Label

Kamis, Juli 30, 2009

ULASAN KULINER : SAM’S STRAWBERRY CORNER (***)


“Dear friends, ditunggu di lobi pk. 11.45, tiada kesan tanpa kehadiranmu” begitulah bunyi email dari seorang temen kantor ku, yang baru kemaren ultah. Wah tumben-tumbennya nih doski traktir. Yang diundang banyak pula, 16 orang. Rezeki memang gak lari kemana. Tapi judul emailnya kok “bakmi strawberry” sih ? Baru denger. Apa enaknya ya ? Gimana caranya strawberry dibuat bakmi ? Kok aku gak tau ya, padahal katanya tempatnya di jl. Cipaku. Wah gak gaul nih, padahal aku suka dijuluki ratu kuliner, tapi tumben ketinggalan berita.
Akhirnya jam makan siang pun tiba, kamu pun bergegas menuju lobi dan mencari taxi. Tapi sang empunya hajat ngak bareng nih. Untung udah dikasih alamatnya, Jl. Cipaku IV. Rute yang ditempuh dari BEI adalah melalui jl. Wolter Mongonsidi, lalu ke jl. Cikajang, lalu belok ke jl. Cipaku IV, rupanya dipaling ujung sekali, belokan ke jl. Wijaya I. Dari jauh sudah terlihat antrian mobil yang parkir. Kami pun segera berhenti di sebuah rumah, yang mana beranda depannya telah dijadikan tempat makan. Sebuah plang nama ditempel ditemboknya, yaitu : SAM”S,strawberry corner. Ooo…ini sih Strawberry corner cabang Bandung yang sudah terkenal itu. Tapi terus terang aku memang gak tertarik mencobanya, karena diotakku terbayang semangkuk mi ayam berwarna merah, karena mengandung strawberry. Heem under estimated.
Kertas menu yang disodorkan pelayan berisi : Mi yamien manis & asin, bisa pake baso, pangsit, babat & ceker, lalu ada siomay, minumannya tentu jus strawberry, pake susu atau ngak, strawberry leci, milk shake, dan berbagai minuman ringan lainnya. Tersedia juga strawberry cream cheese.
Sedangkan pilihan ku adalah mi yamien asin dengan pangsit & (tentu) ceker, serta minuman strawberry leci. Temenku yang lain kebanyakan pesan mi yamien manis, dan semua pesan pake ceker, serta semua pesan jus strawberry biasa.
Sambil menunggu pesanan yang datang, banyak sekali pengunjung yang terus berdatangan, padahal tempat makannya hanya terbatas diberanda depan rumah saja. Andaikan ruang didalam rumah dibuka, maka akan lebih terasa leluasa. Kami pun terpisah menjadi 2 meja, yaitu kelompok anak cewe dan anak cowo.
Untunglah pesanan kami segera tiba. Tanpa banyak bicara, segera kami santap. Nah ini dia keistimewaannya. Pesenan ku mi yamien asin pangsit ceker adalah mi ayam biasa yang berwarna putih, lalu ditaburi potongan daun bawang & bubuk ayam, kusebut bubuk karena ayamnya disuwir hingga halus sekali sehingga menyerupai bubuk, lalu diberi topping kripik ceker, serta tidak diberi sayur sawi seperti ditempat lain. Kami pun berseru, ooo…rupanya kripik ceker bukan ceker kuah. Karena kami membayangkan akan diberi semangkuk ceker dalam kuah mi. Memang bener-bener beda dengan yang lain. Kami pun segera menyuap mi dan rasanya heem enak, rasa mi yang gurih serta asin klop dengan renyahnya kripik ceker. Mi yang disajikan tidak berbentuk gepeng, atau keriting, melainkan mi lurus biasa, yang rasanya empuk. Cuma ayamnya saking halusnya, ya kurang terasa sih. Walaupun begitu secara keseluruhan mi yamien ini enak dan semua orang menghabiskannya tanpa sisa. Bahkan ada yang nambah, anak laki tentunya dong. Tapi anak cewe nambah sepiring siomay isi 6 potong, buat dimakan rame-rame. Anak lelaki pun ngiri dan nambah sepiring siomay isi 8 potong. Kacau. Siomaynya enak, empuk dan terasa ikannya. Tapi bumbu kacangnya, buat aku ya pedes banget, gak kuat, banyak biji cabenya, akhirnya kucocol kecap manis aja. Untunglah minuman pesenan ku adalah strawberry leci, karena selain rasanya menjadi lebih manis, dan tentu lebih enak dong dibanding jus strawberry biasa, ukuran gelasnya pun yang lebih besar, 2 x lipat jus strawberry biasa. Horee, rasa pedas pun teratasi.
Alhamdulillah kenyang banget nih, dan keringetan, maklum AC alam. Maunya sih kita berleha-leha dan mengobrol dulu. Maklumlah walaupun kami 1 bagian finance accounting, tapi kalau sehari-hari sih sibuk kerja, jarang banget ngobrolnya. Tapi apa daya, antrian pengunjung semakin panjang, kasian kepanasan diluar. Segera kami minta bill nya dan o ow, jumlahnya Rp 641.000, mana mesti cash lagi. Ini gara-gara kami kalap, karena selain nambah siomay, kami pun makan beberapa bungkus krupuk, 1 rujak honje, serta beberapa teh botol. Harga mi nya sendiri sih antara Rp 15.000-19.000, siomay nya Rp 4.000 / potong. Jus strawberry nya @ Rp 10.000 tapi punya ku Rp 15.000. Yah wajar sih.
Ternyata rumah makan ini sudah cukup lama berdiri loh, cuma akunya aja yang gak gaul. Alamatnya Jl. Cipaku IV no 25 (belokan jl. Wijaya I) Kebayoran baru, telpon 021 7122 6779 / 0813 2128 5260. Ada tulisan halal nya. Nah kan nambah lagi list kuliner favorite.

Rabu, Juli 29, 2009

ULASAN KULINER : KWETIAU SAPI & SEAFOOD “GAJAHMADA 77” PONTIANAK (**)

Kembali lagi ke “Serpong”. Daerah favorite ku untuk wisata kuliner. Gak ada abis-abisnya buat dibahas. Kayanya kalo sebulan aja aku gak ke serpong, mesti ada yang baru deh.
Berawal dari suamiku yang apabila pulang dari Lampung, kemudian dari Bandara menuju rumah selalu melewati kawasan Serpong, setiap Jumat malam. Nah sekali dua kali, dia melihat kerumunan parkiran mobil yang setiap saat selalu penuh disebuah kompleks ruko. Maka tak tahan lagi, sekali waktu dia mampir untuk mencoba menyambangi Ruko Tol Boulevard BSD blok D/16. Rupanya disitu ada rumah makan Kwetiau sapi & seafood “Gajahmada 77” Pontianak. Telpon 021 5315 8207 / 8.
Tempat makannya sederhana & terbuka tanpa daun pintu, dimana dapurnya terletak didepan pintu masuk, sehingga apabila kita parkir didepannya, dan memesan tuk dibawa pulang, kita akan melihat pemandangan sang koki meracik pesanan kita.
Walaupun judulnya kwetiau, tetap banyak pilihan lainnya, tapi gak jauh dari mi, bihun serta nasi goreng. Variasi masakannya juga bisa digoreng, direbus lalu disiram, bisa diberi sayur, ayam, sapi atau seafood.
Karena baru pertama kali mencoba, suami bertanya dulu, menu andalan disini tuh apa ? Rupanya kwetiau siram sapi. Jadilah dia memesan menu tsb. Sepulangnya ke rumah dia pun laporan : Wah aku makan kwetiau siram sapi, enak sekali. Kamu mau coba ngak ? Ada ifumi nya loh, katanya berpromosi. Karena dia tau, aku gak begitu doyan kwetiau tapi menggemari ifumi.
Akhirnya, pada suatu malam minggu, kami kesana dan kembali memesan kwetiau siram sapi serta ifumi. Ah rupanya penilaian dia memang tidak salah, alias enak sekali. Kwetiaunya direbus sebentar lalu diangkat, dicampur toge, lalu disiram kuah kental sekali yang berisi irisan daging sapi lebar-lebar dan sayur sawi hijau. Dimakan panas-panas, heem enak sekali, kwetiaunya putih & empuk, tidak kenyal, daging sapi nya banyak dan empuk, kuah kental nya pun gurih & nikmat, terasa bumbunya. Top dah.
Sedangkan ifuminya walaupun tidak seheboh kwetiau, tetap enak. Mi kering yang dipakai adalah mi yang sudah jadi, sehingga tinggal dibuka bungkusnya lalu digoreng lagi hingga berwarna kuning kecoklatan, lalu disiram kuah kental (tapi tidak sekental kuah kwetiau), dan berisi banyak sayuran segar seperti sawi hijau, wortel, putren, bunga kol, serta diberi potongan cumi dan (hanya) 2 potong udang. Rasanya juga enak, sayurannya segar & kuahnya pun gurih nikmat.
Harganya tergolong murah menurutku. Kwetiau yang banyak dagingnya itu hanya dihargai Rp 18.000 saja, sedangkan ifuminya diberi harga Rp 20.000. Dan porsinya, buat kami sih bikin kekeyangan. Tapi bagaimana menurut anda ? Maka segeralah mencoba. Jam bukanya dari jam 10 pagi - 10 malam loh.

Selasa, Juli 28, 2009

ULASAN KULINER : RESTORAN SARI INDAH (***)

Masakan Padang, masakan yang paling banyak ditemui, tersebar dimana-mana, dari sabang sampai merauke, bahkan sampai ke luar negeri pun ada. Masakan padang ada yang dijual di warung, banyak juga yang di restoran, ada yang mahal tapi gak enak dan ada pula murah tapi lezat. Biasanya kalo masakan padang di restoran, rasanya udah standart international, jadi rasa gurih asin manis nya kurang tajam, mahal pula.
Nah tapi yang satu ini, ada restoran masakan padang, dimana aku dan temen sekantorku, menyebutnya “makan di padang mahal yuk” tapi tetep gak kapok-kapok makan disitu karena enak sekali & lain daripada yang lain. Yaitu di Restoran Sari Indah, jl. Wolter Monginsidi no 42-44, Jakarta Selatan, telpon 021 722 0930, fax 021 723 7233.
Disini dijual menu istimewa yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu ayam bakar. Udah biasa ! Tapi beda rasanya. Enak sekali dan rasa gurih asin manis nya terasa tajam. Tiga potong ayam berbumbu santan kental dan berwarna kekuningan yang berasal dari kunyit, setelah di ungkep lalu dibakar, dan disajikan langsung diatas meja dengan masih memakai besi berjaring tempat ayam tsb dibakar. Bumbunya yang menempel di ayam masih banyak sehingga rasanya legit dan cenderung manis. Top.
Lalu ada gado-gado siram, isinya biasa, daun singkong, kacang panjang, toge, kol, tahu, tempe, telor, dialasi daun selada, diberi krupuk merah yang suka disajikan di dalam soto padang itu loh. Tapi seporsi isinya cuma sedikit, lalu disajikan dipiring berukuran sedang, tapi rasa bumbu kacangnya bo, lekker. Uenak tenan.
Nah kedua menu tsb yang selalu kami santap kalau kesini. Tapi bukan berarti menu lainnya ngak enak loh. Cuma kedua menu tsb yang tidak ada ditempat lain. Terakhir aku kesini ada menu baru nih, yaitu buncis yang diberi ayam cincang, tapi rasa bumbu ayamnya itu pakai terasi & ikan asin, jadi rasanya unik, dan tentu enak, asin-asin gituh, jadi lahap makannya. Walaupun aku membayangkan kalau memakai baby buncis, rasanya pasti lebih mak nyos.
Menu lain seperti ayam pop, gulai ayam, ayam goreng, rendang, sop buntut, kikil, dll tetap enak. Aku udah nyobain semua. Tapi kan ditempat lain juga ada. Jadi ngak seringlah. Lalu disini selalu disediakan dessert kue Srikaya, yaitu kue yang terbuat dari telur & santan yang diberi gula serta pewarna hijau dari daun suji dan pandan, lalu setelah dikocok, dituang dimangkuk kecil & dikukus. Hasilnya seperti pudding, manis, legit & wangi pandan, tapi sangat terasa telurnya. Dessert yang sempurna, sebagai penutup rasa masakan yang gurih & pedas.
Lalu harganya ? 3 potong ayam Rp 31.500, gado-gado Rp 7.500, cah buncis ayam Rp 8.500, sambal teri merah Rp 9.000, 3 nasi putih Rp 13.500. Bahkan air putihnya pun bayar @ Rp 1.500. Tuhkan, padang mahal, tapi enak loh. Kalo udah lama gak kesini suka kangen, jadi makannya lahap deh. Selamat mencoba.

Selasa, Juli 14, 2009

ULASAN KULINER : TORIGEN (***)














Torigen, Japanese Restaurant
Jl. Wijaya I no: 53 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Jam buka : 11.00, Jam tutup : 23.00, Phone : 021-7233977, Fax : 021-7233978, Halal : Halal

Sebagai penikmat masakan Jepang, aku paling antusias kalau ketemu tempat makan baru, karena penasaran pengen segera coba. Misalnya ketika pulang kantor, melewati daerah jalan Wijaya I, disebelah toko kue Dapur Coklat, terlihat sebuah restoran Jepang baru yang sangat menarik perhatian, karena eksterior bangunan restoran berbentuk khas Jepang dengan nuansa kayu, dikiri kanan pintu masuknya ada tiang kayu, lalu disebelahnya digantung lampu lampion khas jepang warna merah menyala dengan tulisan kanji. Papan nama restotannya pun berwarna merah, dengan tulisan : Torigen, Japanese Restaurant. Parkiran untuk pengunjungnya pun penuh. Tuh kan jadi penasaran.
Maka pada suatu malam minggu, kami pun pergi kesana untuk mengobati rasa penasaran kami. Di pintu masuk, kami segera dibukakan pintu & disambut oleh pelayan berseragam putih dengan mengucapkan salam berbahasa Jepang. Pelayanan disini sangat ramah & perhatian. Semua pertanyaan ku mengenai menu makanan yang terus terang banyak yang tidak mengerti, semua dijawab dengan ramah. Untunglah buku menunya ada gambarnya. Jadi kira-kira ada gambaran bentuk masakannya. Contohnya, aku kan pengen sushi roll tapi pengen yang matang. Rupanya hanya ada Tori sushi yang matang, karena berisi daging ayam panggang. Lalu kami memesan Yakimeshi alias nasi goreng, Age dashi tofu alias tahu Jepang, sebagai menu kedoyanan ku. Yayang memesan menu kesayangannya yaitu chawan musi alias telor kukus. Terakhir kedoyanan kami adalah shitake sio alias Jamur Shitake.
Kemudian kami diberi tahu kalau ada menu siap saji yang bisa langsung dipilih yaitu Oden. Apa sih oden, jadi penasaran (lagi). Kami pun dituntun kesamping dapur, untuk memilih oden. Oh rupanya oden itu adalah berbagai bahan makanan yang direbus dalam kuah. Isinya bermacam-macam, ada lobak, telor, jelly, baso gepeng ikan cincang, olahan cumi, dll. Maka kami pun memilih 1 baso gepeng ikan cincang dan baso cumi yang bentuknya lonjong dan bolong ditengah, isinya 4 dan ditusuk sate.
Oden disajikan bersama mustard. Di otak ku terbayang rasa mustard yang kecut, tapi pas dimakan, alamak rasanya tajam menyengat. Ih aku gak doyan. Lalu basonya, rasanya ya seperti baso seafood tapi ikan & cuminya sangat terasa, agak kenyal-kenyal tapi empuk sih. Rasa kuah nya seperti kaldu ikan, bening kecoklatan, tidak ada rasa gurih yang tajam & tidak begitu panas. Walaupun masakan ini terasa pas, dan segera habis disantap, tapi bukan merupakan favorite kami.
Sambil menunggu pesanan yang datang, kami mengamati interior restorant ini. Sangat bernuansa khas Jepang, dengan meja kursi terbuat dari kayu, lampu-lampu Jepang yang terbuat dari kayu berbentuk kota-kotak seperti papan catur. Lampion Jepang berwarna merah dan putih juga tergantung di dekat tembok. Jendela dapur nya juga kotak-kotak. Kalau ada pintu, tidak ada daun pintunya, melainkan ditutup gorden kain dengan tulisan kanji, tapi hanya setengah, tidak sampai menyentuh lantai. Kemudian ada bar untuk meracik minuman, serta ada counter dengan seorang koki yang memanggang sate, disebelah counter Oden. Disini dipasang juga sebuah LCD yang programnya NHK.
Tak lama kemudian datanglah pesanan kami satu persatu, dimulai dari chawan musi, yaitu telor yang dicampur kaldu, lalu diisi jamur dan udang, ditaruh kedalam sebuah mangkuk yang kemudian dikukus hingga matang, sehingga bentuknya seperti pudding, licin mengkilap dipermukaannya. Rasanya, heem enak, lembut, gurih dan nikmat. Chawan musi dimakan sebagai pembuka, yang segera kami tandaskan. Kemudian datanglah pesanan kami, nasi goreng, sate jamur shitake, serta agedashi tofu.
Nasi goreng ini sebenarnya biasa saja bentuknya, berbumbu bawang putih, berwarna kekuningan dan hanya dicampur dengan telur orak-arik serta daun bawang, tapi rasanya, kok enak ya, sederhana tapi nikmat, gurih & tidak hambar. Nyam nyam. Nasi goreng kami makan bersama sate jamur & agedashi tofu. Sate jamur adalah 2 tusuk sate yang berisi masing-masing 3 jamur shitake, yang telah sedikit dibakar, tapi tidak gosong, rasanya murni tanpa bumbu, dicocol kecap asin aja, kenyal-kenyal empuk, enak. Kami memang penggemar jamur shitake.
Terakhir adalah agedashi tofu yaitu tahu sutera Jepang yang bentuk nya bulat panjang lonjong kaya lontong, banyak dijual disupermarket, lalu dipotong-potong. Tapi 1 porsi agedasi tofu ini hanya berisi 3 potong tahu, yang di goreng tepung (ih gimana sih caranya supaya gak hancur ? Pengen !), lalu disajikan dalam mangkok yang telah diberi kuah kaldu berwarna coklat karena diberi kecap Jepang, rasanya gurih asin manis. Ketiga potong tahu tsb, yang satu polos, satu lagi berhias topping selembar nori (rumput laut), dan satu lagi berhias topping daun ketumbar. Lalu ditaburi irisan daun bawang dan parutan lobak. Ah nikmatnya, ini baru favorit ku. Setelah sajian tsb habis, maka terakhir kami makan sushi rollnya yang berisi 4 roll. Yaitu nasi Jepang yang agak lengket digulung, dengan kulit luar nori dan isinya adalah ayam panggang dengan daun selada serta mayones. Rasanya heem uenak tenan. Ah sedap nian berbagai masakan ini.
Setelah selesai dan merasa kekeyangan, sambil minum ocha hangat, kami pun meminta bill nya. Eh yang datang malah compliment dessert berupa semangkok kecil yang berisi 2 potong semangka, 2 potong melon, 2 potong jelly yang disiram fla susu yang manis. Aduh enak banget, pas rasanya, fla nya sampai ku sendok sampai tandas.
Bill telah datang, dan harganya adalah, age dashi tofu Rp 32.000, chawan musi Rp 22.000, chikuwa oden (cumi) Rp 14.000, Satsuma age oden (ikan) Rp. 15.000, shitake sio Rp 18.000, tori sushi Rp 38.000, yakimeshi Rp 39.000, rupanya ochanya gratis, total after tax adalah Rp 206.569. Cukup mahal sih, tapi sebandinglah dengan kelezatanya.
Nah sekarang udah tau kan, tempat masakan Jepang yang recommended, jadi silahkan coba. Rupanya ada juga loh di Bandung, di jl. Setiabudi no 48. Sampai jumpa.

Sabtu, Juli 11, 2009

ULASAN KULINER : RM PECEL LELE PAK JO (**)



Kawasan Serpong emang gak habis-habis nya buat wisata kuliner. Banyak banget tempat makan yang istimewa & layak dibahas. Nah sekarang aku mau bahas RM Pecel Lele Pak Jo, Jl. Raya Serpong KM 8,5 no 25 Pakulonan Tangerang, telpon 021 5312 8711. Sebenarnya aku udah sering banget lewat sini, tapi baru kali ini sempet nyoba. Karena aku kan gak suka pecel lele, tapi tempat ini bikin penasaran karena parkiran mobil nya selalu penuh. Aduh pasti ada yang ismewa nih. Jadi aku berharap ada menu lain selain lele.
Memasuki RM ini, interiornya nuansa khas jawa, yaitu dominan kayu, baik tiang-tiangnya, langit-langit, serta meja kursinya. Langit-langit nya tinggi serta ruangan yang luas dan tebuka menjadikan ruang makan menjadi sejuk. Tersedia 2 tempat makan yaitu didalam, tanpa AC tapi tetap sejuk, ada TV dan kolam ikan yang berbatuan di dindingnya, serta ruang makan di luar di teras depan.
Ketika disodori kertas menu, rupanya cukup banyak jenisnya. Ada masakan pecel lele sebagai masakan khas disini, ada berbagai masakan ikan & ayam kampung yang digoreng, dibakar, atau di pecel, ada pindang tulang iga, pindang patin, gado-gado, pecel, berbagai menu nasi goreng & mi goreng juga ada. Ada ya menu yang menarik yaitu ayam goreng bawang, yaitu ayam yang digoreng bersama sambal & bawang, sehingga rasa bumbu lebih meresap. Tapi aku takut pesen nya, takut gak kuat pedes nya. Jadi aku hanya pesen ayam goreng, sedangkan Yayang, tentu dia pesen pecel lele dengan sambal super pedas.
Aku sih gak banyak berharap dengan menu sederhana ayam goreng ini. Tapi ketika ayam dihidangkan, lumayan besar ukurannya, segera ku suwir sepotong dagingnya kucocol ke sambalnya, eh enak nian ya. Bumbunya meresap banget, gurih. Daging nya empuk & warnanya juga coklat menggiurkan, ngak dekil. Wah nasi ku sampai habis, padahal aku makan jam 5 sore loh. Hi..hi..hi..doyan apa lapar. Nah pecel lele yang dimakan Yayang juga keliatannya nyummy, bukti nya habis. Ukuran lele yang lumayan besar & daging nya yang putih, disajikan dipiring tanah liat dengan sambal pecel & tumisan kangkung dengan toge. Top deh kata Yayang, terutama sambalnya nih, pedes & mantap.
Oh ya kami juga memesan oseng cabe hijau, yaitu oseng yang berisi tempe yang dipotong kotak kecil-kecil, irisan rempela ayam, jagung keputren & wortel, semua dioseng bersama kecap manis, bawang putih & cabe hijau. Rasanya wow pedas-pedas enak gitu. Sampe keringetan nih.
Harganya juga terjangkau, Rp 12.500 untuk ayamnya & Rp 18.000 untuk Lele nya, oseng cabe hijau Rp 13.000, es degan Rp 10.000, dll, sehingga total kita membayar Rp 76.450saja. Kenyang & nikmat. Jam bukanya jam 10 pagi - 10 malam loh. Segera dicoba ya.

ULASAN KULINER : CINCAU HIJAU PS MAYESTIK (***)



Cincau hijau adalah sejenis agar-agar yang berasal dari daun cincau yang diremas-remas atau dihancurkan lalu direndam air, sehingga membentuk gel atau agar-agar karena daun tumbuhan tersebut mengandung karbohidrat yang mampu mengikat molekul-molekul air.
Khasiat cincau hijau : dapat mengobati penyakit darah tinggi, radang lambung, demam, panas dalam, sakit perut, mual, diare & gangguan pencernaan lainnya, serta memperlancar buang air besar karena seratnya cukup tinggi.
Bila cuaca panas paling enak minum es cincau, karena rasanya segar, mengenyangkan & menyehatkan. Kalau mau bikin sendiri sih bisa aja, tapi kan agak susah mencari daun cincau, lalu proses pembuatannya juga lebih dari 24 jam, akibat dari proses perendaman sehingga menghasilkan gel itu yang lama. Enaknya ya beli langsung minum. Beli dimana sih ? Nah di kawasan pasar Mayestik Kebayoran Baru Jak Sel, banyak kok penjual cincau hijau yang didorong di gerobak. Cara penyajian dari mereka adalah cincau disendokin lalu ditaruh digelas lalu diberi es serut yang sudah mengandung santan, lalu disiram sirup buatan mereka sendiri yang warnanya merah menyala. Aduh, kayanya agak meragukan ya minum es yang belum tentu air nya matang. Lalu sirupnya itu loh, warna nya kok mengerikan, pake pewarna apa sih yang harganya murah tapi merah menyala. Hii… Jadi solusinya adalah beli cincau hijau nya doang yang udah dijual dalam plastik-plastik ukuran 2 kiloan, lalu bawa pulang, makan di rumah. Cara penyajian kesukaan ku adalah : cincau disendok taro digelas, lalu beri susu kental manis & sirup merah, beri es batu, aduk-aduk, gak usah diberi air lagi, karena sebentar lagi es batu serta cincau nya juga mencair. Rasanya enak banget. My favorite dessert. Bisa juga sih penyajian dengan rasa tradisional diberi santan cair & sirup gula merah, tapi menurut ku, malah kurang seger & mengandung kolestrol dari santannya itu.
Nah sekarang ku beri tau ya, langganan ku tempat beli cincau itu, tetep di ps Mayestik, tapi didepan restoran Chinese food Mandala, ada tukang cincau mangkal, yang rasa cincau nya lebih pekat, tanpa campuran, murni daun cincau. Harganya murah kok, gak lebih dari 10.000, tapi banyak khasiatnya. Ayah ku aja selalu makan cincau, malah tanpa sirup, susu, dll, biar lebih menyehatkan. Ayo dicoba.

ULASAN KULINER : GORENGAN



1. TEMPE MENDOAN & TAHU SLAWI BARITO (**)

Kawasan Barito Kebayoran Baru Jak Sel, depan kuburan, lumayan terkenal loh buat tempat makan. Yang paling terkenal sih bubur barito nya, cuma karena sudah banyak yang tau, maka aku mau bahas warung di seberang nya, yaitu tempat jual tempe mendoan & tahu slawi. Enak loh. Dimakan bersama cabe rawit, kecap & saus kacang. Harganya seribuan saja per potong. Dan kalo bulan puasa, terjadilah antrian panjang, termasuk aku yang sering antri kesini. Jadi tempe mendoan itu adalah tempe goreng tepung yang digoreng tapi tidak kering. Sedangkan tahu slawi adalah tahu kuning bentuk segitiga yang diisi adonan tepung kenyal-kenyal kaya siomay. Baik tahu & tempe semua terasa gurih & tepungnya memakai daun bawang. Tapi kalau mau beli kesini mesti malem, karena jam bukanya sekitar jam 5 an.

2. PISANG GORENG PONTIANAK & TEMPE MENDOAN PRIMA RASA FATMAWATI (**)

Di jalan RS Fatmawati di seberang DBEST paling terkenal martabaknya. Ada 3 restoran martabak yang buka 24 jam tapi sekaligus menjual menu masakan chinese food & seafood. Nah diantara 3 retoran tsb lah terselip 1 tempat yang menjual gorengan pisang kipas, sate pisang, tempe mendoan, tahu isi & gandasturi. Harganya sekitar dua ribuan lah. Rasanya sih enak, pisang nya manis, tahu tempe nya gurih, tepung nya renyah & crispy. Jadi lumayan tuh kalo lagi ada acara arisan atau rapat RT, aku suka beli buat camilan. Jam buka 24 jam juga loh.

3. WARUNG MENDOAN KALIBATA (*)

Kantong lagi cekak buat makan di mall, atau lagi bosan makan fastfood, ya udah kesini aja, ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Loh !! Bukan buat nyekar, tapi buat makan enak & murah, karena diseberang jalan kompleks makam berjejer warung tenda yang banyak banget, panjang deretannya, segala masakan ada, dari masakan indonesia sampai masakan Jepang pun ada. Yang paling terkenal dan telah masuk berbagai media berita sih warung pecel madiun. Tempatnya paling (hampir) ujung kanan deretan. Tapi yang mau kubahas bukan makan disitu, melainkan warung mendoan pas didepannya. Disini tempat jual tempe mendoan yang makannya pake bumbu saus kacang yang rasanya pedes. Terus di warung ini juga menjual sroto loh. Yaitu soto ayam yang isinya potongan ayam, bihun, toge, krupuk merah, disiram kuah, dan diberi bumbu kacang diatasnya, sehingga kalau makan harus diaduk dulu jadi kuah sotonya menjadi kecoklatan karena tercampur bumbu kacang, jadilah sroto, bisa dicampur lontong atau nasi. Harga tempe mendoan 2ribuan dan srotonya 9ribuan. Warung dibelah kanannya menjual aneka tahu yaitu tahu brontak, tahu campur & tahu tektek. Tapi aku belum coba loh. Sedangkan warung sebelah kiri menjual nasi uduk & ayam goreng. Malah pas kemaren aku arisan disitu, temenku makan ayam, lagi ada promo, beli 1 gratis 1. Beneran loh, pas liat di bon nya, beli ayam 6 bayar nya cuma 3. Hebat ya, kaya di mall. Tuh kan lumayankan, makan dikawasan ini banyak banget pilihannya, dan murah meriah. Tapi ingat, jam bukanya malam. Tapi warung pecel madiun yang terkenal itu bukanya dari jam 7 pagi loh, jadi bisa buat sarapan. Selamat mencoba.

Sabtu, Juli 04, 2009

ULASAN KULINER : SUSHI YA (**)












Sushi adalah nasi jepang yang agak sedikit lengket sehingga mudah digulung, bisa di isi ayam, telur, seafood atau sayur didalam gulungannya atau ditaruh diluar gulungannya, seafoodnya bisa matang atau kalau mentah disebut sashimi. Sushi bisa berupa nasi gulung polos atau dibungkus nori alias rumput laut.
Nah kemarin itu aku ditraktir makan di SUSHI YA di Tebet Square / TIS, Jl. MT Haryono kav. 9 unit no 9 Jakarta 12810, telpon 021 8370 3229. Ada berbagai jenis menu sushi & rasanya enak-enak deh. Ada sushi isi tempura udang, isi kulit salmon goreng, lalu diluarnya diberi mayones, heem enak. Karena bentuknya mungil jadi makannya agak kalap juga, terpancing, gak kenyang-kenyang. Kami berlima memesan 12 porsi, yaitu sushi, sashimi, edamame, gyoza & tempura udang, membungkus 6 porsi sushi, serta minum ocha, total yang tagihan Rp 332.200. Sushinya sih ngak terlalu mahal ya, mulai dari Rp 11.000 (kani roll) sampai Rp 28.000 (sumo roll). Yang mahal itu sashiminya yaitu salmon Rp 35.000 dan tako alias gurita Rp 25.000. Yang menarik adalah saat-sat pertama makan sashimi, karena gak kebayang tuh makan seafood mentah, kaya apa rasanya. Pertama ku potong seiris salmon, ku cocol kecap asin & hap…rasanya kaya nelen agar-agar, licin tanpa bau amis sama sekali. Lalu potongan guritanya ku suap, waduh kenyal banget ya, lama ngunyahnya, juga tanpa aroma amis. Menarik, tapi sebisa mungkin gak ku ulangi ah, karena gak baik makan makanan mentah buat perempuan, kata dokter kandungan loh.
Nah jadi udah tau kan dimana makan sushi enak & terjangkau, di TIS tempatnya. Percaya deh, harganya setengahnya dari yang dijual di restoran / mall. Kalau datang saat weekend penuh banget loh, antri. Jam buka jam 11 siang – 10 malam. Selamat makan.