungguh perpaduan yang kontras dan menarik. Bilboardnya saja menyuguhkan gambar aneka masakan dan sambal yang kelihatanya mengundang selera.
Memasuki ruangan resto ini, kami disambut dengan ramah. Waitress menerangkan bahwa makanan disini langsung dihidang dimeja seperti gaya rumah makan Padang. Tapi bisa juga memesan menu lain yang tersedia di daftar menu. Daftar menu yang diberikan rupanya adalah brosur menu yang bisa dibawa pulang. Kalau melihat isi dan gambarnya, sungguh menggiurkan. Banyak sekali jenis masakan yang tersedia disini, yaitu aneka seafood seperti ikan, udang, cumi, kepiting serta kerang, bisa pilih dimasak seperti apa, yaitu digoreng kering, digoreng tepung, dibakar atau direbus, dengan bumbu asam manis, saos tiram, saos mentega, lada hitam, dll. Juga tersedia aneka masakan ayam, daging sapi, mie & kwetiau, nasi goreng, sayuran, sup, sate, serta sambal. Terakhir ada aneka camilan, dessert dan minuman.
Hmm saya tertarik dengan ayam goreng Bangka. Eh ternyata belum tersedia. Lalu beralih ke menu ikan, eh ternyata hanya ada ekor tenggiri bakar. Akhirnya kami pasrah dengan menu yang dihidang dimeja. Mungkin karena resto ini memang benar benar baru berdiri, yaitu akhir bulan July lalu, maka banyak menu yang belum lengkap tersedia.
Hidangan dimeja hampir semua berbentuk gulai yaitu sayur, ikan, udang dan kikil. Dihidangkan pula sup iga, ekor tenggiri bakar serta daun singkong kering. Oleh karena itu saya pun memesan ayam goreng daun pandan yang penampilannya sama dengan ayam pandan Thailand.
Sup iga itu rupanya bernama lempah iga daun kedondong. Rasanya segar karena bercita rasa asam seperti kuah pindang, ditambah daging yang empuk menambah nafsu makan kami. Lalu kikilnya rupanya adalah kikil tauco, yang rasanya berupa perpaduan rasa gurih manis, pedas dan asam. Kikil sudah dipotong kotak kotak kecil dan dimasak bersama potongan pete. Ekor tenggiri nya lumayan besar, dibakar dengan bumbu minimalis, dan dagingnya sudah terbelah 2 sehingga mudah diambil. Daging ikan terasa fresh dan semakin nikmat bila dimakan bersama pendampingnya si sambal cabe merah. Terakhir ayam goreng pandan pesanan ku, yang berisi 4 bungkus pandan. Rasa dari potongan daging ayam yang sudah diungkep lalu digoreng itu, bumbunya sama sekali tidak ada yang menyolok. Oh rupanya harus disiram saus pendampingnya yang berwarna coklat kental, sehingga sekarang rasanya menjadi manis. Ah sepertinya kurang cocok dengan selera saya. Terakhir, dessert pembilas rasa pedas yaitu es campur Bangka yang isinya tidak terlalu istimewa, sama seperti es campur lainnya.
Semua sajian ini dibayar dengan harga diatas standard, itupun setelah opening discount 30% for food only. Ketika saya teliti, harga yang tercantum didalam bill lebih mahal daripada harga didalam brosur, yaitu ekor tenggiri Rp 95.000 padahal di brosur hanya Rp 75.000, lempah iga Rp 45.500 sedangkan di brosur Rp 35.000, kikil Rp 20.500 di brosur Rp 20.000, harga ayam pandan sama yakni Rp 29.900, es campur Rp 19.900 sedangkan dibrosur Rp 14.500, harga sambal sama yaitu Rp 7.500, nasi Rp 5.500 sedangkan dibrosur Rp 4.000, plus tax & service total kami membayar Rp 192.284. Hmm kalau begitu brosurnya salah cetak dong karena ngga mungkin brosurnya memakai harga lama, wong restonya pun baru buka. Yah sudahlah. Yang mau mencoba kesini, bisa telpon dulu di 021 739 2344.

Friday, July 29, 2011

Tian Xi, kembalinya si bebek merah yang hilang (***)












Geng kami adalah penggemar sajian Chinese food dari Red Duck restaurant, jadi ketika kami mengetahui bahwa resto ini sudah tidak ada lagi di FX Mall, betapa kecewanya kami. Rasa yang lezat serta jarak yang dekat dari kantor kami di gedung BEI lah yang membuat kami sering menyambangi resto ini.

Jadi ketika kami mendengar sebuah kabar bahwa ada sebuah resto yang bernama Tian Xi by Red Duck di Mall Senayan City, maka segera kami ambil keputusan, bila ada salah seorang dari kami yang ultah, maka harus mentraktir makan disana. Kebetulan di bulan July yang ultah adalah saya sendiri, so jadilah sore itu sepulang dari kantor kami berlima bergegas menuju Lower Ground Mall Senayan City. Sudah terbayang di lidah kami, berbagai kelezatan dimsum serta bebek panggangnya yang empuk, hmm tak sabar rasanya ingin segera tiba kesana.

Restaurant ini mudah dicari. Dari kejauhan sudah terlihat tulisan Tian Xi berwarna putih serta huruf kanji merah disampingnya. Ketika masuk, ruangan terlihat luas dan lapang, terbagi menjadi smoking dan non smoking area, dimana area tersebut dibatasi dengan sebuah dinding tebal yang bagian tengahnya ada gerbang berbentuk setengah lingkaran, sehingga seolah olah kita akan memasuki sebuah terowongan. Disini tersedia juga ruangan VIP sehingga saya yakin resto ini bisa menampung ratusan orang pengunjung. Senangnya lagi, ada keterangan no pork & no lard yang membuat kami semakin tenang.

Buku menu yang disodorkan ada 3, yaitu buku menu utama yang tebal dan berat berisi berbagai menu bebek sebagai sajian andalan disini, lalu berbagai menu seafood kelas premium serta aneka sajian sayuran. Dua buku menu lainnya jauh lebih tipis dan ringan, yaitu yang pertama berisi berbagai menu dimsum, rice dan noodle, serta yang kedua berisi berbagai menu minuman dan dessert.

Teman yang pertama sedang pantang makan seafood dan bebek akibat dari kondisi kehamilannya, walaupun begitu kami tetap memesan menu wajib bebek panggang, lalu ayam goreng bawang putih dan buncis cabe garam biar si bumil bisa makan. Teman yang kedua sedang ngidam berat udang telur asin. Teman yang ketiga penggemar dimsum, sehingga kami memesan tim siew mai dan kaki ayam lada hitam. Kami juga sepakat memesan cakwe goreng thousand island dan yang terakhir adalah cheong fun otak-otak saus XO yang gambar menarik dan menggiurkan. Karena makanan yang dipesan sudah cukup banyak apalagi bila ditambah nasi, maka kami hanya memesan Chinese tea refill untuk pembilas dahaga.

Sembari menunggu pesanan datang, kami pun mulai beraksi dan berfoto ria. Tapi alangkah terkejut dan gembiranya kami, belum sampai 10 menit, bahkan belum sempet ngobrol, pesanan kami berangsur angsur datang. Saya pun jadi panik mengalihkan kamera ke makanan di meja, sebelum sajian cantik tersebut rusak diserbu tangan tangan bersumpit.

Berikut review makanan dari saya : bebek panggangnya memiliki kulit luar berwarna merah kecoklatan yang mengkilat, rasanya garing tapi masih berlemak didalamnya. Dagingnya empuk dan juicy, disajikan bersama saus coklat kehitaman yang rasanya manis. Kemudian ayam goreng bawang putih, penampilannya mirip sekali dengan bebek, disajikan bersama semangkuk garam bercampur merica. Bedanya kalau bebek rasanya gurih dan manis yang berasal dari sausnya, kalau ayam rasanya sudah asin.

Kemudian penampilan udang telur asinnya unik. Udang dan jagung manis pipilan digoreng tepung dan disiram telur asin, tapi telur asin telah bersatu dan meresap, tidak seperti di resto lain yang telur asinnya sampai tergenang dipiring. Untung kami memilih udang kupas, sehingga rasa telur asin lebih meresap ke daging udang daripada kami harus repot menghisap hisap kulit udangnya.

Buncis cabe garam adalah buncis yang digoreng tepung lalu ditaburi cincangan bawah putih yang royal serta potongan cabe rawit. Disajikan bersama semangkuk saus cair berwarna coklat yang penampilannya mirip dengan saus sambal kacang. Tapi ketika dicicipi, alangkah terkejutnya saya, mata pun langsung mendelik akibat rasa asam yang menyeruak di mulut. Rupanya rasa asam berasal dari air jeruk kimkit. Cocok sekali, perpaduan rasa gurih dan asam dimulut menimbulkan rasa ketagihan, menghilangkan rasa eneg tapi menyegarkan.

Kemudian cakwe nya, kulitnya garing dan bertabur wijen tapi didalamnya empuk, terbalut saus thousand island yang sudah bersatu sehingga tidak menimbulkan jejak berlebihan diatas piring.

Sekarang yang paling unik adalah cheong fun otak-otak saus XO, yaitu otak otak ikan, bentuknya kotak panjang, dibungkus gulungan tepung beras, kemudian digoreng sedikit kering dikedua sisi atas dan bawah, serta diberi topping sambal ikan teri. Ketika dimakan, otak otak terasa empuk dan tidak kenyal, rasa ikan dan bumbunya menonjol, berpadu dengan rasa tepung beras yang licin dan agak lengket, ditimpalin lagi rasa asin pedas dari sambal ikan teri nya, wah unik dan istimewa ya.
Terakhir dimsum tim kaki ayam lada hitam dan siew mai, hanya 1 comment nya, yaitu enak. 

Perasaan bila dibandingkan dengan masakan resto Red Duck, sepertinya ini lebih enak deh, atau kami memang kangen masakan mereka, ngga tau juga ya. Tapi yang penting dinner kami malam ini sukses dan kekenyangan, walaupun sedikit kurang sempurna. Apa pasalnya ? Ini gara gara rasa asin yang tidak merata pada masakan ayamnya, yaitu rasa asin yang sedang dibagian atas daging ayam, tapi rasa asin menumpuk dibagian bawah bahkan meresap ditulangnya. Batal deh acara menghisap hisap tulang ayam. Sayang kami tidak memesan dessertnya, padahal gambarnya sungguh menarik hati. Tapi apa daya, perut sudah tak sanggup menampung lagi.

Mengenai harga, yang termahal adalah udang Rp 80.000, disusul dengan ½ ekor ayam Rp 70.000, ¼ bebek Rp 55.000, cakwe Rp 48.000, buncis Rp 38.000, cheong fun otak-otak Rp 16.000, siew mai Rp 15.800, kaki ayam Rp 12.800 plus nasi, minum, tax and service, serta dikurangi diskon promo BNI card (atau CIMG Niaga) sebesar 30%, maka total saya bayar adalah Rp 348.059.

Buat yang berminat makan kesini alamatnya adalah Tian Xi by The Red Duck, Senayan City, LG # 06-08, Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta 10270, Telpon 021 7278 1532 / 7278 1527. Oh ya ada 1 info penting, disini tersedia juga all you can eat dimsum yang harganya sungguh terjangkau, tapi hanya tersedia pada siang hari saja. Ching man yung (selamat menikmati)…

Sunday, July 03, 2011